
Lee Joon melesat masuk ke ke unit gawat darurat salah satu rumah sakit yang ada di Jakarta Pusat. Dia begitu merutuki dirinya sendiri.Tidak bisa melindungi istrinya kala berada dalam bahaya. Pria itu berniat akan melenyapkan Heri, jika sesuatu yang buruk terjadi pada istrinya.
Dia begitu panik ketika adik kembarnya menghubungi lewat telepon rumah sakit. Dari suaranya saja, bisa dipastikan jika adiknya itu sangat cemas dan juga panik. Dia sendiri tidak bisa sampai ke apartemen Jae Kyung karena terjebak kemacetan. Sebuah truk kontainer mengalami kecelakaan, menyebabkan kemacetan yang tidak terhindarkan. Dengan dia sudah tidak bisa bergerak ke mana-mana.
Dia terus berlari menerobos kerumunan orang yang ada di setiap lorong rumah sakit itu. Sampai dia melihat seorang pria yang sama persis dengan dirinya berdiri di depan pintu UGD tengah berdebat dengan seorang perawat.
"Saya akan dirawat setelah mengetahui keadaan kakak saya," ucapnya tegas.
"Tapi Pak, luka Anda bisa jadi infeksi jika tidak segera ditangani," bujuk perawat itu.
"Tidak masalah," tolaknya lagi.
"Tapi itu akan sangat berbahaya," bujuk perawat itu lagi.
"Mbak, saya tidak peduli dengan keadaan saya sekarang. Yang saya pedulikan adalah keadaan kakak saya didalam. Sudah satu jam dan mereka belum keluar juga. Sebetulnya mereka ngapain aja sih di dalam," teriak Jae Kyung.
Perawat itu mundur beberapa langkah, takut melihat kemarahan Jae Kyung. Tapi kemarahan Jae Kyung surut saat melihat sang kakak berlari ke arah dirinya.
"Kak...." panggilnya lirih. Rasa bersalah jelas terlihat di wajah Jae Kyung. Sedang perawat itu melongo melihat dua pria kembar dengan kadar ketampanan yang sama.
"Kembar. Wah gimana dulu ibunya mencetak ya. Bisa persis gitu. Sama gantengnya lagi," batin absurb sang perawat.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Lee Joon dengan nafas terengah-engah.
"Belum tahu. Mereka sudah di dalam satu jam. Tapi juga belum keluar. Ngapain aja sih mereka," gerutu Jae Kyung.
Lee Joon terdiam. Memandang pintu ruang UGD.
"Kakak sendiri ngapain baru sampai?" kesal Jae Kyung.
"Aduh ada kontainer tiduran di tengah jalan. Nggak bisa lewat sama sekali. Ini saja mobilku tak tinggal disana. Ke sini naik ojek konvensional," jawab Lee Joon.
"Pantas, udah kayak ayam kecemplung got gitu," ejek Jae Kyung melihat penampilan kakaknya yang biasanya klimis kini berantakan tidak karuan.
"Dasar adik durjana. Beraninya mengatai kakak sendiri kayak ayam kecemplung got. Kamu sendiri apa kabar?" giliran Lee Joon yang mengejek penampilan adiknya.
"Ini gara-gara si pria gila itu! Bisa-bisanya dia lempar istri kamu ke jalan raya. Kamu harus membuat perhitungan dengannya. Istrimu babak belur dihajarnya," kompor Jae Kyung.
"Kurang ajar!" umpat Lee Joon.
__ADS_1
Perawat yang masih ada di sana kembali melongo mendengar obrolan absurd kakak beradik kembar itu.
"Nah mbak-nya ngapain masih di sini?" tanya Lee Joon tiba-tiba. Perawat itu gelagapan seketika.
"Itu.... bapak itu nggak mau diobatin," jawabnya singkat.
Lee Joon melihat penampilan adiknya. Terlihat memar dan lebam. Juga bekas darah yang sudah mengering di lengannya. Dan jaketnya terlihat robek.
"Rawat dulu lukamu. Aku disini menjaganya," ucap Lee Joon setengah membujuk. Dia tahu adiknya itu tipe orang yang sulit dibujuk.
"Tidak sebelum aku tahu keadaannya," ucap Jae Kyung kembali panik.
Dia masih ingat, Nina sudah tidak sadarkan diri ketika dia melepaskan pelukannya. Ada luka di kening Nina. Dan yang membuatnya shock adalah ada darah yang mengalir di betis kakaknya. Serta posisi tangan Nina yang seolah-olah melindungi perutnya. Jae Kyung berpikir apakah sang kakak ipar tengah mengandung. Jika kakaknya itu tengah mengandung, Jae Kyung jelas semakin merasa bersalah. Mengingat apa yang coba dia lakukan pada kakak iparnya itu.
Untungnya ketika mereka terjatuh Jae Kyung menempatkan tubuhnya sebagai alas bagi Nina. Hingga benturan keras pun bisa Nina hindari.
