
Ceklek, pintu terbuka. Terlihat kepala Nindy menyembul perlahan. Melihat Max, dia hanya nyengir.
"Kak Max," panggil Nindy.
"Hem, ada apa?" jawab Max acuh. Padahal dia kepo setengah mati pengen tahu yang gadis kecil ini inginkan.
"Om Jo, lihat om Jo nggak?" tanya Nindy malu-malu.
"Nggak tu. Emang ngapain nyariin asisten Jo. Kerjaanmu gak beres?"
"Iiih kerjaanku mah selalu beres, Kak," jawab Nindy sambil memanyunkan bibirnya.
"Terus kenapa nyariin asisten Jo?"
"Itu...itu...mau tak ajak makan siang."
"Ha?" Max melongo. "Asisten Jo nggak ada," jawab Max kemudian.
"Tahu nggak ke mana dia pergi. Diteleponin juga gak diangkat," ucap Nindy sendu.
"Nggak," jawab Max singkat.
"Mana mau asisten Jo jawab sembarangan angkat telepon," batin Max.
Max saja paling ogah kalau disuruh menghubungi asisten Jo, lamaaaaa banget diangkatnya.
"Ya sudah. Aku keluar dulu ya Kak."
Max tidak menjawab, hanya sekilas melirik gadis kecil itu melangkah keluar dari ruangannya dengan langkah gontai. Namun tak lama didengarnya, suara gadis kecil itu yang kembali berteriak memanggil nama asisten Jo.
"Yang benar saja jika gadis kecil itu suka pada asisten Jo. Apa kabar dunianya asisten Jo. And wait, tadi gadis kecil itu memanggil asisten Jo dengan sebutan Om. Oh, asisten Jo pasti bisa gila karena gadis kecil itu. Suaranya saja sudah seperti teror di lantai 34," guman Max sambil menggeleng-gelengkan kepalanya.
Sementara itu,
Braaaakkkkk,
Pintu ruangan Nina dibuka dan ditutup hampir bersamaan. Nina dan Karin yang tengah berdiskusi tentang laporan, mereka langsung mengalihkan pandangan mereka ke pintu. Terkejut melihat asisten Jo berdiri di sana dengan wajah panik.
"Tolong sembunyikan aku," pinta asisten Jo, langsung membuat Karin dan Nina melongo.
"Maksud asisten Jo apa?" tanya Nina heran.
Tapi belum sempat asisten Jo menjawab. Sebuah suara dengan jelas memanggil asisten Jo. Suara melengking khas milik Nindy.
"Sembunyikan aku dari dia," ucap asisten Jo dan langsung bersembunyi di belakang sofa tempat Nina duduk. Karena sofa itu menghadap pintu.
"Jangan beritahu dia aku di sini, please," lagi-lagi asisten Jo berkata setengah memohon.
Tak lama pintu dibuka. Dan masuklah Nindy ke dalam. Nina dan Karin saling pandang.
"Ada apa?" tanya Karin.
"Kak, lihat om Jo nggak?" tanya Nindy.
"Ha Om? anak kecil ini memanggil asisten Jo dengan sebutan Om. Ada apa sebenarnya," batin Nina dan Karin bersamaan saat keduanya saling pandang.
"Kami nggak tahu di mana asisten Jo," jawab Nina.
"Beneran om Jo nggak masuk ke sini?"
"Kamu pikir aku lagi bohong gitu?" jawab Nina pura-pura marah.
"Eh nggak gitu juga, Kak," ucap Nindy serba salah.
"Emang kamu nyariin asisten Jo ada apa sih?" tanya Karin. Sedang Nina melirik ke arah tempat persembunyian asisten Jo.
"Itu kak, mau tak ajak masak siang?"
"Ha?" keduanya melongo, sama seperti reaksi Max.
"Kenapa? Emang nggak boleh aku ngajak om Jo makan siang bareng. Kan dia nggak punya pacar."
"Terus kalau asisten Jo nggak punya pacar emangnya kenapa?" Karin bertanya dengan tanda tanya besar di kepalanya.
"Aku mau om Jo jadi pacar aku," jawab Nindy santai.
