
Ternyata apa yang dilakukan Suri diperhatikan kakeknya sejak tadi. "Ngapa ***" (Ada apa cucu) Kakek bertanya penuh curiga "Dadak ay kaek, Key cium bau kambang nek harum bangat" (Tidak ada apa apa kakek Key hanya cium bau bunga ini harum sekali) Keyza beralasan.
Mereka masuk ke rumah kayu itu, rumah yang sangat indah dengan jendela jendela tinggi yang terbuka lebar. Isi rumah tertata rapi dengan perabotan yang semuanya terbuat dari kayu jati, tanpa sekat dan tanpa kamar di lantai bawah membuat rumah terasa sangat luas, seisi rumah terlihat sudah kuno tapi masih terawat dengan baik. Suasana mistis begitu terasa di rumah besar itu, tidak terlihat satu orang pun penghuni di dalamnya, hawa dingin yang menyengat membuat bulu kuduk merinding.
Mereka di pandu untuk duduk di ruang tamu, semua kursi berjajar menempel di dinding rumah, tidak tahu apa tujuannya, sedikit aneh memang rumah yang luas terasa semakin luas karena perabotan yang berjejer menempel di disisi dinding, seakan ada pesta jamuan yang akan dilaksanan. Belum puas melahap isi rumah itu, sang tuan rumah datang dari arah tangga di lantai dua. Tanpa basa basi pria itu duduk berhadapan dengan Angah Handran, ekspresi dingin membuat wajah tampannya sedikit menakutkan.
"Langsung hajak ka intinyak, andika sudah tahu luku apa yang ulun handaki" (langsung saja ke intinya, kamu sudah tahu kan apa yang aku mau). Pria itu berkata sambil menatap tajam pada Angah Hadran.
"Bujur pak katua, kami sudah tahuk apa yang pak katua handak, tapi maaflah pak katua, kadadak lagi kah jalan lain, kamanakan ulun ni anaknya saikung narai, mun kawa, tulung pang kita cari jalan lain". (Bujur pak ketua, kami sudah tahu apa yang pak ketua mau, tapi maaf pak ketua, apa tidak ada jalan lain, ponakan saya ini anaknya cuma satu ini saja, kalau bisa tolonglah kita cari jalan lain) Angah Hadran berbicara dengan suara rendah namun masih jelas terdengar.
Sang pria pemilik rumah terlihat marah matanya memerah, tapi sesaat kemudian, wajah nya kembali dingin. "Mun kadak handak cara ituk, anakmu kawin wan anakku, jaga inyak, jadi mata untuk anakku" (kalau tidak mau cara itu, nikahkan anakmu dengan anakku jadi mata untuk anakku) Sang tuan rumah berbicara dengan tegas dan tajam.
__ADS_1
Zulkifli yang mendengar, langsung berdiri ingin marah, tapi di tahan Angah Hadran dengan pandangan matanya Angah Hadran minta Zulkifli duduk kembali.
Mun kayak itu pak katua, kami bulik huluk handak berunding wan dunsanak di rumah, bagi kami waktu 3 hari sagan bafikir ( Kalau begitu ketua kami pulang dulu, mau berunding dengan keluarga kami dirumah, beri kami waktu 3 hari untuk berfikir) Angah Handran memohon pada Pak Ketua. "1 hari hajak, ulun bari waktu 1 hari, sudah lawas bangat kami mahadang, kami kadak kawa mahadang lagik, mun andika kadak datang kami surang yang ma ambili" (Satu hari saja, saya kasi kamu waktu 1 hari, sudah terlalu lama kami menunggu, kami tak bisa menunggu lagi, jika kamu tidak datang kami sendiri yang akan menjemput).
Ayuhak mun kayak itu pandir katua kami umpat hajak, mun bulih kami handak batamu wan anak katua sabalum kami bulik. (Baiklah kalau begitu kami ikut saja apa kata ketua, kalau boleh kami ingin bertemu dengan anak ketua sebelum kami pulang) Angah Hadran berkata lagi, dan dijawab dengan anggukan oleh pak ketua.
"Jupin!" pak ketua memanggil. "Ulun katua" laki laki bernama Jupin datang dengan setengah berlari. "Bawak Iin" perintah ketua singkat. Laki laki bernama Jupin mengangguk dan seperti tadi langsung pergi dengan terburu buru. Tak lama kemudian Jupin terlihat menggandeng seorang laki laki tampan dari arah belakang rumah. "Pangeran Indra!" Suri menutup mulutnya agar tidak berteriak. 'Ternyata kau disini kanda' Suri membatin senang.
