Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
103. Lee Mey Hwa 12


__ADS_3

Maaf ya reader semalam nggak update, jaringan di tempat author lg ngga bersahabat, berkali kali harus jeda karena terganggu sinyal ilang, belum lagi kesibukan di dunia nyata benar benar menyita waktu, dan ini akhir Lee Mey Hwa ya, maaf kalo endingnya terburu buru atau terkesan dipaksakan tamat kayak sinetron turun rating, karena udah kepanjangan, ok Reader๐Ÿ‘‡tetap love you 7 turunan 4 tanjakan๐Ÿ˜˜


happy reading๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž๐Ÿ’ž


Pangeran menyelinap ke kamar Suri, namun tiba tiba telinga mendengar suara mencurigakan dari atap, pangeran segera merapatkan tubuhnya ke dinding dan merafal mantera penghilang raga, tiba di kamar Suri pangeran baru menampakkan wujudnya kembali.


Pangeran tersenyum melihat Suri meringkuk kedinginan, selimutnya terjatuh ke lantai tanda tidurnya sangat nyenyak. "dinda..., .......Sayang,...." pangeran memanggil pelan tapi tak ada jawaban. 'Hmmmmm... Kalau sudah tidur sudah sekali dibangunkan' pangeran membatin. "Dinda....... sayang..." pangeran memanggil lagi tetap tak ada sahutan, hingga pangeran terpaksa mengeluarkan jurus ampuhnya, mengulum bibir Suri yang sejak tadi memang begitu menggoda, sengaja menggigitnya pelan sehingga sang empunya terbangun dan melotot marah.


Pangeran tersenyum dan waspada, saat Suri ingin berteriak marah pangeran langsung membungkam Suri, dan berbisik di telinganya "Jangan berisik, ada penyusup". "Jangan bercanda" Suri menjawab tak kalah lirih. Pangeran menggeleng, "Tidak sayang, aku tidak bercanda". Ada 3 orang di atap, 3 lagi di samping kamar, 4 orang di depan gerbang utama, dan 4 orang lagi di paviliun, kita sudah di kepung.


"Jadi apa yang akan kita lakukan? Suri bertanya cemas. "Tenanglah, jangan berbuat apa apa, lindungi Tabib Lee, sementara aku akan membereskan mereka semua" Pangeran memerintah. "Tidak mau, mana mungkin aku hanya diam sementara kau sedang bertarung nyawa pangeran!" Suri melotot kesal. "Tak kusangka kau begitu mencintaiku sayang, begitu takut kehilanganku" Pangeran tersenyum menggoda. "Dasar gila, keadaam genting begini masih saja bisa bercanda" Suri berusaha menahan amarahnya yang makin memuncak. "Sayang mendengar ucapan cintamu lebih penting dari segerombolan penjahat diluar sana" Pangeran berkata lagi. "Sudahlah, terserah kau saja pangeran, aku akan ke kamar tabib Lee, Suri beranjak dari ranjangnya kesal namun tanpa di duga pangeran menarik Suri hingga jatuh tepat di pangkuan pangeran. "Stt.. " pangeran memberi kode pada Suri agar diam, karena sudah tahu Suri pasti akan marah larena kejadian barusan. "Jangan lupa, hati hati, satu lagi jangan marah" selesai mengatakan nasehatnya pangeran langsung membenamkan bibirnya di bibir Suri, dan Suri hanya diam, lelah berdebat. Saat pangeran melepaskannya Suri segera bangun, tak peduli apa yang terjadi dia harus segera beranjak dari sana jika tidak entah apa yang terjadi, Suri menggeleng dengan sikap pangeran yang selalu saja mencuri kesempatan untuk menciumnya.

__ADS_1


Pangeran segera merafal mantera penghilang raga setelah yakin Suri aman bersama tabib Lee. Satu persatu penyusup di habisi dengan mudah dan tanpa suara, hingga semua habis tak tersisa, setelah nya pangeran segera menyusul Kwan Yiew dan Mey Ling di markas rahasia mereka di hutan.


Pangeran bergegas menembus hutan di tengah malam yang gelap walau sedikit kesusahan akhirnya pangeran tiba di markas, namun sayang, pangeran sudah terlambat, terlihat dari kejauhan markas mereka sudah di lalap api. "Sial, semua berjalan di luar rencana, apa yang harus kulakukan sekarang, aku tidak tahu siapa kawan siapa lawan, bermacam fikiran berkecamuk di kepala pangeran, hingga pangeran melihat sosok yang sangat di kenalnya 'Lian, apa yang dilakukannya disini' batin pangeran bingung.


Pangeran segera mendekati mereka, karena tidak terlihat pangeran bebas melihat mereka sedekat mungkin. "Hmmmm... akhirnya hari hari yang melelahkan sudah berlalu, sungguh menyebalkan harus menjadi pelayan" Lian berbicara sambil tersenyum. "Bersabarlah sedikit lagi Feng Lie, saat kita bisa menyingkirkan pangeran sialan itu, kau akan.ku angkat menjadi jenderal" Lawan Bicara Lian menjawab sambil tertawa. "Aku Sudah tak sabar lagi Perdana Menteri. Tahulah pangeran sekarang siapa penghianat yang ada di rumah Tabib Lee 'Sialan ternyata aku benar benar tidak waspada, ternyata penyusup itu tepat disampingku, kau harus mati Lian, dan tua bangka licik itu ternyata kau otak dari semua bencana di kerajaan ini' Pangeran Indra mengepalkan tinjunya geram.


