
Pangeran Indra menabuh gong mengikuti gamelan yang begitu mendayu mengiringi tarian Suri. Semua begitu terhipnotis fokus menonton tari gambyong yang ditarikan 7 orang gadis dengan Suri sebagai penari utama. Pangeran Indra sengaja memilih menjadi pemain gong agar lebih leluasa memperhatikan Suri saat menari.
Hingga satu saat pandangan mereka bertemu, pangeran memberikan senyum termanisnya pada Suri. Suri membalas senyum pangeran dengan tatapan tidak suka pada pangeran Indra yang berani menatapnya. Tarian berakhir dan Suri terlihat menjauh menghilang di keramaian penonton.
Raden Ayu Rengganis, putri kedua yang mulia raja Majapada yang mulia Raja Gajah Pati dan Permaisuri Roro Ayu Sekartaji. Ayu mendekati kakaknya Putra Mahkota Kerajaan Majapada Pangeran Adipura Persada. "Kangmas" "Kangmas" Ayu memanggil kakaknya berulang ulang, Pangeran yang sedang asik menonton persembahan wayang golek menjawab singkat "Ya diajeng, ada apa" Pangeran tidak mengalihkan pandangannya dari menonton.
Ayu mulai kesal karena diacuhkan oleh kakaknya. "Kangmas!" Ayu berdiri meninggalkan Pangeran Adi yang seakan tidak peduli dengan kehadirannya. Tahu Ayu marah padanya, Pangeran segera mengejar adiknya, "Diajeng tunggu!" Ayu menghentikan langkahnya "Jangan cemberut begitu, makin jelek" pangeran menggoda adiknya. "Biar saja jelek, jelek gini adikmu juga toh kang mas" Ayu makin kesal karena di goda.
"Ya diajeng benar, meskipun jelek kangmas tetep sayang" Pangeran Adi mencubit hidung adiknya. "Aww! sakit" Ayu mengusap hidungnya yang memerah karena dicubit kakaknya. "Maaf, jangan marah lagi ya, kangmas tidak bermaksud tidak peduli padamu diajeng, diajeng kan tahu, lakon Rama dan Shinta itu lakon kesukaan Kangmas" Pangeran Adi membelai rambut adik yang sangat disayanginya itu.
"Ayo, sekarang mau cerita apa, kangmas siap mendengarkan" Pangeran membimbing Ayu untuk duduk di kursi taman yang jauh dari keramaian penonton wayang, sementara itu tanpa mereka sadari sepasang mata sedang menatap mereka dari atas pohon kenari yang rindang di atas mereka.
"Kangmas, tadi Ayu liat Kangmas Arya Dwipangga menatap Ayu" Ayu mengadukan Pangeran Indra yang sekarang menjadi Pangeran Arya Dwipangga. "Kenapa? bukankah biasa saja seorang kakak melihat adiknya diajeng?" Pangeran Adi bingung pada sikap adiknya.
__ADS_1
"Tatapannya itu lho kangmas, aneh sekali, seperti...." Ayu ragu untuk mengatakannya. "Aneh bagaimana diajeng? seperti apa?" Pangeran Adi bingung. "pokoknya aneh, seperti bukan pandangan seorang kakak pada adiknya, tapi seperti tatapan seorang pria pada kekasihnya" Ayu menunduk malu "Ha.. ha.. ha.. pangeran tertawa lucu mendengar apa yang diucapkan adiknya. "Sekarang diajeng yang aneh, dia itu kangmas mu, meski kita beda ibu dia tetep kangmas mu, sudah lah jangan difikirkan" Pangeran Adi menenangkan Ayu. "Tapi kangmas" Ayu masih tidak puas dengan ucapan kakaknya itu. "Sudahlah, malam semakin larut ayo kangmas anter pulang" Pangeran Adi membimbing adiknya untuk kembali ke keraton.
Sepanjang jalan mereka hanya diam, Pangeran mengantar Ayu hingga sampai di halaman kediamannya astana Mawar Putih, menunggu Ayu masuk hingga hilang dibalik pintu, sebelum melangkah pergi untuk kembali menonton pertunjukan wayang kesukaannya.
Pangeran Indra tersenyum mendengar pembicaraan antara Ayu dan Pangeran Adi. 'Pantas saja dia terlihat tidak suka saat aku menatapnya, batin pangeran Indra ternyata dikehidupan ini kami bersaudara. 'Aku harus selidiki dulu agar tidak salah langkah dan membuat Suri membenciku' batin pangeran sambil berlalu.
