
"Pengawal... panggilkan Angin Bayu" Pangeran Indra memerintahkan pengawal yang berjaga untuk memanggilkan Pendekar sekaligus sahabatnya Angin Bayu, namun baru saja di perintahkan Angin Bayu sudah mencul dari jendela seperti biasa. "Merindukanku pangeran?" Angin Bayu memonyongkan bibirnya menggoda pangeran Indra. "Merindukanmu?, cih! apa kau sudah bosan hidup!" pangeran membuang muka pura pura kesal, kemudian dengan cepat melemparkan belati ke arah Bayu. Bayu berkelit dengan cepat hingga belati menancap tepat di tengah gawang jendela. "Upss, meleset pangeran" Bayu tersenyum mengejek. Seperti biasa pangeran Indra dan Bayu selalu bercanda, bukan seperti pangeran dan pengawalnya tapi sebagai sahabat sejak kecil.
"Laporkan padaku apa yang kalian temukan" Pangeran Indra langsung bertanya serius. "Maafkan kami pangeran, belum ada perkembangan sama sekali, Putri Mahkota lenyap tanpa jejak" Bayu menggeleng sambil duduk di tepi ranjang.
"Sialan, siapa yang berani main main denganku, awas saja, jika kutemukan, kau harus mati ditanganku" Pangeran bergumam kesal.
"Pangeran, sepertinya orang ini sangat faham seluk beluk istana, kami sudah memeriksa seluruh jalur, kecuali..." Bayu memutuskan kalimatnya. "Kecuali apa Bayu, katakan saja" Pangeran menyela cepat. "Kecuali jalur rahasia pangeran" Bayu meneruskan kalimatnya. Jalur rahasia di dalam istana hanya jalur yang diketahui keluarga inti, tidak ada siapapun yang boleh masuk kesana, namun pengawal inti dan prajurit pilihan tahu bahwa jalur itu memang ada meski tidak tahu dimana tempatnya.
"Baiklah, aku mengerti, jika sudah begini terpaksa harus meminta bantuan kakek guru" Pangeran terlihat berfikir keras. "Pergilah, terus waspada akan segala kemungkinan" pangeran memejamkan matanya karena sangat mengantuk, dan Bayu segera pergi melompati jendela seperti biasanya.
Dalam tidurnya pangeran bermimpi, berada di sebuah padang rumput yang sangat luas,,sejauh mata memandang hanya ada hamparan padang rumput tak berujung, aroma rumput dan angin yang bertiup begitu menenangkan, tak ada cahaya matahari yang panas tapi padang rumput itu berlimpa cahaya yang terang.
Pangeran menatap berkeliling hingga matanya terpaku pada sebuah ranjang dengan kelambu putih di bawah sebuah pohon apel yang sedang berbuah lebat, matanya terpaku pada sesosok wanita yang sedang tertidur pulas di sana. "Suri..".Pangeran Indra berkata lirih, saat Pangeran Indra ingin mendekat untuk memastikan bahwa wanita itu benar Suri Istrinya, seseorang langsung menghadang langkahnya. "Kau?" Pangeran Indra sangat terkejut saat melihat siapa yang telah menghalangi langkahnya mendekat.
"Ya aku, mengapa kau begitu terkejut" Pangeran itu menjawab dengan sinis. Ternyata pria itu Pangeran Anangga Buana adik sepupu pangeran Indra. "Ternyata semua ini ulahmu! lepaskan istriku!" Pangeran Indra berteriak berang.
__ADS_1
"Apa melepaskannya? tidak semudah itu Indra, kau harus memenuhi permintaanku, atau kau akan lihat dia akan tidur selamanya hingga dia tak mengenalimu lagi, dan aku?, aku akan menjadikan dia milikku, tidak buruk bukan? dan sepanjang yang kutahu kau belum memiliki dia seutuhnya" Pangeran Anangga tertawa mengejek.
"Apa yang kau inginkan?" Pangeran berkata tajam. "Berikan aku kedudukanmu, saat ayahmu turun tahta maka aku akan menggantikannya. "Kau gila Anangga apa kau lupa kalian telah disumpah, kalian akan mati jika berani merebut tahta lagi!" Pangeran Indra berkata dengan berapi api.
"Hanya ayahku Indra, hanya ayahku yang disumpah bukan aku, sudahlah aku lelah berdebat denganmu, kutunggu jawabanmu besok malam saat purnama tepat di atas kepala, jika tidak istrimu akan tertidur selamanya.
Pangeran Indra terbangun, seluruh tubuhnya bersimbah keringat, 'Sialan, berani nya kau Anangga, ternyata kau dalang penculikan Suri, kau harus mati, karena berani bermain main denganku, aku tak peduli meskipun kau saudaraku, siapapun yang menghalangi jalanku untuk bersama dengan Suri, harus mati, dan aku sanggup mati berkali kali demi dia, dan kinipun sama' pangeran membatin marah lalu bangkit untuk mandi, rasa sakit ditubuhnya sudah tak dihiraukannya lagi.
