
Saat Suri bangun Zulkifli sudah tak ada lagi kursinya. 'Hmmmm Suri menatap berkeliling sedikit rasa sedih hinggap di fikirannya, walaupun mereka bukan keluarganya tapi mereka begitu baik padanya, memiliki seorang ibu yang memanjakannya adalah impian Suri dari dulu, dan hari ini dia harus meninggalkan mereka semua untuk selamanya.
Amira tak henti hentinya menangis, memeluk Suri erat erat seakan enggan melepaskannya, hingga Zulkifli memaksanya "sudah ma, jangan gini, Keyza pergi kan buat kebaikannya juga, nanti mama bisa nyusul" Zulkifli menarik Amira ke dalam pelukannya mengusap rambutnya untuk menenangkan. Suri menyalami semuanya satu persatu, mereka nampak sedih karena harus berpisah dengan Keyza, 'andai mereka tahu aku bukan Keyza' Suri membatin.
Perpisahan yang terasa begitu menyedihkan sebelum ini Suri belum pernah terikat emosi begitu lama dengan keluarga tempat ia tinggal tapi kali semua terasa sungguh berbeda, terasa berat untuk meninggalkan mereka. Suri melambaikan tangannya saat mobil perlahan berjalan meninggalkan halaman.
Sejak masuk ke mobil Zulkifli hanya diam tak bicara sepatah katapun, dia sengaja menyetir sendiri karena tak ingin ada yang tahu tujuan mereka sebenarnya.
Dari speaker mobil terdengar lagu melayu mengalun syahdu :
Di dalam kesunyian🎶
🎼kurasa gelombangnya
🎵mencintaimu satu kewajiban
tapi tak terluah dengan perkataan🎼
🎤Tika fajar menyingsing
kusentuh sinar kasih🎼
dari matamu dekat dan terasing🎵
🎶aku menanti singkapan tabir cinta
aku menanti saat menjadi nyata🎼
Kesunyian ini terlalu indah🎵
🎶walaupun pahit untuk menelan
walaupun pedih sanggup kutahan🎻
dan kurelakannya🎼
🎶Puteri dipintu mahligai
__ADS_1
kulihat kasi mu melambai🎼
🎵walaupun jauh tapi jelas
jiwaku menyentuh jiwamu🎶
🎻Puteri di pintu mahligai
nyatakan segala impian🎼
🎤sambut lah tangan sambutlah
semoga terlepas segala siksaan🎼
Kesunyian ini terlalu indah🎼
walaupun pahit untuk menelan🎼
🎶walaupun pedih sanggup kutahan
dan kurelakannya🎼
Puteri dipintu mahligai🎵
🎵walaupun jauh tapi jelas🎼
🎵jiwaku menyentuh jiwamu
Puteri dipintu mahligai🎵
🎵nyatakan segala impian
sambutlah tangan sambutlah🎶
🎶semoga terlepas segala siksaan
Dengan sayap impian🎶
__ADS_1
🎺ingin terbang kesana
membawa cinta sebesar dunia🎶
🎶apa jua milikku dan
🎵kutahu hanya untukmu
(Di pintu mahligai /Iklim)
Hmmmmmm Suri menghembus nafas panjang, lagu itu seperti menyindirnya, seolah kisah cintanya menjadi inspirasi dalam lagu itu.
Saat tiba di persimpangan ke arah Desa Lawas, desa yang akan mereka tuju, Zulkifli menghentikan mobilnya. "Ada apa?" Suri bertanya karena Zulkifli yang menginjak rem tiba tiba membuat kepala Suri hampir saja membentur Dasboard di depannya, untung saja Suri sempat berpeganggan di handle pintu jika tidak pasti sudah benjol.
Zulkifli menunjuk beberapa orang yang berdiri menghalang jalan. Satu orang diantaranya mendekat dan mengetul kaca mobil. Zulkifli membuka kaca, "Ada apa?" Zulkifli bertanya. "Jah Pak Katua turun disini hajak, kadak usah ma atar sampai rumah" orang itu menjelaskan, setelah di lihat lagi itu Jupin asisten yang mereka temui di rumah pak ketua.
Zulkifli mengepal tinju nya, 'Keterlaluan, apa apa an ini' batin Zulkifli. Harga dirinya tercoreng, mereka menjemput Suri ditengah jalan, meskipun dia bukan anaknya Keyza tapi Zulkifli merasa bertanggung jawab dengan keselamatannya, matanya memerah menahan kemarahan yang ingin meledak. Suri menyentuh tangan Zulkifli, mengangguk pada Zulkifli. Zulkifli paham, dan balas mengangguk, "Hmmmmm..." Zulkifli menarik nafas, dan melepaskannya kuat, sedikit lega setelah melakukannya.
