Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
48. Biar aku yang memilih


__ADS_3

Suri memutar tubuhnya di depan cermin, merasa puas dengan penampilannya, Suri pun melangkah pergi, menuju istal kuda di belakang istana, setelah diantar seorang pengawal Suri tiba, semua mata memandang takjub pada keanehan yang terjadi, Putri Dara Jingga yang mereka kenal hanyalah putri raja yang anggun dan manja, tidak pernah sama sekali berkuda, tapi hari ini tiba tiba ingin menunggang kuda ke gelanggang. Pengawal hanya berani mengikuti tanpa berani membantah.


Suri memilih seekor kuda putih, surainya yang panjang berwarna keemasan menarik perhatian Suri untuk membelainya, "Kau cantik sekali putih, bagaimana kalau kau kuberi nama cantik?" Kuda itu mengangguk, meringkik halus seakan mengerti ucapan Suri. "Baiklah cantik ayo kita ramaikan gelanggang" Suri memacu kudanya mengikuti prajurit yang sudah lebih dulu memacu kudanya, menuju gelanggang.


Tak sampai satu dupa mereka telah tiba di gelanggang, semua mata tertuju pada Suri yang baru datang bak seorang pendekar wanita, beberapa orang sampai berdiri tak percaya melihat kedatangan Putri Dara Jingga, Raja Bagagar Alam Sakti memandang istrinya seperti meminta penjelasan, Permaisuri hanya menggeleng, menjelaskan bahwa Permaisuri pun sama, tak mengerti dengan apa yang baru saja mereka lihat.


Di tengah gelanggang sedang berhadapan Pangeran Rinda dan Pangeran Hatta mereka beradu keahlian pedang, sama seperti yang lain merekapun berhenti bertarung melihat kedatangan Putri Dara Jingga, yang sangat memukau dengan baju merah dan kuda putihnya, Putri Dara Jingga seperti Bidadari yang baru saja turun dari kayangan.


Suri turun dari kuda dengan anggun, seorang Prajurit segera mengambil kudanya, Suri naik ke tribun utama dan duduk di samping ibundanya.


Raja Bagagar Alam Sakti memberi isyarat agar pertandingan kembali dilanjutkan. Pangeran Hatta menatap Suri tersenyum, menggodanya dengan mengedipkan mata. Suri tak bergeming pura pura tak melihat tingkah pangeran yang terkenal plamboyan itu.


"Trang" tebasan pedang pangeran Hatta yang sangat cepat membuat terpental pedang pangeran Rindra, wasit mengumumkan pertandingan di menangkan pangeran hatta.

__ADS_1


Pangeran Hatta tersenyum puas, semua pertandingan telah di menangkannya, berkuda, panahan, silat dengan tangan kosong, dan terakhir adu pedang. Seperti telah ditetapkan pemenang adu bakat berhak mengajukan 1 permintaan dan Yang Mulia Raja Bagagar Alam akan mengabulkannya. Pangeran Hatta tak henti henti nya tersenyum karena yakin akan hal yang akan dimintanya nanti.


Pangeran Hatta membungkuk hormat, menerima lencana kemenangannya. "Baiklah Pangeran seperti yang telah ditetapkan aku akan mengabulkan satu permohonanmu, apa kau sudah tahu, apa yang ingin kau pinta?" Yang mulia raja bertanya dengan penuh wibawa.


Pangeran Hatta membungkuk hormat" Sudah yang mulia, hamba memohon untuk meminang Putri Dara Jingga" seketika gelanggang menjadi sunyi senyap mendengar permintaan Pangeran Hatta. Seorang Pangeran dari Negeri Bagian berani melamar Putri Rajanya sungguh tindakan yang lancang. Pangeran Hatta sangat yakin Yang mulia raja Bagagar Alam tak bisa menolaknya karena janji sudah diucapkan tak mungkin di tarik kembali.


Tiba tiba saja "Langkahi dulu mayatku jika ingin melamar Putri Dara Jingga, dia kekasihku, hanya milikku!" Bagai petir di siang bolong suara itu membuat semua orang menatapnya dengan sangat terkejut.


"Pangeran Mudo Mangkuto, kau! lancang sekali! setelah apa yang kau.lakukan pada putriku sekarang kau berani mengatakan dia kekasihmu! apa kau lupa, kau hampir membunuhnya dengan racun yang kau berikan pada hari pertunangan kalian! pengawal! tangkap dia!


Yang Mulia raja menarik nafas panjang, terdiam cukup lama sebel akhirnya bersuara "Baiklah jika ini yang ananda inginkan, ayahanda mohon jangan gegabah mengambil keputusan ayahanda tak ingin ananda menyesal.