Pangeran mandi bunga 7 rupa untuk menyucikan diri, pangeran akan bersemedi untuk menemui kakek gurunya Arya Wisesa. Matahari baru saja tergelincir ke barat saat Pangeran Indra memulai semedinya, bau kemenyan, gaharu dan cendana yang di bakar sungguh menusuk hidung memenuhi ruang bawah tanah tempat khusus bagi pangeran Indra untuk bersemedi.
"Tegakkan kepalamu, kau tak boleh lemah, murid Arya Wisesa bukanlah lelaki lemah yang boleh menyerah, tak ada kata menyerah bagi kita, kau harus tahu itu Indra" Kakeknya berkata dengan lantang. "Maaf kakek, aku lelah, aku lelah kakek, apa mungkin ini saatnya aku menyerah" Pangeran Indra terdudu lesu.
Tiba tiba Arya Wisesa menyerang Pangeran Indra dengan gerakan yang begitu cepat dan dengan dorongan tenaga dalam penuh, pangeran Indra yang tidak menyangka akan diserang langsung terdorong kebelakang, menabrak dinding gua. "Uhuk uhuk" Pangeran terbatuk, darah segar keluar dari sudut bibirnya.
"Untuk apa bersusah payah jika akhirnya kau menyerah begini, sungguh memalukan! Suri pasti menyesal telah memilihmu Laki laki lemah!" Sang kakek menyerang lagi, namun kali ini pangeran bergeming, Pangeran berkelit hingga serangan Arya Wisesa hanya mengenai tanah kosong.
__ADS_1
Pangeran Indra kesal ketika kakeknya menyebut nama Suri, dia tidak mau mengecewakan Suri hingga pangeran terpaci untuk melawan kakeknya, akhirnya mereka saling menyerang, dan di satu saat Arya Wisesa lengah, Pangeran Indra tidak menyia nyiakan kesempatan itu untuk langsung menyerang, sang kakek langsung terhuyung kebelakang.
Arya Wisesa tersenyum puas, lalu bangkit, membantu Pangeran Indra untuk berdiri.dan tiba tiba tubuh mereka sudah diselimuti kabit tipis, lalu menghilang.
Pangeran Indra membuka matanya saat merasakan tepukan di bahunya. Ternyata ia sudah kembali ke kerajaan Buana Gemilang, dan sang kakek guru juga sudah ada disana bersamanya, pangeran tersenyum menatap sang kakek, sang penyelamat sudah ada disana. "Bersihkan dirimu, kakek menunggumu di kediaman kakek, banyak hal yang harus kita lakukan, bergegaslah, sudah tak ada waktu lagi" Arya Wisesa berbicara sambil menatap bulan yamg makin meninggi dari jendela kamar Pangeran.
Pangeran bergegas membersihkan diri lalu menyusul kakeknya. Sang kakek sedang terpejam khusyuk merafal mantera saat Pangeran Indra tiba disana, pangeran hanya diam menunggu hingga Arya Wisesa membuka matanya.
"Kali ini lawanmu cukup berat Indra, ternyata adikmu itu telah menguasai ilmu beladiri dari cina yang disebut kung fu, Kultivasinya sudah tingkat 7, dan memiliki kotak dimensi dan juga hewan gaib peliharaan" Sang kakek diam sesaat lalu berkata lagi "Dayang Suri berada dikotak dimensinya sedang lelap dalam tidur yang panjang" Arya Wisesa menjelaskan.
"Kung fu? Kultivasi? kotak dimensi? sejak kapan dia mempelajari semua itu? mengapa kami tidak satupun mebgetahuinya? Pangeran bertanya heran. "Apa kau lupa, istri pamanmu gading buana berasal dari daratan cina? Adikmu itu diam diam telah belajar kesana ditempat kakek buyutnya berasal".Arya Wisesa menjelaskan.
"Hmmmmm.. sungguh licik, antas saja kami tidak bisa menemukan jejaknya sama sekali ternyata dia menyembunyikan Suri di alam lain, jadi bagaimana ini kakek?" apa yang harus kulakukan? aku tak mungkin bisa menyelamatkan Suri dengan keadaanku saat ini?" Pangsran Indra bertanya tak sabar.
"Kembalilah ke desa Liang Fu, temui Lee Ming Hoo, kakak tabib Lee, bawalah ini, berikan padanya, Arya Wisesa menyerahkan sebuah gelang giok naga pada pangeran Indra, "Pergilah waktumu tak banyak, esok saat matahari terbenam kau harus sudah kembali" Arya Wisesa menepuk bahu pangeran Indra lalu memeluk cucunya itu untuk memberi semangat. "Aku pamit kakek" pangeran langsung bersila merafal mantera untuk bertele portasi seketika tubuhnya menghilang dibalik kabut yang menyelimutinya, Arya Wisesa pun segera mengambil posisi bersemedi, dia akan melihat apa yang telah di lakukan Anangga, mereka tidak boleh terkecoh lagi kali ini.
__ADS_1
14804 view, tq reader semua, tetap dukung Suri dan Indra ya, love you😘😘😘😘😘😘😘