Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
Melepas rindu 2


__ADS_3

Pangeran Indra baru saja terlelap, sayup sayup dia mendengar ada yang memanggil "Rangga....... Rangga.... pulanglah...." Pangeran Indra ingin membuka mata tapi matanya terasa sangat berat hingga ia tak kuasa melawan akhirnya pulas hingga pagi menyapa.


Cempaka yang masih belum sadar kalau dirinya adalah Dayang Suri bangun pagi itu karena merasa sedikit sesak nafas, melihat ada tangan yang memeluknya erat Cempaka berusaha melepaskan pelukan Rangga, tapi pelukan itu bukannya lepas tapi malah semakin erat "Biarkan begini dulu, aku masih ingin memelukmu" Rangga bersuara masih dengan mata terpejam. "Rangga, aku mau bangun mau menyiapkan sarapan untuk kita" Cempaka masih berusaha lepas dari Rangga, tapi Rangga tetap tak ingin melepasnya, "Sebentar lagi sayang, di luar pasti masih gelap" Akhirnya Cempaka menyerah tidak lagi berusaha melepaskan pelukan itu.


Suri memutar tubuhnya menghadap Rangga, menatap wajah tampan yang masih lelap, Suri menyentuh alis Rangga yang tebal, matanya, hidungnya yang mancung, dan menyentuh bibir yang menciumnya bertubi tubi tadi malam.


Cempaka tersenyum, namun sesaat senyuman itu bertukar dengan wajah suram, Cempaka menangis, menutup mulut menahan isak tangisnya agar tak terdengar oleh Rangga. Tapi goncangan tubuhnya tak dapat disembunyikan, Rangga terbangun, "Ada apa? bukan jawaban yang di dapat, tapi tangisan Cempaka makin kencang "Hei, ada apa, jangan membuatku cemas sayang" Cempaka menggeleng. Pangeran Indra menarik Cempaka dan membenamkan tubuh cantik itu dalam pelukannya.


"Menangislah sayang, lepaskan semua sesak di dadamu, jangan di pendam" Pangeran Indra berbisik di telinga Cempaka.


Karena lelah menangis akhirnya Suri kembali tertidur, Suri terlelap dalam hangatnya pelukan Pangeran Indra bertanya tanya dalam hati apa yang membuat Suri menangis, bagaimana mengatakannya kalau Cempaka adalah Suri kekasihnya. Karena lelah berfikir pangeran Indra pun tertidur.


waktu cepat sekali berlalu, saat mereka terbangun matahari sudah tinggi sepenggalah, Pangeran Indra bangun lebih dulu, menjauhkan lengannya yang memeluk Suri perlahan, agar tidak membangunkannya, tangannya terasa kesemutan karena terlalu lama menyangka tubuh Suri. Pangeran Indra keluar rumah membasuh wajahnya dengan air gentong yang ada di serambi depan, sungguh menyegarkan.

__ADS_1


Pangeran Indra berjalan jalan di sekitar rumah, berlari lari kecil dan melakukan sedikit gerakan ringan untuk menyegarkan tubuhnya yang terasa pegal. Puas berkeliling Pangeran Indra kembali ke rumah, langsung menuju kamar, tapi yang dicari tak ada disana 'Pasti di dapur' Pangeran Indra langsung menuju dapur. Belum sampai di dapur aroma makanan sudah yang enak sudah menyambutnya. Suri sedang memasak Pangeran Indra tiba disana dengan perlahan saat sudah tiba di belakangnya pangeran Indra ingin memeluk Suri tapi tiba tiba Suri berbalik menyerangnya "Bug! Buq! tinju Suri mendarat di perut pangeran Indra Urgh! Pangeran Indra yang tak menduga serangan mendadak itu hanya mengaduh memegangi perutnya,wajahnya memerah menahan sakit.


"Rangga?" Suri menatap kekasihnya dengan perasaan bersalah "Kenapa mengendap endap seperti maling" Cempaka menyalahkan Rangga. "Aku ingin mengejutkanmu sayang, ingin memelukmu, tapi apa yang kudapat" Pangeran Indra tersenyum meringis.


"Maaf" Suri menunduk menyembuyikan rasa bersalah "Bukan salahmu sayang" Pangeran Indra mengelus perutnya pura pura kesakitan. "Sakit sekali ya, Suri ikut mengelus perut kekasihnya Pangeran Indra tersenyum dan tiba tiba "kruk.. kruk... kruk... nampaknya cacing cacing di perut pangeran Indra tidak bersahabat pagi ini, dan merekapun tertawa bersama pagi itu. ha..ha..ha.. "Duduklah jangan ganggu, aku selesaikan masakan ini supaya kita bisa lekas makan" perintah Suri pada pangeran Indra. "Apa yang bisa kubantu?" pangeran Indra tak ingin manjauh "Tidak usah, nanti bukannya membantu malah merepotkan" Suri melotot sambil berkacak pinggang pura pura marah. "Baiklah" Pangeran Indra akhirnya menyerah duduk di meja makan menunggu Suri menyelesaikan masakannya.


