Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
44. Pangeran dalam mimpiku


__ADS_3

Seketika seluruh istana panik, Amak Juriah dan Siti baru saja selesai mengganti pakaian Suri ketika Datuk Malin datang, "minggir, tinggal kami" suara Datuk Malin mengejutkan Amak Juriah dan Siti yang langsung undur diri meninggalkan kamar Suri.


Datuk Malin memeriksa nadi Suri, memejamkan mata untuk berkonsentrasi, "Semua normal, sungguh aneh" Datuk Malin kembali memejamkan mata merafalkan mantera menempelkan dua jarinya di kening Suri dan tiba tiba terdorong kebelakang, Datuk Malin memegang dadanya, perlahan darah segar mengalir dari sela bibirnya.


'Kekuatan apa ini, tak mungkin orang yang sudah mati bisa menyerang balik, apalagi hanya lewat fikiran orang lain, ah sungguh aneh dan membingungkan, Datuk Malin membatin. Datuk Malin duduk bersila menangkup kedua tangan di depan dada berusaha mengobati luka dalamnya dengan mengatur tenaga dalamnya, perlahan Datuk Malin bersimpah keringat 'selesai' Datuk Malin segera beranjak setelah memastikan keadaan Putri Dara Jingga yang tertidur pulas seakan tak pernah terjadi apa apa.


Keluar dari kamar Suri Pangeran Mahkota sudah menunggu, "Bagaimana adikku datuk? apa dia baik baik saja?" Pangeran bertanya cemas. "Putri baik baik saja pangeran, tak perlu khawatir, hamba mohon diri" Datuk Malin segera berlalu setelah menunduk hormat pada Putra Mahkota.


Putra Mahkota yakin ada sesuatu yang terjadi melihat Datuk Malin menyembunyikan sesuatu, menjajari langkah Datuk Malin "Apa kau yakin Datuk, adikku tidak apa apa?" Putra mahkota berkata dengan nada menyelidik, "Maafkan hamba putra mahkota, sebaiknya tanyakan langsung pada yang mulia, hamba tidak berhak menjelaskan ini. Datuk Malin mempercepat langkah setengah berlari meninggalkan pangeran yang masih penuh tanya.

__ADS_1


"Sebenarnya apa yang terjadi selama aku tidak ada?" Putra mahkota menatap Siti berharap ada penjelasan, tapi yang ditatap hanya menunduk, tak berani menatap mata elang putra mahkota.


"Aku harus menghadap, ayahanda harus menjelaskan apa yang terjadi' Pangeran bergegas menemui Baginda Raja di ruang kerjanya. Benar saja seperti yang di duga Datuk Malin ada di sana. "Ananda Putra Mahkota" Baginda raja sedikit terkejut dengan kedatangan putra mahkota yang tiba tiba, namun hanya sesaat wajahnya sudah kembali terlihat biasa.


"Ada sesuatu yang ingin ananda tanyakan pada ayahanda apa yang sebenarnya terjadi pada adinda Putri Dara Jingga?" Putra mahkota bertanya dengan curiga. "Ananda baru saja pulang, apa tidak sebaiknya istirahat dulu, besok kita bicarakan" Baginda raja menegaskan dengan tatapan matanya bahwa itu perintah yang tak bisa dibantah. Walau tidak puas dengan jawaban ayahandanya Putra Mahkota terpaksa berundur.


"Pengawal tutup pintu, siapapun tidak di izinkan masuk", "menjunjung titah baginda" Baginda Raja Bagagar Alam mulai berbicara setelah suara derit pintu yang berat menghilang "Apa yang terjadi" Baginda bertanya dengan khawatir "Hamba belum bisa memastikan yang mulia, sepertinya ingatan yang muncul pada Putri bukan ingatan Putri Dara Jingga, tapi ingatan Putri sebenarnya.


Datuk Malin menjelaskan apa yang terjadi pada Putri Dara jingga terkecuali mengenai Putri Dara Jingga asli yang telah meninggal hanya Baginda dan Datuk Malin yang tahu, makin sedikit yang tahu akan semakin baik untuk menghindari masalah yang makin besar.

__ADS_1


"Perintahkan telik sandi terhebat untuk menyelidiki, apakah pangeran itu sudah mati atau masih hidup, lakukan segera, beta ingin semua selesai sebelum pesta panen dilaksanakan" "Menjunjung titah yang mulia" Datuk Rao segera berlalu.


"Apa menurutmu Pangeran itu sehebat itu Datuk?" pertanyaan Baginda raja mengejutkan Datuk Malin, "Sepengatahuan hamba pangeran memang memiliki ilmu silat yang cukup tinggi, tapi bukanlah seorang pendekar yang maha sakti hanya sebatas ilmu silat biasa dan ilmu strategi perang biasa" "Jadi?" Baginda bertanya lagi "Menurut hamba, jika benar pangeran Mudo masih hidup, dia pasti bukan Pangeran Mudo" "Apa?" Baginda sangat terkejut "Ya yang mulia" saat hamba membaca fikiran putri terlihat ikatan yang sangat kuat di antara mereka meski putri tidak ingat tapi hamba yakin pangeran itu datang karena putri"


"Apa yang harus kita lakukan?" Baginda tak kuasa menahan kebingungannya, akhirnya baginda berdiri dari singgasana dan berjalan ke hadapan Datuk Malin "Hamba belum tahu yang Mulia, sebaiknya kita tidak gegabah karena kita belum tahu kekuatan seperti apa yang sedang kita hadapi, untuk sementara kita hanya bisa menunggu hasil penyelidikan telik sandi kita"


"Baiklah, jaga putriku Datuk, kupercayakan semua padamu" "Menjunjung titah yang mulia" Datuk Malin meninggalkan Baginda Raja, 'Hmmmm....perjalanan pulang pergi akan memakan waktu sedikitnya 4 hari, apa mungkin masalah ini bisa menemukan titik terang sebelum pesta panen" Datuk Malin membatin keresahan terpancar di wajahnya.


Cahaya matahari menyapa pagi Suri, merasakan hawa panas dan cahaya yang menyilaukan matanya Suri terbangun, 'Ah.. sudah pagi' Suri memegang kepalanya yang sedikit pusing, berusaha mengingat kembali apa yang terjadi tadi malam, Suri ingat tadi malam dirinya sedang melakukan ritual penyucian raga, saat selesai Suri melihat sesosok bayangan seorang pangeran yang sedang tersenyum melihatnya, namun sesaat kemudian pangeran itu menghilang, seiring bayangan itu menghilang Suri pun kehilangan kesadarannya.

__ADS_1


"Pangeran itu? bukankah pangeran itu yang selalu hadir dalam mimpiku?" Akhhhh Suri memegang kepalanya sakit sekali, Tolongggg..... Suri berteriak lemah, Siti yang berdiri di depan pintu segera masuk melihat Putri junjungannya yang sedang kesakitan "Pengawal segera panggil Tabib, Putri kesakitan!" Akhirnya pagi yang tenang menjadi kacau dengan keadaan putri Dara Jingga.


Tq 826 view, up dikit, cari ilham dulu semoga siang bisa up lagi, happy reading.


__ADS_2