
Seakan baru sadar dari mimpi tiba tiba Ayu mendorong pangeran Indra dan berlari turun dari ranjang, Pangeran dengan cepat menarik Ayu menempelkan telunjuknya di bibir Ayu sebagai isyarat supaya Ayu diam pangeran tak ingin ada yang mendengar teriakan Ayu. Walau ragu ragu Ayu mengangguk tanda mengerti.
"Kang mas, ini salah" suara ayu sangat lirih hampir tak terdengar, Ayu menggeleng pelan dengan wajah resah, di satu sisi Ayu begitu senang Pangeran Arya ada di dekatnya, rindu yang tak terbendung seminggu ini akhirnya terjawab, tapi disisi lain hatinya menolak, Pangeran Arya kakak kandungnya meski mereka berbeda ibu, ini cinta terlarang.
Pangeran Arya menggeleng "Tidak ada yang salah diajeng, dirimu hanya tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi, berjanjilah untuk tidak mengatakan ini pada siapa pun", Pangeran Indra menatap Suri menunggu jawaban "Baiklah kangmas" Ayu menjawab pelan.
"Kangmas akan datang lagi nanti malam, tunggu kangmas ya" Ayu menunduk tidak menjawab, saat Ayu mengangkat wajahnya Pangeran Arya sudah tak ada lagi disana.
"Kangmas" Ayu memanggil mencari pangeran di seluruh kamarnya tapi Pangeran Arya menghilang seperti di telan bumi. Muti yang baru muncul melhat tingkah aneh Ayu yang menunduk ke kolong ranjangnya seperti mencari sesuatu. "Apa ada yang hilang gusti putri?" Muti ikut menunduk melihat ke kolong ranjang. "Tidak, tidak ada" Ayu menjawab singkat wajahnya berubah gugup, tak ingin Muti bertanya lagi, Ayu segera pergi ke ruang mandi "Aku mau mandi apa air hangatnya sudah siap?" tanpa menoleh Ayu langsung menuju tempat mandi.
Ayu tersenyum saat tiba di tempat latihan menari, Senyum hangat pemain gong menyambutnya di sana. Sepanjang latihan Ayu tersenyum tak ada kesalahan sedikitpun yang dilakukan Ayu hari ini, latihan selesai cepat karena Ayu tak membuat kesalahan. Ayu masih enggan pergi dari sana. Suasana latihan begitu menyenangkan hari ini karena pemain gong yang dirindukannya ada disana, selalu melempar senyum termanisnya saat mata mereka tak sengaja bertemu pandang. Nyi Kencana memuji tarian Ayu yang begitu indah hari ini. Tak ada yang tahu apa yang membuat Ayu senang hari ini, hanya mereka berdua yang tahu, saat saling memandang dan melempar senyuman ada hati yang berbunga bunga pendar bahagia terpancar diwajah keduanya.
__ADS_1
Semua begitu lancar hari ini, Kelas menari, Kelas tata krama, Kelas melukis, dan Kelas menulis. Karena hatinya begitu senang Ayu bisa menyelesaikan semuanya dengan cepat.
Tak ada yang bisa dilakukan lagi, Ayu berjalan mondar mandir di kamarnya, waktu terasa berjalan sangat lambat, ayu berharap hari segera gelap agar bisa segera bertemu pangeran Arya, tapi matahari masih bersinar sangat terang di luar sana. Ayu kesal sekali hingga memutuskan untuk keluar berjalan jalan di taman.
Dari kejauhan terlihat Putra Mahkota sedang berlatih memanah, Ayu memperhatikan apa yang dilakukan kakaknya itu. Pangeran menyadari ada yang menatapnya, dan menoleh melihat Ayu yang sedang menatapnya dari jauh. Pangeran Adi melambaikan tangannya meminta Ayu untuk mendekat.
Saat Ayu sudah di dekatnya pangeran menghentikan latihannya "Tumben Diajeng berjalan jalan di waktu begini?, ada apa?" Pangeran mendekat dan mengacak acak rambut Ayu. Ayu cemberut dan berkelit menghindar, tidak suka rambutnya di acak acak.
