Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
51. Menemukan Suri di Kerajaan Swarna Dwipa 2


__ADS_3

Waktu berlalu lamban, dua minggu harus beristirahat untuk masa penyembuhan bagi Pangeran Indra terasa sangat lama, hanya makan dan tidur, terasa amat menyiksa baginya.


Hanya saat Ni Luh Ayu Sekar Sari datang bisa sedikit menghiburnya, meskipun harus menahan geram dengan segala sindiran dan gurauannya yang menyakitkan hati.


"Hei! sudah nyampe surga tuan muda" Suara yang begitu menyebalkan juga dirindukan sudah memecahkan lamunan Pangeran Indra pagi ini. "Bukan surga nona tapi neraka, aku menunggu untuk pergi bersama" pangeran Indra menjawab asal "Ha.. ha.. ha.. hebat hebat Sekar Sari bertepuk tangan "ternyata setelah bangkit dari kematian selera humormu boleh juga tuan muda". Pangeran Indra tersenyum jumawa mendengar pujian Sekar Sari tapi hanya sesaat senyum manis itu hilang berganti senyum kecut "Tapi tetap saja aku yang terbaik tuan muda kau tak bisa mengalahkanku, kaukan pangeran terangkuh se kerajaan ini ha.. ha.. ha.." Sekar Sari tertawa penuh kemenangan 'Dasar perempuan sialan' rutuk Pangeran Indra dalam hati.


"Apa kau sudah siap pangeran hari ini perbanmu akan dibuka semoga saja semua sesuai harapan jadi kau tidak perlu lebih lama berada di kamar ini", "Berdoa saja semoga aku memang sudah sembuh, jika tidak aku akan mengikatmu di kamar ini dan menutup mulutmu yang bawel itu nona cerewet" Pangeran menatap tajam pada Sekar, tapi Sekar malah tertawa tidak takut dengan ancaman pangeran Indra.


Sekar membuka perban di tubuh pangeran Indra, sesekali menggunting perban karena terlalu panjang dan susah dibuka, akhirnya semua selesai Sekar menyeka keringatnya tersenyum menatap hasil kerjanya. "Hei apa yang kau fikirkan, menatap tubuhku sambil tersenyum" Pangeran Indra menatap Sekar dengan pandangan nakal "Sialan kau, aku hanya puas kau sudah sembuh, bukannya mikir yang lain, dasar otak mesum!". "Aww! sakit Sekar" "Rasain,siapa suruh nuduh aku mikir jorok" Sekar mencubit perut Pangeran Indra, dan Pangeran tersenyum kecut menahan cubitan Sekar yang sakit, hingga meninggalkan bekas merah yang begitu kentara.


"Ehem.. ehem... Suara mendehem menghentikan kegaduhan keduanya, "Jaga sopan santunmu Sekar" rupanya ayahanda sekar Tabib Wayan datang bersama I Gede Kendra ayahanda Pangeran Indra.


"Ayah" Sekar tertunduk malu. "Homswastiyastu" Sekar memberi salam dan dibalas dengan salam yang sama oleh ayahnya dan I Gede Kendra. "Bagaimana keadaannya?" I Gede Kendra bertanya langsung pada Sekar. "Sesuai harapan tuan, tuan muda sudah sembuh hanya perlu meminum obat obatan sedikit lagi supaya luka dalamnya benar benar sembuh. Sekar menjelaskan panjang lebar "Terima kasih semua berkat rawatan telatenmu Sekar, sebagai ucapan terima kasih, katakan saja apa yang kau inginkan akan aku penuhi" I Gede Rangga tersenyum puas.


"Terima kasih tuan, tapi saya ikhlas membantu tidak mengharapkan balasan apa apa" Sekar menunduk. "Jangan menolak, aku hanya ingin berterima kasih, aku akan tersinggung jika ditolak" I Gede Kendra menatap serius pada Sekar. "Maaf jika aku menyela, jika kau memang menganggap kami saudara jangan beri kami hadiah apa apa, aku juga akan tersinggung jika bantuan kami kau anggap mengharap emas dan perak" I Wayan menatap serius pada I Gede Kendra. "Hmmm... maafkan aku, aku tak bermaksud begitu saudaraku" I Gede Kendra memeluk sahabatnya. "Terima kasih saudaraku" bisiknya.


Sekar membereskan peralatannya, dan membungkuk hormat, I Wayan pun melakukan hal yang sama, tapi belun sempat mereka berlalu I Gede Kendra menahan mereka "Tunggu, bisakah kita bicara berdua saja Wayan, ada hal penting yang ingin kubicarakan" "Baiklah, kalau begitu pulanglah lebih dulu Sekar" Sekar mengangguk, melangkah lebih dulu, di ikuti I Gede Kendra dan I Wayan yang keluar bersama menuju ruang perpustakaan.


