
Ternyata tingkah kedua mempelai yang saling berbisik bisik tak luput dari pandangan para seniman kerajaan, mereka langsung menyanyikan lagu yang berjudul pandang pandang jeling jeling
Cincin intan bunga selasih
Mari dipakai diwaktu petang
Mengapa tuan tak mau berkasih
Adakah orang yang melarang
Kain sarung kain terendak
Memanglah manis kalau dipakai
Kalau takut dilamun ombak
Jangan berumah di tepi pantai
Menjeling menjeling kubertentang
Mata kita sama memandang
Kucuba kucuba nak bertanya
Siapa diakah namanya
Menjeling menjeling kubertentang
Mata kita sama memandang
Kucuba kucuba nak bermesra
jangan sampai datang rumah
__ADS_1
"Tak payah datang rumah, dah serumah pon"
Penyanyi di belakang menyahut, yang membuat semua terkekeh mendengarnya, dan membuat kedua mempelai tertunduk malu.
Lagu kembali dilanjutkan \=
Kereta kuda pedati lembu
Singgah marie ditepi kuala
Tuan sutra saya belacu
manakan boleh berganding sama
Burung jelatik sarang kedidi
Sarang tempua sarang berjuntai
Sungguh cantik sutra diuji
Menjeling menjeling kubertentang
mata kita sama memandang
bercakap bertanya dan bermesra
siapa diakah namanya
Pandang pandang jeling jeling \= SM Salim, Siti Nurhaliza
Pesta berlangsung semalam suntuk, tamu tamu seperti enggan meninggalkan pesta, makanan berlimpah dan hiburan yang sangat menarik begitu mempesona.
Tuai padi musim dah tiba
__ADS_1
Mari menuai di waktu pagi
kalau begini malang menimpa
biar kuturut kata hati
"Mane ade malang, kan dah ade kanda membujuk hati, ye ha!" kali ini pemain musik yang menjawab, semua kembali terkekeh, membuat pasangan pengantin hanya bisa tersenyum.
Pasangan pengantin sudah turun dari pelaminan, sesaat setelah Yang mulia raja Surya Buana dan permaisuri meninggalkan singgasananya, begitu pula Panglima Hang Tuah sudah turun dari panggung menuju para tamu kerajaan yang masih setia menikmati pesta, Putri Dayang Suri mohon izin pada ayahandanya dan juga para tamu untuk kembali ke istana di iringi para dayang dayangnya.
Pangeran Indra menatap kepergian istrinya, hingga menghilang, tepukan di bahunya memutus pandangan pangeran, ternyata adiknya pangeran Arya Buana dan sahabatnya Angin Bayu "Putra mahkota kita sepertinya tidak rela jika putri mahkota sudah kembali ke peraduan, apa sebaiknya kita antar saja putra mahkota menyusul putri?" Angin Bayu pura pura bertanya pada pangeran Arya. "Bugh! Aduh!" Tinju pangeran Indra mendarat mulus di perut Bayu, Bayu meringis pura pura menahan sakit akibat tinju pura pura pangeran Indra, untuk sesaat mereka saling memandang dengan pandangan menggoda, akhirnya mereka tertawa bersama.
Sebagian tamu menoleh mendengar tawa lepas pangeran Indra. Sungguh kejadian luar biasa melihat pangeran indra yang selalu dingin, berwajah kaku, tidak pernah tersenyum, hari ini bisa tertawa begitu lepas, cinta memang bisa merubah segalanya, begitu pula pangeran Indra.
Malam makin larut, satu persatu tamu mulai berangsur pulang, dan pangeran Indra kembali ke Istana dengan senyum yang tak lekang dari bibirnya, akhirnya dia bisa memiliki Dayang Suri seutuhnya, setelah berkorban di 7 kehidupan, perjuangan yg penuh darah dan air mata terbayar sudah.
Pangeran Indra mempercepat langkahnya, tak sabar ingin menemui belahan jiwanya di peraduan. Jarak balairung dan paviliunnya terasa begitu panjang bagi pangeran Indra yang sudah setengah berlari ingin segera menemui istrinya, para pengawal yang berjalan di belakangnya sampai terengah engah mengikuti sang putra mahkota.
