
"Ada yang ingin kau laporkan padaku prajurit Lee?" Pangeran Indra tak ingin Kwan Yiew larut dalam kesedihannya langsung mengalihkan pembicaraan mereka.
"Ya pangeran, apa tidak sebaiknya kita bertemu di ruang rahasia?" Kwan Yiew bertanya. "Kau benar, segeralah beritahu ayahmu, kita akan bertemu disana.
"Oh ya hati hati dengan adikmu" Pangeran Indra mengingatkan. "Mengapa pangeran?" Kwan Yiew berbalik menatap pangeran. "Aku tak ingin dia terlibat" Pangeran menjawab singkat. "Aku semakin tidak mengerti" Kwan Yiew menjawab jujur.
"Jangan berfikir kalau dia adalah perempuan lugu prajurit Lee, dia Suriku, wanita yang menguasai ilmu beladiri,hebat bermain pedang, seorang pemanah ulung, dan pastinya juga bisa berkuda, apa sekarang kau mengerti maksudku peajurit Lee?" Pangeran bertanya lagi.
"Sekarang aku mengerti pangeran" Kwan Yoew mengangguk. Prok.. prok.. prok.. Suri masuk sambil mengumbar senyum tak berdosa. "Sayang sekali pangeran, tak ada yang bisa kau sembunyikan dariku" Suri duduk di samping pangeran,tatapan matanya tajam seolah berkata "jelaskan padaku".
Pangeran tersenyum kecut "kalau sudah begini kita harus merubah rencana prajurit Lee, lanjutkan tugasmu kita bertemu nanti siang, jangan beritahu Tabib Lee, cukup kita bertiga saja. Kwan Yiew mengangguk dan membungkuk hormat sebelum berlalu.
"Kita?" Suri bertanya sambil tersenyum pada pangeran. "Ya, kita sayang, mengapa kau pagi pagi sudah membuat masalah, tak bisakah kau pura pura saja menjadi Mey Mey yang menggemaskan" Pangeran pura pura sedih dan berjalan menuju pembaringannya.
__ADS_1
"Pangeran" Suri mengikuti dari belakang dan tiba tiba pangeran berbalik dan langsung mengulum bibir si cerewet yang sangat bawel pagi ini, Suri yang tak menyangka serangan mendadak ini hanya bisa melotot marah. Hah.hah.hah Suri terengah engah kehabisan nafas, dan pangeran tersenyum penuh kemenangan kembali berbalik melanjutkan langkahnya menuju ranjang.
Suri terdiam di tempatnya. "Mengapa menciumku tiba tiba?" Suri bertanya kesal. "Kau lupa? yang bersalah harus dihukum, salahmu sudah banyak jadi terimalah hukumanmu" pangeran tersenyum menggoda. "Aku salah apa pangeran?" Suri bertanya bingung, dan pangeran secepat kilat bangun, namun sayang Suri sudah bersiap siap dengan sigap menyerang pangeran yang mendekat.
"Aduh.." pangeran mengeluh sakit, Suri telah menendang tungkai dan selangkangannya. "Teganya kau sayang" pangeran terduduk menahan sakit. " siapa suruh menyerang tiba tiba untung saja aku sigap" Suri tersenyum meringis, ingin tertawa tapi tidak tega melihat pangeran yang bersimpuh di lantai menahan sakit. "Bantu aku sayang" pangeran mengulurkan tangannya.
Suri tidak tega melihatnya, dengan terpaksa merangkul pangeran untuk membantunya berdiri. Suri memapah pangeran ke ranjangnya, tiba diranjang dengan sigap pangeran menarik Suri hingga mereka jatuh bertindihan dengan tubuh Suri diatas, Pangeran berusaha mencium Suri tapi Suri sudah siap dengan serangannya, Suri menggelitiki pangeran "Rasakan ini, kau fikir aku tidak tahu kau tak kenal menyerah". Ha.. ha.. ha.. Dinda sudah dinda geli ha..ha.ha.. mereka saling bercanda tanpa sadar seseorang sedang berdiri di luar pintu.
Pangeran menarik Suri merubah posisinya menjadi di atas hingga Suri tak bisa berkutik lagi terkunci dalam dekapan pangeran, sedetik lagi bibir pangeran menyentuh bibir Suri ketika sebuah suara yang sangat mereka kenal terdengar menggelegar "Mey Mey! sungguh memalukan!" Tabib Lee keluar dari kamar dengan wajah merah padam menahan marah.
