Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
96. Lee Mey Hwa 5.


__ADS_3

Pangeran kembali ke kamarnya, namun tiba tiba perhatiannya teralihkan oleh suara yang mencurigakan di atas atap, pangeran merapatkan tubuhkan ke dinding perlahan menyelinap di celah ruang sempit menuju dapur, pangeran merafal mantera penghilang raga, perlahan tubuhnya menghilang.


Dengan langkah ringan pangeran melompat ke atap, ternyata benar ada seseorang berpakaian ala ninja sedang memata matai kediaman, 'Sungguh berani disiang bolong begini mematai matai kediaman orang' Pangeran membatin marah. Pangeran bersiap menyerang tapi di urungkannya karena melihat pengintip itu segera melompat turun dan melesat secepat kilat meninggalkan kediaman Tabib Lee.


Pangeran Indra tak membiarkan pengintip itu lepas begitu saja, Pangeran mengikuti arah bayangan itu hilang mereka saling berkejaran dengan secepat kilat yang tak bisa di lihat dengan mata, sang pengintip memiliki ilmu yang tinggi, untung saja pangeran bisa mengimbanginya, hingga mereka tiba di kota, pengintip itu masuk ke sebuab rumah yang paling besar di tengah kota dengan melompati tembok belakang setinggi 3 meter.


Pengintip itu mengetuk jendela dengan batu 3 kali dengan ketukan yang membentuk bunyi tak biasa, jendela terbuka lebar dan pengintip itu melompat masuk, seorang lelaki berpakaian pelayan menutup jendela dengan segera, pangeran indra secepat kilat mengganjal jendela supaya tidak tertutup rapat.


"Silahkan tuan, Tuan Hong sudah menunggumu di tempat biasa" terdengar dengan jelas suara orang si ruangan itu, pasti sang pelayan fikir pangeran. Pangeran menimbang masuk ke dalam atau kembali segera, jika masuk dia akan tahu siapa sang pengintip, tapi sangat beresiko jika tertangkap, akhirnya pangeran memilih pulang, hal ini harua segera kusampaikan pada tabib Lee.


Pangeran tiba di rumah tabib Lee tepat sebelum Mey Mey memanggilnya untuk makan malam, untung saja pangeran tiba tepat waktu jika tidak pastinya rencana untuk pura pura sakit agar dirawat lebih lama pasti terbongkar.


"Astaga pangeran, mengapa pangeran tidur hingga malam?" Mey Mey mengomeli pangeran pelan. "Huahhhh, kalau ini di istana kau pasti sudah di hukum karena sudah lancang memarahi seorang pangeran" Pangeran Indra pura pura marah.

__ADS_1


"Ambilkan aku air hangat" Pangeran memerintah, Mey Mey keluar dengan melotot dan menghentak kaki nya ke lantai tanda kesal. "Berani sekali dia bilang begitu, inikan rumahku bukan istana, lagi pula enak saja memerintah dasar pangeran tidak tahu diri, sudah diberi tumpangan, malah seenaknya, sok berkuasa" Mey meyengomeli oangeran setelah tiba diluar kamar. "Kau mengomeliku Lee Mey Hwa kau harus di hukum" tiba tiba satu suara berbisik terdengar di telinga Mey Mey, Lee Mey Hwa sontak menoleh tidak ada siapa siapa disana hanya dia sendiri 'Suara siapa itu tadi, Mey Mey cemas dan ketakutan lalu lari secepat yang iya bisa,menuju dapur.


"heh heh heh heh Mey Mey tiba di dapur dengan teeengah engah, "air, ambilkan aku air" perintahnya, seorang pelayan segera mengambilkan air, dan Mey Mey meminum air itu hingga habis. Mey Mey bersandar di kursi dam menarik nafas lega. "Ada apa Mey er? kau seperti melihat hantu" Kakak Lee Mey Hwa muncul di dapur dan duduk di samping adik kesayangannya itu.


"Kau benar kak, aku rasa pangeran itu pasti sudah menjadi hantu" Mey Mey menjawab sekenanya. "Maksudmu Pangeran Huang Di?" Kwan Yiew bertanya lagi. "Siapa lagi kak, hanya dia kan pangeran dirumah ini" Mey Mey menjawab kesal. "Memangnya apa yang dia lakukan pada adik tersayangku ini" Kwan Yiew memasang wajah lucu pada untuk menggoda Mey Mey. "Kakak! kau itu mau bertanya apa mau meledekku!" Mey Mey menghentakkan kaki nya kesal. Kwan Yiew tahu sebentar lagi adiknya itu pasti menangis dan merajuk jadi dia mengurungkan niatnya untuk menggoda lagi.


"Baiklah Mey er, apa yang dilakukan pangeran padamu, jika dia memang bersalah aku akan menghajarnya untukmu' Kwan Yiew pura pura serius. "Benarkah, kk janji?" Mey Mey memandang kakaknya dengan mata berbinar senang. Lalu Mey Mey menceritakan apa saja yang baru terjadi tadi, karena terlalu bersemangat Mey Mey juga menceritakan apa yang dilakukan pangeran padanya tadi siang, Kwan Yiew mendengarkan dengan penuh minat, namun saat mendengar pangeran lancang mencium adiknya Kwan Yiew mengepalkan tangannya menahan marah, dan saat itu Mey Mey yang melihat perubahan kakaknya baru menyadari bahwa dia tak seharusnya menceritakan hal itu pada kakaknya.


