Cinta Dua Dunia

Cinta Dua Dunia
Bab 50


__ADS_3

Lee Joon dengan panik langsung membawa Nina, ke UGD sebuah rumah sakit di Jakarta Pusat. Nina masih belum sadarkan diri dalam gendongannya. Tadinya Joon menyangka jika Nina pingsan karena shock saja. Namun dalam perjalanan ke rumah sakit. Ada darah yang terus mengucur dari belakang kepala Nina.


Tentu saja hal itu membuat Joon panik bukan kepalang. Di tambah wajah Nina yang terlihat pucat semakin menambah level kepanikan Joon.


Begitu mobil berhenti Joon langsung keluar dari mobil yang dikemudikan Max. Melangkah masuk dan memanggil dokter yang tengah berjaga. Teriakannya menggelegar di ruang UGD itu. Membuat dokter yang tengah berjaga ikut-ikutan panik.


"Dokter, suster cepat periksa dia. Kepalanya berdarah," ucap Joon lantas merebahkan tubuh Nina di bed UGD itu.


Dengan sigap dokter dan suster yang berjaga langsung memerikas Nina. Beberapa bagian baju Nina juga terlihat robek. Akibat bergesekan dengan aspal saat mereka berdua terjatuh.


"Apa yang sebenarnya terjadi, Pak?"


"Eh, ada mobil yang ingin menabraknya. Tapi tidak kena. Tapi dia sempat terjatuh. Dan kepalanya membentur aspal," jelas Joon singkat. Ya tidak mungkin dong Joon cerita kalau hal ini terjadi gara-gara mereka sedang bertengkar.


"Ada sedikit luka di kepalanya. Tapi pendarahannya sudah berhasil kami hentikan. Lukanya cukup lebar jadi kami akan menjahitnya. Kami akan melakukan scanning di kepalanya dan juga pemeriksaan X-ray. Untuk mengetahui ada tidaknya luka dalam. Juga beberapa lecet di tangan dan kakinya," jelas dokter itu panjang lebar. Yang sebenarnya Joon tidak paham sekali.


"Jadi intinya apa ya, Dok?" tanya Joon bingung.


"Intinya istri Anda baik-baik saja saat ini. Hanya saja kami akan melakukan pemeriksaan tambahan untuk memastikan tidak ada luka dalam di tubuh istri Anda," dokter itu kembali menjelaskan. Bukannya fokus pada penjelasan dokter, tapi Joon malah fokus pada sebutan "istri" yang dokter gunakan untuk memanggil Nina.


"Ha? Istri? Tapi Dok kami belum menikah," ucapnya lirih. Tapi dokter itu tidak mendengarnya.


"Baiklah kalau begitu saya tinggal dulu. Malam ini istri Anda harus menginap. Kami akan mengobservasi keadaan istri Anda dalam 1x24 jam ke depan."


"Ha? Istri?" Joon kembali melongo.


Joon berjalan mendekati bed Nina. Selang infus sudah terpasang di tangan kiri Nina. Wajahnya sudah tidak sepucat tadi. Joon menghela nafasnya pelan. Merasa lega tidak ada yang serius terjadi dengan Nina.


Dikecupnya pelan kening Nina. Mata Joon seketika berkaca-kaca.


"Maafkan aku. Maafkan aku, Baby."


"Pergi ke manapun asal tidak bertemu denganmu,"


Kata itu kembali terngiang di telinga Joon. "Jangan tinggalkan aku. Aku mohon. Aku minta maaf. Aku minta maaf."


Berkali-kali kata maaf Joon ucapkan. Teringat bagaimana dia membentak Nina. Bisa dia lihat bagaimana kecewanya Nina waktu itu. Tapi emosi Joon saat itu menguasai hati dan pikiran. Sehingga membuat Joon lupa. Bahwa Nina adalah tipe gadis yang nekat. Melakukan apapun tanpa berpikir dua kali.


Tak lama Max dan Karin masuk. Membawa sebuah paperbag. "Dia harus menginap malam ini."


"Bagaimana keadaannya?" tanya Karin.


"Tidak ada yang serius. Mereka akan melakukan pemeriksaan tambahan dan apalah itu. Aku tidak mengerti," jawab Joon, yang membuat Max melongo. Kemana akal cerdas Bos Kutubnya itu hilang.


"Apa itu?" tanya Joon lagi.


"Oh baju ganti untukmu Bos. Kebetulan tadi ada di bagasi. Kemarin beli belum sempat di keluarkan."


Joon lantas melirik dirinya. Kemeja putihnya sudah berubah merah di bagian bahu depannya pun dengan jasnya. Namun warna hitam jasnya membuat warna merah itu tidak terlihat.


