
Pangeran Indra membaringkan Suri di atas ranjangnya, Panglima Hang Tuah hanya memperhatikan saja, Arya Wisesa memandang panglima Hang Tuah dan memberi isyarat dengan pandangan mata mengajak Panglima Hang Tuah keluar dari sana, panglima mengangguk tanda mengerti, dan mereka keluar bersama tanpa bicara sepatah katapun.
Namun saat mereka berdua baru tiba di gawang pintu, pangeran Indra memanggil kakeknya, "Kakek, mengapa Suri belum sadar juga?". Arya Wisesa berbalik "Biarkan saja dia istirahat, besok pagi pasti Suri sudah sadar kembali, ayo kita pulang biarkan dia istirahat" Arya Wisesa memerintah. "Tapi kakek" Pangeran Indra ingin membantah "Tak ada tapi tapi ayo kita pulang". Dengan langkah malas akhirnya pangeran Indra menuruti perintah kakeknya.
"Pulanglah lebih dulu, kakek masih ada yang harus dibicarakan dengan panglima" Arya Wisesa berkata lagi saat mereka sudah berada di ruang tamu. "Baiklah kakek" Pangeran Indra menjawab singkat, percuma membantah karena apa yang telah di ucapkan kakek gurunya itu adalah titah yang tidak boleh di bantah.
Pangeran Indra pulang ke istana dengan menaiki kereta kuda milik panglima Hang Tuah, walau sebenarnya pangeran lebih nyaman untuk berkuda sendiri saja, tapi karena panglima sudah menawarkan untuk menggunakan kereta kuda keluarganya pangeran sungkan untuk menolak. Jalanan berbatu membuat kereta kuda seakan lewat di jalan yang bergelombang, keadaan yang sangat tidak disukai pangeran karena bisa membuat perutnya menjadi mual, tapi apa boleh buat pangeran harus menahannya selama perjalanan menuju istana, tubuh lelahnya tak mampu membuat matanya terpejam karena perjalanan yang sangat tidak menyenangkan ini, jarak kediaman panglima dan istana yang tidak terlalu jauh menjadi terasa lebih lama.
Lewat dari 1 dupa pangeran tiba di gerbang Istana, pangeran langsung buru buru keluar, menuju paviliunnya dengan tergesa, pangeran sangat lelah dan ingin beristirahat segera. Tiba di paviliunnya, 2 orang dayang telah menanti, membantu pangeran mandi, dan menyediakan makanan, semua dilakukan pangeran dengan cepat. setelah selesai pangeran pun langsung tertidur pulas.
__ADS_1
Pangeran terjaga saat merasakan ada tangan yang menepuk pipinya, tepukan yang cukup keras, hingga pangeran bangun dengan segera untuk balas menyerang. "Arya? kau?" Pangeran Indra menarik tangannya yang sudah siap melepaskan pukulan. "hupppp, untung saja, selamat selamat" Arya mengusap usap dadanya menenangkan diri, kalau saja.tadi kakaknya melepaskan pukulan entah apa yang terjadi padanya.
"Kau pulang dari akademi? mengapa aku tidak tahu? ada hal penting apa? kau tidak kabur kan? Pangeran Indra bertanya bertubi tubi. "Kakak macam apa kau ini, ini hari pernikahanmu apa aku tidak boleh hadir? apa kau sudah tidak menganggapku adik?" Arya Buana menjawab ketus pura pura kesal.
"Menikah?" Pangeran Indra bingung lalu melihat sekeliling kamarnya, seluruh dinding sudah penuh dengan tirai tirai sutra putih dengan sulaman benang emas, bunga mawar putih ada dimana mana termasuk di tempat tidurnya. Pangeran Indra menggaruk kepalanya yang tak gatal, 'Apa lagi kali ini, kemarin aku terbangun sudah menikah dan sekarang akan menikah,hmmmmm semoga saja tidak ada hal buruk lagi yang terjadi' Pangeran Indra membatin bingung sambil menarik nafas panjang.
