
Zarra begitu gugup hingga tangannya berkeringat, Pangeran menyadari kegelisahan Zarra. "Awak diam je tak payah cakap ape ape" Zarra mengangguk. Beberapa langkah lagi mereka tiba di hadapan orang nomor satu di Negeri Johor Sultan Ibrahim Syah dan permaisurinya Raja Zarith Sofia.
"Ayahanda... Pangeran menghatur sembah, Selamat hari jadi" "Terima kasih" Sultan memeluk Pangeran dengan erat, menepuk pundaknya dan menatap Zarra yang berada di sampingnya "Sapa nie?" Sultan menatap Zarra dengan senyum lembut, Zarra membungkuk hormat "Ini Zarra ayahanda, asisten Anaknda" "Betul ke asisten?" Suara permaisuri terdengar menggoda "Betol bunda, asisten yang jaga makan minum ananda supaya tetap menjaga kesihatan" Pangeran menjelaskan. "Kalau macam tu bagus cari istri kan kanda?" Permaisuri pura pura bertanya pada Sultan. Zarra hanya mendengarkan pembicaraan antara orang tua dan anaknya, ketakutan Zarra tidak terbuka, dalam bayangan Zarra Sultan dan Permaisuri pastilah angkuh dan sombong, tapi kenyataannya mereka amat ramah dan baik kepadanya. "Baiklah ayahanda ananda pergi dulu, nak cari makan untuk Zarra" Pangeran minta diri, Zarra membungkuk hormat dan berjalan mengikuti pangeran.
Dari pengeras suara terdengar bahwa acara puncak ulang tahun akan segera dimulai. Semua tamu berkumpul di depan sebuah meja panjang yang penuh dengan kado disamping nya twrdapat meja khusus kue tart ulang tahun berbentuk istana begitu megah berada di atasnya.
Semua tamu menyanyikan lagu ulang tahun untuk Yang Mulia Sultan. Suara nyanyian yang di iringi permainan piano begitu Kakak perempuan pangeran Putri Aisyah bergema di seluruh ruangan. Semua bertepuk tangan saat lagu berakhir, Sultan memotong kue ulang tahunnya dan memberikan potongan special pada permaisurinya. Semua bertepuk tangan melihat kemesraan Sultan dan permaisuri.
Sultan menyampaikan pidato singkat, mengucapkan terima kasih pada seluruh tamu yang hadir. Semua bergembira menikmati acara musik dan makanan yang di sajikan oleh koki koki terbaik negeri ini.
Tiba tiba saja Pangeran Yazzid sudah duduk di panggung dengan gitar di tangannya "Selamat hari jadi ayahanda, semoga panjang umur dan sehat selalu" Pangeran mulai memetik gitar menyanyikan lagu ulang tahun"
happy birthday to you
happy birthday to you
happy birtday happy birthday
happy birtday to you
Semua mata terpana menatap pangeran Yazzid tak mereka sangka ternyata pangeran memiliki suara merdu dan pandai bermain gitar, mata setiap gadis begitu terpesona melihat pangeran tampan itu.
"Sebuah lagu for some one special in my heart" Pangeran berbicara sebelum mulai menyanyikan satu lagu. Semua gadis bertepuk tangan sambil bertanya tanya siapakah gadis yang dimaksud
Intro lagu dari gitar akustik pangeran begitu merdu, semua membisu seperti terbius mereka begitu khusyuk ingin mendengarkan suara pangeran yang baru pertama kali mereka dengar.
Bisikan rasa di kejauhan
__ADS_1
biarpun jelas nyata tak ku hiraukan
samudera dalam aku selami
keindahan cintamu tak kuhargai
Luas pandangan jauh perjalanan
bertambah pengetahuan pengalaman
namun bahgia belum kutemui kiranya yang kucari ada disini
Aku menghampirimu
dengan kesan dengan harapan
engkau menerimaku dengan maaf
Demikian lama tertutup mata dan minda
hidup ku sia sia terabai masa
mujurlah pintumu terbuka luas menanti
ke persada cintamu ingin kudaki..
(Persada cinta \= Spring)
__ADS_1
tepuk tangan riuh menyambut pangeran ketika selesai menyanyikan lagu. Pangeran meninggalk pentas dan kembali dengan wajah kakunya.
Kakak Pangeran Yazzid Putri Aisyah tersenyum pada ibundanya "Nampak gaye tak lame lagi tercapailah cite cite ibunda nak menimang cucu" "Aamiin" jawab permaisuri Permaisuri dan tersenyum bahagia.
Jam sudah menunjukkan pukul 1 pagi saat Pangeran Yazzid dan Zarra meninggalkan istana, Zarra memicit micit kaki nya yang pegal karena memakai high heels yang terlalu tinggi. Pangeran melihat apa yang dilakukan Zarra dan mengangkat kedua kaki Zarra ke pangkuannya Zarra terkejut sekali melihat apa yang dilakukan pangeran "Tuan" Zarra menarik kakinya tapi ditahan pangeran, dan pangeran mulai memijit kaki Zarra. Begitu nyaman Zarra yang awalnya menolak akhirnya menikmati pijitan pangeran "Dah ok?" Pangeran bertanya mengejutkan Zarra yang mulai mengantuk karena lelah. "Dah dah ok dah" Zarra mengulang ulang kata yang sama, Pangeran Yazzid tersenyum melihat tingkah Zarra.