"Aku ganti baju dulu kalau begitu. Nanti pindahkan Nina ke VIP room agar aku bisa mandi," pinta Joon. Menerima paper bag lalu pergi ke toilet. Setelah bertanya pada suster yang berjaga, yang menjawab sambil tersenyum sumringah.


"Gantengnya."


"He e jarang-jarang ada orang ganteng nyasar ke sini."


"Sayang sudah punya istri. Tapi gak papa. Lumayan buat cuci mata."


Hampir tengah malam ketika Nina dipindahkan ke VIP room. Joon beberapa kali meringis merasakan sakit pada pinggangnya. Namun ia abaikan.


"Jangan beritahu Mama dulu. Nanti dia panik. Kamu tidak memberitahu Bu Ratna kan?" tanya Joon. Setelah benar-benar mandi. Ternyata paperbag Max isinya komplit. Bahkan handuk dan underwearpun juga ada. Joon jadi curiga.


Karin menggeleng. Dia pikir keadaan Nina tidak terlalu parah jadi tidak perlu memberi tahu keluarga Nina.


"Tapi kalau Tuan Besar tahu. Nyonya pasti tahu."

__ADS_1


"Aku sudah menelepon Papa. Melarangnya untuk tidak memberitahu kejadian ini. Setidaknya untuk malam ini."


Ketiganya terdiam. "Aku curiga. Ini bukan kecelakaan biasa." Kata Karin tiba-tiba.


"Aku juga berpikiran sama. Mobil itu berhenti di depan apartemen dan bergerak ketika Nina terjatuh di aspal," tambah Max.


"Kita akan selidiki itu nanti. Yang penting keadaan Nina dulu. Aarggh," tiba-tiba Joon meringis, pinggangnya begitu sakit saat ia mencoba duduk di sofa.


"Bos, Bos tidak apa-apa? Apa perlu diperiksa juga?"


Joon menggelengkan kepalanya. Namun detik berikutnya ia kembali meringis.


"Kamu harus diperiksa juga. Pinggangmu tertabrak mobil dari belakang ketika menarik Nina berdiri," saran Karin.


"Nanti saja" namun ia terus meringis menahan sakit di pinggangnya. Ditambah rasa panas mulai terasa di area itu.


Max dengan iseng berbisik di telinga Joon. Membuat Joon membulatkan mata. "Benarkah?"


"Tentu saja. Aku lebih berpengalaman dalam hal itu daripada Bos."


Joon berpikir. "Panggilkan dokter kalau begitu."


"Siap," kata Max.


Tak lama tangan Nina yang berada dalam genggaman tangan Joon bergerak. Joon pindah ke sebelah Nina setelah Karin dan Max keluar mencari makan malam mereka yang sangat terlambat.


"Nggghhh."


"Kamu sudah bangun, Baby? Ada yang sakit? Apa yang kamu rasakan?" cecar Joon.


"Haus," ucap Nina lirih.


Dengan sigap Joon mengambil air putih yang memang tersedia di atas nakas. Lantas memberikannya pada Nina. Meminumnya setelah Joon membantunya untuk duduk.


"Kita ada di mana?"


Sejenak Nina memandang Joon. Dan kembali terlintas bagaimana pria di hadapannya itu menyelamatkan dirinya. Teringat Joon juga tertabrak mobil di bagian pinggangnya.


"Ada yang sakit?"


Nina menggeleng.


"Masih pusing?"


Kembali Nina menggeleng. Namun mata Nina seketika berkaca-kaca.


"Kenapa? Kamu mau sesuatu? Baby, maafkan aku. Maafkan aku."


Mendengar ucapan maaf Joon yang bertubi-tubi membuat tangis Nina pecah seketika.


"Hey, ada apa?"


"Aku tidak janjian ketemu Adam di sana. Kami tidak sengaja bertemu di depan toilet. Aku juga tidak ada niat balikan sama dia," ucap Nina yang langsung memeluk Joon.


Kali ini Joon tersenyum mendengar semua perkataan Nina. Apalagi Nina yang memeluknya terlebih dahulu. Joon sebenarnya sudah tahu. Karena Max meminta salinan CCTV kepada pihak restauran. Joon sedang tidak mood untuk meretas CCTV restoran itu.


Ia hanya ingin mendengar penjelasan dari bibir Nina. Namun Nina malah ngegas saat di tanya soal pertemuannya dengan Adam. Nina kadung marah dituduh mau balikan sama Adam.


"Aku tahu. Aku yang salah. Aku minta maaf. Aku cemburu melihatmu bersama si kutu kupret itu."


