
Sudah 7 hari berlalu sejak Pangeran Indra menjadi tahanan di penjara bawah tanah. dan sejak saat itu pula Putri Ayu tak pernah meninggalkan kamarnya, Putri tak ingin makan dan hanya minum sedikit saja, tubuhnya makin lemah, hanya bisa berbaring di tempat tidurnya, matanya sembab karena tiap hari menangis, wajahnya kuyu, tak ada cahaya lagi di wajahnya, Ayu seperti raga tanpa nyawa.
Sementara Yang Mulia Raja Gajah Pati belum mengambil keputusan hukuman apa yang akan diberikan pada putranya itu. Yang mulia bimbang, jika pangeran Arya di hukum mati, Putri Ayu pasti tak akan bisa menerimanya, jika Pangeran Arya di ampuni yang mulia takut dirinya dianggap lemah, rumor akan beredar dengan cepat, bukan tidak mungkin akan ada pemberontakan, dan juga ancaman lainnya yang akan sangat merugikan bagi Kerajaan Majapada.
Yang mulia bagai makan buah simalakama, sungguh pilihan yang sulit, hingga akhirnya Yang Mulia terpaksa mengambil keputusan Pangeran Arya Dwipangga harus dijatuhi hukuman mati. Bagi yang mulia kepentingan kerajaan harus di dahulukan dari kepentingan pribadi. Meskipun harus kehilangan putra, Yang Mulia terpaksa harus merelakannya.
Putusan hukuman dari yang mulia Raja Gajah Pati telah dibacakan, Pangeran Indra hanya tersenyum, tak ada raut kesedihan di wajahnya. 'Sungguh aneh, tak ada raut kesedihan di wajah pangeran mendengar hukuman mati' Perdana menteri yang membacakan keputusan membatin, keningnya berkerut memandang pangeran Arya. Biasanya tahanan yang akan dihukum mati, akan menangis memohon pengampunan, baru kali perdana menteri melihat tahanan yang tersenyum.
Pangeran Indra yang mendengar suara hati perdana menteri hanya meringis. "Perdana menteri, kau menganggap aku aneh? tak perlu berfikir begitu aku hanya memenuhi garis takdirku di kehidupan ini, di kehidupan yang akan datang semoga kita bertemu lagi, terima kasih atas segala kebaikanmu padaku" Pangeran tertawa menyeringai. Perdana Menteri makin bingung dan akhirnya hanya bisa geleng geleng kepala melihat tingkah pangeran Arya yang tak biasa itu.
Malam terasa amat panjang, Pangeran Indra mendesah, menggoyang goyangkan tangan dan kakinya yang terasa pegal karena di rantai. Tiba tiba terdengar suara pintu sel tahanan yang dibuka, "Dikmas" Suara yang begitu dikenal pangeran Indra, suara kakaknya pangeran Adipura. "Ya, kangmas, aku disini, pangeran Indra sengaja bergerak dan menimbulkan bunyi rantai yang gemerincing di kakinya, agar pangeran Adipura mengetahui keberadaannya. Sel tahan yang sangat gelap dan pengap membuat pangeran tidak terlihat sama sekali. Adipura mendekat, meraba raba keberadaan adiknya, hingga saat tangan mereka saling bersentuhan pangeran langsung memeluk adiknya itu.
__ADS_1
"Dikmas kenapa semua jadi begini" Pangeran Adi berkata penuh haru. "Tidak apa apa kangmas, ini sudah suratan takdirku, aku harus mati di tiang gantungan. "Tapi dikmas sebagai kakakmu kangmas tidak tega melihat semua ini, Aku akan memohon pengampunan untukmu dikmas, demi kau, dan demi diajeng, aku rela jika harus menggantikan kalian". Pangeran Adipura bicara tersendat sendat, menahan emosi dan sesak yang teramat sangat di dadanya.
Pangeran Adi tahu sulit baginya untuk menerima kenyataan bahwa Pangeran Arya yang ada dihadapannya ini bukanlah adik kandungnya, tapi satu hal yang diyakininya jika Pangeran Arya meninggal, Adik perempuam yang sangat disayanginya pasti takkan sanggup hidup lagi.
"Tidak kangmas, jangan lakukan itu, Ayahanda hanya melakukan tugasnya, ini sudah garis takdirku kangmas, tak ada yang bisa menolak kehendak penguasa langit" Pangeran Indra mencoba menenangkan Pangeran Adi.
"Baiklah, jika dikmas tak ingin kangmas melakukan itu, dikmas harus setuju dengan rencana kangmas yang kedua" Pangeran Adi berkata lagi. "Rencana apa itu kangmas?". Pangeran Indra bertanya cemas. "Larilah, pergilah yang jauh. bawa diajeng bersamamu, kangmas akan berusaha melindungi kalian" Pangeran Adi berkata dengan yakin.