"Ayu bosan kangmas, tidak ada lagi yang bisa Ayu lakuin" Ayu mengadu sambil memonyongkan bibirnya. "Apa ingin mencoba memanah?" Pangeran Indra menawarkan "Apa boleh?" Ayu bertanya dengan bersemangat. "Tentu saja, ayo kangmas ajarkan". Pangeran Indra mengajarkan teknik memanah pada Ayu, tapi belum selesai di jelaskan Ayu sudah melepaskan panahnya, Tap! anak panah Ayu tepat sasaran, Pangeran Adi melotot menatap tak percaya apa yang dilihatnya, Adiknya yang tidak pernah memanah sama sekali hari ini langsung memanah tepat sasaran, sungguh tidak bisa dipercaya. Tak berbeda dengan Pangeran Adi, Ayu pun terkejut, tidak percaya dia bisa memanah begitu hebat seakan sudah sangat terlatih padahal sejatinya belum pernah sama sekali. "Diajeng, apa diajeng berlatih diam diam?" Pangeran Indra bertanya khawatir, seorang putri di kerajaan Majapada tidak diperkenankan berlatih bela diri, hanya belajar tata krama dan keterampilan khusus untuk seorang wanita. "Tidak kangmas tidak pernah" Ayu menggeleng cepat. "Mungkin hanya kebetulan, boleh Ayu mencoba lagi?" Ayu memohon pada Pangeran Adi. Pangeran mengangguk, memberikan satu anak panah lagi pada adiknya. Tap! sama seperti sebelumnya panah Ayu kembali melesat tepat sasaran mereka berdua menatap tak percaya.
"Menyenangkan sekali kangmas, apa boleh sesekali Ayu ikut kangmas berburu?" Ayu bertanya bersemangat. "Ho ho ho baru sekali memanah diajeng sudah ingin ikut berburu, tidak diajeng jangan mimpi, sangat berbahaya untukmu, ayahanda pasti akan menghukum kangmas jika itu terjadi" Pangeran Adi menjawab tegas.
__ADS_1
Ayu kecewa karena sudah berharap kangmasnya mau memenuhi keinginannya. Ayu pergi meninggalkan Pangeran Adi dengan kesal. Pangeran Adi hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, 'Hmmm... masalahnya akan jadi panjang kalau sudah begini' batin pangeran pasrah.
Ayu kembali ke kediamannya di Astana Putih, langsung merebahkan tubuhnya di kamar, Ayu kesal sekali hingga tanpa sadar Ayu tertidur. Siang sudah berganti malam saat Muti membangunkan Ayu untuk makan malam "Gusti Putri, bangun gusti.. sudah waktunya makan malam" Ayu langsung bangun, segera mandi dan bersiap dengan cepat. Muti terpaku melihat junjungannya itu bersiap sendiri dengan cepat.
Muti melangkah di belakang Ayu, diam diam Muti mulai berfikir apa yang sudah merasuki putri hari ini hingga semua berjalan dengan sangat baik, biasanya kalau sudah merajuk pasti akan lama baru baik, tapi hari ini putri sudah melupakan kesalahan kakaknya.
Ayu makan dengan bersemangat, semua menatap aneh pada Ayu, hingga ibunda permaisuri menegur Ayu karena makan terlalu cepat. "Cah ayu, mana tata kramamu, makan perlahan, tidak sopan makan terburu buru begitu" Ayu terdiam dan mengangguk pelan.
Makan malam terasa sangat membosankan bagi Ayu, Ayu ingin segera kembali ke kamarnya menunggu Pangeran Arya disana. Saat ayahanda dan bundanya sudah berlalu dari ruang makan Ayu segera bangkit setengah berlari kembali ke kamarnya, Muti hampir terjatuh karena mengejar junjungannya yang terlalu cepat. Pangeran Adi yang melihat tingkah adiknya itu hanya tersenyum, dan gekeng geleng kepala, tak ada seharipun berlalu tanpa tingkah aneh putri mahkota yang manja itu.
Ayu tiba di kamarnya dan duduk di tepi pembaringan, Muti yang menyusul dengan nafas sedikit ngos ngosan langsung duduk di lantai memperhatikan junjungannya yang sedang memilih baju di depan lemari. Ayu hanya diam tak pedulu pada Muti tetap asik memilih baju seolah Muti tak ada disana.
__ADS_1
Ayu berganti pakaian sendiri, baju tidur sutra merah muda menjadi pilihan Ayu malam itu, "Istirahatlah Muti, kau pasti lelah" Ayu meminta Muti pergi "Tapi gusti putri", Muti ingin menolak karena belum membantu junjungnya untuk membersihkan diri seperti biasa. "Aku bisa sendiri, pergilah". Muti membungkuk memberi hormat dan melangkah mundur meninggalkan Ayu dengan sejuta tanya masih bersarang di kepalanya. 'Apa yang merasukimu gusti putri?' Batin Muti.
Terima kasih banyak sudah mampir, hari ini author lagi senang karena viewer nambah banyak banget, jadi nambah up 1 part, tolong sedekah like dan komennya dibanyakin juga ya biar makin semangat, jangan pelit, pernah dengarkan orang pelit kuburan sempit😁 love you tujuh turunan 4 tanjakan😜😋😝