Nina dan Karin kembali melongo mendengar ucapan polos dari Nindy. Sedang asisten Jo mengumpat kesal di tempat persembunyiannya.
__ADS_1
"Haiissshhh, apa-apaan sih gadis kecil itu," umpat asisten Jo.
"Kamu suka sama asisten Jo?" tanya Karin lagi.
"He e!" jawab Nindy.
"Lalu Kak Lee Joon-mu?" tanya Karin sambil melirik ke arah Nina. Yang langsung berubah masam wajahnya.
Hah, Nindy menghela nafas lalu menjawab sambil melihat ke arah Nina.
"Kak Joon bilang, aku tidak boleh suka sama dia. Dia sudah suka sama kak Nina. Jadi dia bilang aku harus cari orang lain yang aku suka," ucap Nindy sendu, Nina langsung tidak enak hati jadinya. Tapi masa bodohlah yang penting Nindy sudah tidak mengejar-ngejar Lee Joon lagi. Hatinya bersorak senang.
"Lalu kamu suka sama asisten Jo gitu?" tanya Karin lagi yang langsung dijawab dengan anggukan kepala oleh Nindy.
"Emang apa yang kamu suka dari asisten Jo?" tanya Nina penasaran kenapa gadis kecil itu dapat berpindah ke lain hati dengan cepat.
"Dia ganteng, keren, baik hati. Aaahhh pokoknya Nindy suka sama Om Jo. Titik!" jawab Nindy. Sedang yang dipuji, hatinya langsung melambung tinggi ke angkasa raya.
"Eh, eh, eh, kenapa hatiku begitu senang dipuji oleh gadis kecil itu," batin asisten Jo di tempat persembunyiaannya.
"Itu saja?" tanya Karin. Dan Nindy mengangguk.
"Emangnya perlu hal lain untuk suka sama om Jo?" tanya Nindy balik.
Kali ini giliran Nina dan Karin yang bingung menjawab pertanyaan Nindy.
"Nggak juga sih," jawab Nina ambigu. Tidak tahu sebetulnya harus menjawab apa.
"Sudah, sudah yang penting asisten Jo tidak ada di sini," Karin berkata setengah mengusir.
"Ya sudah Kak, aku keluar kalau begitu. Maaf sudah mengganggu waktu kalian," kata Nindy sambil berjalan keluar dengan wajah tidak bersemangat.
"Ya, ya," Karin menanggapi ucapan Nindy.
Begitu Nindy keluar. Asisten Jo langsung keluar dari tempat persembunyiaannya. Sejenak merapikan jasnya. Lalu ikut duduk di samping Karin. Meluruskan kakinya yang kebas karena kelamaan ditekuk. Dan semua tingkah asisten Jo itu tidak lepas dari pandangan Nina dan Karin.
"Ada yang mau Om Jo katakan?" tanya Nina.
"Kenapa kamu ikut-ikutan anak itu memanggilku dengan sebutan Om?" asisten Jo malah balik bertanya.
"Setelah dipikir-pikir memanggil Om kepada asisten Jo membuat kita terlihat lebih akrab," jawab Nina sambil menaikturunkan alisnya. Mengejek asisten Jo dengan panggilan Om yang Nindy berikan.
"Nih minum dulu Om," ucap Karin sambil mengulurkan air mineral. Ikut-ikutan memanggil Om kepada asisten Jo.
"Kalian sengaja meledekku ya," kesal asisten Jo sambil menerima air mineral yang diberikan Karin lantas meminumnya.
"Wah kayak orang habis maraton aja," Karin kembali berucap.
"Kariiiiin"
"Ha, ha, ha, peace Om, peace Om."
Ceklek, terdengar pintu dikunci. Melirik Nina yang ternyata telah menekan tombol Lock pada remote pintu jarak jauhnya.
"Kenapa dikunci?" tanya asisten Jo heran.
"Om mau Nindy masuk lagi dan nemuin Om di sini?" Nina menjawab sambil menyeringai.
"Ya nggak mau lah," jawab asisten Jo.