Pangeran Indra kembali ke lapangan tempat pertunjukan wayang berlangsung, sebenarnya dia tidak berniat menonton, tapi langkah kaki sang pemilik tubuh menuntunnya kesana. "Kau disini juga Arya" tiba tiba seseorang menepuk bahunya.
"Sejak kapan kau sopan sekali Arya, biasa saja kita diluar istana bebas" Pangeran Adi tertawa mendengar cara bicara pangeran Indra. "Mana mungkin aku melewatkan lakon kesukaanku, bisa bisa si dalang harus main dua malam suntuk karena aku belom menonton ha ha ha pangeran tertawa meras lucu dengan leluconnya sendiri. Sementara Pangeran Indra hanya menatap datar pada Pangeran Adi.
"Kau ini kaku sekali Arya" pangeran Adi kesal melihat Pangeran Indra sama sekali tidak tertawa dengan leluconnya barusan. "Baiklah karena Dikmas serius, kangmas juga mau bicar serius, ada hal penting yang harus dikmas tahu" Pangeran Adi mulai bicara serius.
"Bagaimana jika obrolan ini dilanjutkan besok saja kangmas, dikmas tidak ingin mengganggu kesenanganmu malam ini' Pangeran Indra berdiri, sesaat kemudian datang seorang abdi menghampiri "Pangeran akan menginap di istana malam ini?" Pangeran Indra diam tidak menjawab. "Sebaiknya begitu dikmas jadi besok pagi kita bisa segera bertemu saat selesai makan pagi" Pangeran Adi yang menjawab pertanyaan abdi dalam di kediaman Arya Dwipangga.
__ADS_1
"Pergilah Wiro siapkan kamar untuknya" Pangeran Adi memerintah "Sendiko dawuh gusti pangeran" Sang abdi membungkuk hormat sebelum melangkah mundur meninggalkan mereka, dan Pangeran Indra mengikuti sang abdi dari belakang.
Setelah beberapa langkah, sang abdi baru menyadari kalau Pangeran Indra berjalan di belakangnya "Gusti pangeran? mengapa berjalan di belakang hamba, waduh gusti, saya bisa dihukum kalau ada yang melihatnya" Sang abdi sangat khawatir akan dihukum karena seharusnya Junjungannyalah yang berjalan dimuka, dan abdinya mengikuti dari belakang.
"Bukankah sudah sering ku katakan, aku sama saja sepertimu, hanya manusia biasa" Pangeran berkata dingin. Jangan gusti hamba tidak berani nanti hamba bisa dihukum, bisa kualat juga" Sang abdi menjelaskan "Sudahlah Wiro, aku lelah, jangan berdebat denganku, cepatlah" Akhirnya Wiro hanya menunduk dan berjalan di belakang Pangeran Indra. Saat tiba di istana Pangeran Indra berhenti "Wiro siapkan kamarnya cepat aku akan menunggu sambil berjalan jalan di taman" 'Sendiko dawuh gusti" Wiro berjalan cepat dan masuk ke sebuah bangunan, 'Owh disitu' pangeran tersenyum, kali ini pangeran tidak ingin gegabah agar tidak ada yang curiga, jika tidak bisa terpaksa pura pura lupa ingatan lagi.
Pangeran Indra berjalan mengitari istana, ketika melihat sosok yang sangat di rindukannya sedang berganti pakaian di kamarnya, jantung pangeran seakan berhenti melihat tubuh Suri yang begitu meggoda. Seakan merasa ada yang memperhatikannya Suri menoleh, pangeran pura pura tidak melihat. saat pangeran menoleh lagi seseorang sedang menutup jendela yang ternyata tertiup angin hingga terbuka cukup lebar. 'Ah sayang, kenapa peristiwa pertama kita berjumpa seakan terulang kembali' Pangeran Indra membatin.
Dengan hati gundah Pangeran memilih kembali ke kamarnya, terlihat Wiro sedang berdiri di depan kamar "Istirahatlah, dan besok pagi" "Sendiko dawuh gusti" Wiro melangkah mundur dan meninggalkan pangeran Indra.
Pangeran berbaring, kembali memikirkan apa yang baru saja dilihatnya tanpa sadar pangeran tersenyum membayangkan apa yang terjadi di kerajaannya saat pertama mereka bertemu 'Ah sayang aku begitu merindukanmu' pangeran membatin dan menutup muka nya dengan bantal seolah tak ingin ada yang tahu apa yang ada dalam fikirannya saat ini.
tq 1793 view, maaf kalau hari ini dan besok tidak bisa up, author lagi berduka 😢 jika bisa tetap di usahakan meski cuma 1 part🙏
__ADS_1