Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
22. Penantian yang panjang


__ADS_3

Pagi yang cerah, setelah hujan lebat tadi malam yang masih menyisakan bekasnya di tanah yang basah, terlihat Suri sedang berlatih pedang.


Gerakannya lincah melompat kesana kemari, dari kejauhan Panglima Hang Tuah memperhatikan putrinya yang sedang berlatih, sambil berjalan mendekat, dan tiba tiba melepaskan serangan ke arah Suri.


Suri yang terkejut mendapat serangan mendadak langsung jatuh terpental, panglima tidak menolong Suri, membiarkannya bangun sendiri.


"Apa yang ananda fikirkan kenapa tidak berkonsentrasi saat latihan?" panglima menatap tajam putrinya.


"Mengapa ayahnda muncul tiba tiba, bukankah ayahanda tahu, ananda baru saja sembuh dari sakit", Suri pura pura marah. "Kalau saja ayahanda tahu aku memikirkan Pangeran Indra, bisa celaka aku" Suri berkata dalam hati.


Panglima memperhatikan Suri, matanya tajam tak berkedip, Suri yang diperhatikan hanya menunduk. "Kalau ananda masih sakit kenapa memaksakan diri untuk berlatih, bukannya lebih baik jika beristirahat saja" Panglima bertanya lagi.

__ADS_1


"Ananda bosan ayahnda, rasanya tubuh ini semakin sakit jika terus terusan berbaring saja", Suri berdiri, memungut pedangnya yang jatuh.


"Hamba mohon diri ayahanda, Suri pamit pada ayahandanya untuk membersihkan tubuhnya yang kotor. "Baiklah, ayahanda menunggumu untuk sarapan bersama" Pangeran menjawab dengan suaranya yang tegas dan berwibawa.


"baiklah ayahanda". Suri menjawab lemah, Suri tahu ayahandanya pasti akan bertanya mengenai perasaannya pada pangeran, "Apa yang harus kukatakan jika ayahanda bertanya, apa harus jujur mengatakan bahwa aku mencintai pangeran dari kerajaan lain?


"Hhmmmmm.. ayahanda pasti sangat murka, aduuh pusing pusing" Suri menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Selesai mandi Suri segera berhias dibantu dayang setianya Melati, Suri memakai baju kurung berwarna kuning gading, rambut Suri yang panjang dan hitam di ikat sebagian, dan diberi hiasan sunting sederhana, selesai berhias Suri mengambil selendang berwarna senada, menyampirkannya di bahu selendang itu makin menyerlahkan kecantikannya yang alami.


Meja makan penuh dengan aneka hidangan ada nasi goreng, nasi lemak, lontong, dan aneka kue manis, ada sari muka, tepung gomak, kue kasui, dan tak ketinggalan pisang goreng.

__ADS_1


Suri menyendok Nasi Lemak dan mengambil rendang untuk lauknya, Suri makan perlahan, "Apa ananda masih sakit?" Panglima memecah kebisuan "Suri menggeleng, karena mulutnya penuh makanan. "Kalau begitu, mengapa ananda tidak seceria biasanya" panglima bertanya lagi.


"Suri menelan makanannya, mengambil segelas teh dan meminumnya seteguk "Tidak apa-apa ayahanda, ananda hanya sedang berusaha menjadi wanita yang sebenarnya".


"Uhuk... uhuk.. panglima tersedak, Suri buru-buru berdiri menepuk punggung ayahandanya, dan memberikan segelas air putih, Panglima menarik nafas lega dan panglima tertawa "Ha3x....."


Suri bingung dan bertanya "Ada apa ayahanda? mengapa ayahanda tertawa?" Panglima memegang kepala Suri dan mengusap kepalanya, ternyata anakku sudah dewasa".


Panglima tersenyum penuh makna. Mereka menyelesaikan makan sambil panglima bercerita tingkah lucu Suri semasa kecilnya, merekapun tertawa bersama.


Selesai makan Suri pamit untuk melihat Cantiqa kuda kesayangannya di istal kuda mereka, dan Panglima bergegas ke Istana untuk melaksanakan tugas tugasnya mengawasi latihan para prajurit dan tugas tugas panglima lainnya.

__ADS_1


Suri merawat cantiqa dengan penuh kasih sayang, cantiqa adalah hadiah ulang tahun dari panglima saat Suri berulang tahun yang ke 10, Suri menyikat bulu bulu cantika dan mengganti pelana kudanya, Suri sudah biasa melakukannya.


Selesai merawat Cantiqa Suri kembali ke Paviliunnya, tiba di Paviliunnya Suri duduk di taman, menyiram bunga-bunga mawar, dan memberi makan ikan di kolamnya, dayang Melati setia menemani, "Baru 2 hari Pangeran kenapa lama sekali menunggu 7 hari, penantian yang terasa amat panjang" Suri berbicara dalam hati.


__ADS_2