"Kalau begitu ceritakan pada kami kenapa tu anak ngejar-ngejar Om?" kali ini Karin yang berbicara.
"Haiisshhh kalian menjebakku disini ya. Astaga, aku tidak seharusnya percaya pada kalian, yang sudah ketularan otak licik pacar-pacar kalian," umpat asisten Jo seketika tahu maksud Nina mengurung dirinya di sini.
"Licik dari mananya. Kita cuma pengen tahu cerita dari pihak Om," ucap Nina mengeluarkan ekspresi imutnya.
"Aissshhh, jangan bersikap imut padaku. Nanti aku bilang ke pacarmu kalau kamu sudah menggodaku," ancam asisten Jo.
" Ha, ha, ha bilang saja sana sama Lee Joon," Nina malah balik menantang asisten Jo.
"Jadi bagaimana mau cerita atau tidak? Siapa tahu kami bisa bantu," Karin membujuk.
Bantuan, ya asisten Jo memang benar perlu bantuan saat ini. Mengingat Max yang tidak mungkin dia mintai bantuannya. Mungkin berkonsultasi dengan dua gadis di depannya ini tidak ada salahnya juga. Asisten Jo menghela nafasnya.
"Dia bilang suka padaku. Dan ingin aku jadi pacarnya. Dia sudah gila kan?" asisten Jo memulai ceritanya. Nina dan Karin kembali melongo......
Dan dua hari sejak sesi curhat di ruangan Nina, di sinilah asisten Jo berada. Rooftop kantor LJ GROUP. Sebuah tempat yang mirip sebuah taman kecil di atas lantai 35. Tempat asisten Jo berada, jika dia sedang ada masalah serius. Dan sudah dua hari ini, jika tugas-tugas dari tuan Lee sudah beres dia lakukan. Dia akan nongkrong santai di tempat ini.
__ADS_1
Nindy masih terus saja mengejarnya. Dan hal itu malah seperti teror bagi asisten Jo. Kadang jika dia tidak ingat si pelaku teror itu adalah Nindy. Gadis kecil yang keras kepalanya minta ampun. Mungkin asisten Jo akan memanggil Densus 88, itu tu pasukan khusus anti teror. Untuk menjinakkan teror Nindy.
Namun entah mengapa juga selama beberapa hari ini. Asisten Jo tidak begitu menghiraukan teror dari Nindy. Atau lebih tepatnya dia mulai terbiasa dengan tingkah Nindy. Ya walaupun, mungkin agak keterlaluan sih kadang-kadang. Apa iya, ia harus mengikuti saran kedua gadis yang otaknya mulai ketularan otak bisnis pacar mereka masing-masing.
Kembali terngiang bagaimana dua gadis itu malah membujuknya untuk mencoba membuka hatinya untuk Nindy.
"Apa kalian sudah sama gilanya dengan anak kecil itu. Menyuruhku untuk mencoba berpacaran dengan anak kecil itu," protes asisten Jo kala itu.
"Bukan pacaran Om, tapi membuka hati sedikit," Nina menjelaskan.
"Alah, bagiku sama saja dengan kalian menyuruhku pacaran dengannya,"
"Ya beda dong Om, kita biasa mengenalnya dengan istilah PDKT alias pendekatan," Karin berujar.
"Nggak akan berhasil," jawab asisten Jo mantap.
"Belum juga dicoba Om. Siapa tahu menguntungkan," Nina membujuk. Asisten Jo menggelengkan kepalanya. Menolak saran keduanya.
"Sekarang katakan apa yang menjadi alasan om Jo tidak mau PDKT sama Nindy?" tanya Karin.
"Oh come on, lihatlah jarak usia kami. Dia lebih pantas jadi anakku. Ketimbang jadi pacarku" asisten Jo beralasan.
"Oh ayolah Om, sekarang juga banyak pria yang menikah dengan wanita yang selisih usianya bahkan separo. Ini om Jo dan Nindy cuma beda 15 tahun. He, he," Karin nyengir menghitung selisih usia keduanya.
"Di mana? di mana hal itu terjadi?" tanya asisten Jo seolah memiliki harapan.