"Jangan takut, kakak tidak akan apa Mey er, kakak akan minta penjelasannya dulu, sebagai kakak aku harus menjaga kehormatan adikku, meski dia seorang pangeran dia tidak boleh seenaknya memperlakukan adikku" Kwan Yiew pergi meninggalkan Mey Mey.


"Bodoh.. bodoh, kenapa mulutku ini tidak bisa diam" Mey Mey memukul mulutnya menyesal telah bicara pada kakaknya. Para pelayan di dapur hanya menatap diam melihat apa yang terjadi. "Lian, aku harus apa?" Mey Mey bertanya pada Lian pelayannya, Lian hanya menggeleng, dan Mey Mey hanya bisa pasrah akan kecerobohannya ini.


Pangeran makan di layani Lian di kamarnya, sambil makan pangeran melihat ekspresi Lian yang sangat gelisah, berkali kali Lian menyeka keringatnya, padahal cuaca musim semi tidaklah panas. "Ada apa Lian ada yang ingin kau katakan padaku?" Pangeran bertanya pada Lian setelah dia menyelesaikan makan malamnya. "Ti..tidak Pangeran, tidak ada" Lian menunduk, membereskan mangkuk mangkuk kedalam baki dan keluar dengan tergesa.

__ADS_1


"Tok tok tok" Lee Kwan Yiew berdiri di gawang pintu, "Boleh hamba masuk pangeran? ada hal penting yang ingin hamba bicarakan" Lee Kwan Yiee menunggu jawaban pangeran. "Silahkan prajurit Lee, aku juga ingin menyampaikan sesuatu, kebetulan kau disini, apa tidak sebaiknya Tabib Lee juga hadir, bisa kau memanggilnya dahulu?" Pangeran memerintah. "pangeran, menurut hamva hal ini cukup kita bicarakan berdua saja" Kwan Yiew bicara sedikit tegas.


"Maaf aku tidak setuju denganmu Prajurit Lee, panggillah Tabib Lee, baru kita bicara" Pangeran menjawab tegas dan memandang Kwan Yiew dengan tatapan tajam, mata itu seakan berkata "Jangan bantah aku Kwan Yiew, patuhi saja". Akhirnya Kwan Yiew mengalah, membungkuk hormat dan meninggalkan Pangeran dengan wajah kesal.


Tak lama kemudian Kwan Yiew datang lagi dengan bersama ayahnya. mereka membungkuk hormat dan berdiri di hadapan pangeran. "Apa kalian punya ruang bawah tanah, atau semacamnya, aku ingin kita bicara disana". Pangeran berkata sambil menatap tabib Lee. "Mari pangeran, tabib Lee langsung mengarahkan pangeran untuk mengikutinya, Tabib Lee berjalan disamping pangeran, dan Kwan Yiew mengikutinya dari belakang. mereka masuk ke rumah utama dan Tabib Lee menuntun pangeran masuk ke kamar itu. Pangeran menatap sekeliling kamar, semua terlihat biasa biasa saja, terdapat seperangkat meja kursi dan lemari yang penuh buku di dua sisi nya, satu buah ranjang dengan kelambu berwarna merah nampak paling menonjol di kamar itu.


Tabib Lee mengambil sebuah buku dari rak, tiba tiba lemarinya bergerak bergeser kesamping kanan. Tabib Lee mengangkat karpet yang berada di bawah lemari, terlihatlah sebuah tangga yang menuju ke bawah tanah. Tabib Lee mempersilahkan pangeran untuk turun lebih dulu.


Mereka tiba di ruang bawah tanah yang cukup luas, terdapat 1 buah meja besar di tengah ruangan, dengan 12 kursi di kelilingnya, di dinding kanan dan kiri dipenuhi buku buku yang terlihat sangat tua, di sudut ruangan menghadap tangga terdapat sebuah meja besar dengan rak penuh botol botol berisi ramuan, sepertinya ini ruang rahasia tempat tabib Lee meramu obat pikir pangeran. Pangeran duduk di kursi utama. Tabib Lee duduk di sisi kanaan pangeran, dan Kwan Yiew hanya berdiri di samping Pangeran. "Duduklah prajurit Lee" Pangeran memerintah sambil menunjuk kursi di sisi kirinya. Kwan Yiew menatap ayahnya, saat tabib mengangguk Kwan Yiew baru duduk di samping pangeran.


"Baiklah tabib, sepertinya tempat ini sangat cocok untuk pertemuan kita selanjutnya" Pangeran membuka bicara. "Terima kasih sudah merawatku, berkat kau aku tidak jadi ke alam baka" Pangeran berusaha menghilangkan kekakuan yang ada, Tabib Lee tersenyum mendengar gurauan pangeran Hong di, dan kemudian segera bangkit, mengangkat tangan dam menyatukan di depan dada "Suatu kehormatan bagi hamba bisa menyelamatkan pangeran".


13615 view, tq reader semua, yang ngga suka gantung, tabung aja dulu, part Mey Mey masih 2 atau 3 part lagi baru kelar, author cuma bisa up 1 part sehari, happy readingπŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜˜πŸ˜‚

__ADS_1


__ADS_2