"Tabib Lee, Tabib Lee melihatku bersama Suri, Ayahmu pasti sudah salah faham" Pangeran menjelaskan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal. 'Pangeran pangeram, sikapmu cinta sudah membuat kalian buta, sungguh ceroboh' Kwan Yiew membatin. "Prajurir Lee, jangan mengomeliku" Pangeran menatap prajurit Lee dengan wajah pura pura marah, membuat Lee Kwan Yiew salah tingkah "Maaf, maafkan aku" Kwan Yiew menunduk tak berani berkata lagi.
"Temui ayahmu, jelaskan apa yang terjadi, terpaksa kita harus memberitahu kenyataan ini, tak mungkin untuk merahasiakannya lagi" Pangeran memerintah. "Hmmmm... ya cepat atau lambat ayah pasti akan tahu, tak ku sangka akan secepat ini, aku belum siap pangeran, bagaimana mengatakannya?"
__ADS_1
"Sulit mengatakannya pangeran, dan aku takut akan berpengaruh buruk pada kesehatannya" Kwan Yiew berkata dengan gelisah. "Kau benar prajurit Lee, kalau begitu kita hadapi bersama, apapun yang terjadi kita harus hadapi, ayo" Pangeran melangkah untuk menemui Tabib Lee.
Tok tok tok Kwan Yiew mengetuk pintu lemah, "Ayah, apa ayah di dalam?" Kwan Yiew mengetuk pintu, tak ada sahutan, akhirnya Kwan membuka pintu yang tidak dikunci. "Ayah ada hal penting yang harus ku katakan padamu mengenai Mey er" Kwan Yiew menarik nafas panjang, dan mulai menceritakan semuanya yang dia ketahui dari awal. "Begitulah ayah".
Tabib Lee yang sejak tadi hanya diam tetap tidak bergeming, "Ayah" Kwan Yiew memanggil lagi, tetap tidak ada sahutan. Kwan Yiew berdiri mendekat ke arah ayahnya, ketika Kwan Yiew menyentuh bahu ayahnya, tabib Lee langsung jatuh tersungkur. "Ayah!" mereka langsung panik, Kwan Yiew dibantu pangeran Indra segera mengangkat tubuh tabib Lee ke atas ranjang. Suri dengan sigap memeriksa nadi tabib Lee, nadinya sangat lemah, berita yang baru saja di dengarnya membuat kesehatan tabib Lee memburuk.
Suri bergegas membuat ramuan obat, Kwan Yiew yang sangat khawatir dengan keadaan ayahnya hanya bisa berjalan mobdar mandir, pangeran berusaha menenangkannya "Tenanglah Prajurit Lee, ayahmu akan baik baik saja, dia hanya terkejut dengan kenyataan ini, tenangkan dirimu, istirahatlah serahkan pada kami, kau bisa menemuinya besok". "Tapi pangeran, aku tak ingin meninggalkan ayahku" Kwan Yiew menjawab cemas. Pangeran menuntun Kwan Yiew keluar dari kamar tabib Lee "tenangkan dirimu, serahkan semua padaku". Akhirnya dengan terpaksa Kwan Yiew kembali ke kamarnya.
"Lian" "Ya pangeran" Lian yang selalu siap di dekat pangeran segera mendekat. "Pastikan semua pengawal bersiaga disini, segera laporkan padaku, aku harus kembali ke paviliunku". "Baik pangeran" Lian segera bergerak cepat menjalankan perintah pangeran Indra. Pengawal setianya itu sangat bisa di andalkan, berpura pura menjadi pelayan membuat langkah Lian lebih bebas tanpa harus di curigai.
" Hmmmmmm...hari yang sangat melelahkan", pangeran menarik nafas panjang, karena hal hal berunyun terjadi hari ini membuat kepalanya pusing, aku harus beristirahat sejenak fikirnya, sambil melemparkan tubuhnya keranjang.
14223 view, tq reader semua, dukung terus Suri dan Indra ya, (dukung author juga supaya lekas menemukan jalan pulang buat merekaπ)
__ADS_1
love you allπππππππ