
Suri hanya diam menatap tak berkedip pada pria yang baru saja masuk ke kamarnya, ruangan hening tak ada yang ingin memulai pembicaraan hanya saling menatap dalam diam, hingga Datuk Malin bersuara.
Ehem ehem... Putri hamba perkenalkan inilah Baginda Raja Bagagar Alam Sakti Raja Kerajaan Tanah Gadang ini, Ayahanda Putri Dara Jingga. Suri berusaha bangun untuk memberi hormat pada raja, tapi ditahan oleh baginda raja karena mempertimbangkan keadaanya yang masih sangat lemah, akhirnya Suri hanya membungkuk hormat pada Baginda Raja, Raja Bagagar Alam membalas dengan senyuman lalu mengangguk bijaksana, "Putri yang cerdas, dan berbudi bahasa" Raja Bagagar Alam berkata dalam hati, kesan pertama yang sudah membuat baginda jatuh hati pada Suri. "Sebaiknya hamba tinggalkan tuanku bersama Putri, nanti hamba kembali untuk memeriksa keadaan Putri" Datuk Malin berbicara memecah kesunyian yang ada di ruangan itu.
Raja Bagagar Alam mengangguk, dan Datuk Malin berundur setelah menghatur sembah, Suara pintu tertutup memecahkan suasana hening. "Maafkan beta putri, beta sudah mendengar dari Tabib bahwa Putriku....." Raja Bagagar Alam terdiam lagi, mengatur kata kata agar tidak menyinggung Putri dan berusaha menahan sebak di di dadanya.
"Putriku Putri Dara Jingga telah tiada, dan engkau Putri..., hmmmm....menurut Tabib maaf..., kau bukanlah putriku, hanya jiwa yang menumpang di raganya". Raja diam, menatap Suri yang sedari tadi hanya mendengar tak sekalipun menyela ucapannya.
"Maafkan hamba tuanku" Suri merasa bersalah dengan keadaan yang terjadi. "Tidak perlu meminta maaf putri ini bukan salahmu, tidak ada yang bisa melawan kehendak langit, Putri beta mungkin telah tiada tapi beta harap putri sudi menjadi penggantinya, Baginda Raja memegang bahu Suri menatap penuh harap pada Suri.
Suri yang melihat kesungguhan dan kasih sayang di mata Raja Bagagar Alam sangat tersentuh kerinduan yang dalam di mata itu mengingatkan Suri pada seseorang yang sangat menyayanginya, tapi siapa? Suri tak sanggup mengingatnya. Akhirnya Suri menangis, dan Baginda Raja Bagagar Alam memeluk Suri. Mereka akhirnya menangis tenggelam dalam perasaan masing masing.
"Jadilah putriku Putri Dara Jingga" Baginda Raja Bagagar Alam berbisik di telinga Suri, dan Suri mengangguk lemah, "Baiklah tuanku, hamba akan menerima dengan senang hati". Baginda raja tersenyum melepas pelukannya pada Suri, "Mulai sekarang panggil Ayahanda putriku" "Baiklah ayahanda, terima kasih sudi menerima ananda disini"
__ADS_1
"Beristirahatlah, jangan terlalu memaksakan diri, biarkan proses kesembuhan ananda berjalan perlahan, serahkan semua pada tabib untuk mengurusnya, dan satu lagi rahasiakan ini dari siapapun, biarlah semua orang mengetahui bahwa Putri beta lupa ingatan, tanyakan apa yang ingin ananda tahu pada tabib, bukan orang lain, beta pergi dulu, istirahatlah. Baginda Raja pergi meninggalkan Suri.
Suri merasa sangat lelah dan mengantuk setelah makan dan minum obat yang diberikan Siti padanya. Malam harinya Suri terbangun ketika mendengar pintu terbuka. Siti masuk membawa nampan berisi air hangat dan handuk, Siti ingin membersihkan tubuh Suri, karena Suri tidak bisa bangun dari pembaringannya.
Siti meletakkan nampannya si sisi pembaringan dan membantu Suri untuk bangun, "Siti aku rasa aku sudah cukup kuat untuk turun mandi, tolong siapkan air mandi untukku, aku ingin berendam", Siti menatap Suri dengan ragu, tapi sesaat kemudian segera keluar untuk untuk menyiapkan air mandi yang di inginkan putri junjungannya di ruang mandi yang terletak di ruang bersebelahan dengan kamar itu.
Sementara itu di Balairung Istana Baginda Raja Bagagar Alam Sakti sedang bermusyawarah, untuk mengadakan pesta rakyat, yang dilaksanakan sebagai acara tahunan setelah panen raya, juga sebagai ucapan syukur atas kesembuhan putrinya.
Telah di putuskan bahwa acara pesta rakyat akan dilaksanakan pada malam purnama ke 14 belas dibulan berikutnya, waktu yang sangat tepat untuk berpesta di malam bulan purnama yang terang benderang, saat itu putriku juga pasti sudah sembuh, baginda raja tersenyum puas.
