Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
40. Reinkarnasi Dayang Suri menjadi Putri Dara Jingga


__ADS_3

Pangeran Indra hanya terpaku menatap kerajaan Swarna Bumi yang sudah berubah menjadi sebuah danau. Hatinya hancur, namun apalah daya tak ada yang bisa melawan kehendak langit.


"Tunggu Aku Suri.... aku pasti akan menemukanmu, meski harus ke ujung duniapun, aku akan mencari...." Pangeran Indra berteriak ke arah danau.


Kerajaan Tanah Gadang


"Uhuk3x, Putri! Putri! Putri sudah sadar, Suri membuka mata dan melihat seorang wanita yang matanya berbinar binar senang melihat Suri sadar. "Siapa kamu? Hamba Siti Putri, dayang pengasuh putri, apa putri tidak mengingat hamba?" Suri hanya diam menatap bingung pada Siti, sebaiknya hamba memanggil Tabib untuk memeriksa keadaan Putri". Siti bergegas meninggalkan Suri.


Tak lama kemudian Siti muncul dengan seorang laki laki separuh baya dengan pakaian serba hitam dan lengkap dengan ikat kepala dan destar yang juga hitam, sebuah keris terselip di pinggangnya dialah Datuk Malin Kundang Tabib Kerajaan Tanah Gadang.


Datuk menghatur sembah, memohon izin memeriksa Nadi Putri,walau masih bingung akhirnya Suri menggulurkan tangannya juga. Datuk Malin Kundang Menatap tajam pada Suri, Suri memalingkan wajahnya tidak suka dengan sorot mata sang tabib.


"Bisa tinggalkan kami dayang?" Datuk Malin memerintahkan Siti untuk keluar, Siti menatap Suri memohon persetujuan, Suri mengangguk, dan Siti meninggalkan Suri berdua dengan sang tabib.


"Siapa kau?" Datuk Malin berbicara dengan suara tegas dan sorot mata yang bengis, mulutnya konat kamit merafal mantera lalu menjeput ibu jari kaki Suri dengan sebilah rotan, Suri yang terkejut ibu jari kakinya di pencet, menatap marah pada Datuk Malin "Apa yang kau lakukan Datuk? apa kau fikir aku ini kerasukan setan?" Suri menarik kakinya dan membuang muka karena marah dengan apa yang telah dilakukan Datuk Malin. Sesaat mereka hanya diam membisu tenggelam dalam fikiran masing masing.

__ADS_1


Setelah menarik nafas panjang Suri kembali menatap Datuk Malin. "Aku memang tidak tahu siapa diriku Datuk, Siapa namaku, darimana aku berasal, aku sama sekali tidak tahu, tapi aku bukan hantu atau roh jahat sampai kau harus memencet ibu jari kakiku, kau fikir aku kerasukan setan?" Suri tersenyum sinis, antara marah dan lucu mengingat perlakuan datuk Malin tadi.


Datuk Malin hanya diam, memandang Suri dengan penuh selidik, "Maafkan hamba Putri, tapi hamba akan tetap mencari tahu siapa putri sebenarnya, Karena raga yang kau pakai adalah raga Putri Dara Jingga, dia sudah koma selama 1 bulan karena racun dan aku yakin kau bukan Putri Dara Jingga".


"Putri Dara Jingga?" Suri mengulang nama itu dengan bingung, berusaha mengingatnya hingga kepalanya terasa sakit, tapi tetap tak bisa mengingat apa apa "Aah....kepalaku sakit sekali" tubuh Suri limbung dan jatuh terkulai di pembaringan.


Datuk Malin segera membetulkan posisi Suri yang ambruk tiba tiba, merebahkannya di bantal untung saja jatuh di ranjang jika tidak Suri pasti sudah terluka. Datuk segera memeriksa Nadi Suri, "hmmm.. syukurlah dia baik baik saja, sungguh aneh, sapa dia bukan Putri Dara Jingga, bukan pula roh halus, atau setan pengganggu lainnya, tapi aku yakin dia bukan Putri Dara Jingga, entah kemana rohmu tersesat Putri hingga ragamu diambil orang, semoga kau bisa menemukan jalan pulang". Datuk Malin bergumam pelan sambil menyelimuti Suri setelah memastikan keadaan Suri baik baik saja Datuk Malin memanggil Dayang Siti.


"Siti" Datuk Malin mengejutkan Dayang Siti yang duduk bersimpuh menunggu di depan kamar junjungannya. "Junjunganmu sedang tidur, beri dia makan bubur dan juga obat ini jika dia bangun nanti, pastikan dia menghabiskan semuanya" Datuk Malin menyerahkan bungkusan berisi obat pada dayang Siti. "Rebus dengan 3 gelas air hingga menjadi 1 gelas" Datuk Malin menjelaskan apa yang harus dilakukan Siti. " Baiklah Datuk, akan hamba laksanakan".


