
Dayang Juminten yang baru saja berbicara, langsung pucat pasi mendengar teriakan Ayu, begitu juga dayang lainnya, langsung tertunduk. "Ma..ma..maafkan hamba gusti putri kalau hamba salah bicara" dayang itu berbicara dengan terbata bata karena takut akan kemarahan Ayu.
Ayu hanya diam, tubuhnya lunglai, dan Ayu pingsan seketika. "Gusti putri! gusti! dayang dayang yang sedang melayani Ayu langsung panik melihat Ayu yang tiba tiba pingsan.
Mereka memindahkan Ayu bersama sama ke atas ranjang dan segera memanggil tabib. Tak lama seorang tabib datang disusul Permaisuri yang baru mendapat laporan dari seorang pengawal mengenai keadaan Ayu.
"Bagaimana keadaannya tabib?" tanya permaisuri cemas. "Tidak apa apa kanjeng, gusti putri hanya terkejut saja, sebentar lagi pasti akan siuman, hamba sudah memberinya obat, "hamba mohon diri Kanjeng Ratu, asisten hamba akan berjaga disini" Sang tabib menjelaskan kondisi Ayu pada permaisuri. "Baiklah, pastikan Putriku dijaga dengan baik" Permaisuri tersenyum lega.
Ayu masih terpejam tak sadarkan diri, permaisuri duduk di sisi pembaringan, membelai lembut rambut Ayu. "Maafkan ibunda cah ayu, ini sudah ketetapan ayahandamu" Permaisuri berbisik lembut pada Ayu. Perlahan lahan Ayu membuka mata dan menatap Ibunya yang mulai berkaca kaca.
"Ibunda..." Lirih suara Ayu membuat Permaisuri membuang muka, cepat cepat mengusap air matanya karena tak ingin Ayu melihatnya. "Cah ayu" Permaisuri tersenyum pada putrinya. "Mengapa ibunda tidak memberitahukan hal ini pada Ayu?" Ayu ingin marah, tapi tidak tega melihat wajah ibunya yang sendu "Maafkan ibunda cah ayu, ini sudah ketetapan dari ayahandamu, ibunda tak bisa merubah keputusannya" Permaisuri membelai lembut rambut Ayu, dan mengusap air mata yang mulai membasahi pipi putri kesayangannya itu.
"Ibunda yakin, ayahandamu pasti sudah memilih yang terbaik cah ayu, Pangeran Arya Kalingga Putra mahkota kerajaan Matraman adalah pangeran yang baik" Permaisuri menjelaskan, "Tapi ibunda, ananda tidak mencintainya" Ayu menjawab dengan berlinang air mata. "Cinta akan tumbuh seiring waktu cah ayu, witing tresno jalaran soko kulino, seperti ayahanda dan bunda, kita tidak saling kenal sebelumnya, tapi sekarang saling cinta, iya to?" Permaisuri menjelaskan sambil tersenyum meyakinkan Ayu. "Pangeran Arya Kalingga itu ganteng banget cah ayu, banyak yanh suka padanya tapi dia hanya memilih mu cah ayu, seharusnya kamu bangga" Permaisuri menggoda putrinya, tapi Ayu sedikitpun tidak tertarik dengan ucapan Permaisuri.
"Hapus air matamu cah ayu, nanti matamu sembab, jadi jelek" Permaisuri meledek Ayu lagi untuk mencairkan suasana. Ayu tersenyum untuk menyenangkan ibundanya. "Ibunda pergi dulu ya, bukan kamu saja yang harus cantik malam ini cah ayu, ibu juga" permaisuri mengecup kening Ayu sebelum pergi bersama 2 dayang pendampingnya.
Dayang khusus untuk merias Ayu baru saja datang, dan Dayang yang membantu Ayu untuk perawatan kulit dan wajah segera berpamitan. Ayu terlihat sangat cantik dengan kebaya merah maroon, sanggul lipat pandan di pilih perias malam ini, menandakan bahwa Ayu masih gadis perawan yang baru menginjak dewasa. Sanggul model lipat pandan itu makin cantik dengan sunting melati emas yang bergoyang goyang saat Ayu bergerak, ronce melati yang menjuntai hingga kebahu membuat tampilan Ayu malam ini begitu sempurna, jarik batik parang kusumo warisan temurun temurun menjadi pasangan kebaya Ayu malam ini, ditambah dengan selendang merah dan perhiasan emas berlian makin menyerlahkan keanggunan Ayu sebagai putri kerajaan Majapada.
Dayang dayang memuji kecantikan Ayu yang begitu luar biasa malam ini, tapi yang dipuji hanya diam, tak ada raut kebahagiaan di wajahnya. "Pergilah kalian semua, tinggalkan aku sendiri" perintah Ayu pada semua dayang. "Tapi gusti putri, kami diperintahkan untuk tidak meninggalkam gusti putri" Dayang kepala menolak perintah Putri Ayu. 'Seperti yang sudah di duga oleh permaisuri, jika dibiarkan sendiri bukan tidak mungkin Putri Ayu akan melarikan diri' dayang kepala membatin ngeri. terbayang hukuman apa yang akan diterima nya jika itu sampai terjadi. "Baiklah jika kalian takut aku melarikan diri kuncilah semua pintu dan jendela, atau lubang lubang lain juga! sekarang keluar, biarkan aku sendiri!" Ayu berteriak marah.
Akhirnya dengan berat hati semua dayang dayang keluar dari kamar itu, pengawal di kediaman Ayu segera mengunci pintu dan jendela serta berjaga di setiap pintu dan jendela itu untuk memastikan putri junjungan mereka tidak lari dari acara lamaran malam ini.
