Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
108. Bertarung sampai titik darah penghabisan


__ADS_3

Pangeran Indra tiba di paviliunnya saat bulan baru saja menggantikan tugas matahari. Raut kelelahan terpancar di matanya, pangeran Indra menatap sekeliling dan melihat sang kakek guru sedang bersemedi, wajahnya seperti orang tersenyum, pangeran pun ikut tersenyum, sang kakek sedang bertelepati dengan sahabatnya Feng Hoo.


Pangeran Indra hanya diam menunggu sambil bersandar di gawang pintu, karena sangat kelelahan tanpa sadar pangeran terpejam. Pangeran Indra tersentak saat merasa satu tangan menyentuh bahunya, pangeran langsung bersiaga menyerang, namun pangeran urung menyerang saat melihat sang kakeklah yang menyentuh bahunya.


Sang kakek tersenyum, "ayo kita harus bergegas, sudah tak ada waktu, bulan purnama sesaat lagi tepat di atas kepala" Arya Wisesa mengeratkan pegangannya di bahu Pangeran Indra, dan sesaat kemudian tubuh keduanya hilang dibalik kabut asap, mereka berteleportasi ke tempat Pangeran Anangga.


Sementara itu di hutan Halimunan Pangeran Anangga menunggu dengan gelisah, berbagai andaian muncul di kepalanya 'Tak mungkin dia akan mengorbankan kekasih yang sangat dicintainya ini, bagaimana jika dia tidak datang? tidak mungkin dia lebih memilih takhta? bukankah dia telah berusaha berkorban nyawa demi gadis itu? apa yang harus kulakukan jika dia tidak datang? Dasar kau Indra sejak kecil selalu saja.menyusahkanku, apapun yang terjadi kau harus mati Indra' Anangga membatin kesal "Hiyaaaaaa" Anangga melepaskan pukulannya, dan tiba tiba saja batu yang terkena pukulannya itu hancur berkeping keping.


Dan dua bayangan melesat dengan cepat dari balik batu. Pangeran Anangga tersenyum menyeringai melihat siapa yang ada di hadapannya. "Akhirnya kau datang juga, sebentar lagi kau tak datang gadis itu pasti sudah tinggal nama" Pangeran Anangga tersenyum licik. "Kau! berani kau menyentuhnya sedikit saja, aku pastikan kau yang akan tinggal nama!" Pangeran Indra tak bisa menahan emosi, langsung bersiap menyerang Pangeran Anangga,,namun di tahan oleh Arya Wisesa. "Kendalikan dirimu, dia sengaja ingin membakar emosimu" Arya Wisesa berkata sambil menatap tajam pangeran Indra.


Sementara Pangeran Indra yang melihat apa yang telah dilakukan Arya Wisesa hanya tersenyum mengejek "Kakek, dari dulu kau selalu saja membelanya, hanya dia yang kau jadikan murid sementara yang lain harus pergi ke akademi, apa salah kami, kau memang pilih kasih! dasar tua bangka tidak berguna!" Pangeran Anangga melepaskan amarahnya. Amarahnya sudah tidak bisa dikendalikan lagi, dia langsung menyerang membabi buta.

__ADS_1


Arya Wisesa menjauh membiarkan Pangeran Indra melawan Pangeran Anangga, seketika arena pertarungan menjadi kacau balau, pohon pohon tumbang, batu batu pecah berhamburan, kilatan kilatan pedang yang saling beradu menimbulkan cahaya yang menyilaukan dan bunyi yang sangat memekakkan telinga.


Peetarungan sangat sengit karena kemampuan Pangeran Indra dan Pangeran Anangga yang seimbang, hingga akhirnya pangeran anangga mengangkat tangannya dan tiba tiba dari gelang yang dipakainya keluar seekor ular yang sangat besar, ular kobra api binatang dimensi yang dimiliki pangeran Anangga. Pangeran Indra pun tidak mau kalah langsun gmengeluarkan berlian yang berisi binatang dimensi miliknya, Dragon langsung keluar meliuk liuk berputar di udara, cahaya sisik emasnya nampak bersinardi terpa cahaya bulan purnama ke 14 malam itu.


Pangeran Anangga tercengang melihat naga peliharaan yang dimiliki pangeran Indra, Naga bersisik emas binatang dimensi terkuat yang pernah ada, jika dibandingkan kobra api miliknya pastilah tidak setanding, pangeran Anangga terjajar beberapa langkah kebelakang. Dragon dan Kobra Api saling menyerang mereka bertarung di udara, kilatan kilatan api mewarnai langit malam itu pertarungan sengit terjadi hingga akhirnya kobra api di kalahkan dragon, tubuhnya terbakar dan jatuh lalu menghilang.