"Kak, apa istrimu tidak bilang sesuatu. Soal...... dia tengah mengandung misalnya," tanya Jae Kyung ragu.
Pertanyaan Jae Kyung tentu saja mengagetkan Lee Joon.
"Bagaimana kamu tahu?" tanya Lee Joon heran campur terkejut.
"Aku hanya menduganya. Ada darah yang mengalir dikakinya. Aku pikir...."
Sama dengan perawat tadi, dokter itu melongo melihat dua pria sama persis dihadapannya. Dia langsung menyimpulkan kalau keduanya kembar.
"Yang mana suaminya?" tanya dokter itu.
"Saya, Dok," jawab Lee Joon.
"Keadaan istri Anda sudah stabil. Tidak ada luka dalam yang serius. Hanya beberapa luka lebam. Yang lumayan agak berat. KDRT ya?" ucap dokter itu berusaha bercanda. Melihat bagaimana seriusnya dua pria kembar dihadapannya itu mendengar penjelasannya.
"Enak saja. Dia diculik, Dok. Tega bener nuduh KDRT," gerutu Lee Joon.
"Oh begitu ya. Sudah lapor polisi belum?" ya malah nanya ke mana-mana nih dokter.
"Sudah Dok," jawab Lee Joon dan Jae Kyung bersamaan. Dokter itu tertawa. Kompak sekali kembar ini, pikir sang dokter.
"Dan satu lagi ada kabar bahagia buatmu mas Kembar. Istri Anda hamil. Masuk usia 2 bulan. Bersyukur kami masih bisa menyelamatkannya. Karena dia sedikit mengalami pendarahan saat di bawa ke sini," penjelasan sang dokter seperti membuat Lee Joon ingin melompat setinggi apapun yang dia bisa. Bahagia luar biasa.
__ADS_1
"Beneran Dok, istri saya hamil?" tanya Lee Joon tidak percaya.
"La situ ngerasa nanam nggak?" ya nih dokter malah ikutan absurd.
"Ya ngerasa Dok. Wong tiap hari nanamnya," timpal Lee Joon sama sengkleknya. Jae Kyung melotot mendengar ucapan sang kakak.
"Ya sudah kalau ngerasa. Selamat ya Pak, sekali lagi. Dijaga istrinya. Jangan sampai diculik orang lagi," ucap dokter itu. Kembali masuk ke dalam UGD.
"Kamu dengar Jay. Nina hamil. Aku bakal jadi ayah. Yeeeeyyyy," teriak Lee Joon seperti anak kecil dapat permen. Sementara Jae Kyung memutar matanya malas melihat tingkah sang kakak.
Nina sudah dipindahkan ke ruang rawat, VIP room. Dia sudah sadar. Wanita itu sedikit shock mengingat kejadian tadi. Dan benar kata Jae Kyung, Lee Joon langsung emosi melihat keadàan sang istri. Yang paling nampak sekali adalah memar di kedua pipi istrinya. Bekas tamparan Heri.
"Kalau dia sampai tertangkap. Akan aku hajar dia, sampai babak belur," tekad Lee Joon.
"Kamu tidak boleh melakukannya. Ingat aku sedang hamil. Tidak boleh berbuat yang aneh-aneh apalagi hal buruk," ucap Nina memperingatkan. Nina juga sangat bahagia dengan kehamilannya. Wajahnya lebam, tapi senyum tidak pernah pudar dari bibirnya.
"Jadi kalau aku yang menghajar boleh?" tanya Jae Kyung yang duduk di sofa. Dia akhirnya mau diperiksa dan diobati lukanya.
"Tidak boleh! Kalian tidak boleh bertindak yang aneh-aneh!" ancam Nina.
"Kenapa? Aku bukan ayahnya. Jadi aku bebas menghajarnya. Kau tahu aku ingin sekali membunuhnya, waktu melihat dia melemparmu ke jalan. Dia pikir anak ayam apa. Main lempar saja," geram Jae Kyung.
"Kan yang penting aku dan dia tidak apa-apa," kata Nina sambil mengelus lembut perutnya yang masih rata.
"Aiiissshhh dasar kau ini. Terlalu baik!" kesal Jae Kyung.
"Karena itulah aku jatuh cinta padamu," batin Jae Kyung.
"Anyway thank's, Bro. Sudah menolong anak dan istriku," ucap Lee Joon.
"Ahhh itu. Seharusnya aku yang minta maaf. Tidak bisa melindungi istrimu dengan baik. Sampai dia jadi seperti ini," balas Jae Kyung.
"No problem. Terima kasih," ucap Lee Joon. Sesaat mata Nina dan Jae Kyung bersirobok. Jae Kyung jelas kehilangan kata. Sedang Nina langsung tersenyum. Seolah tidak pernah terjadi hal buruk diantara mereka.
*******
Up lagi readers, partnya Nina dan Lee Joon kemungkinan akan selesai dalam beberapa episode ke depan. So tetep kepoin ya,
Terima kasih sudah mampir, and Happy reading,
__ADS_1
Love you all 😘😘😘🤩
****