Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
42. Pangeran Indra, Pangeran Mudo Mangkuto


__ADS_3

Pangeran Indra Buana termenung di danau bekas istana kerajaan Swarna Bumi. Tak terasa sudah 1 purnama Suri meninggalkannya, pangeran terlihat sangat kacau tak adalagi wajah tampan hanya lelaki kucel berjanggut dan berkumis tebal.


Segala cara telah dilakukannya untuk mencari Suri, tapi hasilnya nihil, Suri seperti lenyap di telan bumi, Pangeran Indra menyesal karena tak bisa menahan amarah telah mengucap sumpah akhirnya harus menanggung kesedihan seperti ini. Memang benar kata pepatah sesal dahulu pendapatan sesal kemudian tiada gunanya.


"Apa aku harus bersemedi untuk menenangkan hati dan fikiranku supaya bisa tenang, baru nanti mencari Suri lagi" Pangeran Indra berkata dalam hati, setelah hampir putus asa pangeran merenung, memikirkan segala yang telah terjadi padanya.


Pangeran pulang ke istananya, setelah membersihkan diri pangeran berpesan pada pengawal untuk melarang siapapun datang ke paviliunnya, karena pangeran akan bersemedi untuk menyucikan diri.


Pangeran duduk bersila di altar yang memang disiapkan untuk bersemedi di ruang rahasia yang ada di bawah tanah paviliunnya, hanya orang tertentu yang tahu tempat itu.


Setelah merafal mantera pangeran memejamkan mata, mengosongkan hati dan fikiran dari segala hal duniawi. Pangeran hanya diam kaku tak bergerak hanya desah nafasnya yg menandakan dia masih hidup, tak terasa 7 hari telah berlalu pangeran akhirnya membuka mata, tersenyum senang, dalam semedinya pangeran melihat Suri, Suri yang tersenyum di depan jendela. Walau hanya sekilas pangeran sudah cukup senang.


Pangeran bangkit dari semedinya, kembali ke kamar, dan meminta disiapkan air hangat untuk berendam, saat berendam pangeran Indra terus tersenyum, membayangkan dirinya tak lama lagi akan bersatu dengan kekasih hatinya.


Setelah berpakaian, pangeran menuju ruang makan berkumpul dengan seluruh keluarganya untuk makan, semua yang melihat kedatangan pangeran Indra tersenyum senang, akhirnya setelah lebih dari 1 purnama ditinggal Putri Dayang Suri pangeran Indra kembali melanjutkan hidupnya.


Tak ada yang berani menyapa, semua makan dalam diam, seolah olah menikmati makan yang ada di piring masing masing.

__ADS_1


Selesai makan Pangeran Indra segera berdiri, tapi langkahnya tertahan setelah mendengar suara ayahandanya, "Tunggu ayahanda di perpustakaan ada hal penting yang ingin ayahanda sampaikan" Pangeran mengangguk, lalu menunduk hikmat dengan tangan kanan menyentuh dada sebagai tanda hormat pada ayahandanya.


Pangeran Indra duduk di depan jendela, memandang jauh keluar jendela, walau tak terlihat apa apa hanya terdengar suara gemerisik daun daun yang diterpa angin malam itu. Hingga tak sadar ayahandanya baginda Surya Indra sudah berada di sisinya.


"Jangan melamun,tidak baik" Suara Baginda Raja Surya memecahkahkan lamunan Pangeran Indra "Ayahanda" Pamgeran berpaling dan melihat ayahandanya berdiri dibelakangnya, "Terima kasih sudah kembali" Baginda memulai pembicaraan "Maksud ayahanda?" Pangeran Indra bingung tidak mengerti arah pembicaraan ayahandanya.


"Setelah satu purnama ananda bisa menerima bahwa tak ada yang bisa melawan kehendak langit, dan bisa kembali menjalani hidup seperti biasa" Baginda tersenyum menatap Pangeran Indra.


"Maafkan ananda karena sudah membuat ayahanda sedih, tapi maaf, ananda tak akan bisa melupakan Putri Dayang Suri, ananda akan terus mencarinya meski itu kelangit ke 7"


"Ananda sudah mendapatkan penglihatan dimana keberadaan Suri sekarang, dan ananda akan menyusul kesana, sumpah sudah diucapkan suratan takdir tetap harus dijalankan, mohon doa restumu ayahanda" Pangeran berlutut menghatur sembah.


"Baiklah, jika itu sudah menjadi pilihan ananda, ayahanda restui" baginda menepuk pundak pangeran. "Terima kasih ayahanda" Pangeran Indra kembali menghatur sembah sebelum meninggalkan ayahandanya senyum mengembang di wajahnya. Pengawal yang berjaga di depan perpustakaan sesaat saling memandang melihat pemandangan yang sangat langka itu, seorang pangeran Indra yang sangat dingin malam ini tersenyum.