"Apa? Lari?" tidak kangmas, aku bukan laki laki pengecut, Pangeran Indra menolak dengan tegas ide gila pangeran Adi untuk melarikan diri. "Aku mohon dikmas, jangan egois, kangmas lakukan ini demi diajeng, dia tak kan sanggup hidup tanpamu dikmas, aku mohon" Pangeran Adi berkata sungguh sungguh andai Pangeran Indra melihat matanya yang mulai berkaca kaca pasti dia tak akan tega menolak keinginan kakaknya itu, pangeran Indra sudah yakin dengan keputusannya ini. Lebih cepat dihukum akan lebih baik baginya, maka fase berikutnya akan segera dijalani. Pangeran Adi diam tak sanggup berkata kata lagi, akhirnya melangkah lemah meninggalkan sel tahanan yang gelap dan dingin itu.
Di sudut lain segerombolan lelaki juga saling bergosip. "Pangeran hebat, aku kagum padanya" seorang pemuda berambut perak dan berpakaian serba putih memuji pangeran, sambil tangannya tak henti mengibaskan kipasnya. "Apa hebatnya, kalau harus mati muda, kalau aku jelas tak akan mau" jawab temannya yang berpakaian merah, terlihat dari pakaiannya mereka adalah golongan bangsawan. Disudut lainnya lagi terdengar juga bisik bisik para tetua, kagum dengan ketegasan Yang Mulia Raja Gajah Pati, Raja sangat tegas dan bijaksana sehingga berani mengambil keputusan menghukum putranya sendiri.
__ADS_1
Semua yang datang melihat eksekusi sibuk dengan argumen masing masing. Sementara para pengawal dan prajurit kerajaan masih sibuk mengurus persiapan eksekusi, ada yang memasang tenda, ada juga yang menyusun kursi, dan tukang jagal sibuk memeriksa tali gantungan dan perlengkapan lainnya.
Tak sampai satu dupa Pangeran Indra tiba di tempat itu, dibawa dalam kerangkeng seperti hewan buruan, semua mata menatap kasian pada pangeran Indra. Pangeran hanya tersenyum, jika dia mau rantai di tangan dan kakinya juga kerangkeng besi ini akan sangat mudah dihancurkan, tapi untuk apa? makin cepat hukuman dilaksanakan akan makin baik, satu fase hukuman selesai, dan akan berlanjut ke fase berikutnya, impian bersama dengan Suri membuatnya tersenyum.
Rombongan kereta Yang Mulia Raja Gajah Pati tiba, pengawal berbaris membuat pagar betis agar rakyat yang menonton memberi jalan, yang mulia datang bersama perdana menteri, panglima perang dan menteri kehakiman beberapa prajurit utama mengawal mereka di kiri kanan, siap siaga dengan segala serangan tiba tiba.
Keputusan dibacakan ulang, Pangeran Indra diberi waktu untuk membela diri. Tapi dia hanya tersenyum dan berkata dengan yakin' "Aku pantas di hukum, aku bersalah" semua tertegun mendengar ucapan pangeran itu.
Algojo telah bersiap di tiang gantungan dan kepala pangeran Indra juga sudah di lilit tali, tinggal satu kali tarikan algojo, maka nyawa pangeran Indra akan terlepas dari badan.
"Ucapkan permintaan terakhirmu" perintah prajurit yang tadi membacakan keputusan Yang Mulia Raja. "Lemparkan mayatku ke jurang" Pangeran menatap ayahandanya drngan tajam. Semua yang mendengar terkejut, karena permintaan yang aneh itu. Yang mulia raja berdiri, ingin marah atas permintaan terakhir anaknya itu, tapi sesaat kemudian yang mulia menjawab "Aku kabulkan" Yang mulia duduk kembali, mengepalkan tangannya menahan gelisah.
__ADS_1
"Terima kasih ayahanda" pangeran melempar senyum pada ayahandanya. Yang mulia memberi tanda pada algojo untuk melaksanakan tugasnya dan algojo langsung menarik tali gantungan, menendang kursi pijakan pangeran Indra, dan seketika pangeran Indra meregang nyawa di tiang gantungan. "Tidaaaaaaaaaaaak... suara teriakan seorang gadis membuat semua menoleh ternyata Putri Ayu berlari dengan tertatih tatih menuju tiang gantungan, dan dengan cepat mengambil pedang yang tergantung di pinggang algojo, dan menancapkannya ke jantungnya. "Aargk... Ayu tersenyum memeluk kaki pangeran Indra yang masih tergantung dan berkata "Aku akan pergi bersamamu kangmas, tunggu aku" Ayu mati dengan senyuman di wajahnya. Semua terpana dengan semua kejadian yang terjadi tiba tiba itu. Permaisuri yang baru tiba langsung jatuh pingsan melihat mayat Ayu dan Pangeran Arya. Yang mulia raja Gajag Pati hanya terduduk lesu di kursinya tak tahu harus berbuat apa semua hanya bisa terpana.
7295 view, tq viewers yang baik hati, jangan lupa author tetap setia menunggu like dan komen maniz dari mu, tetap dukung Indra dan Suri ya reader sayang, love you 7 turunan 😘😘😘 😘😘😘😘