Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
74. Malam pertunangan


__ADS_3

Acara demi acara berlangsung hikmat, hingga tibalah saatnya waktu bertukar cincin tanda lamaran telah di terima. Ayu keluar dari ruangan yang disediakan khusus bagi calon pengantin wanita di sayap timur pendopo, berjalan pelan menuju tempat yang telah disediakan, semua mata tertuju pada Ayu, seperti terbius semua diam, terpana melihat kecantikan Ayu.


Semua yang hadir begitu terpesona hingga pemain gamelanpun lupa akan tugasnya, hingga beberapa saat ruangan sunyi senyap karena kehadiran Ayu. Pangeran Arya Kalingga tersenyum mengulurkan tangan saat Ayu sudah tiba dihadapannya 'Astagaaaaa dia cantik sekali, kecantikannya bak seorang dewi' Pangeran Kalingga membatin senang.


Sepasang cincin pengikat sudah tersemat di jari Ayu dan Pangeran Kalingga, pancaran bahagia nampak menghiasi wajah seluruh anggota keluarga kerajaan Majapada, begitu pula dengan keluarga kerajaan Matraman, ikatan ini akan memperkuat hubungan antara dua kerajaan besar di utara pulau jawa ini.


Pangeran Kalingga tak melepaskan tangan putri Ayu, hingga Ayu terpaksa menarik tangannya. Sesuai tradisi setelah prosesi adat calon pengganti akan kembali ke kamarnya menunggu hingga acara selesai untuk menerima seserahan yang di bawa calon pengantin pria.


Pangeran Kalingga melepas putri Ayu dengan enggan, sepertinya pangeran sudah jatuh cinta pada pandangan pertama. Sementara itu di barisan belakang keluarga kerajaan Pangeran Indra sedang berusaha menahan cemburu melihat pandangan Pangeran Kalingga pada kekasihnya. Tangan pangeran mengeras mencengkram pahanya, hingga tanpa sadar kukunya menancap di paha itu. "Pangeran Arya ada apa? Arya Kamandanu Sepupunya menatap cemas pada tingkah aneh Arya Dwipangga. "Tidak apa apa, aku hanya sesak berada dikeramaian ini, sepertinya aku harus mencari udara segar" Pangeran Arya Dwipangga berusaha menghindar. "Aku temani ya?" Pangeran Arya Kamandanu menawarkan diri "Tidak perlu, aku sendiri saja" Pangeran Indra bergegas pergi tak ingin Arya Kamandanu mengikutinya.

__ADS_1


Pangeran Indra segera pergi meninggalkan acara, menenangkan diri di rumah bunga. Dadanya sesak hatinya sakit harus melihat kekasih yang dicintai bertunangan dengan orang lain. 'Meskipun hanya sesaat mengapa tetap terasa sesakit ini' Pangeran Indra membatin, berusaha melupakan apa yang dilihatnya tadi. Pangeran ingin minum hingga mabuk, tapi sudah sepuluh botol arak diminumnya pangeran tak kunjung mabuk. "Howek... howek... pangeran muntah karena terlalu banyak minum, sebelum terkapar lemah tak sadarkan diri.


Ayu menunggu Pangeran Indra hingga tidak tidur semalaman, namun hingga pagi menjelang yang ditunggu tak kunjung datang. Ayu bersedih menangis sepanjang malam "Kangmas, kangmas dimana? Ayu tak sanggup menghadapi ini sendiri" Ayu berkata lirih.


Hujan lebat menyambut datangnya pagi, Ayu berdiri di depan jendela menatap bulir bulir air hujan yang jatuh dari atap seperti bulir bulir air mata yang terus jatuh di mata Ayu. Matanya sembab dan kantung matanya menghitam. Hujan lebat tak kunjung berhenti hingga senja menjelang, Ayu hanya berdiri di depan jendela menatap rintik hujan dengan pandangan kosong, makanan yang dibawakan dayang tak sedikitpun disentuhnya. Dayang Muti bingung hingga terpaksa melaporkan hal ini pada Permaisuri. "Biarkan saja Muti, Ayu butuh waktu untuk menerima semuanya, hingga waktunya tiba dia akan sadar akan tanggung jawab seorang putri" Permaisuri berkata dengan bijaksana, Dayang Muti hanya menunduk, memberi hormat sebelum kembali ke kediaman Putri Ayu.


