
Nadim memeluk erat tubuh Suri, Suri yang merasa nyaman dalam pelukan Nadim membiarkan saja sang kakak sepupu memeluknya.
Berbeda dengan Suri yang merasa nyaman dipelukan seorang kakak, Nadim memeluk Suri untuk melepas rindunya yang teramat sangat "biarlah ini jadi kenangan terakhir untukku, bisa memelukmu untuk yang terakhir kali, sebelum aku berangkat ke negeri China sudah lebih dari cukup buatku, ini akan jadi kenangan terindah, tak akan kulupakan sepanjang hayatku", Nadim berkata dalam hati.
Mereka berdua terdiam tenggelam dalam fikiran masing-masing, Nadim mendorong Suri perlahan ingin melepas pelukannya, tapi Suri melarangnya, "biarkan bang izinkan aku memelukmu sedikit lebih lama" Suri mempererat pelukannya dan Nadim hanya bisa menarik nafas panjang, membelai lembut rambut Suri dan mengecup lembut rambut panjang yang harum itu.
Tiba-tiba terdengar suara tepuk tangan prok... prok.. prok... keduanya melepas pelukan dan memandang ke asal suara tepuk tangan itu.
Putra mahkota kerajaan Swarnabumi pangeran Mulyawarman turun dari kereta kudanya. Ternyata tanpa disadari Suri dan Nadim, pangeran Mulyawarman telah memperhatikan Suri dan Nadim dari dalam kereta.
"Berani sekali kau Nadim" pangeran menatap sinis pada Nadim, "Putra perdana menteri yang terhormat, memeluk tunangan orang, apa kau tidak diajarkan sopan santun? cih!" pangeran meludah.
Nadim mengepal jari-jarinya menahan marah pada pangeran. Suri menatap pangeran dengan marah "Jaga bicaramu pangeran bukan bang Nadim yang memelukku, tapi aku yang memeluknya, bukankah yang mulia pangeran tahu kalau dia adalah abang sepupuku?"
__ADS_1
"Ha..ha..ha.. lucu sekali Suri, pangeran tertawa sumbang, kau lugu sekali sayangku, apa kau tidak tahu bahwa Nadim tidak merasa begitu? Nadim mencintaimu, bukan sebagai adik tapi cinta laki-laki kepada perempuan, bukan begitu Hang Nadim?" Pangeran Mulyawarman bertanya sambil menatap sinis pada Hang Nadim, tetapi Nadim yang ditanya hanya diam membisu.
"Dan apa kau tahu tunanganku, Nadim akan pergi ke Negeri China?" Nadim pergi karena tak ingin hadir di acara pernikahan kita, aku yakin dia takkan sanggup melihatmu bersanding denganku" Pangeran berkata lagi dan tersenyum penuh kemenangan pada Nadim.
Suri yang mendengar perkataan Pangeran langsung menatap Nadim, "Benarkah itu bang Nadim?" Suri bertanya sambil menatap tajam pada Hang Nadim, tapi yang ditanya hanya menunduk lesu.
"Tega kau bang" Suri mulai terisak dan lari meninggalkan Nadim, Suri!.. Suri.. tunggu.. Nadim berteriak memanggil Suri dan ingin mengejarnya tapi dihalangi oleh putra mahkota. "Cukup Nadim, jangan pernah kau dekati Suri lagi, jika kulihat kalian bertemu lagi kau akan tau akibatnya, ingat itu!" Putra mahkota berlari mengejar Suri yang lari ke Paviliunnya meninggalkan Nadim yang bingung harus bagaimana dengan keadaan tiba-tiba ini.
Nadim hanya tertunduk lesu, "bodoh, bodoh, teriak Nadim sambil memukul pohon yang berada di dekat, hingga tangannya berdarah, Nadim Meremas remas rambutnya, Nadim takut Suri akan membencinya. Dengan langkah gontai Nadim pulang ke kediamannya.
Suri berlari menerobos masuk dan melepaskan tangisnya yang sejak tadi tertahan, Suri sedih mengapa Nadim tak pernah mengatakan bahwa ia mencintai Suri, padahal Suri juga menyimpan rasa yang sama pada kakak sepupunya itu.
Tapi sekarang sudah terlambat, Suri sudah mencintai pangeran Indra, dan sudah bertunangan dengan putra mahkota, memikirnya membuat Suri kalut dan tak.berhenti menangis, tiba-tiba ada tangan terulur memberikan sapu tangan, Suri menerimanta tanpa melihat siapa yang memberikannya.
__ADS_1
Sesaat kemudian tangan merengkuh pundak Suri, membawa Suri kedalam pelukannya, Suri masih menangis, saat di dengarnya suara orang yang memeluknya "Sudahlah sayangku, tunanganku jangan bersedih lagi, bukankah sudah ada aku penggantinya, yang lebih segala galanya dari dia".
Seperti di sambar petir Suri langsung melepaskan pelukannya, "Kau? putra mahkota? kenapa kau ada disini? berani beraninya kau memelukku? aku tak sudi kau peluk!" Suri marah pada pangeran Indra.
"Owh..begitu? dipeluk tunangan tak sudi, dipeluk laki laki lain boleh pulak!" pangeran marah matanya memerah menahan marah, "Kenapa yang mulia, yang mulia cemburu buta, dia abang hamba, sedangkan kita belum menikah baru bertunangan", Suri menjawab.
"Wajarkan aku cemburu, kau.tunanganku Suri, lelaki mana yang tak cemburu melihat tunangannya dipeluk lelaki lain.
"Sudahlah pangeran, pulanglah aku tak ingin berdebat denganmu" Suri merendahkan suaranya, Suri tahu tak ada gunanya melawan putra mahkota yang keras kepala ini, dia tak akan menang, harus memakai cara halus.
"Aku datang karena ibunda permaisuri yang memintaku membawamu, ibunda ingin mengajak calon menantunya memilih kain untuk baju baju yang akan kita pakai pada pesta perkawinan nanti, ayo ikut aku ke istana". Pangeran sudah melembutkan suaranya kembali.
"Sebaiknya besok saja pangeran, aku tidak ingin permaisuri menganggap kita bertengkar, beta tak sanggup menjelaskannya jika permaisuri bertanya" Suri menunduk dalam hati berharap semoga pangeran mau menerima alasannya.
__ADS_1
Pangeran memperhatikan Suri, matanya sembab tak bisa disembunyikan, setiap yang melihatnya pasti tahu kalau dia habis menangis. "Baiklah, kujemput besok pagi selesai latihan pagi, tak perlu sarapan kita akan sarapan di istana saja bersama ayah dan bunda" pangeran mohon diri, meninggalkan Suri yang hanya menunduk.
Hai reader, tq so much more sudah mampir, tiap hari viewer makin bertambah 236 view, meski masih silent reader terimakasih manyak2, semoga next ada yang like dan comment😍