
Tiba di Tribun utama Putera mahkota dan Puteri mahkota tidak segera duduk disinggasananya, Putera mahkota mengangkat tangan memberi isyarat agar semua diam, tiba tiba gelanggang yang tadi nya riuh dengan sorak soray hening seketika, hanya terdengar sedikit dengung karena bisik bisik beberapa orang.
Baiklah, demi dewa yang maha agung penguasa langit dan bumi, dan disaksikan Rakyat Buana Gemilang yang beta cintai, sesuai dengan janji yang telah terucap dengan ini beta sampaikan, bahwa Pangeran Arya adinda beta harus menerima hukuman atas kekalahannnya, Pangeran Arya harus bertapa di gunung selama 7 purnama, dan menambah ilmu dengan kakek guru selama 4 tahun penuh.
"Tidak, dinda tidak setuju, mengapa hukumannya terlalu berat, Ayahanda ananda mohon kebijaksanaan ayahanda" Pangeran Arya langsung berlutut di hadapan ayahandanya Yang Mulia Raja Surya Buana.
Namun jawaban yang mulia sungguh diluar harapan pangeran Arya Buana. "Anandaku Arya Buana, jika sekarang ananda mengingkari janji yang telah ananda buat sendiri, kelak siapa yang akan menghormati ananda, jalani hukumanmu, yakinlah sesuatu yang kini ananda anggap buruk, akan ananda syukuri dimasa yang akan datang"
Yang mulia berdiri dari singgasananya, menyentuh pundak pangeran Arya dan membantunya berdiri, Yang mulia memeluk putera keduanya itu dengan erat, dan menepuk pundaknya, di depan seluruh rakyat yang mulia memperlihatkan kebijaksanaannya, seluruh rakyat amat kagum dengan raja mereka, sehingga tak mampu berkata kata.
Bersiaplah Arya, kita akan kembali segera, tiba tiba suara yang sangat berat dan bijaksana terdengar di telinga Pangeran Arya, sontak membuat pangeran Arya memutar kepala mencari asal suara.
Saat tatapan mereka beradu, pangeran Arya melihat kakeknya yang menatap lurus kemanik hitamnya, jauh menusuk ke jantung nya, seketika pangeran Arya menunduk, jantungnya berdegup kencang, perlahan keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya. Terbayang hari hari suram dan berat yang akan di laluinya di gunung bersama kakek nya, tak ada lagi tidur nyenyak, makan enak, dan bersenang senang. Pangeran Arya tertunduk lesu, helaan nafas panjang dan lemah dilepaskan pangeran tanpa suara.
__ADS_1
Perlahan Pangeran Arya bangkit, berjalan pelan kehadapan ayahandanya yang sudah kembali oe singgasananya di tribunutama, memberikan hormat dengan membungkuk, menyatukan kedua tangan di depan dada, sebelum berlalu dengan cepat meninggalkan gelanggang, yang masih membeku tanpa suara.
Suara derap kaki kuda pangeran Arya terdengar jelas hingga menghilang di pintu gelanggang, suara panglima yang memimpin pertandingan hari ini memecah kebisuan.
"Baiklah, acara hari ini begitu mengesankan, terima kasih pada seluruh rakyat Buana Gemilang yang telah berpartisipasi dalam perlombaan hari ini, bagi para pemenang, dipersilahkan maju ke hadapan yang mulia Raja Surya Buana untuk menyampaikan permintaan".
"Tunggu", tiba tiba satu suara menyela dari belakang tribun penonton, mengejutkan semua orang, seketika semua mata menatap mencari arah suara. Seorang pemuda dengan kipas besar berdiri disana, Kipas perak terkembang menutupi separuh wajahnya.
"Siapa kisanak, tunjukkan wajahmu, kisanak ingin menantangku? Apa yang kisanak inginkan, hari ini aku tidak bertanding, karena kisanak sudi datang jauh jauh, maka untuk menghargaimu aku akan memenuhi permintaanmu tanpa bertanding" Pangeran Indra berkata dengan lantang.
Ha..ha..ha.. Tawa pemuda itu bergema, membuat semua terkejut, suara tawa yang meremehkan, membuat pangeran Indra menggenggam jari jari hingga kukunya menancap dan mulai berdarah, Dayang Suri memperhatikan, dan perlahan bangun dari kursinya berdiri tepat disamping suaminya itu, menyentuh lengannya, menatap mata yang merah menahan marah itu, perlahan genggamnya melemah, hm..... Lenguhan nafasnya terdengar kasar, namun Suri tahu, apa yang dilakukannya berhasil meredakan amarah suaminya.
"Katakan apa yang kau inginkan" Suara lantang pangeran Indra terdengar jelas. "Hamba tidak yakin, putera mahkota bisa mengabulkannya, apalagi menyerahkannya secara sukarela tanpa hamba susah payah untuk mendapatkannya" Pemuda itu berkata lagi, masih dengan nada lembut namun terdengar meremahkan.
