
Suri memecut kudanya semakin kencang saat benteng kerajaan Swarnabumi sudah terlihat samar-samar di kejauhan. "Hiyaaa! .. Hiyaaa..." tak sampai setengah jam Suri sudah melewati benteng, dan tiba di pasar, Suri turun menuntun kudanya sambil melihat lihat pasar malam, yang sudah sepi pengunjung karena malam semakin larut.
Pandangan Suri tertumpu pada penjual aksesoris yang menjual perhiasan buatan tangan, ada gelang terbuat dari akar kayu yang menarik perhatian Suri, Suri mendekati penjual aksesoris yang langsung berdiri menyambut kedatangan Suri.
Suri mengambil gelang yang ditaksir dan mencoba memakainya, "Cocok sekali Putri, gelang akar bahar itu, bagus juga untuk kesehatan bagi yang memakainya" penjual aksesoris memuji pilihan Suri. Suri hanya tersenyum tipis menatap penjual aksesoris Suri tahu penjual itu sengaja memuji agar Suri membeli dagangannya.
"Berapa yang ini Pak Cik?" Suri bertanya, "3 keping perak putri" "5 keping perak sahaja Pak Cik saya beli 2" Suri menawar. Penjual Aksesoris nampak ragu, tapi melihat Suri yang meletakkan kembali gelangnya membuatnya menjawab dengan cepat "Baiklah putri 5 keping perak untuk 2 gelang" penjual itu dengan sigap mengambil 2 buah gelang, memasukkannya ke dalam punjut kain, dan memberikannya pada Suri.
Suri bergegas pergi sambil tersenyum puas, sambil berkata dalam hati "trik lama yang selalu berhasil" pura-pura tidak jadi membeli jika tidak berhasil menawar.
Suri terus menelusuri pasar membeli beberapa kue yang menarik perhatiannya lalu bergegas pulang. Suri tiba di kediamannya, langsung menuju paviliun, beruntung tidak berpapasan dengan ayahandanya karena Suri cukup lelah dengan kejadian hari ini, ingin mandi dan langsung beristirahat.
Malam terasa amat panjang bagi Suri, selesai mandi dan makan, Suri ingin langsung tidur, tapi matanya sulit sekali terpejam, fikirannya selalu tertuju pada pangeran Indra kekasihnya.
Suri terbayang-bayang sentuhan Kekasihnya, Suri mulai hafal, pangeran selalu mencium keningnya, kedua matanya, hidungnya, lalu minta izin mencium bibirnya, Suri jadi senyum-senyum sendiri mengingatnya.
Sentuhan pangeran Indra seperti protokol kerajaan yang harus runtut di ikuti tahap tiap tahapnya, seperti dosa besar jika salah satunya di langgar.
Di Kerajaan Buana Gemilang
Pangeran Indra tersenyum di depan cermin mustika sakti, memperhatikan setiap gerak gerik Suri, sama seperti Suri, Pangeran Indra pun tak dapat memejamkan mata karena terus memikirkan buah hatinya, hingga pangeran bangun melihat Suri dari cermin mustika sakti.
Lelah karena tak dapat memejamkan mata Suri pun bersenandung :
Bila cinta menyapa
__ADS_1
keindahan syurga terlukis dijiwa
sehari tak bersua
resah dan gelisah tiada terkira
Hanya berjumpa jadi penawarnya
seakan di dunia tiada yang lainnya
Bila cinta menghilang
neraka dunia seakan menjelma
derai air mata membasuhi dunia
seakan semua tiada berguna
berkah yang dipunya tiada nilainya
dinding kaca bukannya batu
janganlah salah menaruh besi
jatuh cinta jangan terlalu
__ADS_1
bila berpisah hancurlah hati
cinta yang datang jangan dihadang
cinta yang hilang jangan dikenang
cinta hakiki tak kan terbagi
cinta sejati takkan terganti
Dinding kaca bukannya batu
janganlah salah menaruh besi
jatuh cinta jangan terlalu bila berpisah hancurlah hati
"Sabda Cinta"
Erie Suzan
Suri bersenandung hingga tak sadar Suri tertidur, senandung cintanya yang indah berganti dengkur halus Suri.
Di kerajaannya pangeran Indra pun beranjak ke peraduan, pangeran tersenyum, memejamkan mata hingga malam memeluk mimpinya bersama Suri.
Hai reader terima kasih sudah mampir membaca novelku, 193 view, tiap hari makin bertambah, terima kasih banyak, walaupun masih silent reader tapi sudah cukup memberi semangat buat aku tetap nulis. btw tetap kutunggu like dan commentnya 😘😘😘😘
__ADS_1