
Tok tok tok, Suri mengetuk kamar itu pelan, dan memutar handle pintu "Bulihkah ulun masuk?" (Bolehkah saya masuk) Suri bertanya. Pangeran Indra sedang duduk di balkon kamarnya, tidak berpindah posisi sejak tadi Suri melihatnya dari taman. Tak ada sahutan, Suri tetap masuk, meletakkan nampan yang di bawanya ke atas nakas yang ada di kamar itu, lalu mendekat ke ke balkon, "Ulun bawakan makan siang sagan pian, ulun suapkan lah" (Saya bawakan makan siang untuk kamu, saya suapkan ya) Suri bertanya, tetap tak ada jawaban.
"Seperti bicara dengan tembok, bicara dengan rumput masih mending, walaupun ngga bicara tapi masih bergoyang" Suri mendengus pura pura kesal. "Tidak ada yang menyuruhmu, aku tidak mau merepotkan, pulanglah sebelum terlambat" Pangeran Indra bicara dengan ketus. Suri tersenyum, umpannya mengena.
"Senang sekali mendengar suaramu, ternyata kamu tidak bisu, aku tidak akan pergi kemanapun, mau tau kenapa?" Suri pura pura bertanya. "Tidak penting" Pangeran Indra masih saja menjawab ketus. Suri memeluk pangeran Indra dari belakang dan berbisik di telinga Pangeran Indra, "Karena aku mencintaimu Kanda" Suri sengaja melakukannya, untuk membangkitkan ingatan Pangeran Indra. Pangeran senang sekali memeluknya seperti itu, sambil bicara ditelinga Suri.
Pangeran Indra terdiam sesaat, tapi kemudian memaksa Suri melepaskannya "Apa kau sudah gila!" teriaknya, "Bagaimana mungkin kau bisa jatuh cinta padaku, kita baru bertemu, mustahil, apalagi aku buta!" Pangeran Indra berkata dengan putus asa. "Mau mendengar ceritaku?" tanya Suri pelan. Tak ada jawaban, "Diam berarti mau" Suri membuat kesimpulan sendiri. "Tapi sambil aku bercerita sambil aku suapin makan ya?" Suri bertanya lagi, sama seperti tadi tak ada jawaban. "Ok, diam berarti mau" Suri mengambil nasi yang tadi di letakkannya dan menaruhnya di pangkuan, menyendok nasi dan lauknya "Aa" Suri mendekatkan sendok ke bibir Pangeran Indra sengaja menyentuh bibirnya agar pangeran tahu sendok sudah berada tepat di depan mulutnya. Pangeran membuka mulut, mengunyah makanannya perlahan.
Seperti janjinya tadi Suri mulai bercerita. "Namaku Dayang Suri, dan namamu Pangeran Indra" Suri sengaja berhenti melihat ekpresi pangeran Indra. Sesuai yang di inginkan Suri Pangeran memegang dadanya tapi tak berkata apa apa. Suri menyuapkan lagi makannya dan melanjutkan ceritanya.
"Kau putra mahkota kerajaan Buana gemilang, dan aku Putri Panglima Hang Tuah Panglima kerajaan Swarnabumi, kita pertama kali bertemu di hutan saat aku berburu rusa" Suri sengaja bercerita perlahan, sambil terus menyuapi pangeran Indra, tak terasa nasi di piring sudah habis, Suri tersenyum puas, memberikan minum pada pangeran Indra, dan mengelap mulutnya. Suri sengaja mendekat walau tahu Pangeran Indra tidak nyaman, Suri ingin Pangeran bisa mengingat aroma tubuhnya.
__ADS_1
"Aku pergi dulu ya, terima kasih sudah mau mendengar ceritaku" Suri menyentuh pipi pangeran Indra seperti pangeran sering melakukannya. sambil berlalu Suri mencium bibir pangeran Indra. 'astaga, memalukan' Suri membatin, wajahnya memerah atas apa yang baru saja dilakukannya, 'Biarlah, yang penting dia segera ingat padaku' batin Suri lagi.
Suri tidak berani muncul lagi di hadapan pangeran Indra, takut pangeran marah karena tindakannya yang terlalu berani itu. Hingga esok harinya Suri baru kembali membawakan makan siang untuk pangeran. Tok tok tok Suri memutar pelan handle pintu yang tidak dikunci, seperti kemarin Pangeran duduk di balkon 'Sepertinya hanya itu yang dilakukannya tiap jari, apa tidak bosan' Suri membatin. "Boleh aku masuk?" Suri bertanya pelan. Tanpa di duga Pangeran menoleh ke asal suara, "kau kah itu?" tanyanya datar. "Ya aku Suri kekasihmu kanda" Suri sengaja mengatakannya, andai pangeran bisa melihat, dia pasti akan tertawa melihat wajah Suri yang semerah tomat karena malu dengan ucapannya sendiri. "Masuklah katanya singkat".