Pangeran Indra pulang dengan perasaan marah yang berusaha sekuat tenaga di tahannya, untung saja Lian tidak tahu rahasia siapa dia sebenarnya jika tidak mungkin sudah sejak lama mereka menyerang kediaman Tabib Lee.


Pangeran bergegas kembali kerumah, berulang kali mencoba berteleportasi tapi gagal, karena tidak berhasil berkonsentrasi penuh,akhirnya pangeran terpaksa harus berlari, berpacu dengan waktu jika perdana menteri tahu bahwa seluruh anak buahnya telah tinggal nama sangat berbahaya buat Suri dan Tabib Lee, 'Semoga saja tidak terlambat' Pangeran bergumam cemas.


Paviliun terlihat sepi , pangeran mulai gelisah melihat paviliun yang sepi, dan masuk menuju kediaman utama, sama seperti paviliun tak ada seorang pengawal dan pelayan yang biasa bekerja sejak pagi pagi sekali, pangeran makin cemas dan lansung menuju kamar tabib Lee, apa yang di khawatirkan pangeran benar benar terjadi.

__ADS_1


'Sial aku terlambat"' Pangeran membatin kesal. Seluruh pelayan dan prajurit bersusun rapi sesuai pangkatnya tangan terikat di belakang dan mulut yang di sumpal kain. Suri dan tabib Lee terikat di kursi dengan posisi sangat dekat dengan perdana menteri tepat di tengah tengah ruangan, tepat di belakang perdana menteri menempel rapat 4 orang pendekar pilihan bersiaga dalam kuda kuda siap menyerang siapapun yang mendekat.


'Apa yang harus kulakukan? ayo berfikir, berfikir, berfikir cepat' pangeran Indra berusaha keras memikirkan strategi apa yang harus di ambil, ketika perdana menteri berkata "Menyerahlah pangeran, apa kau ingin aku mulai membunuh mereka satu persatu? aku tahu kau ada disini, tak kusangka, kau sehebat itu, tapi sayang ilmu mu belum cukup untuk melawanku, menyerahlah, atau kau ingin kekasih hatimu ini saja yang kuantar lebih dulu ke surga?" Perdana menteri sengaja memprovokasi pangeran.


'Sial, benar benar sial, terkutuk kau perdana menteri, bagaimanapun caranya kau harus mati di tanganku' Pangeran membatin. "Ayolah, aku mulai tidak sabar, apa kau fikir aku hanya bercanda, atau kau fikir ancamanky hanya lelucon?" Perdana Menteri menatap pada prajurit yang berada di samping pelayan yang menjadi tawanan, dan prajurit itu langsung memahami perintah majikannya. "Aaaaaaarrgk...." tiba tiba terdengar satu teriakan memilukan, hanya dengan satu kali tebasan pelayan itu langsung tersungkur.


Perdana menteri tersenyum "Kau lihat aku tidak main main, keluarlah, apa kau ingin semua mati baru akan keluar, pangeran lemah sepertimu, bukan tandinganku!" Perdana menteri mulai kehilangan kesabarannya, dan "Aaaaaaaa...".satu teriakan bergema lagi, perdana menteri telah membunuh pelayan yang berada paling dekatnya.


"Uhuk uhuk.. Takdirmu telah tertulis perdana menteri, kau tak akan bisa berkuasa, tahta itu hanya milik keturunan Kaisar Hong, uhuk uhuk" Tabib Lee berkata sambil terbatuk batuk darah segar keluar dari sudut bibirnya.


"Ayah. . " Suri menatap khawatir pada Tabib Hong. "Ayah tidak apa apa nak, jangan khawatirkan ayah".Tabib Lee menggeleng lemah. Dan Perdana Menteri yang mulau dikuasai amarah, melemparkan pedangnya ke arah Tabib Lee, "Uhkkk" hanya lenguhan kecil yang keluar dari mulut Tabib Lee saat pedang itu menancap tepat di jantungnya. "Ayah......" Suri berteriak kencang, dan ingin berdiri menghampiri Tabib Lee, namun perdana menteri menendangnya hingga jatuh terjungkal, tangan dan kakinya yang terikat membuat Suri tak bisa melawan.

__ADS_1


Melihat Suri yang jatuh terjungkal pangeran tak dapat lagi menahan diri, Pangeran langsung menyerang Perdana Menteri, tepat saat perdana menteri melemparkan sebuah belati ke jantung Suri. "Aahhhh" Suri melenguh menahan sakit di dadanya, dengan gerakan cepat pangeran menangkap tubuh Suri, dan saat itu perdana menteri menyiramkan serbuk dan membaca mantera, hingga sosok pangeran segera terlihat. Pangeran Indra sudah terkepung, perdana menteri tersenyum penuh kemenangan, namun sesaat kemudian senyumnya hilang karena pangeran Indra sudah menancapkan belatinya, perdana menteri jatuh terkapar. Seketika ruangan itu menjadi kalang kabut, pendekar pendekar bayaran dan prajurit perdana menteri langsung menyerang membabi buta, pangeran tidak melepaskan Suri dari pelukannya, ketika seorang pendekar menyerangnya dari belakang, darah segar keluar dari sudut bibir pangeran, dan Suri menyeka darah itu dengan ujung hanfunya "Sudah berakhir" suara lirih Suri nyaris tak terdengar, pangeran mengangguk dan tersenyum, mereka menghembus nafas terakhir saling berpelukan.


14560 view tq๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2