Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
87. Rahasia terbongkar


__ADS_3

Pangeran Indra terlalu senang, penglihatannya telah kembali, begitu pula semua ingatannya telah kembali seperti dulu, bermacam rencana muncul di kepala pangeran Indra karena terlalu senang membuat pangeran tak bisa kembali tidur hingga menjelang pagi baru pangeran terlelap, akibatnya pangeran bangun kesiangan.


Cahaya matahari pagi itu terasa sangat menyilaukan, tapi sangat membahagiakan pangeran Indra, serasa berabad abad dia tak melihat matahari. Pangeran segera beranjak bangun ingin cepat memberi tahu ayahnya bahwa dia telah sembuh, namun Pangeran terpaksa mengurungkan niatnya, pangeran baru tiba di depan kamar ayahnya, dan mendengar percakapan ayahnya dengan seseorang.


"Pak Katua, kadak kawa lagi mun Iin tu di biarkan wan babinik tu, bisa maulah supan kampung kita nik" (Pak ketua, tidak bisa kalau Iin itu di biarkan bersama perempuan itu, bisa bikin malu kampung kita ni) ternyata itu suara Jupin. Indra menggunakan ilmu penghilang raga dan masuk ke kamar ayahnya yang tidak dikunci.


Jupin dan ayahnya sama sama memandang ke arah pintu yang terbuka tiba tiba, pangeran Indra sengaja meniupkan angin agar mereka berdua tidak curiga. Mereka berdua kembali meneruskan pembicaraan. "Jaga surahmu tuk Jupin, sebujurnya apa yang di ulah Iin tuk yang aku kadak tahu" (Jaga bicaramu itu Jupin, sebenarnya apa yang buat iin yang aku tidak tahu)


Pak Katua sedikit kesal pada Jupin. "Maaf Katua, ulun maniring wan mata ulun surang, Iin wan babinik tu......" (Maaf ketua, saya melihat dengan mata saya sendiri, Iin dengan wanita itu) Jupin menghentikan bicaranya. "Apanyak? apanyak di ulahnyak?" (Apa? apa yang dilakukannya?) Pak Ketua bertanya tak sabar. "Maaf Katua, ulun maniring Iin tu beciuman wan babinik tu" (Maaf ketua saya melihat Iin berciuman dengan perempuan itu) Jupin menunduk takut Pak Ketua marah.


"Dasar juwak kakanak tu, suruh kawin kadak handak, wahini betingkah pulang" ( Dasar anak itu, di suruh kawin tidak mau, sekarang bertingkah pula) Pak Ketua mengepalkan tangan geram.

__ADS_1


"Jadi kayak apa menurut ikam Jupin?" (Jadi bagaimana menurut kamu Jupin) Pak Ketua meminta saran Jupin. "Kawinkan hajak Iin wan urang lain Katua" (Kawinkan saja Iin dengan orang lain ketua) Jupin berkata yakin. "Siapa yang handak wan Iin tu Jupin, dulu waktu inyak kadak picak banyakay yang handak" (Siapa yang mau dengan Iin tu Jupin, dulu waktu dia tidak buta banyak yang mau) Ketua berkata murung. "Wagaskan huluk Iin tu Katua, hanyar kaina kita kawinkan" (sehatkan dulu Iin ketua, nanti baru kita kawinkan) Jupin tersenyum menyeringai.


Pangeran Indra menatap geram pada Jupin, jika saja dia tak bisa mengontrol emosi ingin rasanya menghabisi lelaki itu dalam sekali tebas. Tapi pangeran ingin mengetahui apa rencana licik Jupin sebenarnya, untuk itu dia terpaksa diam.


Pak Ketua hanya diam mendengar rencana Jupin, dan Jupin melanjutkan ucapannya "Kita ambil mata babinik tu sagan Iin, imbah tuk inyak kita buang ke lubang hirang, padahkan hajak inyak bulik kadak bapadah mun Iin batakun kainak" (kita ambil mata perempuan itu untuk Iin, habis itu kita buang dia ke lubang hitam, kita katakan saja dia pulang tanpa pamit kalau iin bertanya)


Jupin tersenyum puas telah menyampaikan rencananya itu, sementar pangeran Indra mengepalkan tangannya geram, dia sudah tahu rencana licik Jupin, setelah mendengar suara batinnya, Jupin ingin Pak ketua merasa berhutang budi padanya dan saat itu Jupin ingin ketua menikahkan Pangeran Indra dengan adiknya yang sudah lama tergila gila pada pangeran Indra.


