Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
50. Menemukan Suri di Kerajaan Swarna Dwipa


__ADS_3

Pangeran kembali bertapa di ruang bawah tanah Paviliunnya memfokuskan fikiran pada tujuannya, kerajaan Swarna Dwipa merafal mantera hingga akhirnya terlihat asap tipis di atas kepalanya, roh pangeran Indra sudah kembali berteleportasi.


Pangeran bangun karena terkejut dengan suara suara yang memanggilnya, Putra ku bangun sayang... hiks...hiks.. suara seorang wanita yang memanggil manggil di sela isak tangisnya dan tubuhnya yang terus di guncang olehnya.


"Ahhhhk... suara erangan pangeran Indra menghentikan wanita itu mengguncang tubuhnya. "Kau sudah bangun sayang, ya dewa terima kasih terima kasih sudah mengembalikan putraku, tabib cepat panggil tabib!" wanita itu terlihat gembira sambil menyeka air matanya.


Pangeran Indra hanya diam, tak ingin bertanya, lebih baik diam dari pada di sangka hilang ingatan lagi fikirnya. Matanya menyapu ke seluruh ruangan memperhatikan keadaan di sekelilingnya.


Tabib datang memeriksanya, dan wanita tadi menatapnya dengan senyuman yang begitu bahagia, sang tabib keluar tanpa mengatakan apa apa di ikuti sang wanita, tak lama seorang wanita masuk, mengganti perban yang melilit lukanya, sepertinya luka tusukan pedang.


Pangeran hanya diam berusaha kuat menahan perihnya luka ditubuhnya, kalau sebagai pangeran Indra dia pasti dengan mudah bisa menyembuhkan dirinya sendiri, tapi sekarang dia harus menahan kesakitan ini agar tak ada yang curiga.


"Anda sangat kuat, andai saja orang biasa pasti sudah mati" Asisten tabib itu berbicara sambil tersenyum menatap pangeran Indra. Pangeran hanya menjawab dengan helaan nafas "hmmmmm, Sakit ini tidak seberapa di banding sakit hatiku" pangeran Indra bingung entah mengapa kata kata itu yang keluar dari mulutnya, pangeran membuang muka tak ingin wanita itu melihat ekspresi wajahnya karena pasti akan membingungkan.

__ADS_1


"Betul sekali pangeran, sakit hati ditinggal wanita yang dicintai, apalagi wanita itu sampai tega ingin membunuhmu, tak bisa kubayangkan betapa sakitnya. Ni Luh Ayu Cempaka memang terlalu berani, entah apa yang terjadi jika ayahmu bisa menemukannya, dia pasti sudah dihukum mati"


'Ni Luh Ayu Cempaka, ternyata itu namamu di kehidupan ini' Pangeran Indra tersenyum. 'Aku pasti menemukanmu sayang, tunggu aku' pangeran berkata dalam hati. "Selesai" suara tabib perempuan itu menghentikan lamunan Pangeran Indra "Sebaiknya kau jangan terlalu banyak bergerak dulu rangga supaya lukamu lekas sem..." belum selesai kalimatnya Pangeran Indra sudah berdiri ingin keluar dari kamar itu."I Gede Rangga Sukma!" suara wanita itu mengejutkannya, Pangeran Indra berbalik menatap tajam padanya "Aku tak punya waktu lagi untuk berlama lama di kamar ini, aku harus menemukannya, sebelum ayahku membunuhnya!"


"Aaaargh..." pangeran Indra memegangi dadanya yang tiba2 berdenyut sakit, dia pun semboyongan, jika tidak segera bersandar ke pintu dia pasti sudah jatuh ke lantai. Sang tabib wanita memapahnya kembali ke Ranjang, kau memang keras kepala, apa susahnya sih mendengarkan ku sekali saja?" Sang tabib wanita mengomeli Pangeran Indra 'wanita ini pasti punya hubungan khusus dengan Rangga' bathin pangeran Indra sambil menatap tajam pada tabib wanita itu.


"Kenapa menatapku seperti itu, ngga terima? selalu saja melotot kalau diberi tahu, kau memang keras kepala" omelnya lagi. Pangeran Indra hanya diam menatap tabib wanita yang mengganti perbannya yg sudah berubah warna karena apa yang dilakukannya tadi.


