
Ayu melepas sanggul, menyisir rambutnya pelan pelan. Rambutnya yang hitam panjang dan bergelombang begitu indah di tengah cahaya lampu kamar yang temaram. Saat Ayu menunduk menyisir ujung rambutnya yang kusut sepasang tangan menutup matanya, mencium puncak kepalanya. "Kangmas, Ayu memanggil pelan. Pangeran Indra mengambil sisir dari tangan ayu, dan menggantikannya menyisir rambut. "Wangi" sesekali pangeran mencium rambut Ayu. Ayu hanya tersipu malu.
"Kangmas, Ayu sudah tak sabar mendengar cerita kangmas" Ayu menatap bayangan Pangeran Indra di cermin, matanya berbinar indah mencerminkan hatinya yang berbunga bunga.
Pangeran Indra menghentikan tangannya yang menyisir rambut Ayu, lalu pangeran menggendong Ayu, duduk di tepi ranjang, dan mendudukkan Ayu di pangkuannya.
"Yakin sudah siap mendengarkan? Pangeran Indra bertanya dengan nada menggoda, "Jangan pingsan lagi ya" canda pangeran. Ayu mencubit lembut pangeran Indra "Aww," pangeran pura pura kesakitan. "Rasain," Ayu memonyongkan bibirnya pura pura marah. Cup! pangeran mengecup bibir Ayu, Ayu terpana tidak siap dengan serangan mendadak itu. "Itu hukuman, karena berani mencubit kangmas" Pangeran Indra tersenyum menggoda, Ayu kesal dan ingin mencubit lagi tapi di urungkannya. Pangeran Indra menahan tawa, mengerti mengapa Ayu tidak jadi mencubitnya, tiba tiba timbul niatnya menjahili Ayu lagi.
Cup! Pangeran Indra kembali mengecup bibir Ayu. Ayu melotot menutup mulut dengan kedua tangan takut pangeran Indra mencuri bibirnya lagi. Ha.. ha.. ha. pangeran Indra tak kuasa lagi menahan tawanya. "Tak usah ditutup begitu, kangmas janji tidak akan mencium lagi, kecuali diajeng yang minta". Ayu makin kesal turun dari pangkuan pangeran Indra, tapi kalah cepat, pangeran Indra segera menarik tangannya hingga mereka berdua jatuh di ranjang, Ayu jatuh tepat menimpa pangeran Indra, bibir mereka bersentuhan lagi tanpa sengaja.
Tak ingin Ayu marah pangeran Indra langsung memasang wajah serius. Ayu segera bangkit menjauh tapi ditahan pangeran Indra dengan gerakan tangan pangeran meminta Ayu untuk tidur disampingnya. Ayu menurut saja berbaring di samping Pangeran Indra. "Berjanjilah untuk tetap diam hingga kangmas selesai menceritakan semuanya". Ayu mengangguk setuju, dan mereka saling menatap saat pangeran Indra memulai ceritanya.
__ADS_1
"Aku bukan kakakmu diajeng, kakakmu sudah meninggal karena racun yang diberikan dari ibu Suri, dan kita adalah sepasang kekasih dari masa lalu, Namaku Pangeran Indra Buana Putra mahkota kerajaan Buana Gemilang, dan Kau Putri Dayang Suri putri tunggal Panglima Hang Tuah Panglima Kerajaan Swarna Bumi, maaf karena sumpahku kita harus menjalani takdir ini. Pangeran menceritakan semuanya dari awal, dan Ayu mendengarkan dengan ekspresi wajah yang berubah ubah, saat pangeran menyelesaikan ceritanya, Ayu sudah tertidur pulas. Pangeran tersenyum menatap Suri kekasihnya, membenarkan posisi tidur Suri, dan menyelimutinya. Pangeran mengecup kening Suri, dan menghilang dari kamar itu.
Ayu bangun saat hari sudah pagi, seperti kemarin Pangeran Indra sudah menghilang, Ayu kecewa karena tak melihat Pangeran Indra disana.
Ayu menjalani harinya dengan tidak bersemangat, Pangeran Indra tidak hadir di tempat latihan tari. Seperti kejadian lalu Ayu kembali membuat kesalahan berulang kali. Semua yang dilakukan Ayu hari ini menjadi tidak menarik dan membosankan bagi Ayu.
Seluruh istana kembali dibuat repot dengan tingkah putri bungsu raja Majapada itu. Ayu memilih hanya tiduran di kamarnya saat kegiatannya selesai hari itu, Ayu lelah memikirkan apa yang telah diceritakan pangeran Indra padanya hingga tanpa sadar tertidur pulas hingga malam menjelang.