'Dasar ular, di depanku kau pura pura baik, di belakang kau punya rencana jahat, kupastikan kau mati sebelum aku pergi dari sini' Pangeran membatin, dan mengepalkan tinju menahan amarahnya yang hampir sampai ke ubun ubun.


"Bawa ulun turun, ulun handak bajamur di taman" Bawa aku turun, aku ingin berjemur di taman) Panglima Indra memerintah. "Di balkon hajak, kadak usah turun" (Di balkon saja tidak usah turun) Jupin menjawab sedikit kesal. "Hibat bangat ikam wahini Jupin, Mun rasa ngalih manjaga ulun ni, ampih hajak bagawik" (Hebat sekali kamu sekarang Jupin, kalau rasanya susah menjaga aku, berhenti saja kerja) Pangeran sengaja memprovokasi. Jupin kesal ingin meninju pangeran Indra. "Ngapa ikam? sarik? handak mupuhi ulun? pupuhi hak, nyaman ulun ada bukti, nyambatkan wan abahku ancap ikam di ampihkan bagawik (Kenapa kamu? marah? mau pukul aku? pukul saja biar aku punya bukti untuk mengadukan kamu pada ayahku cepat kamu diberhentikan kerja.

__ADS_1


Muka Jupin merah padam, saat Jupin tak melihat pangeran tersenyum mengejek Jupin. Dengan kesal Jupin membantu pangeran Indra turun ke taman dan meninggalkannya disana.


Saat merasa keadaan sudah aman pangeran diam diam berteleportasi ke paviliun Suri. Terlihat Suri sedang menyisir rambutnya yang panjang, Pangeran langsung memeluk Suri dari belakang, membenamkan kepalanya di tulang selangka Suri sengaja berlama lama disana mencium harum kekasih yang sangat dirindukannya itu.


Suri yang kaget karena pelukan yang tiba tiba itu segera ingin menyerang, tapi saat melihat di cermin bahwa yang memeluknya itu adalah pangeran Indra, Suri hanya tersenyum dan membiarkan kekasihnya itu berlama lama memeluknya. "Kanda, kanda sudah ingat semuanya? Suri bertanya senang. "Hmmm" hanya di jawab lenguhan pendek oleh pangeran Indra.


Pangeran memutar tubuh Suri dan mengangkatnya keranjang, mencium bibir Suri dengan penuh nafsu, Suri yang terkejut mendorong pangeran Indra. "Kanda, kau menyakitiku!" Suri menjauh dari Pangeran Indra. "Maaf, maafkan aku aku hanya merindukanmu, terlalu merindukanmu" Pangeran memelas. "Ada apa, ini tidak seperti pangeran Indra kekasihku yang lembut dan selalu memperlakukan aku bak seorang putri" Suri mengenggam tangan Pangeran Indra tak ingin dia merasa bersalah lebih lama.


"Kita harus pergi dari sini secepatnya, akan berbahaya jika kita disini lebih lama" Pangeran menjelaskan. "Katakan padaku ada apa?" Suri menjawab bingung. "Tak ada waktu untuk menjelaskan, aku khawatir semuanya nanti terlambat. "Tolong ceritakan ringkasnya saja, aku janji tak akan bertanya lagi" Suri memohon. Akhirnya pangeran menceritakan apa yang telah di dengarnya tadi. "Dasar brengsek, pantas dia tidak menyukaiku, ternyata ada udang di balik batu" jawan Suri kesal setelah pangeran menyelesaikan ceritanya.


Tq reader masih setia membaca karyaku, kusempatkan up 1 part pagi ini, maaf jika ada typo typo pengen cepat up, hari ini author sibuk mungkin ngga sempat up lagi.

__ADS_1


happy reading ya, love you😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2