Senyum tak lekang dibibir pangeran Indra, perjuangan yang tak mudah untuk mereka bersatu terlintas kembali di benaknya, pangeran bersyukur akhirnya penguasa langit merestui mereka pangeran. Pangeran Indra memejamkan mata mengucap syukur akan takdir indah nya bersama Suri, terbayang kebahagiaan mereka di masa depan, saat Pangeran membuka mata, dan terlihat dikejauhan gapura paviliunnya, pangeran makin mempercepat langkah sudah tak sabar ingin segera sampai, jika boleh pangeran ingin sekali menggunakan ilmu teleportasi agar sampai ke paviliunnya dalam sekelip mata, tapi sayang selama ritual pernikahan belum selesai dia tak boleh menggunakan ilmu apapun, semua harus berjalan sesuai aturan yang berlaku, jika tidak akan ada bala yang akan datang menimpa, tak ada yang berani melanggar pantang larang itu meski baginda raja sekalipun.
Sampai di depan pintu paviliun, pangeran di sambut aroma mawar putih yang begitu harum, mawar putih dimana mana, menghiasi sepanjang jalan dari gapura hingga ke pintu paviliun, setiap sudut dan sejauh mata memandang hanya terlihat mawar putih mengghiasi paviliun itu, sekali lagi pangeran memejamkan mata menghirup dalam aroma wangi bunga kesukaan kekasihnya itu, sambil membayangkan tubuh Suri yang begitu wangi menggoda.
Pengawal di depan pintu hanya terdiam, tak berani mengumumkan kedatangan Pangeran Indra, hingga pangeran menggangguk memberi isyarat untuk menyampaikan kedatangannya.
"Putra Mahkota Pangeran Indra Buana datang" suara pengawal mengejutkan para dayang yang sejak tadi menemani Putri Mahkota di kamarnya, Daun pintu terbuka lebar, aroma mawar putih tercium makin kuat, Melati dayang khusus yang melayani putri mahkota berbaris paling depan, para dayang berbaris di kiri kanan pintu masuk, taburan mawar putih tersusun indah dilantai dari pintu masuk ke kamar pengantin, Para dayang membungkuk hormat dengan menangkup kedua tangan di depan dada, Pangeran Indra masuk dengan perlahan, dan berdiri di gawang pintu kamar yang terbuka lebar. Para dayang berbaris menuju pintu keluar, Melati yang terakhir keluar dan langsung menutup rapat pintu, tersenyum licik membayangkan malam pertama putri junjungannya itu. Semoga mereka bahagia hingga ke akhir hayat" Melati menggumam pelan.
Pangeran menatap Suri yang masih duduk di depan cermin, masih lengkap dengan pakaian pengantinnya, cahaya lilin yang temaram membuat suasana begitu romantis, pangeran tersenyum dan Suri melihat bayangan pangeran di cermin, membalas senyuman belahan jiwanya itu dengan hati yang berdebar debar, pangeran mendekat perlahan, menyentuh pundak Suri dan perlahan meminta Suri menghadap padanya dengan sentuhan di bahu itu, Suri berbalik perlahan dan mencium tangan suaminya dengan lembut, sentuhan bibir Suri di tangannya membuat pangeran Indra membeku, gelenyar aneh mulai menjalari tubuhnya, pangeran Indra meminta Suri berdiri, dan Suri hanya menurut patuh, Pangeran mengecup kening Suri, Suri terpejam hanyut dengan sentuhan lembut itu, perlahan pangeran mengecup kedua mata Suri, turun kehidung, dan menatap bibir merah merekah Suri penuh ingin, "Aku mencintaimu" bisik nya di telinga Suri, ******* nafas pangeran membuat tubuh Suri meremang. Suri tersenyum malu, dan menjawab "Aku juga mencintaimu Kanda". Pangeran Indra tersenyum untuk pertama kalinya pangeran Indra mendengar kata yang begitu ingin di dengarnya dari bibir indah itu.
Hai readers, akhirnya novel pertamaku TAMAT maaf ya lama, lagi sibuk di dunia nyata, lagi pula, author masih bingung mau buat akhir cerita apalagi nulis MP, belum nulis udah deg2an takut kamu kecewa, belum lagi harus ulang typo2 karena zuzah lolos, terima kasih masih setia, maaf kalau kurang memuaskan.
Oh iya MP nya di ekstra part ya, maaf kalo lambat, aku takut dosa kan lagi ramadhan😂
selamat menjalankan ibadah puasa, hati hati pilih bacaan, ntar batal puasanya,
__ADS_1
n last, maaf belum bisa bagi apa apa buat pembaca setia, novelku belum menghasilkan apa apa, semoga kedepannya bisa nulis yg bagus dan bisa bagi bagi buat kamu juga seperti yg lain.