Setelah semua pintu dan jendela tertutup rapat, "Kangmas,... kangmas dimana, Ayu berbisik lirih menahan isak tangisnya yang sudah tertahan sejak tadi. tiba tiba sepasang tangan menyentuh kedua pipi Ayu, menghapus air matanya perlahan "Jangan menangis diajeng, nanti jelek" Pangeran Indra mengejek "Kangmas" Ayu mencubit Pangeran Indra. "Iya sayang kangmas tahu, diajeng pasti sedih karena malam ini harus bertunangan dengan Pangeran Kalingga" Pangeran Indra berbicara dengan begitu tenang, seolah tidak terjadi apa apa.
"Jadi kangmas rela Ayu menikah dengan lelaki lain? katanya cinta, mana buktinya?" Ayu marah, tak diduga sikap Pangeran Indra kekasihnya jadi begini.
"Diajeng sayang, dengar dulu, jangan emosi begini" pangeran Indra menarik Ayu dalam pelukannya untuk menenangkan kekasihnya itu, tapi yang terjadi malah sebaliknya, Ayu menangis makin keras dada nya berguncang hebat. "Sayang... hei... jangan begini, tenangkan dirimu diajeng, kangmas juga sedih, tapi mau bagaimana lagi, acara harus tetap berlangsung, diajeng tidak mau kan ayahanda malu? setelah malam ini kangmas janji, kangmas akan berbicara pada ayahanda.
__ADS_1
"Benarkah? kangmas janji? "Ayu melepaskan pelukannya, dan matanya berbinar menatap pangeran Indra yang mengangguk pasti "Ya sayang kangmas janji".
"Tuh kan riasannya luntur, wajah diajeng jadi jelek". Pangeran Indra menggoda Ayu, membuat Ayu jengkel dan berlari ke depan cermin untuk memperbaiki riasannya, Ayu melotot terkejut dengan apa yang dilihatnya bukan wajahnya yang jelek tapi makin cantik seperti kunang kunang yang bersinar dikegelapan. Tanpa sepengetahuan Ayu Pangeran Indra telah meniupkan serbuk pembuka aura ke wajah ayu saat mereka berpelukan tadi. Serbuk Mustika Pembuka Aura membuat siapa saja akan menjadi sangat cantik bercahaya.
"Kangmas, ini.. ini.." Ayu tak bisa berkata kata lagi, dalam fikiran Ayu tadi wajahnya pasti sudah sangat jelek karena riasannya yang luntur, tapi ini malah sebaliknya. "Diajeng Sayang, diajeng adalah bintang malam ini, jadi harus bersinar paling terang, tapi ingat, jangan coba coba melirik yang lain ya, awas saja kalau kangmas tahu, wajah diajeng langsung akan berubah jadi nenek sihir jelek", Pangeran Indra mengancam, dan Ayu membalas godaan pangeran itu "Baguslah, kalau Ayu jadi nenek sihir Ayu akan sihir kangmas jadi guling jadi ngga bisa kemana mana lagi, ha..ha.. ha.. mereka tertawa bahagia.
Tok tok tok "Gusti... gusti putri..., sudah waktunya kira berangkat" Dayang kepala mengetuk pintu dengan cemas, sejak tadi dia sudah sangat ketakutan, jika permaisuri tahu mereka meninggalkan Putri Ayu, mereka bisa di hukum. "Gusti.. gusti putri.." Kepala dayang makin cemas karena tidak ada jawaban dari dalam kamar "Bagaimana ini? apa yang harus kita lakukan?" Dayang kepala kebingungan.
"Bagaimana jika kita dobrak saja pintunya" seorang pengawal menyarankan. "Baiklah, tak ada cara lain kita dobrak saja" Dayang kepala setuju untuk membuka paksa pintu kamar Putri Ayu. Satu... Dua..ti.. belum sempat pintu di dobrak, Putri Ayu muncul di pintu, auranya langsung memukau semua yang ada di sana.
"Gusti..." "Putri...." semua tak bisa berkata kata melihat Putri Ayu lebih cantik dari sebelumnya "Ayo kita berangkat" Putri Ayu berjalan meninggalkan para dayang dan pengawal yang masih terpana dengan kecantikannya. "Apa kalian akan tetap disana sepanjang malam?" ucapan Ayu membuat dayang dan pengawal tersentak, dan buru buru berjalan di belakang Putri junjungan mereka itu.
"Putri Ayu seperti bidadari, sangat cantik" bisik para dayang, "Ya sangat cantik" jawab pengawal disampingnya yang mendengar ucapan para dayang. Mereka tiba di pendopo utama tempat acara lamaran akan berlangsung, suara gamelan mengiringi tembang seorang sinden, bermacam macam kesenian sudah disiapkan untuk mengisi acara malam ini.
Pendopo terlihat begitu terang benderang dengan cahaya obor dimana mana, istana tampak semarak dengan hiasan janur mulai dari halaman hingga dalam pendopo. Raja dan permaisuri sudah duduk di singgasana, seluruh pejabat istana turut hadir di bagian kiri pendopo, sementara di bagian kanan rombongan kerajaan Matraman hadir dengan seluruh keluarga lengkap Raja dan Permaisuri, Pangeran Arya Kalingga, dan turut hadir 3 adik pangseran Pangeran Arya Sena, Putri Galuh Indah Sari, dan Putri Galuh Ayu Sekar Sari, semua nampak gembira dengan lamaran ini.
terima kasih dukungannya viewers yang baik hati, hari ni up 2 part kalo sempat nanti malam di lanjut lagi satu part, tapi jangan lupa sedekah likenya ya, love you kalian semuaπ
7
t
a
n
j
__ADS_1
a
k
a
n
π
4
t
u
r
u
n
a
n
ππππππππ
__ADS_1
happy readingπ