Suri langsung menyuapkan makan siang yang di bawanya, pangeran menerimanya tanpa bertanya. Saat 3 suapan berlalu pangeran bicara "Apa kau tidak mau melanjutkan ceritamu?" tanyanya. "Suri membesarkan matanya senang "Apa boleh?" tanyanya konyol
Pangeran mengangguk sambil mengunyah makanannya pelan. "Sampai dimana ya kemarin?" Suri pura pura bertanya "Kau di nikahkan dengan putra mahkota Mulyawarman" Pangeran menjawab cepat. Suri tersenyum puas mendengar jawaban pangeran Indra. "Boleh aku memanggilmu kanda?" Kau dulu sangat senang di panggil begitu, jika aku menolak atau salah memanggil pasti di hukum, Suri tersenyum membayangkan hukuman yang diberikan pangeran Indra. "Di hukum? hukuman apa?" Pangeran Indra bertanya dengan antusias, "Nanti saja, jika kau melakukan kesalahan aku akan menghukummu sama seperti hukuman yang kau berikan padaku dulu, Suri tersenyum geli. "Jadi, boleh tidak?" Suri bertanya lagi. "Apa?" tanya pangeran bingung, "Boleh aku memanggilmu kanda?" Suri mengulangi pertanyaannya. Walau sedikit ragu ragu pangeran akhirnya mengangguk. "Kalau begitu kuizinkan juga kau memanggilku dinda". Suri tersenyum sendiri 'Aku memang sudah gila' batin Suri, 'memalukan' dia seperti perempuan murahan yang tak tahu malu, tapi demi kekasih tersayangnya Suri rela, meski hatinya sering melompat lompat tak setuju.
Pangeran menyentuh bibirnya dan tersenyum, Suripun ikut tersenyum dari jauh melihat apa yang dilakukan pangeran.
Suri menghabiskan sorenya dengan berjalan jalan di taman, mencium bunga mawar putih yang bertebaran. Aromanya sangat menenangkan, Suri berjalan tanpa terasa sudah tiba di jalan setapak yang jauh dari rumah. 'Jalan ini menuju kemana ya' Suri membatin. Karena rasa penasarannya Suri melangkah menyusuri jalan setapak itu hingga satu suara menghentikannya "Jangan kasanak!" (Jangan kesana) Suri menoleh dan ternyata Jupin asisten Pak Ketua sudah ada di belakangnya. "Ngapak kadak bulih?" (Mengapa tidak boleh) tanya Suri pada Jupin. "Mun kadak bulih tuk, kadak bulih pang" (Kalau tidak boleh ya tidak boleh) Jupin berkata sedikit kesal.
__ADS_1
Suri tidak bertanya lagi, dan meninggalkan Jupin tanpa pamit. 'Aku harus kesana lain kali' batinnya.
Keesokan harinya
Pagi yang cerah, dan Suri sengaja berjalan jalan di taman untuk mencari udara segar dan sedikit berolahraga. Saat melihat mawar mawar yang bermekaran, Suti memetiknya beberapa, 'pasti kanda suka' Suri membatin dan tersenyum.
Tok.. tok.. tok "Aku masuk ya" Suri mohon izin sambil mendorong pintu pelan, tak ada jawaban, dan Suri masuk dengan perlahan. Pangeran Indra masih tertidur pulas. Suri mendekat dan duduk di sampingnya. Suri tak tahan untuk tidak menyentuhnya. Suri menyentuh alisnya yang tebal, matanya, hidungnya, dan saat menyentuh bibir, tiba tiba pangeran menarik tangannya, Suri jatuh menindih pangeran Indra, saat ingin bangun pangeran langsung memeluknya, "Jangan, jangan bangun, biarkan begini, sebentar saja", pintanya. Suri menurut, hanya terdiam kaku di atas tubuh pangeran Indra.
"Apa kau tidak ingin menghukumku? tanya nya "Ha? apa?" Suri bertanya bodoh, dan tanpa di duga Pangeran menarik kepala Suri dan menciumnya, Suri yang terkejut hanya mematung, dan saat tersadar Suri langsung mendorong pangeran Indra, Suri berlari menuruni anak tangga menuju kamarnya.
Upssss 3x up hari ini reader sayang, udah kayak makan aja 3x sehari, maaf jika ada typo2 ya, lagi semangat up, mumpung idenya lagi ngalir deras kayak banjir yang lagi melanda kotaku😏
__ADS_1
happy reading, jangan lupa sedekah like dan komennya di banyakin, biar jadi vitamin buat aku, love you 7 turunan! 😘