Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
104. Menolak pernikahan


__ADS_3

Hai readers semua, tak terasa, udah di ujung perjalanan Suri dan Indra, ini perjalanan takdir mereka yang ke 7 ya doakan semoga mereka segera bersatu happily ever after๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


...๐Ÿ’žhappy reading๐Ÿ’ž...


Pangeran Indra bangun dengan malas pagi ini, seperti sebelum sebelumnya dia pasti sudah berada di kamarnya kembali untuk melakukan perjalanan takdir berikutnya, diluar pasti masih gelap, cuaca yg dingin membuatnya nyaman untuk kembali memejamkan mata, tapi mengapa ada yang sedikit aneh, gulingnya terasa begitu empuk, hangat, dan wangi.


Masih dengan mata terpejam pangeran mengeratkan pelukannya tapi tiba tiba satu suara mengejutkannya "Kanda.... aku sesak nafas, tolong lepaskan" Suara yang manja dan lembut tapi bagai petir di telinga pangeran Indra.


"Dinda! apa yang kau lakukan disini sayang!" Pangeran langsung bangun dan menjauh dari ranjang. Suri yang masih mengantuk langsung terduduk karena terkejut. "Apa maksud kanda, kita sudah menikah, tentu saja tidur sekamar" Suri menjawab kesal.


"Apa? menikah? apa ini mimpi?" Pangeran mengusap kepalanya yang tiba tiba pusing, dan duduk di tepi ranjang. "Aww! mengapa dinda mwncubit kanda? sakit sayang!" Pangeran mengusap usap tangannya yang memerah bekas cubitan Suri.


"Kejutan di hari pertama setelah menikah sungguh membuat Suri kesal. Pengawal yang berjaga di luar paviliun ikut memasang telinga mendengar keributan pasangan pengantin baru itu.


"Maaf sayang, kanda benar benar tidak ingat kalau kita sudah menikah, apa tadi malam kita sudah.....?" Pangeran memutuskan kalimatnya. "Sudah apa?" Suri bertanya bingung "Sudahhhhh.. ya itu.." pangeran menggaruk kepalanya yang tak gatal, wajah pangeran yang serba salah membuat Suri ingin tertawa tapi takut jika pangeran marah padanya, tapi tiba tiba muncul niatnya untuk mengerjai pangeran Indra, Suri menyembunyikan wajahnya di balik selimut pura pura malu "Fikir aja sendiri kita sudah apa belum?" Suri menutup mulutnya dengan bantal perutnya sakit menahan tawa. "Dasar pangeran aneh, dia seperti baru saja di perkosa ha..ha..ha" Suri tertawa senang.

__ADS_1


'Sudah apa belum ya? tapi aku tidak merasakan apa apa' Pangeran menyurai rambutnya bingung. 'Sekarang aku harus apa? bukankah Kami belum menyelesaikan perjalan ke tujuh?" Pangeran membatin lagi. 'Sungguh membingungkan lebih baik aku bangun dan mencari tahu, tak mungkin untukku tidur lagi berbahaya jika kami tidak sadar, bisa bisa? Pangeran mengacak acak rambutnya sekelibat fikiran kotor membuat pangeran tersenyum senyum sendiri, "Bodoh" desisnya pelan. Akhirnya pangeran memutuskan untuk bangun dan pergi mandi, air hangat sudah tersaji disana, pangeran berendam memejamkan mata menikmati wangi mawar yang semerbak membuatnya sedikit merasa tenang, tak seperti biasanya pangeran mandi dengan cepat, tatapan aneh dari dayang dayang yang melayani tak dihiraukannya.


Pangeran sudah berpakaian rapi, baju teluk belanga hitam lengkap dengan tanjak hitam dan sebuah keris ikut melengkapi penampilannya, pangeran tersenyum melihat bayangannya di cermin 'sangat tampan' pangeran membatin memuji dirinya sendiri. Menatap Suri yang masih terlelap, selimutnya sudah terjatuh kelantai, pangeran memungut selimut itu dan menyelimuti Suri kembali. Tiba tiba pangeran berfikir 'Masih berpakain lengkap? tidak mungkin kami sudah melakukannya' Pangeran tersenyum lega.


Pangeran mengecup kening Suri dan keluar dari paviliun melalui pintu belakang. "Tok, tok tok, tok, tok tok, tok, tok tok, pangeran Indra mengetuk jendela kamar Angin Bayu, tak ada jawaban, pangeran ingin mengetuk lagi saat sebuah tangan menyentuh pundaknya.