"Di novel online yang sering Karin baca" jawab Karin santai. Sedang asisten Jo langsung mendelik kepada Karin.
"Kariiiin, ini bukan dunia novel online. Ini nyata. Ini serius!" asisten Jo kesal bukan main.
"Tapi Om, sekarang pandangan wanita di luaran sana sudah mulai berubah. Ada beberapa dari mereka lebih menyukai pria yang lebih matang. Termasuk usia dengan anggapan, pria berusia matang lebih sabar, lebih dewasa dan yang jelas sudah mapan secara finansial. Mungkin Nindy salah satu di antara mereka. Nyatanya sejak awal dia menyukai Lee Joon yang jarak usia mereka lebih kurang 7 tahun" jelas Nina panjang lebar.
"Dan lagi Om, Nindy itu sudah 21 tahun, masuk 22 tahun ini. Jadi dia sudah bisa menentukan ke mana arah hatinya. Dia bukan anak belasan tahun yang sedang gila dengan idolanya. Sikap Nindy berbeda. Mungkin Nindy belum menyadarinya. Tapi mungkin pria sejenis Om-lah yang dia butuhkan untuk dirinya. Maksudnya dia kan susah dikendalikan siapa tahu Om-lah pawangnya" Karin menambahkan.
"And then why? You just try it, enjoy it and feel it. And then let the time shows the result"
(Lalu kenapa tidak kalian mencobanya, menikmatinya dan merasakannya. Dan kemudian biarkanlah waktu untuk memberitahukan hasilnya)
Perkataan kedua gadis itu terngiang kembali. Dan sebenarnya beberapa hari ini. Asisten Jo merasa ada yang aneh dengan dirinya. Eh maksudnya hatinya. Hatinya sering berdesir bahagia kala gadis kecil itu memanggil om kepadanya. Jantungnya berdetak tidak karuan tiap kali melihat gadis itu tersenyum.
Dan wajah gadis kecil itu akhir-akhir ini sering berkeliaran di otaknya. Membuatnya tidak fokus pada pekerjaannya. Bahkan beberapa kali tuan Lee juga menegurnya.
"Kenapa denganmu Jo, sering melamun. Apa kamu sedang terkena syndrome jatuh cinta?" begitulah beberapa kali tuan Lee menegurnya.
"Aku? Jatuh cinta? Pada gadis kecil itu? Oh yang benar saja," batin asisten Jo.
"Usia tidak menghalangi seseorang untuk jatuh cinta Om. Mungkin cinta Om memang baru datang sekarang" ucap Nina di akhir pertemuan mereka.
"Apa benar kata mereka. Aku harus mencobanya" guman aaisten Jo.
"Coba dulu saling menyamankan hati satu sama lain. Jika nyaman bisa dilanjutkan Jika tidak ya berhenti saja," saran Karin lagi.
Perlahan asisten Jo meraih ponsel di kantung jasnya. Lantas mendial nomor yang baru dia dapat pagi ini. Setelah meminta Nina mencari tahu nomor gadis kecil itu. Lantas menghubungi nomor itu.
"Om sudah ambil keputusan?" tanya Nina ketika mengirimkan nomor telepon Nindy yang ia dapat dari Dita via WA.
"Aku akan mencobanya. Kita lihat saja hasilnya"
Yes, Nina bersorak senang. Setidaknya benar-benar tidak ada yang akan mengejar-ngejar Lee Joon. Jiwa posesif Nina mulai muncul. Tapi bilang cinta gengsi. Aduuuuh.
Lama, baru telepon asisten Jo diangkat.
"Halo."
"Mari kita mencobanya," ucap asisten Jo singkat.
Si penerima telepon hanya melongo tidak paham dengan maksud si penelepon. Perlu beberapa detik, dia mencerna ucapan si penelepon. Hingga akhirnya dia bersorak saking senangnya. Membuat Dita terkejut dibuatnya.
*
Author lagi seneng ngejodohin orang. Biar pada nggak jomblo. Satu couple otw PDKT.
Jangan lupa vote, like and coment.
Happy reading, readers.
Terima kasih. And salam sayang dari author, 🤗🤗🤗🤗
__ADS_1
****