
Hari masih terlalu pagi, ayam belum berkokok, apalagi matahari sudah pasti masih bersembunyi di balik awan, tapi Suri sudah bangun dan segera mandi, Suri bersemangat sekali karena hari ini akan bertemu dengan pangeran Indra kekasihnya. Suri berdandan sambil bersenandung :
Aku suka dia
tapi aku tak tahu
untuk bilang kepadanya
jika aku suka
jatuh cinta kepadanya
Dia cinta yang pertama
dia yang bisa membuat aku
merasa deg degan
berdebar di dada
diam saat mengingatnya
Bulan tolong katakan
bintang tolong bisikkan
__ADS_1
kepada dirinya
Aku yakin diriku nanti
pasti membuatnya
suka kepadaku
cinta kepadaku
Dan kita akan jadian
bulan tolong katakan
bintang tolong bisikkan
kepada dirinya
The Junas Monkey
"Jadian"
Suri terus bersenandung sambil menyisir rambutnya yang panjang, tanpa Suri sadari Melati dayang setianya sudah berdiri di belakangnya, saat Melati menoleh "Eh Sayang! sayang!" Suri terkejut bukan kepalang dan latah menyebut sayang.
Melati yang melihat junjungannya kaget hanya bisa menutup mulut menahan tawa. Suri memelototi Melati "Kenapa tiba tiba kamu sudah berdiri di belakangku Melati?, kenapa datang tidak memberi salam?" Suri bertanya dengan nada kesal.
__ADS_1
"Ampun Putri, maafkan hamba" Melati menghatur sembah, "hamba sudah memberi salam tapi putri tidak mendengar, karena asik bersenandung" Melati menjelaskan sambil tertunduk.
"Begitukah?" "Maafkan aku kalau begitu Melati". Suri merasa bersalah karena sudah memarahi Melati. "Tidak apa-apa putri" Melati menjawab. "Oh ya putri Panglima sudah menunggu putri untuk berlatih" Melati berbicara lagi.
"Astaga! kenapa aku bisa lupa, aduh Melati bagaimana ini bisa mati aku kalau ayahanda bertanya kenapa sepagi ini sudah berdandan". Suri langsung membuka lemari berganti pakaian dengan baju teluk belanga hitam, menguncir rambutnya
Lalu Suri mencuci mukanya untuk menghilangkan riasan di wajahnya. Suri bercermin memastikan tidak ada lagi hal yang mencurigakan diwajahnya. Sambil berlari-lari kecil Suri menuju tempat latihan.
"Kenapa lama sekali?" Panglima bertanya, "Maafkan ananda ayahanda ananda terlambat bangun," Suri menjawab sekenanya, berharap Panglima tidak bertanya lagi Suri langsung mengambil pedang, melakukan pemanasan dan mulai berlatih.
"Bukankah hari ini hari Rabu? mengapa berlatih pedang? bukankah seharusnya hari ini ananda berlatih memanah?" Panglima menatap Suri penuh selidik. "Maaf ananda ayahanda mungkin karena semalam tidak bisa tidur sehingga hari ini ananda jadi kurang fokus" Suri pura-pura memijit kepalanya.
Suri berjalan perlahan menuju tempat latihan memanah sambil pura pura menahan sakit kepala berharap panglima tidak bertanya lagi. Suri meletakkan pedang dan mengambil panah.
Namun belum sempat Suri melepaskan busur panah panglima sudah berada disampingnya, memegang kening Suri "Ananda tidak apa-apa?" panglima bertanya cemas.
"Tidak ayahanda ananda hanya sedikit sakit kepala, sebentar lagi juga hilang". Suri terkejut tak menyangka ayahandanya akan menjadi cemas karena kebohongannya.
"Sudahlah, istirahat saja tidak usah berlatih" panglima memerintahkan Suri untuk menghentikan latihannya. "Tapi ayah ananda baik-baik saja" Suri menolak untuk menghentikan latihannya.
"Jangan membantah" panglima berkata sambil menatap tajam ke arah Suri. "'Suri tak berani membantah lagi jika ayahandanya sudah marah bisa fatal akibatnya.
Suri kembali ke paviliunnya, duduk termenung di depan jendela, Suri bergumam, "kalo begini bagaimana bisa aku minta izin pada ayah untuk berburu, ayahanda pasti tak mengizinkan".
"Sebaiknya aku berjalan-jalan ke pasar supaya para pengawal melihatku baik-baik saja. Suri memanggil Melati untuk menemaninya ke pasar.
__ADS_1