"Apa yang ingin kau bicarakan Kendra" I Wayan lebih dulu membuka suara. "Aku ingin Sekar di jodohkan dengan Rangga, sebagai ucapan terima kasihku padamu karena telah menyelamatkan anakku dan Sekar yang telah merawat Rangga hingga sembuh, kuharap kau tidak menolaknya karena sudah lama aku ingin kita benar benar menjadi Saudara, bukan hanya sebatas sahabat".


Ucapan I Gede Kendra sungguh mengejutkan I Wayan "Bukan aku menolak Kendra, tapi kau tahu kita berbeda kasta, tidak layak Sekar bersanding dengan Rangga" "Bukankah dari dulu kau tahu Wayan, aku tidak pernah mempermasalahkan kasta, kita sama sama manusia kuharap kau tidak menjadikan itu sebagai alasan menolak perjodohan ini.

__ADS_1


I Wayan terdiam sesaat "Baiklah jika itu yang kau inginkan, tapi izinkan aku bertanya dulu pada Sekar aku tak ingin memaksakan kehendak padanya, biarlah dia yang memutuskan" "Baiklah Wayan kutunggu jawabanmu segera semoga hanya hal mengembirakan yang akan kudengar" ada sedikit penekanan di kata kata nya I Wayan sadar itu adalah kata kata memaksa secara tak langsung dari I Gede Kendra.


Pangeran Indra yang di tinggal sendiri bergegas berganti pakaian, iya tak ingin menunda lagi untuk mencari Suri. Pangeran Indra sengaja keluar dari jendela menghendap hendap menghindari para pengawal yang berjaga di gerbang. Karena tubuh yang masih lemah gerakan pangeran jadi sedikit lamban.


Walau susah payah pangeran akhirnya bisa keluar, berjalan menuju pasar, pangeran Indra sengaja singgah di pasar untuk mencari tahu dimana letak lembah kematian, karena sesuai penglihatannya di cermin mustika sakti Suri berada di sana.


Pangeran Indra singgah di sebuah kedai minum, sengaja memilih tempat di pojok lebih leluasa melihat ke arah luar juga lebih aman dari pandangan. "Pesan apa tuan?" seorang pelayan datang menghampiri. "Berikan aku secangkir teh juga kudapan yang ada disini" "Baik tuan" sang pelayan pergi menjauh, tak lama kemudian datang kembali dengan 1 gelas teh dan sepiring gorengan panas, pelayan itu membungkuk segera ingin pergi, tapi ditahan Pangeran Indra, "Tunggu, apa.kau tahu dimana lembah kematian berada?" Pelayan itu nampak sangat takut, wajahnya berubah pucat pasi "Ti..tidak Tuan hamba tidak tahu" pelayan itu segera meninggalkan pengeran Indra dengan terburu buru.


Pangeran Indra keluar dari Kedai itu dengan hampa, apa yang difikirnya mudah ditemukan ternyata cukup sulit tak ada yang tahu dimana letak lembah kematian atau lebih tepatnya tidak berani memberi tahu.


Pangeran indra tak putus asa tetap bertanya pada beberapa penjual di tepi jalan, juga beberapa orang yang lalu lalang disana, tapi hasilnya tetap sama tidak ada yang tahu.


"Beejalanlah lurus ke arah Barat Hingga kau temukan hutan andalas, masuklah kesana teruslah berjalan kearah timur hingga kau temukan sebuah sungai yang airnya berwarna merah, teruslah susuri sungai itu, di hulu sungai itulah lembah kematian"


Pangeran Indra inginengucapkan terima kasih, tapi wanita misterius itu sudah menghilang "Gila, secepat itu dia menghilang apa mungkin dia bukan manusia?" walaupun begitu Pangeran Indra tetao berjalan menuju arah yang telah di tunjukkan wanita misterius berbaju hitam itu.


Sementara di atas sebuah cabang pohon seseorang memperhatikan langkah pangeran Indra, ia berdiri diatas sebuah ranting yang kecil tapi rantingnya sama sekali tidak patah, dialah wanita misterius penunjuk jalan tadi. Calon Arang ibu Ni Luh Ayu Cempaka, seorang penyihir yang jahat.


Penyihir itu menyeringai, "Ternyata ramalan itu benar kau datang kembali, tapi kau tetap akan jadi tumbalku, kali ini pasti akan berhasil, hi.... hi... hi.." tawa menyeramkan yang membuat siapapun akan bergidik ngeri mendengarnya.


Pangeran Indra tiba ditepi hutan, meneruskan langkah memasuki hutan rimbun terasa hawa dingin di dalam hutan, sangat menyeramkan pepohonan yang rimbun membuat tak ada celah bagi matahari untuk menyinarinya, Suara suara menyeramkan dari hewan hewan tersembunyi yang entah apa, makin menambah seram keadaan hutan itu.