"Tumben kau diam, sudah sadar sekarang tuan besar?" tabib wanita itu mulai bicara lagi, pangeran hanya menatapnya, "Apa sekarang I Gede Rangga Sukma, yang keras kepala, manja, suka bertindak semaunya sudah berubah jadi pria pemalu dan pendiam" tabib wanita itu kembali mengoceh Mendengar ucapan terakhirnya pangeran Indra mulai terprovokasi "Kau!" wajah pangeran Indra memerah menahan marah tapi sang tabib wanita malah tertawa "ha.. ha.. ha.. ternyata belum berubah masih sama mudah emosi"


"Bagaimana keadaannya Ni Luh" "baik tuan, hanya perlu istirahat hingga 1 sampai 2 minggu ke depan, tidak boleh banyak bergerak jika ingin segera sembuh,jika banyak bergerak akan memerlukan waktu lebih lama" Sang pria bijaksana terlihat mengangguk. "Kuserahkan dia dalam pengawasanmu Ni Luh jika dia tidak mau mengikutimu kau berhak menghukumnya" Sang pria menatap tajam pada Pangeran Indra.


"Baik tuan, putramu memang keras kepala, apa tidak sebaiknya dia ku ikat saja?" Ni Luh tersenyum menggoda. "Lakukan saja jika itu menurutmu baik, dia memang pantas menerimanya, cinta membutakan matanya hingga tidak tahu membedakan mana yang batu mana yang permata, jaga dia aku pergi dulu".

__ADS_1


'Ternyata dia ayah Rangga' Batin Pangeran Indra. "Ni Luh" Pangeran Indra memanggil sang tabib wanita yang akan beranjak pergi, sang tabibpun berpaling menatapnya "Ya, Rangga" "Terima kasih" disambut tawa keras sang tabib "Ha... ha.. ha.. apa aku tidak salah dengar I Gede Rangga Sukma berterima kasih, semoga saja hari ini tidak ada hal buruk yang akan menimpaku" dia tersenyum nakal 'Dasar wanita ini, dia suka sekali menggoda' bathin pangeran Indra, pangeran membuang muka menahan marah, "Oh ya sejak kapan kau sopan sekali memanggilku Ni Luh?, lucu sekali biasa hanya memanggil ku Sekar, apa dewa kematian sudah mengajarimu sopan santun?" sang tabib tertawa lepas Pangeran Indra sudah tidak tahan dia melemparkan bantal yang sejak tadi dicengkramnya, bukannya mengenai sasaran malah kena ke wajah lain.


Pangeran Indra terkejut "Ibu?maaf" pangeran merasa bersalah karena salah sasaran, Ni Luh Ayu Rengganis ibu Rangga sudah ada di depan pintu, wanita yang di panggil ibu hanya tersenyum, memungut bantal dan mengembalikannya ke atas ranjang. Kalian berdua tak pernah berubah, sejak kecil selalu tidak pernah akur, seperti anjing dan kucing"


"Dia yang memulai, aku sudah berusaha bersabar dengan omelannya, tapi dia sudah kelewatan" Pangeran Indra menggumam jengkel.


Sebelumnya di ruang perpustakaan yang juga ruang kerja bagi I Gede Kendra "Bagaimana keadaannya" tanya I Gede Kendra" "Sang hyang jagad betare menjawab doa doa kita, anakmu selamat, racun yang ada ditubuhnya sudah hilang, hanya perlu sedikit pengobatan dia akan sembuh seperti sedia kala" "Syukurlah, terima kasih banyak tabib" Aku pamit "homswastiyastu" tabib menangkup kedua tangannya di dada di balas dengan gerakan yang sama oleh I Gede Kendra dan Ni Luh Rengganis meski mereka memiliki kasta yang lebih tinggi tapi mereka sangat menghormati tabib itu yang telah sering membantu.


I Wayan Sukma adalah sahabat I Gede Kendra sejak kecil mereka tumbuh bersama. meski mereka berbeda kasta tapi mereka tetap bersahabat karena orang tua I Gede Kendra orang yang berfikiran terbuka tidak pernah membatasi pergaulan anaknya.


I Wayan Sukma memiliki seorang putri bernama Ni Luh Ayu Sekar Sari seperti ayahnya dia juga ahli dalam meramu obat obatan. Seperti Ayahnya Ni Luh Ayu Sekar Sari juga bersahabat dengan I Gede Rangga Sukma. Tanpa Rangga ketahui Sekar sebenarnya telah jatuh cinta pada Rangga, tapi Rangga mencinta wanita lain, Ni Luh Ayu Cempaka yang ternyata adalah anak seorang penyihir Calon Arang.


929 view, terima kasih sudah mampir, di part ini aku ambil nuansa bali, mohon maaf jika ada kesamaan nama dan tempat itu hanya rekaan author bukan sesuatu kesengajaan, tidak bermaksud menjelekkan,metendahkan atau merusak sejarah, semua nya hanya pemanis cerita. btw tq sudah mampir

__ADS_1


mohon di like, di 💖 biar makin semangat 😍😍😍


__ADS_2