Pangeran Indra tiba di paviliunnya, segera menuju cermin saktinya, matanya terpejam mulutnya komat kamit merafal mantera, dan sesaat kemudian wajah Suri yang dirindukannya terlihat di cermin, Suri kekasihnya sedang duduk di dekat jendela, senyum sumringah mewarnai wajah Pangeran Indra, pangeran menyentuh lembut wajah Suri di cermin seakan menyentuh pipi Suri, wajahnya memancarkan kerinduan yang sangat dalam, sesaat kemudian senyum itu hilang melihat wajah Suri yang sangat pucat. "Apa yang terjadi padamu adinda?" maafkan kanda sudah membuatmu harus menjalani takdir ini, kanda akan menjemputmu segera" Pangeran Indra mengepalkan tangannya menahan sedih dan marah.


Pangeran segera bersemedi, mengosongkan hati dan fikirannya. Sesaat kemudian pangeran membuka mata karena suara tangisan wanita di sampingnya.

__ADS_1


"Tidak mungkin, tidak mungkin, Putraku masih hidup, tabib tolong periksa kembali pasti ada yang salah" wanita itu menangis sambil mengguncang tubuhnya. Pangeran Indra berfikir cepat, ternyata dia baru saja berpindah raga, pemilik tubuh ini baru saja meninggalkan raganya.


"Ahhhh.." suara lemah pangeran Indra menghentikan tangisan wanita di sampingnya, "Ananda!!! kau!!! wanita di hadapannya itu terkejut menutup mulutnya karena sangat terkejut, kemudian tersenyum bahagia, panggil tabib! cepat panggil tabib! ruangan yang tadinya sangat murung karena berkabung, berubah hiruk pikuk karena pangeran yang kembali dari kematian.


Tabib memeriksa tubuh pangeran Indra, sesekali keningnya berkerut, sesekali menggeleng, "Tak masuk akal" suaranya lirih.


"Bagaimana tabib?" Suara cemas tiba tiba hadir di belakang tabib, Baginda raja Mangkuto berdiri disana dengan wajah cemas dan gembira yang meluap luap, tak sabar menunggu jawaban tabib Rau. "Sungguh suatu keajaiban yang mulia, pangeran sudah kembali, hamba sudah memeriksa pangeran, hanya butuh istirahat beberapa hari pangeran pasti sudah sembuh seperti sedia kala, hamba mohon diri dulu Baginda" Tabib Rao membungkuk hormat dan berlalu dari hadapan baginda raja mangkuto dengan sejuta tanya masih berkecamuk difikirannya. "Mustahil, tadi aku sudah memastikan bahwa pangeran sudah mati, tidak ada lagi tanda tanda kehidupan di tubuhnya, ah.. sungguh suatu keajaiban" bathin datuk Rao.


Pangeran Indra menatap sekeliling, melihat tatapan tatapan bingung dan tak percaya dihadapannya, tak ingin salah membaca suasana pangeran Indra pura pura lupa ingatan. "Apa yang terjadi? Siapa kau?" senyum bahagia di wajah wanita disampingnya tiba tiba lenyap. "Ananda, apa yang terjadi padamu, aku ibumu nak, Permaisuri Purnama Sari" Permaisuri menatap cemas pada putranya. "Kanda, apa yang terjadi pada putra kita?" "Sabarlah adinda, mungkin putra kita masih lelah, biarkan dia istirahat dulu, sebaiknya kita kembali, serahkan semua pada tabib Rao.


Baginda raja menuntun permaisuri Purnama Sari yang masih enggan meninggalkan putranya.


"Dayang..." suara lemah pangeran Indra mengejutkan dayang yang sejak tadi bersimpuh di sampingnya. "Ya pangeran, pangeran ingin sesuatu" Pangeran Indra menggeleng lemah "tolong jelaskan aku dimana? siapa aku? apa yang terjadi padaku?" Dayang Muti menatap pangeran Indra terkejut, tapi segera menjawab "nama pangeran, Pangeran Mudo Mangkuto, Pangeran Putra Mahkota Kerajaan ........... Ayahanda Pangeran Baginda Raja Mangkuto, Ibunda Pangeran, Permaisuri Purnama Sari, dan mengenai apa yang terjadi sebaiknya pangeran tanyakan langsung pada Baginda Raja" Dayang Muti menbungkuk hormat, "Hmmm baiklah, itu saja sudah cukup, terima kasih"


Dayang Muti melotot tak percaya "Seorang pangeran Mudo Mangkuto yang sangat sombong dan angkuh mengucapkan terima kasih?, apa aku bermimpi?" "Ada apa dayang? apa ada yang salah?" "Ti..tidak pangeran tidak ada, jika tidak ada lagi yang pangeran butuhkan hamba mohon diri, dayang Muti meninggalkan pangeran Inda dengan fikiran berkecamuk karena keanehan keanehan yang terjadi hari ini.


tq reader udah mampir, 780 view terima kasih dukungannya.

__ADS_1


__ADS_2