"terima kasih ayahanda, ananda ingin pangeran itu berhadapan dengan pangeran hatta, ananda ingin pangeran yang terhebat yang akan mendampingi ananda, bukan hanya pangeran yang ahli menggoda wanita".

__ADS_1


Senyuman yang selalu tersunging di bibir pangeran Hatta karena yakin akan meminang Dara Jingga musnah seketika. Apalagi mendengar sindiran Dara Jingga membuat hatinya pias, hancur sudah mimpi bersanding dengan Dara Jingga.


"Baiklah Putri jika itu yang putri inginkan, hamba akan buktikan bahwa hamba akan memenangkan pertandingan ini, bukan pangeran lemah yang baru bangkit dari kematian seperti dia"


"Mari kita selesaikan!" jangan menyesal jika aku menyerang kau belum siap pangeran manja!" Pangeran Hatta sudah dikuasai kemarahan ingin segera menyudahi perlawanan ini. Pangeran Mudo hanya tersenyum tidak terprovokasi dengan ucapan pangeran Hatta.


Serangan pembuka dari Pangeran Hatta hanya mengenai tempat kosong, terlihat sekali serangannya tidak fokus, pangeran Hatta sudah di kuasai amarah, hingga tak perlu waktu lama bagi pangeran Mudo untuk mengalahkannya.


Semua menatap tak percaya pada Pangeran Mudo Mangkuto, pangeran yang selama ini mereka anggap lemah berhasil mengalahkan Pangeran Hatta yang dikenal memiliki ilmu silat cukup tinggi.


Tiba tiba Putri Dara Jingga melesat ke tengah gelanggang. "Lawan aku" Dara Jingga menatap tajam pada pangeran Mudo, "Aku akan menerimamu jika kau bisa mengalakanku. Pangeran Mudo hanya terpaku menatap Putri Dara Jingga yang sudah siap memasang kuda kuda untuk menyerangnya. Melihat Pangeran Mudo hanya diam Dara Jingga tak ingin membuang waktu, "Haaaaaa" Dara Jingga menyerang dengan kecepatan penuh tapi Pangeran Mudo hanya menghindar tak membalas sedikitpum serangan dara jingga, hanya berkelit ke kanan dan ke kiri.


Semua mata hanya bisa diam, antara kagum dan ngeri melihat Putri Dara Jingga yang sedang bertarung Yang Mulia Raja Bagagar Alam berdiri dari singgasananya, sedangkan permaisuri duduk dengan tangan menggenggam erat ujung selendangnya, permaisuri cemas jika sesuatu terjadi pada Putrinya.

__ADS_1


Hampir setengah dupa,Putri Dara Jingga terus menyerang tanpa henti, tapi Pangeran Mudo tak sedikitpun membalas serangan itu, Dara Jingga geram makin menyerang membabi buta, "Lawan aku!" aku tak ingin kamu mati konyol!" Dara Jingga berang, "Mana mungkin aku bisa melukaimu dinda, kanda sangat menyayangimu, kanda tak ingin dinda terluka!" teriakan Pangeran Mudo tak sedikitpun memberi pengaruh pada Dara Jingga, Dia makin menambah serangannya, hingga suatu saat"Aaaaaargh" Serangan mendadak Dara Jingga ke arah jantungnya membuat Pangeran Mudo refleks menyerangnya, pedang Pangeran menusuk Jantung Dara Jingga. Darah mengalir dari sudut bibirnya. Pangeran Mudo mematung karena terkejut tak menyangka pedangnya telah menusuk jantung Dara Jingga, seperti tersadar, pangeran berlari, memeluk Dara Jingga, "Dinda.. Maafkan maafkan kanda, Pangeran Mudo panik, menggendong Putri Dara Jingga hendak meninggalkan Gelanggang, Semua mata terpana tak percaya dengan apa yang terjadi hingga panglima berteriak, "serang..! serang dia..! jangan sampai lolos!" sesaat kemudian ratusan panah meluncur ke arah Pangeran Mudo, Pangeran Mudo jatuh tersungkur. "Kanda.." Dara Jingga berbisik lemah, mengelus Pipi Pangeran Mudo, "Dinda sudah ingat" Suri tersenyum, Pangeran Indra menangis, meraih tangan Suri yang membelai pipinya, mengecup lembut tangan itu. "Jangan bersedih ini takdir kita" Suri tersenyum, pangeran Indrapun memeluk erat tubuh Suri. tak lama kemudian hujan turun dengan lebat disertai angin ribut yang amat dasyat seakan langit menjawab bahwa mereka mati karena memenuhi sumpahnya.


904 view, tq so much more sudah mampir, 😘😘😘


__ADS_2