"Maafkan hamba putri hamba tidak berani, Tabib belum mengizinkan, mungkin satu dua hari lagi putri sudah bisa keluar" Siti menjelaskan perlahan takut junjungannya marah.
"Baiklah tidak apa apa Siti, Kalau begitu bantu aku ke jendela itu aku ingin melihat pemandangan dari jendela saja" Suri menatap Siti yang masih tertunduk lalu berkata lagi "Siti" tak ada sahutan " Siti, apa tidak boleh juga? Suri sedikit meninggikan suaranya, yang ternyata cukup membuat Siti terkejut "Maaf putri maafkan hamba, tentu saja boleh, Suri yang melihat Siti kelimpungan seketika tertawa melihat Siti yang terkejut dan takut junjungannya marah, "Ha.. ha.. ha.." Suri tertawa hingga wajahnya terkilat kemerahan dan lesung pipinya terlihat jelas.
__ADS_1
Akhirnya Siti pun ikut tertawa setelah mrnyadari bahwa Suri mengerjainya dengan pura pura marah. "Aneh, mengapa sekarang Putri Dara Jingga terasa seperti orang lain, dia yang manja dan suka marah marah sekarang sangat baik dan bijaksana" Siti berkata dalam hati "tapi tidak apa apa sepert.ini lebih baik" Sitipun tersenyum senang.
"Apa bisa membantuku sekarang Siti? Suri memutuskan lamunan Siti. "Baik putri" Siti membantu Suri duduk di Sofa di depan jendela kamarnya, "Apa sudah nyaman? Siti bertanya pada Suri. "Apa bisa kau ambilkan bantal untukku, mungkin lebih nyaman jika sedikit di ganjal, jika bersandar seperti ini aku tidak bisa melihat pemandangan di luar, "Baiklah putri" Siti mengambil bantal dan meletakkannya di punggung kursi. "Terima kasih, ini lebih baik" Suri tersenyum pada Siti.
Siti sudah membungkuk hormat bersiap meninggalkan Suri tapi langkahnya tertahan karena Suri mengajaknya ngobrol "Siti, apa yang kau fikirkan? kulihat kau sering termenung, dan kadang kadang tersenyum" "Maafkan hamba putri, putri memperhatikan hamba? "tentu saja Siti, aku tidak buta", Suri tersenyum. "Maafkan kelancangan hamba putri, hamba hanya sedikit bingung tapi juga senang, putri yang dulu sangat manja dan pemarah, tapi putri yang sekarang sangat baik" Siti menjelaskan. "
"Tentu saja berbeda Siti aku bukan Dara Jingga" Suri berkata dalam hati sambil tersenyum. "Bisa kau jelaskan seperti apa aku yang dulu, supaya aku bisa lekas mengingat kembali? "Baiklah putri, putri dulu sangat tidak sabaran semua yang di inginkan harus di dapat, jika tidak putri akan ngambek, tak jarang melempar semua barang yang ada di kamar ini, termasuk saat menginginkan Pangeran Mudo..." Siti berhenti bicara dan menatap Suri, "Lanjutkan Siti, ceritakan saja semuanya "termasuk saat putri ingin Pangeran Mudo Mangkuto Putra Mahkota kerajaan Padang Maninjau untuk menjadi suami putri.
"Baginda Raja terpaksa memerintahkan Raja Padang Maninjau untuk meminang Putri, karena takut akan diserang Raja Maninjau terpaksa menerima, tapi ternyata Pangeran Mudo yang tidak mencintai putri, lebih memilih mati bersama dari pada menikah dengan putri, pangeran minum racun dan sebelumnya sudah membubuhkan racun yang sama diminuman putri.
"Hari pertunangan yang seharusnya menjadi hari bahagia berubah menjadi hari penuh duka" Sejak saat itu Baginda Raja mengumumkan bahwa kerajaan Padang Maninjau bukan lagi sahabat kerajaan Tanah Gadang, Baginda memutuskan hubungan apapun dengan kerajaan itu"
"Sudah mulai gelap putri, udara sudah mulai dingin, sebaiknya putri istirahat" Siti menghentikan ceritanya. "Baiklah Siti, terima kasih sudah menjelaskan" Siti memapah Suri ke pembaringan, menyelimuti Suri dan mohon diri untuk menyiapkan makan malam.
__ADS_1
"Hmmm...pasti pangeran itu sangat mencintai kekasihnya hingga sanggup mati daripada menikahi wanita lain, Suri tersenyum mengingat kisah Siti tentang pangeran Mudo. "Tapi aku lupa bertanya apakah dia sudah meninggal atau koma juga seperti Dara Jingga? besok akan kuminta Siti melanjutkan kisahnya, menarik sekali, seperti dongeng kasih tak sampai", karena lelah Suri tertidur.
750 view, tq reader sudah mampir, masih meyakinkan diri untuk terikat kontrak, takut nggak sanggup up tiap hari, bisikin dong biar yakin☺