Zulkifli membuka bagasi mengeluarkan travel bag milik Suri. "Haruskah aku membawanya?" tanya Suri. "Bawa saja, kau pasti akan membutuhkannya" Zulkifli menyerahkan Travel bag yang di pegangnya, Suri menerimanya. "Boleh aku memelukmu?" Zulkifli bertanya penuh harap, meski ia tahu yang di.depannya ini bukan anaknya tapi wajah itu tetaplah wajah Keyza putri kesayangannya. Suri merentangkan kedua tangannya dan memeluk Zulkifli lebih dulu, "Terima kasih papa, terima kasih sudah merawatku, maaf jika kita harus berpisah seperti ini, jaga mama baik baik ya" Suri tak.kuasa menahan tangis. Zulkiflu hanya mengangguk, tak ingin mengucapkan apa apa, hingga Suri hilang dari pandangan Zulkifli masih mematung disana.
Suri tiba di halaman rumah besar itu, mereka langsung berteleportasi saat masuk ke dalam hutan, Suri tidak terkejut sama sekali karena dulu Pangeran Indra sering melakukannya.
Tiba di depan rumah Suri di sambut Pak Katua "Ingatlah, ikam yang handak, bukan ulun yang mamaksa" (Ingat ya, kamu yang mau bukan saya yang memaksa) Pak Ketua memberi ultimatum. Suri tersenyum dan mengangguk, teringat kembali apa yang terjadi di ksrajaan Buana Gemilang, hanya orang yang menginginkannya saja yang bisa masuk ke kerajaan itu, Suri yakin dengan pilihannya, andai Pak Katua tahu, dia tak perlu repot repot bertanya, Suri tersenyum sendiri.
Suri di antar Jupin ke sebuah kamar di paviliun, tidak jauh dari rumah utama. Meski hanya paviliun tapi tetap terasa nyaman, dengan srmua fasilitas yang ada. Meski semua psrabot terlihat kuno, peralatan memasak dan listrik masih ada. Suri merasa senang tinggal disana.
Suri bingung harus melalukan apa, hingga ia keluar untuk mencari udara segar. Di kejauhan terlihat Pangeran Indra sedang duduk di balkon kamarnya. Suri memperhatikan gerak geriknya dari jauh, hingga satu tangan memegang pundaknya, Suri terkejut dan berbalik ke arah orang yang memegang pundaknya itu, tangannya sudah siap siap melayang ke araha manusia lancang yang berani menyentuhnya itu
Tangannya terhenti di udara. "Pak Katua?" Suri berkata pelan. "Ayuk, ada nang ingin ulun surahkan wan pian" (Ayo ada yang ini ingin kubicarakan denganmu) Ketua bicara sambil berjalan menuju sebuah kursi di taman itu. Suri ikut duduk, diam menunggu Pak Katua bicara.
"Iin kadak handak kawin wan pian" (Iin tidak mau menikah denganmu) Pak Katua bicara sedih. "Kadak apa apa Pak Katua, ulun iklas manjaga Iin walaupun kadak kawin, anggap hajak sebagai penebus dosa ulun sudah maranjah inyak" (Tidak apa pak ketua, saya ikhlas menjaga Iin, meskipun Iin tidak mau menikah dengan saya, anggap saja sebagai penebus dosa saya sudah menabraknya) Suri menunduk.
"Pian bulik hajak" (Kamu pulang saja" Pak Katua berkata lagi. "Kadak, ulum kadak handak bulik, ulun handak disini hajak" Suri menggeleng keras, susah payah menemukan pangeran Indra mana mungkin Suri mau meninggalkannya lagi.
Pak Katua menatap Suri bingung "Bujur, pian kadak handak bulik?" (Beneran kamu ngga mau pulang) Pak Katua bertanya lagi. Suri mengangguk pasti. "Jangan manyasal lah, mun pian kadak handak bulik wahini salawasan pian kadak kawa bulik" (Jangan menyesal ya, kalau kamu tidak mau pulang sekarang selamanya.ku tidak bisa pulang lagi) Pak Katua bertanya lagi dengan nada mengancam pada Suri. Suri tersenyum "Kadak Pak Katua, ulun kadak manyasal, ulun cinta wan Iin" (Tidak Pak Ketua, saya tidak menyesal, saya cinta sama Iin) Suri menunduk malu 'Semoga Pak Katua percaya' batin Suri. Pak Ketua tersenyum, "Mun kaitu pandir pian, ulun tanang sudah" (Kalau begitu kata kamu, saya sudah tenang sekarang) Ketua pergi meninggalkan Suri, tiba tiba dia berbalik "Tarima kasih" katanya sebelum kembali melanjutkan langkahnya.
2x up hari ini, semoga malam bisa nambah 1 lagi. happy reading, n love you 7 turunan 4 tanjakan😍
__ADS_1
😘😘😘😘😘😘😘