"Cepatlah bangun kanda, apa kanda tidak mau menikah? kalau tidak mau aku rela menggantikanmu, sungguh rugi menolak menikah dengan putri secantik Dayang Suri" Pangeran Arya Buana pura pura membayangkan wajah cantik Dayang Suri. Tiba tiba "Bug! Aww" Sakit kanda! aku cuma bercanda!" Pangeran Arya lari untuk menghindari pukulan kakaknya. "Apa kau sudah bosan hidup berani beraninya membayangkan Suriku" Pangeran Indra bersungut kesal, sedangkan pangeran Arya langsung lari sambil tertawa meninggalkan kakaknya yang masih kesal dan berkata "Dasar budak cinta, dengan adiknya saja dia cemburu".
Hari ini adalah ritual pertama hari pernikahannya, mereka melaksanakan ritual mandi pengantin di kediaman masing masing, mandi pengantin di laksanakan dengan tujuan membersihkan diri lahir dan batin sebelum pesta pernikahan dilaksanakan.
__ADS_1
Pangeran Indra berjalan perlahan menuju tempat pemandian, matanya menyapu sekeliling tempat pemandian itu, gazebo di taman paviliunnya telah di sulap menjadi tempat ritual pemandian, di keliling gazebo dihias dengan kain kain putih yang sama dengan hiasan yang ada di di dalam paviliunnya permaisuri sudah duduk dengan anggun di gazebo itu memakai pakaian serba putih dilengkapi selendang putih dan mahkota kecil di kepalanya, tetua tetua yang biasa memimpin ritual sudah bersiap berdiri di kiri kanan permaisuri, tidak ketinggalan beberapa dayang juga sudah siap membantu pelaksanaan ritual.
Acara pemandian di mulai dengan pembacaan doa oleh tetua adat, dilanjutkan dengan menyiramkan air pada calon pengantin yang dilakukan langsung oleh permaisuri, selanjutnya sisa air pemandian disiramkan keseluruh paviliun untuk menghindarkan pengantin dari segala gangguan yang akan menghambat jalannya upacara pernikahan nanti.
Acara berlangsung hikmat, saat pangeran Indra selesai, para dayang berebutan untuk mencuri air sisa pemandian, konon air tersebut bisa membuat awet muda. Suara suara dayang yang tertawa sambul berbisik bisik membuat pangeran tersenyum bahagia, hari pwrnikahan yang dinanti nanti akhirnya datang juga.
Selesai acara pemandian tubuh pangeran di pijat, dan di lulur, pangeran sempatenolak melakukannya karena merasa itu adalah ritual bagi wanita saja, namun tatapan tajam dari ibunda permaisuri membuat pangeran akhirnya pasrah, pun saat diberi minum ramuan jamu yang pahit pangeran terpaksa meminumnya, permaisuri berkata minun jamu baik untuk kesehatannya agar kuat menjalani acara ritual pernikahan yang panjang dan melelahkan.
Kuku kuku pangeran juga diberi pacar, pewarna yang berasal dari tumbuhan inay yang membuat kuku menjadi berwarna kuning kemerahan, tanda khas bagi pasangan yang menikah, pangeran hanya geleng geleng kepala, lagi lagi ia tak bisa menolak karena seluruh ritual di pimpin langsung oleh ibunda permaisuri.
__ADS_1
Arya Buana yang datang melihat langsung mengambil kesempatan itu untuk menganggu kakaknya "Sudah kukatakan kanda, jika tak ingin melakukannya aku siap menggantikan kanda" Arya berbisik di teliga pangeran Indra, membuat pangeran Indra melotot pada adiknya itu. Apa yang dilakukan pangeran Indra dan Pangeran Arya tak luput dari perhatian ibunda permaisuri yang langsung melotot pada kedua putranya itu. "Awas kau" Pangeran Indra bertelepati dengan adiknya, yang dibalas dengan juluran lidah pangeran Arya sambil berlalu. Ibunda permaisuri hanya tersenyum melihat tingkah kedua putranya itu. Sejak kecil Pangeran Indra dan Pangeran Arya selalu saja berkelahi ada ada saja kelakukan mereka yang membuat mereka harus dihukum namun pada dasarnya mereka saling menyanyangi satu sama lain, apa yang mereka lakukan hanyalah kenakalan biasa sebagai anak laki laki.