Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
24. Hari jadian


__ADS_3

Hari masih terlalu pagi, ayam belum berkokok, apalagi matahari sudah pasti masih bersembunyi di balik awan, tapi Suri sudah bangun dan segera mandi, Suri bersemangat sekali karena hari ini akan bertemu dengan pangeran Indra kekasihnya. Suri berdandan sambil bersenandung :


Aku suka dia


tapi aku tak tahu


untuk bilang kepadanya


jika aku suka


jatuh cinta kepadanya


Dia cinta yang pertama


dia yang bisa membuat aku


merasa deg degan


berdebar di dada


diam saat mengingatnya


Bulan tolong katakan


bintang tolong bisikkan

__ADS_1


kepada dirinya


Aku yakin diriku nanti


pasti membuatnya


suka kepadaku


cinta kepadaku


Dan kita akan jadian


bulan tolong katakan


bintang tolong bisikkan


kepada dirinya


The Junas Monkey


"Jadian"


Suri terus bersenandung sambil menyisir rambutnya yang panjang, tanpa Suri sadari Melati dayang setianya sudah berdiri di belakangnya, saat Melati menoleh "Eh Sayang! sayang!" Suri terkejut bukan kepalang dan latah menyebut sayang.


Melati yang melihat junjungannya kaget hanya bisa menutup mulut menahan tawa. Suri memelototi Melati "Kenapa tiba tiba kamu sudah berdiri di belakangku Melati?, kenapa datang tidak memberi salam?" Suri bertanya dengan nada kesal.

__ADS_1


"Ampun Putri, maafkan hamba" Melati menghatur sembah, "hamba sudah memberi salam tapi putri tidak mendengar, karena asik bersenandung" Melati menjelaskan sambil tertunduk.


"Begitukah?" "Maafkan aku kalau begitu Melati". Suri merasa bersalah karena sudah memarahi Melati. "Tidak apa-apa putri" Melati menjawab. "Oh ya putri Panglima sudah menunggu putri untuk berlatih" Melati berbicara lagi.


"Astaga! kenapa aku bisa lupa, aduh Melati bagaimana ini bisa mati aku kalau ayahanda bertanya kenapa sepagi ini sudah berdandan". Suri langsung membuka lemari berganti pakaian dengan baju teluk belanga hitam, menguncir rambutnya


Lalu Suri mencuci mukanya untuk menghilangkan riasan di wajahnya. Suri bercermin memastikan tidak ada lagi hal yang mencurigakan diwajahnya. Sambil berlari-lari kecil Suri menuju tempat latihan.


"Kenapa lama sekali?" Panglima bertanya, "Maafkan ananda ayahanda ananda terlambat bangun," Suri menjawab sekenanya, berharap Panglima tidak bertanya lagi Suri langsung mengambil pedang, melakukan pemanasan dan mulai berlatih.


"Bukankah hari ini hari Rabu? mengapa berlatih pedang? bukankah seharusnya hari ini ananda berlatih memanah?" Panglima menatap Suri penuh selidik. "Maaf ananda ayahanda mungkin karena semalam tidak bisa tidur sehingga hari ini ananda jadi kurang fokus" Suri pura-pura memijit kepalanya.


Suri berjalan perlahan menuju tempat latihan memanah sambil pura pura menahan sakit kepala berharap panglima tidak bertanya lagi. Suri meletakkan pedang dan mengambil panah.


Namun belum sempat Suri melepaskan busur panah panglima sudah berada disampingnya, memegang kening Suri "Ananda tidak apa-apa?" panglima bertanya cemas.


"Tidak ayahanda ananda hanya sedikit sakit kepala, sebentar lagi juga hilang". Suri terkejut tak menyangka ayahandanya akan menjadi cemas karena kebohongannya.


"Sudahlah, istirahat saja tidak usah berlatih" panglima memerintahkan Suri untuk menghentikan latihannya. "Tapi ayah ananda baik-baik saja" Suri menolak untuk menghentikan latihannya.


"Jangan membantah" panglima berkata sambil menatap tajam ke arah Suri. "'Suri tak berani membantah lagi jika ayahandanya sudah marah bisa fatal akibatnya.


Suri kembali ke paviliunnya, duduk termenung di depan jendela, Suri bergumam, "kalo begini bagaimana bisa aku minta izin pada ayah untuk berburu, ayahanda pasti tak mengizinkan".


"Sebaiknya aku berjalan-jalan ke pasar supaya para pengawal melihatku baik-baik saja. Suri memanggil Melati untuk menemaninya ke pasar.

__ADS_1


__ADS_2