
Suri tiba di kamarnya dengan terengah engah, menangkup muka dengan kedua tangannya, jantungnya berdetak kencang 'Jangan jangan pangeran Indra hanya pura pura tidak ingat siapa dirinya, dia kan jahil' Suri membatin 'Kalau benar begitu awas saja, kali ini aku akan menghukumnya dengan hukuman berat yang tak akan pernah dia lupakan' Suri menumpahkan kekesalannya dengan membanting bantal hingga tanpa sadar bantal itu sobek, dan bulu angsa yang ada di dalamnya bertebaran.
'Ya ampun apa yang aku lakukan' Suri melihat bulu angsa yang mulai berterbangan di kamarnya. "Menyebalkan ini semua gara gara kau pangeran Indra" Suri menggerutu marah. "Aku salah apa Suri?", Tiba tiba saja pangeran Indra sudah berdiri di gawang pintu melempar senyuman termanisnya pada Suri, Jupin yang mengantarnya terkejut hingga mulutnya terbuka lebar, melihat kamar Suri yang berantakan penuh bulu angsa.
"Ti..ti..dak, tidak ada", Suri tergagap. "Jupin apa nyak yang kau lihat?" Indra bertanya pada Jupin. "Suri meletakkan telunjuknya di bibir agar jupin tidak memberi tahukan apa apa pada Pangeran Indra. "Di kamar ne behamburan bulu angsa" (Di kamar ini berserakan bulu angsa) Jupin menatap sinis pada Suri. Suri kesal sekali pada Jupin yang tak berpihak padanya. "Bulu angsa?", Pangeran Indra bertanya lagi. "Hi ih bulu angsa" (Ya bulu angsa). "Berarti tadik ada yang baamuk" (Berarti tadi ada yang mengamuk". Pangeran Indra tersenyum mengejek. Suri hanya menatap tajam pada Jupin, ' awas kau Jupin kubalas kau nanti' batin Suri kesal.
"Tinggalkan kami baduak" (tinggalkan kami berdua) perintah Pangeran Indra pada Jupin. Dan Jupin berlalu sambil melemparkan senyum mengejek pada Suri. "Kau marah padaku?" Tanya pangeran Indra setelah Jupin menjauh. Pangeran berusaha mendekat, Suri langsung maju menuntunnya, tak ingin Pangeran jatuh atau menabrak sesuatu.
"Jangan bergerak berdiri disini saja dulu" Suri memerintah pangeran Indra untuk menunggu sementara dia membersihkan bulu bulu angsa yang bertebaran di atas kasur. "Ha.. ha .. Hachim..! salah satu bulu yang terbang menempel di hidung Suri membuat Suri bersin. Pangeran tertawa pelan, Suri menatap geram pada pangeran yang menertawakannya, andai saja dia melihat pasti tak kan berani menertawakan Suri, matanya melotot seakan ingin menerkam Pangeran Indra. Suri mendudukkan pangeran di ranjangnya, setelah ranjang itu bersih dari bulu angsa yang berterbangan. "Duduklah di sini pangeran, aku akan membersihkan bulu bulu ini dulu" Suri berkata pada pangeran, namun saat Suri ingin menjauh pangeran menarik tangannya "Duduk di sini saja jangan kemana mana" perintah pangeran sambil menarik tangan Suri supaya duduk di sebelahnya. Karena pangeran tak melepaskan tangannya Suri terpaksa akur.
Pangeran mengeluarkan sebuah lonceng dari saku celananya, dan mengoyangkan lonceng itu, ting ting ting bunyi lonceng langsung terdengar memekakkan telinga, tak lama seorang wanita setengah tua datang tergopoh gopoh menghampiri. seakan tahu yang dipanggil telah datang pangeran Indra langsung memerintahnya, "Cik Miah, simpunkanlah kamar nik", (Cik Miah bereskan ya kamar ini) "Ayuhak In, tapi pian kaluar huluk lah, kaina wahin pulang di ulahnya" (Ya in, tapi kamu keluar dulu ya, nanti bersin pula kamu dibuatnya).
__ADS_1
"Ayuhak cik, hiyaulah mun sudah talah kaina" (Ya cik, panggil ya kalau sudah selesai nanti). Pangeran Indra menarik tangan Suri mengajaknya keluar. "Kita mau kemana? bisik Suri pelan takut di dengar oleh Cik Miah. "Jalan jalan saja, aku ingin jalan jalan" Pangeran Indra berkata senang.
