Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
105. Putri Mahkota Dayang Suri Hilang


__ADS_3

"Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini Bayu, tidak bisa" pangeran Indra menggeleng. "Tapi pangeran bukankah dia gadis yang sangat kau cintai, kau perjuangkan dengan berkorban jiwa raga, dan sekarang setelah kau miliki ingin melepaskannya?" Bayu menatap pangeran Indra dengan seribu tanda tanya di kepalanya.


"Entahlah Bayu, aku tidak tahu rasanya ada yang salah, tapi apa? aku juga tidak tahu" Pangeran berkata pelan. "Aku ingin pernikahan ini di ulang" supaya aku bisa mengingat semuanya, bukan seperti ini" pangeran meneruskan ucapannya. "Apa!!" Baru tanpa sadar berteriak. "Pangeran, lelah kami setelah pesta kemarin belum hilang, janur kuning belum layu, tendanya juga belum dilepas, kau sudah minta pesta lagi? sisa sisa pesta semuanya belum di bereskan, aku sungguh tidak mengerti" Bayu menggaruk kepalanya yang tak gatal.


"Sudahlah, kau tak akan mengerti, apapun yang terjadi aku tetap akan mengatakannya pada ayahandaku untuk membatalkan perkawinan ini, ayo kita pulang" Pangeran segera beranjak, menaiki kudanya dengan cepat dan segera memecut kudanya agar berlari kencang, dalam sekejap Bayu sudah tertinggal jauh.


Setiba di istana pangeran bertemu ibundanya yang sedang berjalan menuju paviliunnya "Indra, sepagi ini ananda sudah diluar? dari mana? ibunda fikir kalian masih terlelap" Permaisuri mencerca Indra dengan pertanyaannya yang menggoda pengantin baru. Maafkan ananda Ibunda, ada hal penting yang harus ananda lakukan" pangeran Indra menjawab asal.


"Sepagi ini? hal penting apa?" permaisuri bertanya curiga. "Ibunda ingin bertemu Suri? tunggulah sebentar ananda akan memanggilnya" Pangeran Indra tidak menjawab pertanyaan ibunya, dan segera masuk ke paviliun.


Pangeran masuk ke kamar dan tidak melihat Suri ada dimana mana, pangeran segera keluar "Pengawal, apa kau melihat putri mahkota?" Pangeran bertanya cemas. "Tidak tuanku pangeran, putri mahkota sama sekali tidak meninggalkan kamarnya, hamba bisa pastikan, sebab hamba tidak kemana mana sejak pagi" Pengawal menjelaskan dengan yakin.


Dari tempatnya berdiri permaisuri melihat seperti ada sesuatu yang telah terjadi dan mendekat untuk memastikan apa yang terjadi. "Ada apa ananda? apa yang telah terjadi?" Permaisuri bertanya khawatir. "Dayang Suri tidak ada di kamar ibunda, dan pengawal tidak melihatnya keluar sama sekali.


"Tenangkan dirimu dahulu, jangan panik" Permaisuri berbicara dengan begitu lemah lembut. "Pengawal panggil kepala prajurit kemari, cepatlah", Permaisuri memerintah dengan kata kata lemah lembut namun tegas. "Menjunjung titah yang mulia permaisuri" Pengawal membungkuk hormat dan segera berlari untuk menyampaikan pesan permaisuri.


Tak sampai setengah dupa, Kepala prajurit datang menghadap, dan langsung memberi hormat, "Sembah hamba tuanku yang mulia permaisuri, ada apakah gerangan tuanku memanggil hamba?" Kepala prajurit bertanya sambil menunduk.

__ADS_1


"Putri mahkota telah menghilang dari kamarnya, kerahkan anak buahmu untuk mencarinya, di dalam istana, diluar istana, di rumahnya, cari di semua tempat di seluruh kerajaan ini" Permaisuri memerintah. "Menjunjung titah tuanku permaisuri" Kepala prajurit memberi hormat dan segera berlalu dari hadapan permaisuri.


Seketika seluruh istana menjadi gempar karema hilangnya putri mahkota. "Indra, ada yang ananda sembunyikan dari bunda?" Permaisuri menatap pangeran Indra dengan tatapan mengintimidasi. "Tidak ada ibunda" Pangeran menatap jauh ke arah gerbang utama paviliunnya, Yang Mulia Raja Surya sedang berjalan ke arah mereka.


"Apa yang terjadi ananda?", belum sempat pangeran Indra menjawab Panglima kerajaan. Swarna Bumi ayahanda Putri Dayang Suri sudah muncul di belakangnya, panglima membungkuk hormat dan bertanya hal yang sama.


"Maafkan ananda ayahanda, panglima, Istri hamba telah menghilang dari kamar, saat ananda meninggalkannya tadi, istri ananda masih tertidur, Pangeran Indra menjelaskan dengan hati hati. "Ananda meninggalkannya? mengapa?" Permaisuri bertanya dengan nada sedikit meninggi. Pangeran Indra diam sesaat, "Ada hal penting yang harus ananda bicarakan dengan Angin Bayu" pangeran menjawab dengan hati hati karena berbohong di depan raja dan permaisuri adalah perbuatan bodoh raja dan permaisuri dapat dengan mudah membaca fikirannya.


