
Suri bangun pagi-pagi sekali, mandi dan segera bersiap-siap untuk berlatih, Melati yang datang pagi itu hanya bisa berdiri mematung, tertegun melihat junjungannya yang sudah rapi, "aneh sekali, mimpi apa putri semalam" Melati berkata dalam hati.
Suri tersenyum, mengedipkan sebelah matanya ke arah Melati seakan tahu apa yang di fikirkan Melati, "Aku mimpi dipeluk pangeran tampan Melati, ha3x, Suri berlalu meninggalkan Melati yang masih berdiri mematung bingung melihat junjungannya pagi ini.
Biasanya Melati harus ekstra sabar membangunkan Suri, tak cukup sekali, tetapi Melati harus melakukannya berkali-kali, tak jarang Melati harus menyeret Suri untuk segera mandi, jika tidak panglima akan menghukum Suri karena terlambat untuk latihan pagi, dan Melati juga akan menerima hukuman yang sama karena dianggap gagal menjaga Suri.
Melati masih penasaran "apa yang terjadi pada putri?, kenapa dia begitu bersemangat? Aku harus menanyakannya nanti". Melati keluar dari paviliun Suri, segera menuju dapur untuk membantu menyiapkan sarapan, karena tugasnya mengurus Suri pagi ini telah selesai.
Suri tiba lebih awal dari Panglima, disana sudah ada sesosok pria yang berdiri menghadap matahari terbit, melipat kedua tangannya, termenung sendiri, menghadap ke timur seperti menunggu sang mentari menampakkan diri.
Suri tersenyum melihat sosok yang sudah lama tak ditemuinya, Suri mendekat perlahan ke arah sosok pria itu, menepuk pundaknya dan berbisik "masih di bumi cek abang?" Ternyata pria itu Hang Nadim sahabat Suri sejak kecil. Suri tersenyum senang, melihat Hang Nadim yang terkejut karena tak menyadari kedatangan Suri.
"Kemana saja bang Nadim?" Suri bertanya masih dalam posisi semula, menggandeng bahu nadim, "seingatku sejak malam pertunangan itu aku tak pernah melihat abang lagi, apa abang sakit?", Suri menatap Nadim cemas, meraba kening Nadim, "Tidak panas, jadi abang kenapa?" sejak malam pertunanganku aku tak pernah melihat abang lagi".
Nadim tidak menjawab pertanyaan Suri, dalam hati Nadim berkata andai kau tahu Suri, rasaku padamu lebih dari rasa seorang sahabat, lebih dari rasa seorang kakak pada adiknya, apa kau masih akan berlaku sama terhadapku?"
Hhmmmm.... Nadim hanya menghela nafas panjang saat Suri menyentuhnya Nadim seperti merasa ada ribuan semut menjalari tubuhnya, bulu kuduknya meremang, tapi Nadim berusaha sekuat tenaga menahannya.
__ADS_1
"Ayo mulai berlatih, apa kau ingin paman menghukum kita?", Nadim tak mempedulikan Suri, langsung mulai sesi latihan pagi itu dengan pemanasan,
Suri mengikuti apa yang dilakukan Nadim melakukan pemanasan, dan lari mengelilingi lapangan, Suri berlari mengejar Nadim berlari sejajar di sampingnya, sesekali melirik ke Hang Nadim tapi yang dilirik pura-pura serius berlari, Suri terus memperhatikan Nadim, tapi Nadim tetap tak bergeming.
Hingga sepuluh kali putaran Nadim masih tak mempedulikannya, kekesalan Suri mencapai puncaknya, Suri datang menyerang Nadim, "Hiyaaaat, Suri melepaskan tendangan dari jarak jauh, namun tak berhasil mengenai sasaran, Nadim yang sedari tadi siap siaga sudah berkelit ke kiri, hingga tendangan Suri hanya mengenai tempat kosong.
Suri menyerang lagi, kali ini tidak dengan tangan kosong, Suri mencabut pedang dari warangkanya, membuat gerakan berputar di udara, gerakannya meliuk-liuk seperti menari, itulah jurus bidadari pedang.
Jurus yang diciptakan khusus oleh panglima Hang Tuah untuk anaknya. Gerakan yang sangat lembut seperti menari, tapi sangat mematikan, Suri menyerang lagi, kali ini mengincar jantung Nadim, Nadim yang sudah siap sedia segera menangkis serangan Suri dengan pedangnya, akibatnya terjadi percikan api yang cukup kuat.