"Gusti..sebaiknya gusti putri makan dulu, sejak kemarin gusti belum makan apa apa, nanti gusti putri bisa sakit" Muti membujuk Ayu untuk makan. "Nanti saja Muti, aku tidak selera makan, ambilkan susu dan madu saja" Ayu berkata pelan. Muti terpaksa menuruti, membawakan susu yang diminta Ayu. "Pergilah, tinggalkan aku sendiri" "Tapi gusti?" "Tidak usah khawatir, aku tidak akan bunuh diri, aku tidak seberani itu Muti!" Ayu kesal dengan Muti yang terlalu khawatir padanya. "Baiklah gusti..". Meski khawatir Muti terpaksa pergi. Matahari sudah kembali ke peraduan saat Muti meninggalkan kediaman Putri junjungannya.


Pangeran mengambil gelas yang baru di letakkan Ayu dan menyodorkannya ke mulut Ayu, "Ayo minum lagi" Ayu meneguk susunya hingga tinggal setengah dan mendorong gelasnya "Cukup kangmas, kangmas saja yang menghabiskan, Ayu menyodorkan gelasnya ke bibir pangeran Indra, pangeran menghabiskan susunya dengan cepat. "Ayu tahu kangmas pasti lapar" Ayu tersenyum meletakkan gelas yang kosong di samping nakas.

__ADS_1


"Diajeng juga pasti lapar, tidak makan dan tidur, lihatlah wajahmu jadi jelek begini" Pangeran Indra membelai wajah Ayu. "Sayang, maafkan kangmas ya, pasti tadi malam tidak tidur nungguin kangmas" Pangeran menatap sedih pada Ayu. "Kangmas kemana, mengapa tidak datang?" Ayu cemberut pura pura marah. "Kangmas tidak kuat sayang, melihat pria lain menatapmu menyentuhmu, ingin rasanya kangmas bunuh dia" Pangeran Indra mengepal tanganya. "Kangmas terpaksa keluar untuk menenangkan diri" Pangeran Indra tidak ingin Ayu tahu, bahwa dirinya tertidur dirumah bunga, tapi sayang Ayu tahu ada yang dusembunyikan pangeran Indra "Kangmas, Ayu tanya kangmas kemana?" tanyanya lagi "Maaf kangmas mabuk semalam hingga kangmas tertidur" Pangeran Indra memeluk Ayu untuk meredakan kemarahan Ayu, tapi Ayu malah mendorongnya "Kangmas ke rumah bunga?" pertanyaan Ayu yang langsung itu membuat pangeran tak bisa berkelit lagi. "Maaf sayang, tapi sumpah kanda hanya sendiri disana, diajeng harus percaya tidak ada gadis lain yang bisa membuat kangmas berpaling darimu" pangeran Indra menangkup wajah Ayu dan mendekatkan wajah nya ke wajah Ayu.


"Tatap mata ku diajeng, lihatlah apa kangmas bohong atau tidak" Pangeran menatap dalam kemanik mata Ayu. Dada Ayu bergemuruh karena jarak mereka yang terlalu dekat. Ayu tak kuasa menatap mata Pangeran indra, bukan menatapnya tapi Ayu malah terpejam, meredam gemuruh di dadanya.


Melihat Ayu yang terpejam pangeran Indra malah tak tahan untuk menciumnya. Pangeran mengecup bibir Ayu perlahan, tak ada penolakan, hingga keduanya tenggelam melepas rindu dalam ciuman yang dalam, lebur sudah kemarahan Ayu.


Hujan berhenti langit malam yang gelap dan dingin kembali cerah dengan bintang bintang yang menghiasi, seakan alam tahu kesedihan Ayu sudah hilang berganti bahagia, karena berada dalam dekapan kekasihnya itu.


"Kangmas" "hmmmm" Ayu memanggil Pangeran Indra pelan, di jawab lenguhan pelan kepalanya masih sakit dan matanya juga mengantuk karena masih lelah akibat terlalu banyak minum semalam. "Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Ayu cemas "Tidurlah, besok saja kita bicarakan" Pangeran menjawab, mengeratkan pelukannya dengan mata yang masih terpejam.

__ADS_1


Ayu mengalah, menatap pangeran Indra yang mulai terlelap, merasa Pangeran sudah tidur Ayu memberanikan diri mencium pipi kekasihnya itu. Pangeran tersenyum dan menunjuk pipi kirinya minta dicium juga, tahulah Ayu Pangeran belum terlelap, Ayu mencium pipi kiri pangeran dan kemudian membenamkan wajahnya dalam pelukan pangeran, mukanya memerah menahan malu.


6383 view, tq viewers yanh baik hati, terus dukung Suri dan Pangeran Indra ya, jangan lupa sedekah likenya dibanyakin, author bela belain nulis dulu 1 part pagi ini, love you 7 turunan😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2