Zulkifli terduduk lesu, tidak terbayangkan Keyza anaknya begitu mudah setuju menikah dengan anak ketua itu. Ayahnya yang juga terkejut hanya mengurut dadanya yang tiba tiba sakit. "Yuk Kita bulik, kita pandirkan di rumah" (Yuk kita pulang, kita bicarakan ini di rumah) ayahnya berbicara dengan tersendat sendat. Meskipun bingung Zulkifli masih sadar bahwa keadaan ayahnya sedang tidak baik baik saja.
Sementara Suri entah sejak kapan sudah duduk di depan pangeran Indra, menatap wajah kekasih yang sangay dirindukannya itu, Suri menggenggam tangannya, namun Pangeran Indra diam saja. "Sayang, yuk kita pulang" Zulkifli memanggil Keyza, tapi Keyza seperti di hipnotis hanya diam memandang Pangeran Indra tanpa berkedip sedikitpun. "Sayang" Zulkifli menyentuh pundak Keyza "Yuk kita pulang" Keyza dengan enggan melepaskan tangan pangeran Indra. "Aku pulang dulu" bisik Keyza, tapi pangeran Indra tetap tak bergeming.
__ADS_1
Sepanjang jalan pulang tak ada yang bicara, semua sibuk dengan fikiran masing masing, perjalanan 2 jam terasa makin panjang.
Tiba di rumah Angah Hadran langsung meminta Zulkifli untuk memandikan Keyza dengan air ramuan yang telah disiapkannya "Zul, mandikan anakmu wan banyuk ini, cari kambang 7 rupak, limau nipis 7 serangkai" Angah handran memerintah. "Pindi" Zulkifli memanggil asistennya yang bernama Pindi, "Cari kambang 7 rupa, wan limau nipis 7 serangkai" Zulkifli memerintah "Ha? 7 serangkai?" Pendi begitu terkejut "Ngapa?" Zulkifli bertanya melihat Pindi yang terkejut "Ngalih cariannyak pak ay" (Sudah mencarinya pak) Pendi menjawab pelan, takut majikannya itu marah. "Mum sanang dicari kusuruh hajak Wati nukar dipasar kadak ngalih nyuruh ikam pindi ay, jangan bulik mun balom dapat" (Kalau mudah tidak kusuruh kamu mencarinya pendi, kusuruh saja Wati membelinya di pasar, jangan pulang kalau belum dapat) Zulkifli berkata datar, namun terdengar di telinga Pindi seperti pemberitahuan PHK, Pindi mengangguk lemah, dan segera berlalu mencari apa yang di minta majikannya itu.
Zulkifli masuk ke kamar, dan disambut Amira yang menyilangkan tangan di dada "Dapat ikannya bang?" Amira menatap sinis pada suaminya itu. Zulkifli hanya meringis, menggaruk kepalanya yang tak gatal. 'Belum selesai 1 masalah muncul lagi masalah baru' bathin Zulkifli. "Maaf sayang, aku capek, mau mandi dulu" Zulkifli buru buru masuk ke kamar mandi, namun di halangi oleh istrinya "Dari tadi aku sudah curiga, abang pasti bohong kan? bilangnya pergi mancing padahal ngga kan? abang kemana? sebenarnya apa yang terjadi? Amira terus saja bicara bak serangan mortir yang tak henti hentinya Zulkifli hanya tersenyum melihat tingkah istrinya itu. Zulkifli fokus pada bibir yang terus mengoceh itu dan langsung mencium istrinya, ********** dalam dalam, Amira yang tak menyangka mendapat serangan mendadak itu hanya melotot dan diam mematung.
Zulkifli yang melihat istrinya diam, langsung melepaskan ciumannya, segera masuk ke kamar mandi, dan menguncinya dari dalam. Amira yang baru sadar akan apa yang terjadi langsung menggedor gedor kamar mandi." "abangggggggg" ha.. ha.. ha.. Zulkifli tertawa penuh kemenangan karena bisa menghindar dari kebawelan istrinya itu.
tq viewers, semoga senang ya, 3 part hari ini, lumayan kaku ngetiknyaπ btw tq reader semua happy reading n tetap love you 7 turunanππππ πππ
Eits!! jangan lupa sedekah like dan komen nya dibanyakin bye sayang.....πππππππ
__ADS_1