Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
54. Bertemu untuk berpisah lagi


__ADS_3

Pencarian Pangeran Indra terus dilakukan, ini hari ke 3 sejak menghilangnya I Gede Rangga, hari sudah mulai gelap saat seorang pelayan datang menemui I Gede Kendra. "Tuan.. ada yang ingin bertemu, katanya dia bertemu dengan tuan muda beberapa hari yang lalu". "Bawa dia kemari" I Gede Kendra tersenyum, tak sabar mendengar informasi apa yang akan di dengarnya dari orang itu, hingga dia hanya berdiri menunggu, dari kejauhan terlihat dua orang yang berjalan cepat, beberapa pelayan sibuk menyalakan obor dan lampu karena hari sudah gelap.


"Ini orangnya tuan" pelayan yang bernama Udin datang kembali membawa seorang pemuda dengan pakaian lusuh, sepertinya seorang pelayan juga. "Siapa namamu, jelaskan padaku informasi apa yang kau ketahui tentang anakku" I Gede Kendra berkata dengan tegas, "Hamba Made Suta tuan, beberapa hari yang lalu Tuan Muda singgah di kedai kami, dia menanyakan dimana letak lembah kematian, dia menanyakan kepada semua orang, tapi tidak ada yang berani memberi tahunya dimana letak lembah kematian, hamba baru tahu tuan bahwa pemuda itu adalah Tuan Muda Rangga". Made Suta menunduk menjelaskan.


"Terima kasih, informasi darimu sangat membantu kami untuk menemukan anakku, "Udin berikan dia sekantung perak" I Gede Kendra meninggalkan Made Suta yang ternganga (sekantong perak itu gajinya selama 1 bulan, Made Suta tersenyum senang) "Ayo ikut aku" Suara udin mengejutkan Made Suta.


Malam itu I Gede Kendra segera mengumpulkan anak buahnya, "Berdasarkan informasi yang kuterima anakku berada di Jurang Kematian" I Gede Kendra" ayah Rangga itu membuka kata. "Jurang kematian berada di Hutan Larangan" pantas saja kita tak bisa menembusnya, Calon Arang pasti sudah menyelimuti Hutan itu dengan kabut halimunannya" I Wayan ikut bersuara.


Semua orang tahu bahwa di hutan itu hidup seorang penyihir jahat Calon Arang Ibu Ni Luh Ayu Cempaka. Orang yang berani masuk kesana hanya akan mengantar nyawa.


"Jadi apa yang harus kita lakukan, aku tak ingin kehilangan putraku satu satunya" I Gede Kendra berdiri terlihat sekali wajah cemasnya.


"Sebaiknya kita pancing dia keluar, jika kita berusaha melawannya disana kecil kemungkinan kita akan bisa mengalahkannya" I Made Satya Darma Kakak I Gede Kendra angkat bicara. I Made Satya pernah melawan Calon Arang secara langsung, dia sangat tahu kekuatan Calon Arang tidak bisa di anggap remeh selain itu dia sangat licik dan penuh tipu muslihat.


"Jadi apa saranmu kanda?" I Gede Kendra menghadap kakaknya mohon penjelasan. "Aku akan coba mendatangi Rangga dalam mimpi, hanya itu jalan satu satunya yang paling aman saat ini, semoga anakmu belum makan apapun yang berisi guna guna dari penyihir itu. "Baiklah kanda, aku mohon lakukan yang terbaik" kakak beradik itu berpelukan Satya sangat faham kegundahan adiknya kehilangan putra sama saja kehancuran bagi trah keluarganya. Pertemuan selesai semua kembali dengan lebih tenang katena ada secercah harapan baru bagi pencarian Rangga.


Malam itu juga I Made Satya langsung melaksanakan rencana mereka, Made Satya nampak duduk bersila bersemedi fokus memanggil Rangga "Rangga... rangga... anakku" Rangga yang saat itu sudah terlelap bermimpi bertemu dengan I Made Satya pamannya di sebuah taman. "Ada apa jungwa memanggilku, apakah ada sesuatu yang penting?" "Ya anakku, temui aku besok di luar hutan larangan ada hal penting yang harus kita bicarakan" "Apa itu jungwa, kenapa tidak kita bicarakan sekarang saja?" "Tidak bisa Gus, datanglah besok pagi pagi sekali aku menunggumu".

__ADS_1


Pangeran Indra terbangun, tubuhnya basah oleh keringat, "Ah cuma mimpi, tapu mengapa terasa begitu nyata, jika di kerajaanku aku biasa melakukan ini, tapi ini bukan di ksrajaanku, pasti orang itu memiliki ilmu yang sangat tinggi.hingga bisa menembus mimpi, siapa dia?, aku harus menemuinya besok"


Pangeran Indra memang belum mengenal Made Satya karena sejak iya menjadi Rangga pamannya itu belum pernah menemuinya, Kakak I Gede Kendra itu sangat suka bertapa di gua gua yang jauh di tengah hutan untuk meningkatkan ilmunya. Saat Rangga menghilang I Gede Kendra meminta bantuan kakaknya.


Pangeran Indra tak bisa lagi memejamkan mata karena mimpi yanh terus mengganggunya, akhirnya dia hanya tiduran sambil memandangi Suri yang masih pulas. "Maaf sayang besok aku harus pergi, tunggu aku" Pangeran Indra mengecup lembut kening Suri, Suri tersenyum seolah tahu apa yang dilakukan kekasihnya, 'Kau pasti memimpikanku' Pangeran Indra membatin dan tersenyum, mengeratkan pelukannya pada kekasihnya. 'Semoga aku bisa segera kembali sayang, jalan kita masih panjang andai aku bisa menarik sumpahku pasti sudah kulakukan' wajah Pangeran Indra menyiratkan penyesalan, tapi apa hendak dikata ibarat kata pepatah terlajak langkah dapat di undur, terlajak kata buruk padahnya.