Bisakah kita bicarakan hal ini nanti saja ayahanda, bunda, ayah mertua? saat ini mencari istriku lebih penting" pangeran berkelit dengan lihay. "Ananda benar, bawalah beberapa orang bersamamu, jangan bergerak sendiri" Yang mulia raja Surya memberi perintah pada pangeran Indra, pangeran lega segera memberi hormat untuk segera berlalu dari tatapan tajam ibundanya yang mengintimidasi, ibundanya memang hebat selalu tepat menerka hatinya, namun saat pangeran baru melangkah panglima Hang Tuah menghentikannya.


"Bolehkah hamba ikut bersama pangeran?" Panglima bertanya. "Maaf ayah mertua, sebaiknya kita berpencar agar Suri lebih cepat ditemukan" Pangeran Indra menolak halus, untuk sementara pangeran Indra memilih menjauh situasi yang terjadi di kerajaan Buana Gemilang yang masih membuatnya bingung.


"Entahlah Bayu sungguh membingungkan" Pangeran terdiam sesaat, "Ayo kita ke perbatasan, sudah ada prajurit dan.pengawal yanh mencari di seluruh kawasan dalam istana dan kota" Pangran segera bergegas menaiki kudanya "Hiyaaaaa! Hiyaaaa! pangeran langsung memecut kudanya agar berlari kencang, Angin Bayu dan tiga pendekar pilihan langsung mengikuti pangeran.


Mereka memacu kudanya tanpa henti hingga tiba di perbatasan kerajaan Buana Gemilang, mereka menyisir sepanjang perbatasan mencari jejak penculik, namun hingga hari gelap tak ada satupun jejak di temukan, Suri lenyap tanpa jejak.


Pangeran terduduk lesu, mukanya pucat pasi, keringat membasahi tubuhnya, dan pangeran limbung, terjatuh dari kudanya. "Pangeran!!" Bayu segera menghentikan kudanya untuk menolong pangeran Indra.

__ADS_1


Darah segar membasahi wajah pangeran yang pucat, lengannya turut terluka akibat terseret kuda sebelum iya terjatuh. Bayu segera merafal mantera dan berteleportasi ke kerajaan Buana Gemilang, kabut tipis mengiringi mereka sebelum menghilang di gelapnya malam.


"Cepat panggilkan tabib!" Bayu memerintahkan pengawal yang berjaga, saat mereka.tiba di halaman paviliun, Bayu segera memanggil pengawal untuk membantunya membawa pangeran, seketika paviloun bertambah panik, Putri Mahkota hilang, dan sekarang Putra Mahkota jatuh sakit.


Tabib segera datang memeriksa keadaan pangeran dan mengobati luka lukanya, tak lama Permaisuri dan Yang Mulia Raja Surya sudah tiba disana. "Bagaimana keadaan putraku tabib?" Yang mulia bertanya saat tabib sudah selesai membalut luka pangeran Indra. "Putra mahkota hanya kelelahan yang mulia, dan dia belum makan apa apa sejak pagi, sehingga tubuhnya tidak bertenaga" Tabib menjelaskan lalu berlalu setelah membungkuk hormat pada yang mulia.


Tengah malam pangeran Indra terjaga dan merasakan sakit ditubuhnya, "Aduhhh... dimana aku apa yang terjadi?" pangeran duduk dengan memegangi kepalanya yang sakit. "Pangeran, pangeran sudah sadar, dayang yang menjaga pangeran segera membangunkan asisten tabib yang tertidur di sebelah pangeran.


"Pangeran, sebaiknya pangeran tetap berbaring, dayang akan mengambilkan makanan untuk pangeran, dan pangeran harus minum obat" Asisten tabib meminta pangeran untuk tidur kembali, tetapi tak di indahkan oleh pangeran Indra. Pangeran bangkit dari ranjang namun baru berjalan dua langkah tubuhnya oleng, jika tidak segera ditangkap asisten tabib, pangeran sudah tumbang mencium ke lantai.


Akhirnya pangeran terpaksa menurut, saat dayang menyuapkan bubur, dan meminimoan obat yang terasa sangat pahit, tubuhnya terlalu lemah untuk melawan, hingga tanpa disadari dirinya tertidur karena pengaruh obat yang diminumnya.


Pangeran terjaga saat merasakan belaian lembut di kepalanya "Sayang.." pangeran membuka matanya pelan, namun bukan Suri yang dilihatnya, tapi ibunda permaisuri, "Ibu.." pangeran berkata lemah.


"Apa yang terjadi padamu ananda, ibunda tahu ada yang mengganggu fikiranmu, mengapa tidak memberi tahu ibunda?" permaisuri berkata lembut sambil terus membelai lembut rambut putra kesayangannya itu.


"Maafkan ananda ibunda, ibunda benar, tapi ananda masih terlalu lelah untuk menceritakannya" pangeran menjawab lemah. "Baiklah, istirahatlah saja dulu, ibunda akan kembali lagi nanti" Permaisuri bangkit, meninggalkan pangeran Indra dengan perlahan, permaisuri sangat mengerti sifat putranya itu, percuma saja memaksa jika dia memang tak ingin bicara "dasar keras kepala" permaisuri bergumam dan tersenyum sambil melangkah keluar dari paviliun di ikuti para dayang dayangnya.

__ADS_1


14775 view! tq semua maaf sementara ngga bisa update tiap hari,tapi tetap diusahakan ngga lebih dari 2 hari, sebab kalo sampe 3 hari pasti dapat surat cinta 😂


__ADS_2