Siti menerima obat dengan gembira, Siti berharap junjungannya segera sembuh seperti sedia kala, sudah 1 purnama Siti hanya duduk di tepi pembaringan sesekali memijiti kaki dan tangan junjungannya, mengajaknya berbicara, tapi tak pernah ada jawaban, Putri Dara Jingga seperti putri tidur, terbujur kaku di pembaringan, hanya nafas pelannya yang menandakan dia masih hidup, Siti sangat sedih, hingga hari ini saat junjungannya sadar Siti tak bisa menahan keharuannya Siti menangis, tangisan bahagia, karena junjungannya telah kembali.


ondeh... ondeh.. lah laruik sanjo.....


urang padang mandi ka gurun...

__ADS_1


urang padang mandi kagurun...


mandi basiram bungo lado...


mandi basiram bungo lado..."


Siti bersenandung sambil mengaduk aduk ramuan obat di atas tunggu . "Semoga setelah minum obat ini putri segera sembuh Siti" berkata dalam hati terus mengaduk ramuat obatnya setelah selesai Siti bergegas kembali ke kamar Putri. Mendorong pintu dengan pelan agar tidak mengganggu junjungannya, kemudian duduk disisi pembaringan menunggu junjungannya bangun.


Sementara itu di ruang perpustakaan Raja Tanah Gadang Raja Bagagar Alam Sakti sedang berbicar serius dengan Datuk Malin. Datuk menjelaskan bahwa Putri Dara Jingga telah sadar, tapi dia yakin bahwa yang telah sadar itu bukanlah Putri Dara jingga hanya raganya saja Putri Dara Jingga tapi ruh nya bukan. "Apa kau yakin dia bukan putri beta datuk?" Raja Bagagar Alam Sakti menatap tak percaya pada Datuk Malin, "Hamba sangat yakin Tuanku". Datuk Malin membalas tatapan Raja Bagagar Alam dengan yakin. Selain sebagai tabib istana Datuk Malin juga penasehat kerajaan karena sangat bijaksana dan ilmu pengetahuannya sangat luas sehingga sangat membantu raja dalam mengambil keputusan di pemerintahan, Raja sangat menghormati Datuk Malin dan selalu mempertimbangkan pendapat Datuk Malin dalam mengambil keputusan.


Berbeda dengan petinggi kerajaan yang suka menjilat raja demi keuntungan pribadi, Datuk Malin sangat arif dan bijaksana tak pernah mencoba mengambil keuntungan dan menjunjung tinggi kepercayaan raja padanya.


"Jadi siapakah dia? Kemana Putriku? apa dia bisa kembali?" Raja Bagagar Alam Sakti memburu Datuk Malin dengan banyak pertanyaan. Datuk Malin hanya tersenyum melihat junjungannya yang tidak sabar ingin tahu keadaan putrinya "Maafkan hamba Tuanku, hamba belum bisa menjawab semua pertanyaan itu, Tuanku harap bersabar, hamba akan mengusahakan yang terbaik untuk putri, tapi maaf sepertinya Putri Dara Jingga tak akan bisa kembali lagi Tuanku"


Raja Bagagar Alam Sakti terdiam, wajahnya terlihat sangat sedih, perlahan wajah sedihnya berubah menjadi merah, tangannya mengepal menahan marah. "Kau memang pantas mati Pangeran Mudo Mangkuto karena sudah menolak putriku, semoga saja pembalasan dendamku kemarin bisa membuatmu hilang selamanya dari muka bumi ini ". Raja Bagagar Alam sudah membalas dendam, Pangeran Mufo Mangkuto sekarat karena bertarung dengan Raja Bagagar Alam. "Lakukan apa saja Datuk tak peduli siapa dia, dia akan jadi Putriku, Putri Dara Jingga, rahasiakan ini dari siapapun Raja Bagagar Alam menghempaskan tubuhnya di kursi. "Menjunjung titah tuanku" Datuk Malin pergi meninggalkan Raja Bagagar Alam namun belum jauh langkah Datuk Malin terhenti, mendengar suara Baginda Raja Bagagar Alam Sakti, "Tunggu, sebaiknya beta ikut bersama Datuk untuk melihat dia" Baginda raja alam melihat Datuk Malin tersenyum, "maaf maksud beta melihat Putri Beta Dara Jingga". Datuk Malin mengangguk, kemudian mereka berdua berjalan beriringan menuju kediaman Putri Dara Jingga di sebelah Barat Istana Pagaruyung.

__ADS_1


"Tok tok tok" pintu diketuk pelan, Suri memandang ke arah pintu Pengawal membuka Pintu tampak seorang pria dengan pakaian seperti seorang raja, menyusul Datuk Malin muncul di belakangnya.


Hai readers tq sudah mampir 706 view cukup membuat author bersemangat buat up, ditunggu cicit cuit nya biar author makin semangat up nya, tq n i.love you more😘


__ADS_2