Zarra tertidur karena perjalanan yang cukup jauh, pangeran menyandarkan Zara dipelukannya, Zarra yang begitu lelah tak menyadari apa yang dilakukan pangeran. Saddam yang dari tadi memperhatikan tingkah pangeran hanya tersenyum dan geleng geleng kepala, tak biasanya Pangeran bertingkah seperti ini. Pangeran yang biasa dingin pada wanita luluh pada seorang perawat.
Pangeran yang menyadari Saddam sedang mengejeknya, mengepalkan tinju padanya. Saddam memasang wajah memelas memohon maaf.
Saat mereka tiba di kediaman pangeran Zarra masih terlelap, Saddam berusaha membuka pintu dan ingin membantu menggendong Zarra, tapi tinju pangeran tepat di wajahnya membatalkan niat Saddam untuk menggendok Zarra.
Saddam menggaruk kepalanya, "posesive betol, aku nak tolong je pon" Saddam mengomel pelan.
Zarra menggeliat, cahaya matari membuatnya terbangun, Zarra menatap langit langit mengingat apa yang terjadi kemarin sambil memejamkan mata karena masih mengantuk, tiba tiba Zarra teringat sesuatu "OMG!" Zarra lansung terduduk, Zarra teringat semalam dia pulang dari pesta bersama pangeran Yazzid, tapi dia tidak ingat bagaimana bisa berada di kamarnya, dan bajunya? kemaren Zarra memakai gaun dan sekarang sudah berganti piyama, siapa yang menggantinya? Zarra segera bangun, mandi dan bersiap secara kilat, setelahnya Zarra buru ke dapur menyiapkan sarapan untuk pangeran.
Tok tok tok Zarra mengetuk pintu kamar pangeran masuk ke kamar dengan perlahan. "Tidur awak nyenyak?" Pangeran bertanya saat Zarra sudah berada di depannya "Ya" Zarra menjawab singkat" Pangeran makan dengan perlahan, Zarra menunggu pangeran hingga selesai dan mengulurkam.obat yang harus di minum oleh pangeran.
"Saya rasa dah sehat, mulai esok tak payah lah makan ubat lagi" Zarra ingin menyela tapi pangeran berbicara lagi membuat Zarra mengurungkan niatnya "Saya nak cuba minum ubat herbal pulak, and therapy" "baiklah tuan, kalau macam tu saya dah tak diperlukan lagi disini, saya minta diri dulu nak kemaskan barang barang saya" Zarra baru saja akan berdiri ketika pangeran memegang tangannya, "No, dont go anywhere, Awak tetap disini jaga saya" "Tapi tuan, tuan dah tak perlu rawatan dari pihak hospital, tak kan saya masih nak kena jaga tuan jugak? saye kena balik ke hospital semula" Zarra menjelaskan. Pangeran menggeleng, "Awak dak tak boleh balik hospital, sebab awak dah resign" "what?" bila masa pulak saya resign, saya takde pon nak berenti keje?" Zarra bingung "Saye yang resign kan awak, sebab saya nak awak jaga saye je". "Tuan tak de hak nak berentikan saye keje" Zarra membantah. "Sape kate saye tak de hak, hospital tu saye punye Zarra, saye boleh bagi awak gaji 3kali gande dari gaji awak kat hospital tu" Pangeran nampak begitu arogan, Zarra benci melihatnya hingga Zarra meninggalkan kamar tanpa minta izin pangeran.
Zarra menangis, merasa hidupnya di permainkan oleh pangeran, Zarra begitu sedih memikirkan nasibnya, apa yang sebenarnya pangeran inginkan dari Zarra, belum lagi mimpi mimpi aneh yang tsrus di alaminya membuat Zarra makin bingung, apa yang sebenarnya terjadi.
Pangeran merasa bersalah karena telah berkata kasar pada Zarra, tapi apa boleh buat pangeran sudah terlanjur membuat Zarra kecewa.
"Aku harus menjelaskan semuanya sebelum terlambat" pangeran bergegas menuju kamar Zarra. Tok tok tok Zarra.. Pangeran mengetuk pintu, tak ada jawaban, pangeran memutar handle pintu ternyata tidak di kunci, pangeran masuk perlahan.
Zarra menutup wajahnya dengan bantal, pangeran yakin Zarra sedang menangis.
__ADS_1
Zarra.... saya nak menjelaskan sesuatu pada awak, saya rasa inilah masa yang tepat untuk cakap hal ni dengan awak. Zarra hanya diam, tapi mendengar dengan jelas apa yang diucapkan pangeran Yazzid.
"Zarra kamu adalah kekasihku, kekasih dari masa lalu" Pangeran berkata lagi. "Ape? kekasih? Zarra tiba tiba bangun menatap tajam pada pangeran.