Saat Muti masuk mengambil pakaian kering Pangeran Indra muncul dihadapan Ayu, memercikkan air ke wajah Ayu hingga Ayu terbangun dan ingin marah "Muti!" mata Ayu melotot tak percaya, bukan Muti yang menyiram air ke wajahnya tapi Pangeran Indra. Muti muncul, tergesa gesa menghampiri Ayu, "Ya Gusti Putri, ada apa?". "Tidak ada, tidak apa apa, aku, aku hanya kaget tadi ada cicak jatuh", Ayu menjawab asal, tinggal Muti yang bingung melihat kesana kemari "Cicak?"
Ayu mandi dengan cepat, sambil melihat kesana kemari takut jika Pangeran Indra muncul lagi tiba tiba. Pangeran yang menggunakan ilmu penghilang raga tersenyum nakal melihat tingkah Ayu.
__ADS_1
Ayu makan malam dengan tenang, tak ingin ada yang mencurigainya lagi, tapi ucapan Pangeran Adi kembali menyulut pertengkaran. "Ada apa diajeng,kenapa sikapmu manis begini" Pangeran Adi bertanya dengan wajah mengejek. Ayu tak peduli pura pura asik dengan makanannya. "Apa dikmas Arya menganggumu lagi?" Ayu tersedak mendengar ucapan kakaknya, "Uhuk.. uhuk... Muti dengan sigap menyodorkan segelas air, Ayu minum dengan mata masih melotot ke arah Pangeran Adi. Pangeran tersenyum nakal, faham arti pandangan itu, Ayu tak ingin Ayahanda dan ibunda mereka tahu apa yang dikatakan Ayu pada kakaknya itu. "Apa yang dilakukan Arya Dwipangga?" Suara ayahanda mereka mengejutkan keduanya. "Tidak ada ayahanda, hanya kejahilan biasa seperti yang sering kulakukan pada diajeng" Pangeran Adi menjelaskan, dan Ayu menarik nafas lega mendengar penjelasan kakaknya itu.
"Bagus, berarti Arya sudah tidak bersedih lagi, Ayah harap kalian berdua bisa membantunya agar sembuh seperti sedia kala, sebagai saudara kalian harus saling melindungi" Yang mulia berkata dengan bijaksana "Baiklah ayahanda". Putri Ayu dan pangeran Indra menjawab bersamaan. "Sampaikan pada Arya, ayahanda mengundangnya makan besok malam" Baginda berkata pada pangeran Adi. "Baik Ayahanda" Pangeran Adi menjawab singkat.l
Ayu hanya diam hingga makan malam selesai, menyaksikan ayahanda dan kakaknya yang berdebat soal politik, sangat membosankan fikir Ayu, saat berdebat mereka seolah lupa kalau mereka adalah ayah dan anak, tak ada yang mau mengalah hingg ibunda ratu melerai keduanya, jika tidak, acara makan malam yang tenang, akan berubah jadi ajang debat yang makin lama makin tak terkendali, tak ada yang berani menghentukannya hingga salah satu menyerah kalah.
Seperti sebelumnya, malam itu debat antara ayah dan anak sudah mulai memanas, suara yang mukia raja mulai meninggi, ketika Ayu berkata "Ayahanda, bolehkah Ayu ikut kangmas berburu, Ayu sudah bisa memanah, hanya perlu belajar menunggang kuda" Ayu bicara santai, "Tidak!" tiba tiba saja Ayahanda dan kangmasnya menjawab tidak secara bersamaan. Ayu bertepuk tangan, "ternyata ayahanda dan kangmas bisa kompak juga" Ayu sudah selesai mohon izin untuk pergi lebih dulu, Ayu membungkuk hormat sebelum pergi dari ruang makan itu.
Yang Mulia Raja Gajah Pati dan Pangeran Adipura saling berpandangan, hingga Permaisuri membuka suara "Ternyata anak manja kita sudah dewasa kangmas" Permaisuri tersenyum mengejek, akhirnya raja dan putra mahkota terdiam, mereka kalah telak malam ini. Makan malam yang tak pernah mereka lupakan, karena pertama kalinya putri mahkota yang manja bertindak luar biasa untuk menghentikan perdebatan mereka.
Ayu pergi meninggalkan ruang makan dengan tersenyum penuh kemenangan, Ayu bernafas lega akhirnya bisa juga menemukan alasan untuk meninggalkan ruang makan lebih cepat. Bayangan pangeran Indra yang menunggunya membuat Ayu ingin secepatnya tiba di kamarnya.
__ADS_1
5100 view😍 Terima kasih semua dukungannya viewers, 1 part dulu ya, jgn lupa sedekah like nya dibanyakin, love you 7 turunan 4 tanjakan😘