Suri menuntun pangeran Indra ke taman, ""Wangi apa ini?" tanya pangeran Indra antusias, saat mereka tiba di taman mawar putih. "Ini taman mawar putih kanda" Suri menjelaskan. "Entah mengapa aku merasa seperti sangat mengenal aroma wanginya, tapi aku tidak ingat mengapa bisa begitu" Pangeran Indra berusaha mengingatnya tapi tetap saja tak ada yang iya ingat. "Kau sungguh ingin tahu?" Suri bertanya pada pangeran dan pangeran menjawab dengan anggukan. "Mawar putih ini, bunga kesukaanku, dan kau tahu itu pangeran, hingga membuatkan taman khusus untukku di kediamanku di kerajaanmu, taman itu sangat indah penuh dengan bunga mawar putih, ada gazebo di taman itu, dengan warna putih, semua perabotan putih, ada ayunan,meja kursi, karpet bulu, tirai tirai vas bunga gantung, vas bunga besar, Suri menjelaskan secara rinci, dan pangeran tersenyum mendengarnya "Apa kau mengingatnya?" tanya Suri penasaran melihat senyuman pangeran. "Aku pernah melihatnya di mimpiku" tapi kusangka itu hanyalah bunga tidur tak kusangka jika itu benar benar ada.
"In talah dah!" (In sudah selesai) Cik biah berteriak dari depan paviliun. "Ayok ingin kau bercerita sambil tiduran di kamar mu, aku lelah" Pangeran mengulurkan tangannya agar Suri menggandengnya ke kamar.
Sebenarnya pangeran Indra cuma pura pura lelah agar Suri tak menolak keinginannya untuk berlama lama di paviliun Suri. Mereka masuk dan melanjutkan cerita di sana, tak terasa sore telah berganti malam. Jupin tiba di gawang pintu, "In abahmu mahiyau" (In ayahmu memanggil) Jupin menatap tak Suka pada Suri yang menggandeng tangan pangeran Indra, buru buru di memegang tangan itu agar Suri segera melepaskannya.
Tiba di kamarnya pangeran Indra sangat kesal hingga melemparkan tongkat yang di pegangnya, Jupin hanya diam dan pergi meninggalkan Pangeran Indra.
Malam itu pangeran Indra mengunci diri di kamar, tak peduli saat Jupin mengantarkan makan malam untuknya, Pangeran ingin mereka tahu bahwa dia kesal dengan tingkah Jupin yang seenaknya saja padanya. Pangeran marah melemparkan apa saja yang di dapatnya, hingga dia kelelahan dan tertidur di lantai.
__ADS_1
Saat tengah malam, tiba tiba muncul satu cahaya amat terang, dan saat cahaya itu menghilang muncullah seorang kakek berpakaian serba putih, sangat kontras dengan rambut dan janggutnya yang putih, Kakek itu mengangkat tangannya, dan tubuh pangeran Indra langsung melayang di udara, dengan mudah kakek itu memindahkan tubuh pangeran Indra keatas ranjangnya.
Kemudian kakek itu menutup mata pangeran Indra dengan tangannya, dan muncul selarik sinar dari tapak tangan itu langsung mrnembus mata pangeran Indra dan menghilang di sana.
selesai melakukan itu, sang kakek bergumam pelan "Sudah waktunya kembali cucuku, terlalu lama disini hanya akan membahayakan kalian" Selesai dia bergumam, sosoknya menghilang tanpa jejak.
Pangeran Indra terbangun saat mendengar kokok ayam jantan, meraba kasurnya yang empuk, 'Kasur? bukannya tadi malam aku tertidur di lantai? Pangeran bingung dan bangun dari ranjangnya, tiba tiba Jedug! Aww! Pangeran Indra menabrak pintu, kepalanya pusing hingga terpaksa meraba raba untuk kembali ke ranjangnya, 'sial' pangeran Indra merutuki dirinya 'Mengapa aku bisa aku lupa kalau aku buta' Pangeran membatin, pangeran duduk di tepi ranjangnya, kamarnya gelap gulita karena tidak ada lampu disana.
Dari jauh pangeran melihat samar samar cahaya obor di lantai bawah, 'Apa itu? apa aku sudah bisa melihat?' Pangeran membatin senang, dia berlari ke arah balkon dan melihat malam yang begitu indah di bawah cahaya bulan dan bintang bintang yang sangat terang, 'Indahnya' pangeran membatin. Tapi aneh mengapa ayam itu berkokok di tengah malam? pertanda apa tu? Pangeran membatin ada sedikit perasaan tidak enak dihatinya. 'tapi sudahlah untuk apa memikirkan bikin suasana hatiku buruk, lebih baik menikmati keindahan ini meski belum purnama tapi bulan malam ini sangat indah, besok malam adalah malam bulan purnama, aku akan mengejutkan Suri, hari ini aku pura pura buta saja dulu' Pangeran tersenyum menyeringai membayangkan rencananya mengerjai Suri siang nanti, dia tak sabar menunggu matahari bersinar besok pagi.
12590 view! tq tq tqπππ
__ADS_1
Hari ini author seneng banget, alhamdulillah novel pertamaku lulus kontrak hari ini berawal dari iseng ngga nyangka bisa sejauh ini, tapi maaf lulus kontrak ngga bisa dirayain dengan crazy up, karena hari ini kesibukan di dunia nyata membuat author ngga bisa crazy up, tapi author janji saat ada waktu langsung crazy up lagi, dukung terus Suri dan Indra ya jangan lupa sedekah like dan komennya dibanyakin, happy reading n love you 7 turunanπππππππ