Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
14. Putra mahkota datang merisik


__ADS_3

Suri segera keluar dari paviliunnya, berjalan pelan, langkah malasnya seakan menyeret kaki jenjangnya untuk tetap melangkah.


"Kenapa kaki ini rasanya berat sekali" Suri menggerutu dalam hati. Ruang khusus untuk jamuan berada di bagian barat kediaman panglima, sedangkan paviliun Suri berada di bagian timur.


Suri terus berjalan sambil terus meracau bergumam tak jelas, dayang Melati yang berjalan di belakang Suri hanya tersenyum melihat tingkah junjungannya.


Dari kejauhan sudah terlihat ruang jamuan yang terang benderang, suara musik pun terdengar cukup keras, seorang dayang yang melihat kedatangan Suri berlari lari kecil menyongsong kedatangan Suri.


Setelah dekat Suri baru mengenalinya dia dayang Putih, dayang kepala di rumah utama Panglima Hang Tuah, setibanya dihadapan Suri.


Putih langsung menghatur sembah dan berkata "Sembah hamba Putri, Panglima memerintahkan Putri yang akan memimpin Tari Persembahan" (tari persembahan adalah tarian yang ditarikan sebagai tanda penghormatan pada tamu tamu yang dianggap penting)


"Baiklah Putih" Suri menjawab sambil mempercepat langkahnya menuju panggung tarian.

__ADS_1


Tarian dimulai Suri menari dengan gemulai, saat menari Suri terkejut ternyata bukan hanya Putra Mahkota saja yang hadir di jamuan, tetapi Raja dan Permaisuri Kerajaan Swarnabumi juga ada disana.


Putra mahkota tersenyum dan mengedipkan sebelah matanya saat bertatapan dengan Suri, Suri pura pura tidak melihat.


Suri turun dari panggung melenggak lenggok ke meja utama untuk memberikan sirih tanda penghormatan pada Baginda Raja dan Permaisuri, Perdana Menteri Hang Jebat dan ayahandanya Panglima Hang Tuah.


Saat memberikan pada Putra mahkota Suri terlihat kesal, karena putra mahkota sengaja berlama-lama, pangeran terus menatap Suri, rupanya Panglima Hang Tuah melihat tingkah putra mahkota dan menyindirnya.


"Apa Tuanku Pangeran ingin menelan putriku hidup hidup?" Pangeran Mulyawarman yang mendengar teguran dari panglima jadi salah tingkah dan gelagapan.


Panglima melotot melihat tingkah Suri, dan Suri segera berlalu ke panggung menyelesaikan tariannya di ikuti 2 penari pengiring di belakangnya.


Dayang-dayang segera berlarian menolong pangeran, dengan susah payah akhirnya sirih tadi bisa dikeluarkan, wajah pangeran memerah menahan sakit, sesaat kemudian pangeran sudah terlihat membaik.

__ADS_1


Saat selesai menari Suri segera bergabung di meja utama, Pangeran langsung menyapanya. "Apa kabarmu putri, sudah lama tidak bertemu" pangeran bertanya sambil menatap lekat pada Suri.


"Baik pangeran seperti yang anda lihat" Kudengar kau sering berburu rusa sekarang, kenapa tidak mengajakku pergi bersama?"


Suri yang mendengar pangeran bertanya, menjawab dengan tak acuh, "kudengar pangeran lebih suka berburu kelinci, bukan rusa seperti aku" Suri tersenyum mengejek.


Pangeran yang sadar Suri meremehkannya hanya tersenyum masam dalam hati pangeran berkata "awas kau Suri, sekarang kau boleh menghinaku,saat kau jadi istriku aku akan membalas semuanya" Putra Mahkota tersenyum devil.


Panglima Hang Tuah berdehem, menghentikan pergaduhan kecil pangeran dan Suri, "Ehem ehem ehem Raja berjalan memakai cogan, cogan berasal dari kelantan, sirih pembuka sudah dimakan, apakah gerangan maksud dan tujuan". Panglima Hang Tuah membuka pembicaraan dengan berpantun.


Bantal gaduk bantal remaja, tempat berdua si anak raja, jika hajat akan di reka silahkan tuan mengurai kata, Panglima melanjutkan pantunnya.


"Sirih tuan sudah di kenyam

__ADS_1


rasanya sedap bukan buatan


kami datang sangat berazam datang membawa sebuah pesan" Perdana Menteri menjawab pantun Panglima Hang Tuah mewakili Raja Linggawarman.


__ADS_2