
Pangeran Indra menemui ayahandanya di perpustakaan. "Pangeran Indra datang menghadap" Pengawal yang berjaga di depan pintu mengumumkan kedatangan Pangeran Indra. Pangeranpun masuk dan langsung menghatur sembah pada yang mulia raja Surya Buana. dan sang raja memberi isyarat dengan tangan supaya pangeran duduk di kursi di sebelah kanannya kursi yang paling dekat dengan yang mulia.
"Ada hal penting apa sehingga anandaku yang sibuk memperjuangkan cintanya menyempatkan diri menjambangi ayahandanya". Pangeran Indra tak ingin berbasa basi "Paman Gading Buana" Pangeran menjawab singkat. Yang mulia raja tersenyum, "Sudah kuduga, tapi tak kusangka kau datang secepat ini, telik sandimu sungguh bernyali" Yang mulia berkata dengan berwibawa.
"Tak perlu memikirkannya anggap saja tidak pernah ada apa apa, begitu lebih baik" Yang mulia raja berkata lagi. "Ananda hanya ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi, agar bisa berhati hati di kemudian hari" Pangeran Indra menjawab tegas. "Tak perlu khawatir ayahanda sudah memperhitungkan semuanya tak akan ada yang akan terjadi, jika pun ada, dia akan menanggung akibatnya, untuk yang terakhir ini ayahanda pastikan dia tak akan berani" yang mulia berkata dengan yakin. "Bagaimana jika dia berkhianat dan menyusun memberontakan?" Pangeran Indra mengeluarkan pertayaan yang begitu mengganggunya.
"Ananda meragukan kemampuan ayahanda?" Yang mulia menatap tajam pangeran Indra. ""Dia tak kan berani, jika dia melalukannya maka tubuhnya akan hancur disambar petir, pamanmu telah melakukan sumpah darah" Yang mulia menatap Pangeran Indra, tak ada jawaban lagi dari pangeran Indra, karena dia sangat mengerti orang yang melakukan sumpah darah akan langsung mati sesuai janji yang diucapkan saat dia melanggar sumpah itu. "Terima kasih ayahanda, ananda mohon diri" Pangeran menghatur sembah, dan memegang pundak anaknya itu menuntunnya berdiri dan memeluknya "Jaga diri" Yang mulia menepuk pundak putra mahkotanya itu "Baik ayahanda, ananda akan segera kembali hanya tinggal 2 rintangan lagi kami akan bersama selamanya. Pangeran melepaskan pelukannya dan pergi dengan berat hati, pangeran tahu ketiadaannya di istana membuat tugas ayahandanya makin berat.
__ADS_1
Pangeran kembali ke paviliunnya dengan senyum puas tak ada lagi yang perlu di khawatirkan. Pangeran berjalan setengah berlari ingin cepat tiba di Paviliunnya, keberadaan Suri harus segera ditemukan agar bisa segera menyusulnya, tiba di paviliunnya pangeran sengaja memutari halaman, masuk lewat pintu belakang.
Pangeran melihat sekelilingnya tidak ada siapa siapa tapi nalurinya yakin ada seseorang yang mrmperhatikannya sejak tadi, "Keluar kau angin Bayu" Pangeran Indra berkata pelan namun jelas terdengar, tak ada sahutan. Pangeran masuk dengan hati berdebar 'Aku tak mungkin salah ada seseorang yang memperhatikanku sejak tadi' Pangeran membatin. 'Tapi sudahlah Suri lebih penting dari pada harus mengurusi yang lain, bukankah ayahanda sudah mengatakan akan mengurusnya' Pangeran berusaha menenangkan getar keresahan di hatinya.
Pangeran masuk dan langsung menuju cermin mustika sakti, tak ingin membuat waktu pangeran langsung merafal mantera, pangeran tersenyum senang saat melihat Suri dalam balutan Hanfu berwarna kuning muda, dengan percikan warna peach di bagian tangan, babu dan bagian bawah hanfunya, "Menggemaskan" Pangeran bergumam, kau seperti buah persik sayang, tak sabar ingin menggigitmu" Pangdran terkekeh kecil.
