Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
25. Insiden di pasar


__ADS_3

Setiba di pasar Suri mengajak Melati untuk membeli makanan, "Melati ayo kita makan nasi lemak aku lapar sekali dari tadi malam aku belum makan", "Baik putri" mereka berdua segera menuju kedai nasi lemak Mak Siti yang terkenal paling enak di kerajaan Swarnabumi


Mereka memilih duduk dimeja paling pojok sedikit terlindung dari luar, tapi bisa leluasa melihat seluruh isi kedai.


Semua mata tertuju pada Suri, terdengar bisik-bisik memuji kecantikan Suri. "Cantik sekali, kalau belum punya calon suami aku mau jadi calon suaminya" terdengar suara pria yang berpakaian serba coklat teluk belanga coklat,sampin coklat dan bertanjak coklat terlihat dari pakaiannya kalo dia bukan rakyat biasa.


Dijawab oleh teman disebelahnya yang berpakaian serba hijau "Apa kausudah siap mati muda Badar" katanya mengejek.


"Memangnya kenapa, bukankah aku cukup tampan dan kaya Farid?, pasti banyak gadis gadis yang mau denganku, tak terkecuali gadis itu" jawab pemuda yang berpakaian coklat dengan ponggahnya.


"Apa kau tidak tahu, dia adalah Putri Dayang Suri, putri panglima perang Hang Tuah, dan tunangan Putra Mahkota?" pemuda yang berbaju hijau menjawab. "uhuk! Pemuda yang bernama badar tersedak, matanya merah,tersengal sengal memegangi dadanya, dia tak bisa bernafas.


Melihat kejadian itu Suri dengan sigap menepuk punggung pemuda bernama Badar " uhuk3x... hah...hah..hah, seketika lontong yang menyumbat tenggorokan badar keluar. Badar terengah engah langsung menyambar minuman.


Tapi malang nasib badar belum sempat duduk tenang tiba tiba saja satu tendangan mendarat di dadanya, Badar pun pingsan.

__ADS_1


Seketika kedai Mak Siti menjadi kacau, orang orang berlarian keluar,tak ingin jadi korban serangan pemuda tak dikenal.


Pemuda itu memakai baju serba putih, dengan jubah hitam panjang, memakai topeng di sebagian wajahnya, dan caping lebar yg membuat wajahnya tak terlihat.


"Hei kisanak, kenapa menyerang orang tiba tiba, dasar tidak punya hati, dia baru saja hampir mati tersedak, kau pula menendangnya sampai pingsan"


Suri mengomel tanpa henti, tiba tiba saja pemuda itu mendekat, mendorong Suri ke tembok, menutupi mereka dengan jubah sehingga tak terlihat orang lain, lalu membuka topengnya.


Suri ternganga, "Kau? belum hilang rasa terkejut Suri pemuda itu sudah menempelkan bibirnya ke bibir Suri, secepat kilat, Suri yang belum hilang rasa kagetnya langsung menutup mulutnya dengan kedua tangan.


Tergopoh-gopoh Melati mendekati Suri, "Putri, putri tidak apa-apa? maafkan hamba tak bisa menolong putri" Melati bersimpuh dihadapan Suri.


"Aku tidak apa-apa Melati, ayo kita pulang, tiba tiba saja selera makanku hilang" Suri berjalan meninggalkan Melati yang masih bersimpuh ketakutan.


"Melati!" panggil Suri lagi. "Ya Tuanku" Melati buru buru bangkit segera berjalan di belakang Suri. "Berikan ini pada Mak Siti sebagai ganti rugi tempatnya yang rusak".

__ADS_1


Suri menyerahkan sekantong Emas kepada Melati, "Baik tuanku" Melati bergegas menyerahkan sekantong emas pada Mak Siti, Mak Siti menerimanya dengan mata berbinar binar, awalnya dia menyangka usahanya akan bangkrut karena tak mampu memperbaiki kerusakan di kedainya.


Tapi kini dengan sekantong emas ditangannya Mak Siti dapat memperbaiki kedainya bahkan lebih besar dari sebelumnya.


"Terima kasih banyak Tuanku, terima kasih banyak, jasa baik tuanku putri tak akan pernah hamba lupakan ", Mak Siti bersimpuh di hadapan Suri.


"Baiklah Mak Siti, maafkan kekacauan hari ini" Suri berlalu pergi di ikuti Melati.


Setiba di kediamannya Suri langsung menuju Paviliunnya, tapi langkahnya terhenti karena suara seseorang menghentikan langkahnya.


"Suri, ananda tidak apa apa?" tiba tiba saja Panglima sudah ada dibelakang Suri. "Ananda tidak apa apa ayahanda, tidak usah cemas begitu, jika hanya lipas lipas kecil ananda masih mampu menghalaunya".


Suri berbicara sambil menjentikkan jari nya. "Dasar anak nakal, ayahanda cemas ananda malah bercanda", Panglima mengacak acak rambut Suri. Ha3x... Suri tertawa, baiklah ayahanda, ananda ke paviliun dulu. Suri meninggalkan ayahandanya sambil membungkuk hormat.


"Lain kali bawalah pengawal, jangan pergi sendiri" panglima berteriak memerintah. "Tidak mau" Suri menjawab dengan berteriak juga.

__ADS_1


"Dasar anak nakal" panglima bergumam sambil pergi menuju istana kembali untuk melanjutkan pekerjaannya yang terganggu karena laporan pengawal bahwa ada penyerangan yang terjadi pada putri kesayangannya.


__ADS_2