Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
111. Menuju Hari bahagia 3


__ADS_3

Menteri Kebudayaan :


Kami datang menepati janji


yang dulu pernah disepakati


darilah itu kami kemari


mengantar mempelai kerumah ini


Perdana menteri :


Bukannya kami tidak menerima


kedatangan mempelai sekeluarga


apakah tuan tidak salah arah


benarkah disini tempat tinggalnya


Menteri Kebudayaan :


Tiada salah kami berkata


kamipun tuan belum terlupa


benarlah disini tempat tinggalnya


mempelai perempuan sekeluarga


Perdana Menteri :


Kalaulah benar tuan berkata


coba buktikan apa tandanya

__ADS_1


mempelai tuan siapa namanya


siapa pula orang tuanya


Menteri Kebudayaan :


Kalaulah nama yang tuan tanya


sangatlah mudah menjawabnya


Putra Mahkota Indra Buana nama mempelainya


Yang Mulia Raja Surya Buana orang tuanya


Perdana Menteri :


Sungguhlah kami amat gembira


mendapat menantu putra mahkota


bukan kasta yang kami kira


Menteri Kebudayaan :


Kalaulah kasta tak jadi ukuran


asal bahgia yang di dapatkan


sudah puas kami mendengarkan


marilah mempelai kita sandingkan


Akhirnya acara berbalas pantun usai, helai selendang yang menghalang jalan telah pun bisa dilewati. Tibalah di halangan berikutnya sehelai selendang kuning kembali menghalangi jalan, tampil ke hadapan seorang pendekar dari pihak mempelai wanita, melihat itu pendekar dari pihak mempelai pria langsung menyongsongnya, mereka bertarung saling menyerang, meski tidak sampai cedera, hingga akhirnya pendekar dari pihak panglima Hang Tuah menyerah kalah, rintangan ke dua berhasil dilewati, adu silat para pendekar ini adalah simbol bahwa pihak mempelai laki laki bisa melindungi mempelai perempuan.


Selesai Rintangan ke dua, mempelai pria sangat senang, namun tidak berlangsung lama, ternyata masih ada rintangan ke tiga, para gadis memegang sehelai selendang berwarna hijau, mereka meminta sejumlah uang sebagai syarat untuk melewati rintangan ke tiga. Pihak mempelai pria segera menyerahkan sekantong uang perunggu, namun pihak mempelai perempuan merasa itu tidak cukup, hingga meminta kembali pada mempelai pria, sekantong uang perak kembali diserahkan, namun tetap saja belum cukup, hingga sekantong uang emas diserahkan barulah para gadis bersedia membuka halangan, halangan ke tiga merupakan simbol kesangguoan pihak mempelai pria untuk menafkahi sang istri, tepuk riuh para undangan bergemuruh, tiga halangan telah berhasil di lewati, kompang ditabuh bersahut sahutan menambah semarak malam pernikahan itu.

__ADS_1


Keluarga mempelai pria dipersilahkan memasuki ruangan yang telah di sediakan, seketika suana riuh kembali hening, saat pembawa acara mengumumkan bahwa acara mengikat sumpah janji setia suami istri akan segera di mulai.


Panglima Hang Tuah langsung berdiri ke tengah pendopo yang telah disediakan, sebuah tempat menyerupai tenda yang dibuat dari rangkaian kain sutra putih dengan hiasan mawar putih nampak mewah dan khidmat, Pangeran Indra dengan langkah berwiba menuju pendopo.


Panglima Hang Tuah menggenggam tangan Pangeran Indra "Hari ini aku serahkan putriku Dayang Suri untuk mendampingimu Pangeran Arya Buana, apapun yang terjadi pangeran harus melindunginya, bersumpahlah untuk menjaganya dalam susah dan senang" Panglima menatap tajam pada pangeran Indra. Dengan yakin pangeran menjawab "Aku pangeran Indra Buana, bersumpah akan menjaga Istriku Putri Dayang Suri dalam susah maupun senang, hingga maut memisahkan" Jedarrrrrr!!!! selesai saja pangeran mengucap sumpah petir langsung menyambar, sebagai pertanda penguasa langit telah mendengar sumpah setia pangeran. Semua hadirin langsung mengucap syukur, acara puncak telah terlaksana. Panglima Hang Tuah langsung menjemput Putri Dayang Suri di ruangan khusus di samping pendopo acara.