Mendengar hal itu, tangis Nina berhenti seketika. Rasa lega langsung terasa di dadanya. Tapi detik berikutnya, ia juga malu karena kedapatan memeluk Joon terlebih dahulu.


"Aku lapar," ucap Nina untuk menutupi rasa malunya.


"Aku juga," ujung bibirnya tertarik membentuk lengkungan senyum tipis.

__ADS_1


"Max dan Karin sedang keluar mencari makan. Kami semua kelaparan. Tidak ada yang bisa menelan makanan sejak kamu meledakkan bom tadi siang."


"Siapa juga yang mulai?"


"Iya-iya aku yang salah. Aku minta maaf."


"Lalu bagaimana dengan ini?" tanya Nina sambil mencubit pinggang Joon. Yang empunya pinggang langsung meringis setengah berteriak.


"Aduuuuhhhh."


"Sakitkah?" tanya Nina nampak bersalah.


"Masih menunggu hasil X-ray sama denganmu."


"Maaf," ucap Nina singkat.


"Jadi kita gencatan senjata nih?" Nina mengangguk malu. Langsung disambut senyuman di wajah Joon.


"Ehemmmm, sepertinya ada yang baikan nih," goda Max yang ternyata sudah ada di ruangan itu.


"Kamu nggak kenapa-kenapa kan Nin?" tanya Karin.


"Nggak kok."


"Tadinya aku pengen hajar pacarmu ini kalau sampai terjadi apa-apa sama kamu."


"Kamu hajar Max aja. Kamu nggak bakalan menang lawan aku!" ucap Joon percaya diri.


Kedua pria itu sudah duduk di sofa dengan Joon yang sesekali meringis menahan sakit di pinggangnya. Memulai makan malam di hampir jam 2 malam. Terpaksa semua orang harus memenuhi permintaan Nina, untuk tidak memberitahu siapapun tentang kecelakaan ini. Bahkan Sofiapun di larang untuk diberitahu


Keesokan harinya hasil X-ray dan scanning Nina keluar, menunjukkan hasil yang baik. Tidak ada luka dalam yang dialami oleh Nina. Begitu juga dengan Joon. Tidak ada yang serius dengan pinggangnya. Hanya sedikit memar dan rasa nyeri yang kadang kala datang mendera. Tapi bisa diatasi dengan obat.


Setelah makan siang Nina diperbolehkan pulang. Langsung pulang menuju apartemennya. Meninggalkan Nina yang hanya ditemani Karin.


Joon dan Max harus segera kembali ke kantor.


Dan bisa Joon duga kalau kali ini ia akan kena omel dari sang Papa. Karena Papanyalah yang memberi perintah untuk datang ke kantor.


Hampir satu jam Joon di dalam ruangan sang Papa. Mendengar omelan sang Papa dengan menahan rasa sakit di pinggangnya.


Kalau begini caranya lebih baik aku kena omelan dari Mamanya. Keluh Joon kepada Max ketika ia sudah keluar dari ruangan sang Papa.


Max hanya mengulum senyum mendengar hal itu.


"Papa minta untuk menyelidiki hal ini."


"Sepertinya memang ada yang tidak beres." Ucap Joon dan Max ketika keduanya memasuki ruangan Joon.


Ponsel Max berbunyi, sebuah pesan masuk.


"Bos, Nina sendirian di apartemen. Karin harus kembali ke sini. Ada sedikit masalah di bawah."


"Apa aku ada schedule penting lagi?"


Max memeriksa iPadnya. "Tidak ada, Bos."


Dan akhirnya di sinilah Joon berada di kamar apartemenennya.


"Dia baru saja tertidur setelah minum obat. Jadi jangan mengganggunya," pesan Karin lewat WA.


"Mengganggu yang model seperti apa maksudnya?" Gumam Joon sambil memperhatikan Nina yang tengah tertidur pulas. Di bawah pengaruh obat tidur, Nina sama sekali tidak menyadari ada orang lain di kamarnya. Memandangnya dengan jutaan perasaan bercampur menjadi satu. Cinta, sedih, takut, rasa bersalah dan segudang rasa yang lain.


Melangkah menuju walk in closet. Mengganti setelan baju kantornya. Menggantinya dengan training dan kaos polos berwarna putih. Tumben pake baju. Biasanya juga polosan kalau lagi tidur.


Sejenak ia kembali memperhatikan Nina yang tengah tertidur. Lantas ikut naik ke tempat tidur. Direngkuhnya gadis itu ke dalam pelukannya. Lantas ia pun mulai ikut masuk ke alam mimpi. Mencoba mengabaikan rasa sakit di pinggangnya.

__ADS_1


*****


__ADS_2