Melihat kobra apinya kalah, Pangeran Anangga tidak tinggal diam langsung menyerang Pangeran Indra, tidak ingin bermain main, Pangeran Anangga langsung menyerang Pangeran indra dengan kekuatan penuh yang dimilikinya. Namun Pangeran Anangga kembali dibuat tercengang Pangeran Indra bisa menandingi kekuatannya, pukulan yang di lancarkannya beradu dengan pukulan pangetan Indra hingga mengeluarkan ledakan yang sangat dasyat. "Darrrrr!" percikan api yang di akibatkan dua pukulan yang beradu itu membuat tempat mereka bertarung berguncang hebat, banyak pohon tumbang dan terbakar, rumput rumput menghitam, beberapa binatang yang turut terbakar menimbulkan bau daging hangus yang begitu kuat.


"Kau menang Anangga, namun jangan harap kekasihmu akan kembali padamu, Aaaaaaark" Pangeran Anangga menghunuskan belati kejantungnya, dari pada harus jatuh ditangan pangeran Indra dia memilih untuk bunih diri saja, sudah tak ada harapan lagi, jika dia hidup pasti akan menjalani hukuman yang berat.


"Tidaaaaaaak" Pangeran Indra berteriak ingin mencegah Pangeran Anangga bunuh diri, namun terlambat, gerakan pangeran Anangga begitu cepat, dan pangeran Indra tidak menduga Pangeran Anangga akan bunuh diri.

__ADS_1


Pangeran Indra terpaku di hadapan Pangeran Anangga yang terbujur bersimbah darah. "Sudahlah, semua adalah takdir dari penfuasa langit, bukan salahmu" Arya Wisesa menenangkan Pangeran Indra.


"Ayo kita harus segera menyelamatkan Suri, jika terlambat semuanya akan sia sia" Arya Wisesa mengambil gelang dimensi milik Pangeran Anangga, Arya Wisesa langsung menengenakan gelang itu merafal mantera sambil menggenggam tangan pangeran Indra, dan sesaat kemudian tubuh mereka menghilang, mereka telah berpindah ke dalam kotak dimensi.


Keadaan di dalam kotak dimensi sungguh membuat Pangeran Indra tercengang, karena apa yang dilihatnya sama persis dengan yang dilihatnya di mimpinya, pangeran Indra langsung berlari, menuju ranjang di bawah sebuah pohon, Suri tersenyum, seperti sedang bermimpi indah dalam tidur. Pangeran Indra mendekati Suri membelai rambutnya, dan mengecuo lembut keningnya "Sayang, maafkan kanda" Pangeran berbisik lirih ditelinga Suri.


"Cepatlah, kita harus segera keluar dari sini" suara keras Arya Wisesa menghentikan Pangeran Indra yang sedang membelai Suri. Pangeran Indra langsung mengendong Suri, dan sang kakek langsung merafal mantera, dan sesaat kemudian tubuh mereka telah kembali ke bukit Halimunan. Arya Wisesa segera melepaskan gelang ditangannya, dan melemparkannya sejauh mungkin "Dar!!!" gelang dimensi milik Pangeran Anangga meledak memecah kesunyian malam yang mulai berganti pagi.


Kokok ayam pertama menandakan bahwa fajar akan menyinsing menggantikan bulan yang begitu terang malam ini.


Pangeran Indra meletakkan tubuh Suri ditanah, memangku kepalanya dan memeluk erat kepala itu, sebuah senyuman tersunging di wajah tampannya sehingga lesung pipitnya terlihat jelas di kedua pipinya. Arya Wisesa membiarkan cucunya itu melepas rindu, tak ada yang perlu ditakutkan lagi, Anangga telah mati, namun untuk kali ini semua yang telah dilakukan keturunan Gading Buana tak bisa di maafkan lagi, seluruh keturunannya harus dimusnahkan agar tidak terjadi pemberontakan dan perebutan kekuasaan di Kerajaan Buana Gemilang.

__ADS_1


15085 view, tq so much more reader, maaf 3 hari ngga bisa update,autor langsung dapat surat cinta πŸ˜‚ dukung terus ya, dikit lagi tamat, love you 7 turunan😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2