__ADS_1
Kata katanya menyulut amarah pangeran Indra yang tadi sudah surut kembalu menyala, "Jangan bertele tele kisanak katakan saja apa maumu, rakyat seluruh rakyat Buana Gemilang jadi saksi bahwa aku akan mengabulkan permintaanmu" Pangeran Indra berkata lantang.
"Baiklah jika itu maumu pangeran, aku mau istrimu Puteri Dayang Suri apa pangeran bisa mengabulkannya" Pemuda itu berkata dengan sinis, dan mengatup kipasnya dengan keras sehingga wajahnya kini terlihat jelas. "Nadim?" Suri menatap tak percaya pada sosok yang sangat dikenalnya itu. "Lancang"!!! Pangeran Indra berteriak tak kuasa lagi menahan amarah, pangeran bersiap melancarkan pukulan, namun sepasang tangan menggagalkannya. "Kanda...dinda mohon kendalikan diri kanda, jangan jadikan rakyat tak berdosa jadi korban, jangsn rubah pesta perayaan pernikahan kita jadi kuburan masal rakyat kita" Suara Dayang Suri membuat pangeran Indra terperosok, kekuatan pukulan yang ditahan membuat kaki tenggelam ke tanah. Pangeran terdiam, memejamkan mata berusaha meredam amarahnya yang sudah keubun ubun. Dipaksa menelan kata katanya, "berani beraninya dia" Pangeran bergumam, namun masih terdengar jelas ditelinga Suri. "Dinda mohon kanda, izinkan dinda yang bicara dengannya, kita selesaikan ini dengan damai"
Suri perlahan berdiri, menatap Nadim sepupunya yang berdiri di kejauhan dengan pakaiannya yang berkibar tertiup angin. "Kumohon Nadim demi persahabatan kita, izinkan aku bahagia dengan orang yang kucintai" Suri berbicara lewat telepati. Hmmmm....Nadim menghela nafas panjang, "Setelah tujuh kehidupan berkelana mencarimu, tapi masih saja tak berhasil mendapatkan hatimu" dia terdiam sesaat "Baiklah, kulepaskan kau kali ini, semoga aku tak akan menyesali ini, jaga dirimu, jika sesuatu terjadi padamu tak peduli dimanapun aku akan datang, saat itu terjadi tak ada yang bisa menahanku untuk membawamu, aku pergi. Perlahan tubuh pemuda itu dikelilingi asap putih,semakin lama semakin tebal, dan sesaat kemudian perlahan menghilang, dan sosok dibalik kabut turut menghilang.
Semua mematung menyaksikwn kejadian yang tak terduga itu, hingga suara panglima menyadarkan mereka, bahwa acara belum selesai.
Acara yang tertunda kembali dilanjutkan, satu persatu pemenang maju ke hadapan, dan menyampaikan permintaannya, penonton masih riuh berkasak kusuk tentang apa yang terjadi, masing masing sibuk berasumsi dengan apa yang sebenarnya twrjadi, hingga saat semua berakhir, matahari telah hilang kembali ke peraduannya. Rakyat Buana Gemilang berbondong bondong meninggalkan gelanggang, dan semua masih sibuk membicarakan apa yang mereka lihat tadi.
Iring iringan kereta anggota kerajaan berjalan lambat membelah kerumunan rakyat untuk kembali ke istana. Angin malam mulai bertiup sedikit kencang, hawa dingin sedikit menusuk ke tulang, Pangeran Indra membuka jubah kebesaranya dan memasangkannya ke Putri Dayang Suri, mata mereka saling beradu, dan wajah suri bersemu merah, Pangeran Indra tak segan memperlihatkan kemesraan mereka di hadapan ribuan pasang mata yang menatap cemburu pada kemesraan mereka. Tak lama puteri Dayang Suri merasakan pergerakan di pinggangnya, detak jantungnya berdegup lebih cepat, saat pelukan erat dipinggangnya melemah dan tangan itu tiba tiba sudah berkelana di dalam jubahnya. Mata Suri melotot menatap sang pemilik tangan, "maaf sayang, terlalu dingin, hanya sedikit mencari kehangatan" suara pangeran lembut menyentuh telinga Suri, ******* nafas pangeran membuat bulu kuduknya meremang.
"Hentikan kanda, atau kanda ingin tidur di luar malam ini, Suri tersenyum sinis, bisikan Suri membuat pangeran terpaksa menghentikqn aksinya, meraih tangan Suri dan mengecupnya pelan, mereka berdua terdiam, tengelam dalam fikiran masing masing hingga tiba di istana, pangeran tetap menggenggam tangan Suri, berjalan pelan menuju Paviliun Elang.
__ADS_1