"Ada apa pengantin baru? pagi pagi sudah tiba di kediamanku, apa kau sudah tidak sabar untuk menceritakannya padaku pangeran?" Angin Bayu mengedipkan matanya menggoda. "Sialan kau, aku belum melakukannya, puas!" pangeran melotot kesal.


"Baiklah, maafkan hamba pangeran, hal biasa mengusik pengantik baru, tak sah kalau tak di ganggu kan? macam tidak tahu saja" Angij Bayu minta maaf, tapi hanya dimulut, wajahnya berkata sebaliknya.


"Biar saja orang lain melakukannya tapi kau jangan ikut ikut juga" pangeran menjawab kesal. "Bayu ada yang ingin kubicarakan denganmu, tapi jangan disini, tidak aman" pangeran berjalan di ikuti Angin Bayu. "Ke paviliun pangeran saja" Bayu menyarankan. Pangeran menggeleng, "Apa kau lupa, ada Suri disana, atau kau sengaja ingin melihat istriku?" Pangeran menjawab ketus.


Pangeran menghentikan kudanya lalu turun, menambatkan kudanya di sebuah pohon kasturi dan Bayu hanya mengikuti apa yang dilakukan pangeran Indra tanpa bertanya. Pangeran duduk di sebuah pohon tua yang sudah tumbang, menatap kesana kemari memastikan sekeliling aman sebelum mulai bicara.


"Bayu, apa benar aku sudah menikah?" Pangeran bertanya pada Bayu. "Ha! Apa?" Bayu menjawab kaget, begitu pula pangeran tak kalah terkejut mendengar jawaban Bayu. "Pangeran, kau tidak sedang lupa ingatan bukan? apakah tadi malam kau terjatuh? atau di serang seseorang?" Bayu bertanya cemas sambil melihat tubuh pangeran Indra.

__ADS_1


"Bayu mengapa kau balik bertanya padaku? aku tidak terjatuh, tidak juga habis diserang, apa kau fikit aku akan diam saja bila ada yang menyerangku? lagi pula apa kau lihat ada luka ditubuhku? tidak ada bukan? Pangeran menjawab pertanyaan Bayu dengan kesal, "Jawab saja pertanyaanku jangan balik bertanya" pangeran berkata lagi sambil menatap tajam pada Bayu.


"Yang mulia Pangeran Indra Buana Putra Mahkota Kerajaan Buana Gemilang, memang telah menikah dengan putri Dayang Suri kekasih hati belahan jiwa dengan pesta pernikahan gilang gemilang selama tujuh hari tujuh malam yang baru saja usai tadi malam" Bayu menjawab dengan wajah menggoda. Tapi pangeran hanya menanggapi dengan wajah aneh.


"Bayu, aku sama sekali tidak ingat apa apa, bagaimana bisa begini?" Pangeran neremas remas rambutnya, hingga acak acakan dan Bayu hanya bisa menatap bingung melihat apa yang dilakukan junjungan dan juga sahabatnya itu.


"Benarkah begitu pangeran? astaga? mengapa bisa terjadi begitu?" Bayu bertanya dengan mulut menganga tak percaya.


"Plak!" Pangeran memukul kepala Bayu. "Aww!" Apa yang kau lakukan pangeran?" Bayu mengusap kepalanya yang sakit karena di pukul tiba tiba oleh pangeran. "Sudah ku katakan jangan balik bertanya! mengapa masih bertanya!" pangeran menghardik Bayu kesal.


"Kalau begitu aku akan diam saja, tidak akan bicara apa apa, tidak menjawab juga jika ditanya" Bayu menjawab pangeran kesal. "Aww! mengapa memukul lagi pangeran?" Bayu semakij bingung karena pangeran memukulnya lagi. "Kalau aku bertanya kau harus menjawab, bukannya diam!".


"Hmmmm terserahlah pangeran" Bayu menjauh dari jangkauan pangeran agar tidak di pukul lagi. "Pintar" pangeran berkata pelan sambil tersenyum melihat Bayu menjauh dan bersandar di pohon tempat kuda kuda mereka terikat.


"Bayu, aku harus menolak pernikahan ini" Pangeran berkata pelan. "Apa?!" Bayu berteriak membuat kuda yang sedang di belainya meringkik keras karena terkejut.

__ADS_1


"Pangeran, maaf, apa kau sudah gila?, Pangeran telah berjuang mati matian untuk mendapatkannya dan sekarang ingin menolak pernikahan ini, hamba sungguh tidak mengerti tuanku pangeran" Bayu menjawab bingung.


14612 view, terima kasih banyak reader setiaku, maaf tidak bisa update tiap hari, tapi tetap diusahakan up secepat mungkin, tidak menghilang lama seperti dulu๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


__ADS_2