
Pangeran Indra menggandeng tangan Putri Dayang Suri dan mereka berjalan pelan di ikuti pasukan pengawal dan para dayang. Pangeran tersenyum pura pura tidak tahu Putri Dayang Suri yang menatap dengan wajah bertanya tanya memohon penjelasan tentang apa yang terjadi antara Angin Bayu dan Putri Berliana, hingga mereka tiba di paviliun Rajawali pangeran Indra tetap pura pura tidak tahu pangeran terus berjalan sedikit cepat hingga Suri sedikit berlari untuk tidak tertinggal.
Hingga akhirnya "Aduh!" Suri terjatuh karena terinjak ujung gaunnya, untung saja pangeran Indra sigap menangkapnya hingga Suri tidak sampai menyentuh lantai. "Kenapa ceroboh sekali" pangeran Indra membantu Suri berdiri tegak kembali, namun tidak melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Suri. "Sudah tahu masih bertanya" Suri pura pura marah dan cemberut, "Kanda!" Suri tiba tiba berteriak spontan melingkarkan tangannya di leher pangeran Indra, ternyata pangeran menggendong Suri dan melangkah cepat memasuki paviliunnya, pasukan pengawal dan para dayang hanya bisa saling pandang dan tersenyum hanya berbicara lewat tatapan mata 'Dasar penganten baru'.
Dengan tatapan mata pangeran Indra memerintahkan para dayang untuk tidak ikut masuk ke paviliun, Dayang Melati amat memahami arti pandangan itu, dan membungkuk memberi hormat di ikuti yang lainnya, mereka berundur perlahan setelah menutup pintu.
Pangeran Indra menurunkan Suri di ranjang, namun tidak melepaskan kungkungannya, jarak mereka sangat dekat hingga deru nafas pangeran Indra terasa di pipi Suri, detak jantungnya menderu makin cepat, dan Suri memejamkan matanya. Pangeran Indra tersenyum menatap Suri, dan fikiran nakal hinggap di kepalanya. Pangeran hanya memandangi wajah Suri, hening, hanya terdengar suara jangkrik di luar. 'Mengapa hening sekali?' batin Suri Perlahan Suri membuka matanya dan melihat pangeran yang tersenyum nakal memandangnya.
__ADS_1
Suri membuang muka, pura pura merajuk, pangeran menyentuh lembut pipinya, dan mengarahkan pandangan Suri padanya. Mengecup lembut sudut bibir Suri yang begitu menggoda. Tidurlah, besok pasti akan melelahkan dinda harus istirahat yang cukup, masih ada lomba memanah dan berkuda.
Pangeran mendorong pelan tubuh Suri untuk berbaring, "Aww!" Suri berteriak kecil. "Kenapa?" Pangeran membantu Suri duduk kembali, "Apa yang sakit?" pangeran menatap istri yang sangat dicintainya dengan cemas.
Suri tidak menjawab, tapi menunjuk kepalanya yang masih memakai sunting. Pangeran tersenyum lega "Maaf" desisnya pelan. Pangeran membimbing Suri kedepan cermin, lalu membantu Suri melepaskan Suntingnya satu persatu hingga selesai, rambut Suri yang hitam, tampak berkilat di terpa cahaya lilin yang meliuk pelan.
Pangeran terkejut hanya diam mendapat perlakuan Suri yang tiba tiba, sesaat mereka saling pandang dengan kening saling bertaut. "Jangan menggodaku sayang" bisik pangeran, "Mengapa? Apa tidak boleh?" Suri menjawab dengan pelan.
__ADS_1
"Belum saatnya, apa dinda tahu betapa sulitnya menahan ini,kanda ingin sekali memakanmu" Pangeran pura pura ingin memakan Suri. "Makan saja,dinda tidak takut" Suri tersenyum nakal, sambil menggigit bibirnya, "haaaaaaahhhhh pangeran mendesah" merapatkan pelukannya hingga tanpa celah.
"Ups!" Suri menutup mulutnya terkejut. Ada sesuatu yang tak biasa di bawah sana. Pangeran tersenyum, "Mengapa? terkejut? Pangeran balik menggoda. "Tiba saatnya dinda harus bertanggung jawab" Pangeran melotot pura2 marah.
"Sudah cukup main mainnya, segeralah tidur, pangeran membimbing Suri ke peraduan, dan berbalik pergi. "Kanda mau kemana?" Suri bertanya khawatir. "Tidurlah, Kanda harus mandi, disini sangat panas" Pangeran berjalan cepat ke ruangan mandi tepat di sebelah kamar tidur mereka.
"Panas???" Suri mengernyitkan keningnya bingung, menarik selimut untuk mencari kehangatan karena hujan mulai turun membuat malam menjadi semakin dingin.
__ADS_1