
Pangeran Indra terbangun, seluruh badannya terasa sakit, tidak seperti sebelumnya, pangeran tak mendengar suara dari cahaya yang begitu menyilaukan itu, Pangeran tertunduk lesu, 'Apakah perjalanan kami kali ini gagal?Apakah karena Suri tidak mengingatku? Ah Suriku entah dimana engkau berada saat ini sayang'. batin pangeran dipenuhi berbagai pertanyaan yang berkecamuk, pangeran memijit keras kepalanya yg tiba tiba terasa sakit.
Pangeran kembali berbaring, memejamkan mata berharap sakit di kepalanya segera hilang, karena lelah pangeran kembali tertidur. Pangeran bangun saat merasa ada sesuatu yang licin merayap di kakinya, ternyata seekor ular phiton, pangeran waspada, diam tak bergerak, menutup hidungnya menahan nafas saat phiton berlalu di kegelapan, pangeranpun bernafas lega.
Pangeran mengerjapkan matanya beberapa kali, keadaan sekeliling yang terasa lembab, dengan hawa dingin yang menusuk, ditambah dengan tidak ada penerangan hanya cahaya bulan yang muncul di celah dinding gua, sungguh membuat tidak nyaman pangeran merasa sangat aneh, masih dalam kebingungan pangeran bangkit, berjalan perlahan di kegelapan, dari kejauhan terlihat sedikit cahaya, ternyata pangeran berada di dalam gua di tengah hutan. Pangeran keluar melihat keadaan di sekeliling gua, dan akhirnya tersenyum lega. Gua ini tempat tinggal kakek pangeran yang sekaligus adalah gurunya. Sejak nenek pangeran meninggal dia memilih tinggal di hutan, menyepi seorang diri mencari ketenangan bathin dan menjauh dari segala hal duniawi. hanya sesekali kakeknya itu muncul di istana pada saat saat penting.
Di atas altar batu di bagian luar gua terlihat kakek pangeran sedang bersemedi, 'Atuk' pangeran membatin. Arya Wisesa kakek Pangeran Indra sedang khusyuk bersemedi rambut putihnya seperti bercahaya di kegelapan tubuhnya diam seperti patung duduk bersila dengan kedua tangan bertumpu di lututnya. Pangeran kembali ke dalam gua karena malam masih panjang tak ada yang bisa dilakukannya dengan tubuh yang masih lelah. Pangeran berbaring beralas kulit binatang yang diletakkan di atas tumpukan jerami, terasa keras namun cukup nyaman untuk berbaring, berbantalkan kedua tangannya pangeran mencoba tidur.
Karena kelelahan pangeran baru bangun lagi saat matahari tergelincir ke barat, pantas cacing cacing di perutku mulai menyanyi' batin pangeran. Pangeran keluar ingin membersihkan diri dan mencari makan untuk mengalas perutnya yang sudah keroncongan. Menoleh ke kiri di tempat kakek bersemedi, tapi kakeknya masih sama seperti kemarin diam tidak bergerak sedikitpun. Sambil berjalan ke arah sungai, pangeran memotong sebatang bambu, meruncingkan ujungnya untuk dijadikan tombak menangkap ikan. Pangeran mbuka pakaiannya, melempar ke tepi sungai sembarangan dan turun ke sungai perlahan, membasuh muka dengan air sungai yang sejuk sungguh terasa menyegarkan, pangdran yang mengantuk langsung mendapat energi batu. Namun belum mulai menombak pangeran melihat lukah (alat menangkap ikan terbuat dari anyaman bambu yang di lerakkan di arus sungai) 'Pasti milik kakek batin pangeran, Pangeran membatalkan niatnya menombak, mengangkat lukah ke darat, ikan ikan yang terjerat menggelepar gelepar di dalam lukah. 'Cukuplah untuk makan kami berdua hari ini' pangeran tersenyum senang., menggantung lukah di sebuah dahan pohon dan kembali ke sungai untuk mandi.