Semua mata langsung tertuju pada Putri Dayang Suri yang sangat cantik jelita di gandeng Panglima Hang Tuah menuju tempat Pangeran Indra berada. Pangeran Indra begitu terpesona melihat kekasih hatinya yang sudah tidak dilihatnya selama 7 hari "Sayang, kau cantik sekali" Pangeran Indra berbisik lembut saat Putri Dayang Suri telah berada di sampingnya, wajah Putri Dayang Suri langsung bersemu merah.


Putri Dayang Suri mencium tangan Pangeran Indra dengan hikmat sebagai bukti ketaatan dan rasa hormat seorang istri. Kemudian mereka melangkah bersama menuju pelaminan untuk mendengar nasehat pernikahan.


Seorang pemuka agama langsung membacakan nasehat pernikahan, selama nasehat dibacakan pangeran tidak henti hentinya memandang Putri Dayang Suri tidak sedikitpun mendengarkan apa yang disampaikan, Nasehat pernikahan selesai dibacakan, namun pangeran sama sekali tidak menyadarinya. Hingga suara Yang Mulia Raja Surya Buana mengejutkan Pangeran "Sepertinya Putra Mahkota sudah pindah ke alam lain" putra mahkota langsung tertunduk malu, mukanya merah padam menahan malu.


Pembawa acara mengumumkan acara selanjutnya, meminta restu pada kedua orang tua. Pangeran Indra segera bangun menuntun Putri Dayang Suri di sampingnya, mereka berjalan pelan menuju singgasana Yang Mulia Raja Surya Buana. Pangeran Indra mencium kaki Ayahandanya, kemudian membungkuk hormat di hadapan Yang mulia, dan putri Dayang Suri turut membungkuk disampingnya, Yang mulia membisikkan pesan pesan pada pangeran, selesai pangeran menerima pesan dari ayahandanya, pangeran mencium kaki ibundanya, permaisuri tak kuasa menahan haru hingga bercucuran air mata, begitu pula saat Putri Dayang Suri bersimpuh di kakinya, Permaisuri berbisik sambik tersedu "Jaga putraku Suri, kutitipkan dia padamu" Permaisuri memeluk Suri dengan erat.


Keluarga kerajaan dan para tamu undangan yang menyaksikan turut merasa haru, mereka mengetahui betapa kedua mempelai sudah berjuang dengn susah payah untuk menyatukan cinta mereka, hingga akhirnya hari ini mereka berhasil membuktikan ikatan cinta mereka begitu kuat tak terpisahkan.


Selesai memohon restu dan menerima nasehat dari orang tua mereka, putra mahkota dan Putri Dayang Suri kembali ke singgasananya.


Acara di lanjutkan dengan malam bercacah inai, seluruh keluarga dan tamu kehormatan bergiliran menyapukan inai kepada ke dua mempelai sebagai ucapan doa agar kedua mempelai berbahagia, tak lupa pula merenjis air suci kepada kedua mempelai dengan maksud agar kedua mempelai terhindar dari perbuatan jahat orang orang yang tidak menyukai kedua mempelai.


Acara berlangsung meriah dengan tari tarian dan nyanyian dari balai seni kerajaan dan utusan dari kerajaan tetangga, semua bersuka ria menikmati pesta kerajaan selama tujuh hari tujuh malam.


Putra Mahkota dan Putri Dayang Suri tersenyum bahagia menerima ucapan doa dari segenap keluarga dan tamu kehormatan kerajaan, hingga acara mencacah inay berakhir pangeran menarik nafas lega, dan berbisik pada Putri Dayang Suri "Dinda, bolehkah kanda malam ini ke kamarmu" Pangeran berkata sambil tersenyum menggoda Dayang Suri. Wajah Suri langsung berubah merah padam menahan malu mendengar ucapan suaminya pangeran Indra, dengan gesit di mencubit pinggang pangeran Indra, pangeran mengaduh tak bersuara menerima cubitan Suri yang begitu menyakitkan. "Teganya dinda mencubit kanda, dinda harus dihukum awas saja nanti, terima akibatnya" Pangeran berbisik sambil terus tersenyum pada tamu undangan yang datang memberikan selamat. "Enak saja lalah kanda, mengapa jahil sekali, kita belum boleh bersama hingga ritual selesai" Suri menjawab pelan dan tersenyum penuh kemenangan melihat wajah kecewa pangeran Indra.


Otor \= Der, maafkan otor ya karena lama ngga update


reader \= Sorry tor, maaf ngga diterima


Otor \= Pleassssse....


Reader \= Ok tor dimaafkan, asal bis ni update tiap hari ya


Otor \= waduh der, kalo itu otor ngga bisa janji


Reader \= otorrrrrrrrrr😭😭😭😭😭😭

__ADS_1


Otor \= Kaburrrr


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


__ADS_2