Pangeran bangun, menarik tangannya perlaham agar tidak membangunkan Suri yang masih lelap. Pangeran segera bersiap siap untuk berangkat, berjalan mengendap endap, saat sudah diluar pangeran baru bisa bernafas lega. 'Semoga saat Suri bangun nanti aku sudah jauh'. Saat Pangeran tiba di tepi hutan larangan matahari baru saja terbit, cahayanya begitu cerah pagi itu. Pangeran Indra sangat heran ketika melihat kedatangannya disambut sekelompok prajurit bersenjata, saat menatap berkeliling pangeran Indra melihat banyak sekali pasukan panah yang sudah bersiaga di atas pohon pohon tersembunyi. Ayahandanya I Gede Kendra dan seorang kesatria berdiri di depan memimpin pasukan 'Dia pria dalam mimpiku batin pangeran Indra' Pangeran Indra mendekat "Ada apa ini ayahanda, mengapa membawa pasukan begitu banyak?" Pangeran Indra bertanya pada ayahnya. "Tidak ada waktu menjelaskannya Gus, nti saja, carilah tempat berlindung yang aman. "Rendra kawal putraku" "Mari tuan muda ikut saya" prajutir bernama Rendra segera menunjukkan jalan. Masih belum hilang kebingungannya pangeran Indra terpaksa mengikuti prajurit itu untuk berlindung.


Sesaat kemudian langit yang terang benderang berubah menjadi gelap,kilat dan petir menyambar tiba tiba dan muncullah dari dalam hutan sesosok wanita berpakaian serba hitam, wajahnya pucat dengan mata merah semerah darah, rambutnya yang hitam di gelung sebagian mahkota berbentuk kepala ular menghiasi rambutnya. Meski cantik tapi wajahnya terlihat sangat menyeramkan dialah Calon Arang ibunda Ni Luh Ayu Cempaka kekasih Rangga.


"Kita bertemu lagi Bli Sayang, apa kau merindukanku, hi... hi... hi..." seringai Calon Arang terdengar mengerikan. Sementara di seberang sana I Made Satya berkomat kamit merafal mantera, dengan gerakan cepat di menabur garam di sekeliling pasukannya, dan kembali merafal mantera, mengangkat kerisnya ke langit dan seketika langit menjadi terang kembali "Awwww, Bang**t Sialan kau Satya" wajah Calon Arang tiba tiba menjadi keriput wajah cantiknya berubah menjadi nenek yang sangat jelek matanya cekung, hidungnya bengkok, dan giginya hitam, semua mata melongo takjub melhat perubahan yang begitu tiba tiba itu. Calon Arang mengibaskan tangannya dan tiba tiba sebuah caping lebar sudah menutupi wajahnya. Made Satya mengetahui kelemahan Calon Arang, dia tak bisa terkena sinar matahari langsung, oleg karena itu Made Satya sengaja memancingnya keluar di pagi hari.


Pangeran Indra hanya memperhatikan dari kejauhan berusaha mencerna apa yang terjadi di depannya, tapi semua hanya membuatnya makin bingung.


Perlawanan Calon Arang dan Made Satya berlangsung sengit, keduanya sama sama berilmu tinggi. Mayat Prajurit Calon Arang dan Prajurit Kerajaan Swarna bumi, sudah bergelimpangan dimana mana. Sungguh pemandangan yang begitu menyayat. Di tengah kebingungannya Pangeran Indra merasa ada bayangan yang menariknya ternyata Calon Arang, Pangeran Indra tak bisa berbuat apa apa tubuhnya kaku karena totokan dan sihir Calon Arang. Calon Arang merafal mantera dan bersiap mengorek jantungnya, namun tiba tiba sesosok bayangan lain muncul di hadapan pangeran Indra, "Argggh.. erangan lemahnya menyadarkan semua, begitu pula Calon Arang, terkejut karena kerisnya salah sasaran.


Sosok itu jatuh terkulai 'Cempaka!' ya itu Cempaka kekasihnya Pangeran hanya bisa menatapnya tubuhnya bersimpah darah, di sela nafasnya yang sesak Cempaka berbicara "Maafkan aku ibu, aku mencintainya" Cempaka mati di.hadapannya, Calon Arang begitu murka, namun tak bisa melawan lagi karena kondisinya yang lemah, dimenghilang bersama.seluruh pasukannya.

__ADS_1


Made Satya membantu Rangga hingga bisa bergerak kembali. Rangga segsra memeluk kekasihnya, saat itu Cempaka tersenyum "Kanda.." bisiknya lemah, tahulah Pangeran Indra bahwa Cempaka sudah menyadari bahwa diriny adalah Suri kekasihnya. "Kita bertemu untuk berpisah lagi" itulah kata terakhir yang di ucapkan Suri, Suri meninggal dalam pelukan Pangeran Indra.


Sesaat kemudian langit berubah gelap, Pangeran Indra dan Suri lenyap dari pandangan.


terima kasih sudah mampir, jangan lupa like, koment biar makin semangat btw tq 991 view😘


Maaf kalo ada salah penyebutan ya, part ini bernuansa bali, jika ada salah mohon maaf author tidak bermaksud apa apa ini murni hanya pemanis cerita tidak ada kaitan dengan sejarah apapun..


Bli \= kakak


Gus \= anak laki laki tampan


Jungwa \= paman


trah \= hubungan kekerabatan/silsilah keturunan


satria \= kasta bangsawan

__ADS_1


brahmana \= pemuka agama


__ADS_2