__ADS_1
pangeran menyelam menahan nafas selama mungkin di dalam sungai kemudian muncul di permukaan, mengambil nafas dalam dalam lalu mengulanginya lagi, Pangeran mandi sambil melatih pernafasannya, sudah begitu lama iya tak melakukan ini, latihan pernafasan ini adalah rutinitasnya pagi dan sore hari saat pertama berlatih beladiri dengan kakeknya, tak jarang pangeran hampir lemas kehabisan nafas karena dipaksa untuk bertahan sangat lama di dalam air. Pangeran tersenyum mengingat masa masa itu, tak jarang pangeran ingin melarikan diri karena tidak kuat dengan latihan keras yang diberikan kakeknya, tapi tak pernah berhasil, karena seluruh kawasan itu sudah dilindungi pagar gaib oleh kakeknya.
Pangeran keluar setelah menyelam cukup lama mengibas rambutnya yang basah dengan tangannya yang berotot tubuh pangeran yang kekar berotot begitu gagah dibawah sinar matahari sore. Dari sungai pangeran membawa hasil tangkapannya sambil memungut ranting kering untuk membuat api. Pangeran berjalan santai membayangkan makan ikan bakar hasil tangkapannya itu, tanpa sadar pangeran menelan ludah, cacing cacing di perutnya seolah tahu dan ikut bernyanyi tembang keroncong.
Saat hari mulai gelap, pangeran membuat api unggun, membakar ikan ikan hasil tangkapan tadi. Atoma ikan bakar terbawa angin kemana kemana, pangeran asik membakar ikan hingga tak sadar sang kakek sudah berdiri dibelakangnya "Ehem ehem ehem" Suara batuk dari arah belakang membuat pangeran menoleh "Atuk" Pangeran langsung membungkuk memberi hormat.
Arya Wisesa menyentuh kepala cucunya, dan mengambil posisi duduk di tepi api unggun. "Maaf telah menganggu semedi atuk", Pangeran Indra membuka bicara. "Tidak sama sekali cucuku, semedi 7 hari ku memang berakhir hari ini, dan aku telah menunggu kedatanganmu" suara Arya Wisesa begitu berwibawa.
Arya Wisesa menatap dalam kemanik mata pangeran Indra. Apa yang telah kau lakukan seperti menantang kuasa langit cucuku. Tapi sumpah telah terucap tak ada cara untuk mundur lagi.
__ADS_1
"Aku mengerti atuk, karena itu apapun rintangannya tetap akan kutempuh", pangeran berkata yakin. "Aku tahu kau sanggup cucuku, tapi untuk saat ini kau harus kembali berlatih, kau melemah, suka atau tidak kau harus akui itu" Arya Wisesa menatap tajam pada Pangeran Indra. 'Kakek benar' batinnya dan sang kakek tersenyum mendengar suara hati cucunya.
"Malam ini kita mulai latihan" Arya Wisesa memberi perintah pada Pangeran Indra untuk mengikutinya menjauh dari gua tempat tinggal mereka, Arya Wisesa tak ingin kediamannya luluh lantak akibat latihan mereka.
Mereka tiba disebuah padang rumput setelah berlari cepat malam itu, butuh waktu satu dupa untuk tiba disana, Pangeran terlihat kelelahan tubuhnya basah bermandikan keringat.
'Hei Pangeran yang dimabuk cinta, baru berlari sedikit kau sudah kelelahan, dasar pangeran lemah!' Arya Wisesa tersenyum mengejek, Suara batin kakeknya membuat Pangeran Indra berang dan menyerang membabi buta, tapi tak satupun mengenai kakeknya.
"Dasar Pangeran Lemah" Sang kakek kembali memprovokasi pangeran.
__ADS_1
1627 view, tq viewers😘😘😘
Stop dulu ya kisah cinta cintaannya pangeran Indra sama Suri, pangeran butuh di carge dulu ni kayaknya lemah banget masa lawan kakek kakek aja kalah😜