__ADS_1


"Lebih tepat jika namanya hutan kematian, mungkin tak akan ada yang keluar hidup hidup dari hutan ini, tapi aku harus menemukan Suriku. Setelah 1 dupa pangeran Indra menemukan sungai yang diaebutkan sosok wanita misterius itu, "ckck... ckck.... pangeran Indra menggeleng takjub ternyata sungai yang dikatakan wanita misterius itu benar benar berwarna merah seperti darah. Pangeran mendekat dan mencuci kakinya dengan air sungai, mengambil sedikit air dengan tangannya, mencium baunya, ternyata bukan bau darah seperti yang di sangka tapi harum, air sungai berwarna merah di sebabkan pohon yang bernama akar wangi yang sangat banyak tumbuh di pinggiran sungai. Pangeran Indra tersenyum menebang 1 pohon bambu, membuat lubang di tengahnya, mengisinya dengan air sungai hingga penuh untuk persediaan bekalnya dijalan nanti, air dengan kandungan akar wangi selain untuk melepas dahaga juga baik untuk kesehatan.


Setelah puas melepas dahaga pangeranpun melanjutkan perjalanannya menuju jurang kematian, peluh membasahi keningnya karena berjalan tanpa henti matahari sudah tergelincir ke barat saat pangeran Indra memutuskan untuk beristirahat. Pangeran memilih untuk tidur di atas pohon, malam yang pekat dan menakutkan tak dihiraukannya karena terlalu lelah pangeran tertidur.


Hari sudah pagi saat pangeran bangun dari tidurnya, pangeran merasa sangat aneh tidurnya sangat nyenyak tak.ada gangguan apapun, dalam tidurnya pangeran merasa tidur di.kamar serba putih.sangat nyaman dan berbau gaharu yang harum, Pangeran tersenyum karena mimpi itu membuatnya lelap ditenfah hutan yang lembab dan dingin, sedangkan dalam tidurnya pangeran merasa hangat dan nyaman.


Tanpa pangeran ketahui Calon Arang tadi malam telah menyihirnya hingga terlelap tak sadarkan diri, "tak ada yang bisa menganggumu pangeran karena kau mangsaku hiks... hiks... hiks... Calon Arang menyeringai melihat pangeran Indra dari cermin ajaib miliknya.


Kruk.. kruk.. kruk.. pangeran merasa sangat lapar dari kemarin hanya minum air dan memakan buah buahan yang ditemukan dijalan, hingga mudah sekali menjadi lapar kembali. Pangeran segera meneruskan perjalanan, beruntung tak jauh berjalan ada pohon pisang yang sudah menguning, pangeran makan dengan kenyang, menyimpan sisa pisangnya untuk bekal di jalan.


Setengah hari perjalanan baru Pangeran tiba di sebuah jurang, 'Ini pastilah jurang kematian seperti di sebutkan wanita itu' pangeran melongok ke dalam jurang dan tiba tiba wajahnya berubah, jurang itu bisa dipastikan sangat dalam karena terlihat sangay gelap dan tidak terlihat dasarnya.


Pangeran berusaha turun dengan berpegangan pada akar akar pohon supaya tidak tergelincir, meski susah payah akhirnya pangeran tiba di dasar jurang, gelap dan sunyi tak ada tanda kehidupan disana.


Pangeran berusaha berjalan di dalam gelap ketakutan mulai merasuki sukmanya karena sudah mencoba menggunakan kesaktiannya tapi tidak berhasil, seperti ada kekuatan yang menghalanginya.


Secercah harapan muncul saat pangeran melihat cahaya samar samar sebuah lampu yang bersumber dari sebuah pondok. "Pondok di tengah hutan?" Naluri waspada pangeran sangsi tapi segera ditepisnya, yang penting ada tempat bermalam tak perly memikirkan yang lain pangeran tetap melangkah menuju pondok meskipun was was masih menggelayuti hatinya.


tok tok tok pangeran mengetuk pintu, "permisi, apa ada orang di dalam" Pangeran menunggu, hening, tak ada jawaban tok tok tok "permisi apa.ada orang didalam" Sesaat kemudian terdengar suara dari dalam "Si..apa siapa kisanak" "Aku Rangga aku tersesat mohon bantuannya Ni" Tak lama pintu terbuka perlahan, dan Pangeran Indra begitu terpesona hingga tak bisa berkata kata.


964 view, wow nambah lumayan banyak, bikin aku semangat nulis tak terasa 1760 kata part terpanjang yang pernah kutulis sejauh ini😍, just info liat viewer nya makin nambah bikin aku yakin buat tekan "kontrak" dukung aku terus ya, love you more 😘

__ADS_1


__ADS_2