
Saat Pangeran Indra kembali ke kamar, Suri sudah tertidur lelap. Perlahan Pangeran Indra tidur di samping Suri, melingkarkan tangan di pinggangnya dan menarik Suri kepelukannya. Tak menunggu lama mereka tertidur pulas tenggelam dalam pelukan malam yang semakin dingin karena hujan yang semakin lebat.
Kokok ayam di pagi hari membangunkan Suri. Namun tangan kekar yang memeluk erat pinggangnya menghentikan langkah Suri untuk segera bangkit dari ranjang. Suri berbalik menghadapkan wajahnya ke wajah tampan yang masih terpejam.
"Kanda.." Suri menepuk pelan pipi pangeran Indra. "Hmmmm..." hanya dijawab dengan helaan nafas yang terdengar enggan "Kanda..., cepatlah bangun, jangan bilang kanda akan menunggu kokok ayam berikutnya, kali ini dinda tidak akan tertipu lagi" Suri berbicara sambil terus membelai wajah suaminya yang tak kunjung bangun, namun sia sia pangeran sama sekali tak bergeming.
Melihat usahanya yang sia sia itu timbul ide Suri untuk menjahili suaminya. Suri menyentuh lembut bibir pangeran dengan bibir nya, hanya sekilas, nampak jelas dimata Suri pangeran tersenyum, dan sesaat kemudian "Aww!" pangeran sontak memegangi hidungnya, dan Suri bergegas lari karena tujuannya sudah tercapai, lepas dari pelukan suaminya yang sangat keras kepala. "Ha.. Ha..ha.." masih terdengar tawa Suri di ruang pemandian yang hanya berbatas tirai tipis itu. Pqngeran bangkit berdiri di depan cermin melihat hidungnya yang memerah bekas gigitan Suri.
__ADS_1
'Beraninya kau dinda' batin pangeran dengan mata melotot licik 'tunggu saja' batinnya lagi sambil melangkah pelan menuju pemandian, pelayan menunduk, tak berani menatap pangeran yang mendekat perlahan, dengan isyarat pangeran memerintahkan dayang yang sedang menggosok punggung Suri untuk menjauh.
Pangeran langsung menggantikannya, memijat pundak Suri perlahan. Pangeran memang ahli dalam memijat, menyatukan teknik akupuntur dan pijat tradisional membuat Suri merasakan pijatan yang sangat nyaman. Menikmati pijatan yang begitu nyaman ditambah air kolam yang hangat membuat Suri sangat rileks, perlahan Suripun memejamkan matanya. Dengan isyarat mata pangeran memerintah seluruh dayang keluar dari pemandian.
"Tidak beta sangka ternyata kau begitu ahli memijat dayang, nanti setelah acara selesai beta ingin di pijat olehmu, pasti akan sangat nyaman setelah hari yang melelahkan, mandi air hangat lalu dipijat", Suri tersenyum.
Mandi pagi yang melelahkan, pangeran menggendong Suri kembali ke kamar, Suri seperti bayi yang lemah hanya melingkarkan tangan di leher suaminya itu, pasrah tanpa perlawanan.
__ADS_1
Pangeran membantu Suri memakai pakaian dalamnya, sebelum memanggil para dayang untuk membantu merias. Hingga selesai tak ada yang berani bersuara melihat wajah dingin pangeran membuat mereka takut berbuat salah, hanya saling lirik dengan wajah takut, dan segera berundur setelah memberi hormat.
Pangeran mendekat, mengecup lembut pipi Suri yang kemerahan, namun tak di duga "Aww!" Suri mencubit pangeran Indra. "Mengapa dinda? Kanda salah apa?" pangeran bertanya bingung. "Dasar rubah" Suri bergumam, mereka saling pandang, dan sesaat kemudiqn mereka tertawa bersama.
"Harus begitu, jika tidak sepanjang hari dinda akan melihat wajah wajah menggoda para dayang" Pangeran menjelaskan di sela tawanya yang masih tersisa. Suri hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah belahan jiwanya yang nakal itu. "Dasar nakal" bisiknya, "Tapi suka kan?" Pangeran menyatukan keningnya dari tatapannya Suri tahu apa yang di inginkannya. Hingga saat mereka makin dekat Suri meletakkan jari telunjuknya di depan bibir, "Mengapa tidak boleh?" pangeran bertanya kesal. Bibir yang menggemaskan itu hampir saja jadi miliknya. "Dinda tidak mau berdandan ulang" jawab Suri "Bersabarlah sedikit lagi" Suri berbisik sambil menghembuskan nafas kuat di telinga pangeran lalu melangkah cepat ke arah pintu dengan senyum kemenangan, meninggalkan pangeran Indra yang hanya bisa mengepalkan tangan, terdengar bunyi gemerutuk dari kepalan jari jarinya.
"Kalah lagi" Tiba tiba angin Bayu sudah bersandar di jendela, seperti menyiram minyak ke api, kata kata itu membuat pangeran makin kesal, dan melemparkan sebilah pisau, dan Bayu hanya bergeser sedikit saat pisau menancap di kusen jendela, jika meleset sedikit saja, bisa dipastikan Angin Bayu hanya akan tinggal nama.
__ADS_1
"Ayo berangkat, apa kau datang hanya untuk merusak pagi indahku" Pangeran berucap kesal.