
Panglima membungkuk hormat saat pintu paviliun terbuka lebar, tak menyangka jika Permaisuri Kenanga masih berkenan menemui putrinya sebelum ikrar janji pernikahan, antara sedih dan bahagia campur aduk di bathin panglima, andai istrinya masih ada, saat ini akan jadi hari paling bahagia untuk mereka, karena akan jadi sempurna bisa mendampingi putri tersayang menuju pelaminan, tapi takdir berkata lain hari ini hanya panglima seorang diri yang akan menemani Suri menuju pelaminan.
Panglima melangkah dengan penuh wibawa, menggandeng tangan Putrinya menuju balairung istana. Dari kejauhan terdengar sambutan dari Baginda Raja Surya Warman berterima kasih atas kehadiran para tamu undangan.
Panglima dan rombongan pengantin wanita menunggu di ruangan khusus bagi mempelai wanita di lantai 2 balairung istana, dari sana terlihat seluruh ruangan yang sangat indah penuh dengan tamu tamu kehormatan.
Di bagian timur terlihat permaisuri duduk di singgasananya, tersenyum menatap baginda raja Surya Warman yang sedang bersemangat menyampaikan pidato sambutan di podium utama. Permaisuri sangat cantik dam anggun dengan baju kebesarannya berwarna kuning gading bersulam emas, tak lupa 1 set perhiasan berlian dan mahkota yang berkilauan makin menyerlahkan kecantikannya.
Di pelaminannya Putra Mahkota Mulya Warman nampak gagah dengan pakaian kebesarannya hari ini berwarna merah lengkap dengan keris yang makin melengkapi penampilannya. Pangeran nampak tak sabar menanti acara pernikahannya sesekali nampak pangerab menatap ke arah tangga berharap bisa melihat Suri disana. Para dayang berbisik bisik dan tertawa cekikikan melihat tingkat putra mahkotanya.
Di bagian barat berjejer para petinggi kerajaan beserta istrinya dengan seragam kebesaran kerajaan. Di bagian utara khusus bagi kerabat raja dan permaisuri, sementara di bagian timur di khususkan bagi kerabat mempelai wanita,dan meja meja bagi tamu tamu undangan berada di tengah tengah balairung istana berjejer menghadap ke depan pelaminan, semua nampak tertib mengikuti jalannya acara. Sementara di luar rakyat sudah memenuhi halamam istana hingga tumpah ruah ke jalan jalan mereka juga ingin menghadiri acara pernikahan Puyra Mahkota mereka, tak sabar menunggu kirab pengantin lewat di hadapan mereka.
__ADS_1
Tiba-tiba saja dari luar istana terdengar suara riuh, suara guntur menggelegar pertanda akan segera turun hujan, tak lama kemudian terdengar teriakan para pengawal Aaaaark.. aaraark... dan masuklah tamu tak diundang berpakaian serba hitam dengan pedang pedang mereka yang sudah berlumuran darah, mereka membunuh seluruh pengawal yang coba menghalagi mereka, seketika pesta pernikahan berubah menjadi pemakaman, para tamu undangan berlari menyelamatkan diri.
Sesaat kemudian muncullah seorang bertopeng emas dengan jubah hitam, terlihat dari pakaiannya dialah pemimpin para penyerang itu.
Mendengar suara ribut ribut dibawah panglima segera keluar ruangan dan melihat balairung istana sudah kacau balau, "Ada apa ini? siapa yang berani melakukan ini di hari pernikahan anakku? kalian tak akan selamat, akan kubunuh kalian semua" Panglima Hang Tuah berteriak marah, suaranya menggema di balairung istana.
Putra Mahkota pun tak kalah murka, dia segera menghunus keris nya, siap menghadang para pengacau, hari pernikahan yang sudah dinanti nantikan sejak lama hancur berantakan karena tamu tak di undang ini.
"Siapa kau? apa kau sudah bosan hidup hingga berani mengacaukan hari pernikahanku!!!". Pangeran Mulya Warman berteriak lantang, Pangeran bertopeng emas tersenyum sinis "Kau sudah merebut kekasihku, tak ada yang boleh mengambil milikku, apa kau mengerti, walaupun segala cara kau lakukan semua tak akan berhasil, dia milikku Pangeran, hanya milikku!!!
Pangeran Indra mengeram menahan marah, "Tak usah bertolak dalih lagi pangeran, terserah apa yang kau katakan hari ini aku akan menjemput Suri tak ada yang bisa menghalangiku!"
__ADS_1
"Langkahi dulu mayatku anak muda, tidak ada siapapun yang bisa mengambil anakku tanpa izinku" Panglima berteriak dan melompat dari lantai 2 ke arah Pangeran Indra, gerakan yang sangat halus hingga terlihat seperti sedang terbang.
Dengan pedang terhunus panglima langsung menyerang Pangeran Indra, tapi serangan panglima hanya mengibas angin, dengan mudah Pangeran Indra sudah berpindah tempat, "Aku tak ingin menyakitimu panglima bagaimanapun kau adalah ayahanda Suri yang sangat kucintai"
"Cih, aku tak sudi menjadi mertuamu, jangan harap kau akan mendapat restuku. Panglima berkata sinis. "Tak ada yang bisa menghalangiku Panglima Suri hanya milikku, meski harus menunggu hingga 7 kelahiran berikutnya!"
Jedarrrr! tiba tiba petir menyambar, kata kata pangeran Indra sudah di dengar langit. "Kau dengar itu pangeran? penguasa langit mendengar ucapanmu, dan aku bersumpah kau tak akan bisa memiliki putriku hingga 7 kehidupan berikutnya, pangeran mengangkat pedangnya, seketika langit menjadi gelap, petir menyambar, guruh bersahut sahutan. Angin bertiup kencang, dan hujan lebat turun dengan tiba2.
Dalam sekejap istana Swarna Bumi yang megah hancur hanyut terbawa arus banjir. Semua sibuk menyelamatkan diri, jeritan dam tangis timbul tenggelam di dalam hujan yang semakin lebat.
Dengan susah payah pangeran Indra ingin menyelamatkan Suri, tapi sayang semua sudah terlambat, Suri tenggelam terbawa arus di bawah reruntuhan istana.
__ADS_1
"Tidaaaakkkkkkk" pangeran berteriak kalut, hilang sudah kekasih hati yang sangat dicintainya, hancur sudah dunianya. pangeran terpaku menatap puing puing istana swarna bumi.
Hallo reader terima kasih sudah membaca, 663 view bikin author jadi makin semangat nulis, inlove you so much more😘