Duarrr!!! hantaman pedang yang saling beradu menimbulkan percikan api menerangi pagi yang masih samar. Nadim dan Suri sama-sama terdorong kebelakang.
"Cukup untuk hari ini, Ayahanda tunggu kalian di ruang makan, kita sarapan pagi bersama, kau juga Nadim, bukankah sudah lama tidak kemari?" Panglima menatap tajam pada Hang Nadim. Hang Nadim yang ditatap hanya membungkuk hormat saat panglima berlalu dihadapannya.
Hang Nadim hendak menyusul berjalan di belakang panglima saat Suri memanggilnya. "Bang Nadim, tunggu" Nadim terpaksa menghentikan langkahnya, bisa kita bicara nanti selepas sarapan? kutunggu ditempat biasa, tak ada penolakan harus datang, kalau abang tak datang aku yang akan kerumah abang". Suri berbicara terus tanpa henti, Nadim yang diajak bicara hanya mengangguk lemah. "Kenapa sih dia, aneh banget, biasanya juga usil" Suri menggerutu, dan langsung menyusul Nadim yang sudah menjauh.
Mereka makan diam-diam, sesekali panglima bertanya tentang sesuatu hal pada Nadim dan Nadim hanya menjawab ketika ditanya, selebihnya mereka hanya diam.
__ADS_1
Selesai makan, Nadim pamit pulang, "Haaaaaaa...." Nadim menarik nafas lega saat sudah tiba di luar kediaman panglima. Nadim berjalan cepat, hampir berlari ketika sebuah suara menghentikan langkahnya "Abang....! Bang Nadim" Nadim menoleh, dilihat nya Suri berlari-lari mengejarnya "Hhhhhhhh" Nadim menarikk nafas panjang, seketika wajah cerah Nadim berubah sendu.
"Abang mau kemana? tadi kan sudah ku bilang ku tunggu ditempat biasa, hhh.n hhh.. Suri terengah engah, "untung aku cepat, kalau tidak abang pasti sudah kabur" Suri cemberut, saat sudah disamping Nadim Suri menjewer Nadim, "Aduh.. aduh.. Sakit dek" Nadim mengelus-elus telinganya yang di jewer Suri.
"Ayo bang, jangan coba lari lagi" Suri menarik tangan Nadim, Nadim membiarkan saja tangannya ditarik Suri.
Mereka duduk di gazebo belakang kediaman Suri, Mendudukkan Nadim dan berbaring di paha Nadim "Ya ampun Suri tolong jangan begini" hati Nadim menjerit, Nadim takut debaran di dadanya akan di ketahui Suri. "Jangan begini Suri duduk saja" Nadim Mendorong Suri membantunya duduk.
"Kenapa sih bang, biasanya juga begitu abang tak apa" Suri duduk dengan malas.
"Baiklah, sekarang jelaskan padaku abang kemana, mengapa tidak pernah datang lagi kemari, berlatih juga tidak"
"Tidak apa-apa dek, abang hanya tidak mau ada salah faham, tak lama lagi adek akan menjadi istri orang, tak baik jika kita berdekatan, nanti apa kata orang, apalagi calon suami adek putra mahkota" Nadim menjelaskan sambil berdiri menatap ikan-ikan di kolam milik Suri "Biarlah cinta ini kusimpan sendiri, tak perlu kau tahu Suri" Nadim menjerit dalam hati, nampak gurat kesedihan di wajahnya.
cintanya pada Suri yang telah tumbuh sejak mereka kecil harus hancur berkeping-keping, mimpinya untuk bersanding dengan Suri tak akan pernah terwujud.
Suri bingung dengan sikap Nadim yang berubah tiba-tiba. "Apa sih bang, tak ada yang berubah walaupun aku sudah bertunangan, lagi pula abangkan tahu aku tak pernah menyukai putra mahkota, andai saja aku bisa memutuskan pertunangan ini". Suri menjelaskan dengan sedih.
__ADS_1
Nadim mendekat, memeluk Suri, "Jangan begitu, adek tahu kan apa yang akan terjadi jika perkawinan ini batal" Suri mengangguk, bersandar nyaman di dada bidang Nadim.
hai reader cerita ini hanya cerita halu, jika ada kesamaan nama dan tempat itu adalah ketidak sengajaan tidak ada maksud menyinggung atau menjelekkan siapa siapa, tq sudah membaca karyaku dan jangan lupa like dan comment nya😘