Pangeran Sudah tahu Suri nya berada di Kerajaan Ming, yang di pimpin kaisar Huang Di, di sebuah desa di pinggir sungai Huang Fu. Pangeran bersiap untuk berteleportasi kesana, karena ilmunya yang telah kembali sempurna, bukan hal yang sulit baginya, merafal mantera dan perlahan kabut tipis muncul makin lama makin tebal, saat kabut menghilang perlahan, tubuh pangeran pun sudah tak ada disana.
__ADS_1
"Siapa kau? Dimana aku?" Pangeran pura pura bertanya. "Saya Lee Mey Hwa Tuan, panggil saja Mey mey, Tuan di rumah kami, ini desa Huang Jiang. Hmmmmmm.... Pangeran Indra bergumam. "Boleh aku tahu bagaimana aku bisa ada disini?" Pangeran ingin bangun tapi kakinya tak kuat menyangga tubuhnya hingga pangeran hampir jatuh tersungkur, jika Mey Mey tak segera menangkapnya, tapi tubuh pangeran yang berat membuat Mey Mey tak sanggup menyangga pangeran hingga mereka berdua jatuh saling bertindihan, jantung Mey Mey berdegup kencang karena wajah mereka yang begitu dekat hingga hidung pangeran menyentuh hidungnya, mereka saling tatap, dan tepat saat itu ayah Mey Mey masuk ke kamar itu. "Apa yang kalian lakukan!" teriaknya marah. "Maaf ayah, ini tidak seperti yang ayahanda bayangkan" Mey Mey menjawab gugup.
"Kwan Yiew, lekas kemari!" seorang pria tampan masuk dengan terburu buru, "bantu dia bangun" perintahnya lagi. Kwan Yiew segera mengangkat pangeran Indra dan berbisik pada adiknya "apa yang kau lakukan adik?" sambil menatap tajam pada Mey Mey. "Ini tak seperti yang kalian lihat kakak" Mey Mey menjawab marah.
Kwan Yiew membaringkan Pangeran Indra kembali di ranjang, sambil menatap tidak suka padanya. Pangeran tidak menanggapi "Terima kasih" pangeran berkata pelan, Hmmmmm hanya di jawab dengan gumaman pelan. Sambil berlalu pergi dia berkata "Jangan ganggu adikku pangeran". 'Pangeran?' Pangeran Indra membatin, 'dia memanggilku pangeran berarti dia tahu identitas pemilik tubuh ini' batinnya lagi. Kepalanya yang terasa berat membuat pangeran Indra terpaksa tidur lagi. 'Aku harus segera pulih agat bisa cepat menguasai keadaan' batinnya.
Sementara itu di ruang tamu rumah itu Mey Mey tengah di hakimi oleh ayah dan kakaknya, "Jaga sikapmu Mey Mey, apa kau tahu siapa dia?" Lee Hong Xie ayah Mey Mey menatap anaknya dengan gusar. Mey Mey hanya diam percuma bicara jika ayahnya sedang marah begitu. "Dia putra mahkota Huang Di, jangan coba coba mendekatinya nanti kau akan terluka ayah tak ingin terjadi apa apa padamu Mey" Hong Xie menatap Mey Mey dengan cemas.
__ADS_1
Mey Hwa meremas hanfunya menahan marah, jika orang lain yang mengatakan ini mungkin iya masih bisa terima tapi kali ini ayahnya sendiri sungguh suatu penghinaan bagi Mey Mey "Ayah, yang terjadi tadi bukan seperti yang kalian bayangkan, tadi pangeran ingin berdiri, tapi tubuhnya masih lemah, dan Mey hanya ingin membantunya, tapi sayang tubuhnya terlalu berat hingga Mey tak kuat menopangnya dan kami jatuh, itulah yang terjadi, terserah ayah mau percaya atau tidak" Mey Mey langsung berlari meninggalkan ayah dan kakaknya itu. Tiba di kamar tangisannya pecah, Mey Mey begitu kecewa pandangan ayah dan kakkaknya itu seakan merendahkan harga dirinya, sungguh menyakitkan.
tq 13161 view! terima kasih ya reader udah di maafkeun, hatur nuhun pisan, tak terasa susah rintangan ke 6, hampir happy ending, maaf kalo ada typo typo ya author pengen tamatkan aja dulu nanti baru bersih bersihπ dukung terus ya, tq so much more tetap love you 7 turunan πππππππ