Pangeran Indra memperhatikan Suri yang gesit kesana kemari menyelesaikan masakannya, "Akhirnya selesai juga" Pangeran Indra menatap makanan yang dibawa Suri dengan berselera, sebenarnya hanya makanan sederhana, nasi panas, ikan mas goreng, sambal, dan tumis kangkung tapi pangeran Indra makan dengan lahap.


Suri membereskan meja dibantu pangeran Indra, "kali ini jangan menolak, biar ku bantu mencuci piring" Pangeran Indra membantu mencuci piring, tetapi seperti sebelumnya bukan membantu malah mengacau, pakaian mereka jadi basah, Suri pura pura marah lagi "Tu kan, bukan membantu tapi kau pengganggu, lain kali biarkan aku sendiri menyelesaikan pekerjaanku, inikan memang pekerjaan wanita bukan pekerjaan tuan muda sepertimu, Suri bersungut kesal.


Pangeran Indra hanya tersenyum, tidak berusaha membela diri. Pangeran Indra membuka bajunya yang basah, memperlihatkan tubuh kekarnya, bekas lukanya juga terlihat jelas.


Suri terkejut melihatnya hingga terjajar beberapa langkah kebelakang, Suri sangat takut dan gugup hingga menjatuhkan peralatan makan yang di pegangnya. Dan pangeran Indra terpana sesaat karena bingung, hingga akhirnya dia sadar apa yang membuat Suri terkejut, dia segera memakai kembali pakainnya yang basah

__ADS_1


"Maafkan aku.. maafkan... maafkan aku... Hiks...hiks... Suri terus menangis dan meminta maaf di sela isak tangisnya. "Hei.. hei... sudah sayang, aku tidak apa apa pangeran memeluk Suri membelai rambut Suri lembut untuk menenangkannya. Pangeran Indra tahu Suri merasa sangat bersalah karena melihat bekas luka di dadanya. Luka bekas tusukan pedang Cempaka. Pangeran Indra tahu Cempaka melakukannya dalam keadaan tidak sadar, tidak mungkin Cempaka yang sangat mencintai kekasihnya tega membunuhnya.


"Tenanglah... kau tidak besalah, aku yakin itu, pangeran Indra berusaha menenangkan Suri yang masih saja menangis. Saat Suri sudah nampak sedikit tenang, Pangeran Indra berbisik, "Sayang...." Suri menatap pangeran Indra "Aku kedinginan, bisa kita ganti pakaian dulu" Pangeran Indra meringis, Suri pun tersenyum menyadari apa yang terjadi "Maaf" jawabnya pelan "Ayo kita ganti pakaian"


Mereka ke kamar Suri memberikan 1 pasang pakaian untuk Pangeran Indra, dan mengambil pakaian ganti juga untuknya dan segera keluar dari kamar itu, "mau kemana?" Pangeran Indra menahan langkah Suri. "Ganti pakaian di kamar sebelah" "Mengapa tidak disini saja aku janji tidak akan mengintip", pangeran Indra menutup matanya dengan 1 tangan tapi menyisakan sedikit celah untuk mengintip "Aww! sakit sayang apa salahku" Suri mencubit pangeran Indra, Dasar nakal kau fikir aku tidak tahu kau mau mengintip, Suri berlari keluar sambil tersenyum senang.


"Gagal rencanaku" Pangeran Indra meringis lesu. Pangeran Indra selesai berganti pakaian dan menuju kamar Suri, belum sempat mengetuk pintu Suri sudah lebih dulu muncul di depan pintu.


"Cepat sekali sayang, aku baru mau masuk" Pangeran Indra tersenyum menggoda. "Kenapa masih mau ngintip, mau dicubit lagi, Suri bergerak cepat ingin mencubit, tapi pangeran Indra dengan gesit menghindar, akhirnya mereka berkejar kejaran di dalam rumah hingga akhirnya mereka lelah, saat berkejaran di dalam kamar Pangeran Indra pura pura menyerah "Aku menyerah" saat Suri mendekat Pangeran dengan cepat memeluknya, mendorong Suri ke ranjang dan menguncinya disana.


"Ha ha ha.. kena kau sayang" Suri yang meronta akhirnya menyerah karena lelah "Kau curang" suaranya lelahmya terdengar mendesah di telinga pangeran Indra, begitu menggoda hingga tak tahan untuk mencium bibir merah itu


Suri tak menolak hanya pasrah menikmati sentuhan kekasihnya, darah muda yang menggelora menguasai keduanya, hingga tak sadar dua kancing baju Suri sudah terlepas. Pangeran Indra menghentikan aksinya, tersenyum pada Suri, "Maaf sedikit kebablasan" Suri menutup wajahnya dengan bantal karena malu.

__ADS_1


__ADS_2