
Pangeran Indra kembali menyerang hingga seluruh tenaganya habis tapi tetap saja sang kakek tak terluka sedikit pun, Arya Wisesa tak balas menyerang hanya menghindar dari setiap serangan cucunya itu.
"Cukup untuk hari ini, fikirkan apa yang salah darimu" Arya Wisesa berkata singkat sebelum menghilang diiringi kabut asap putih yang mengelilingi tubuhnya, sang kakek kembali ke gua dengan berteleportasi.
Pangeran hanya terdiam memikirkan apa yang di ucapkan kakeknya, tiba tiba 'Astagaaaaaa, mengapa aku begitu bodoh, emosi sudah menguasai hatiku, hingga fikiranku tidak fokus, bodoh bodoh' Pangeran memaki dirinya sendiri, menggaruk kepalanya yang tak gatal, meremas rambutnya, tiba tiba kepalanya terasa pusing memikirkan semuanya.
"Pergilah ke air terjun Tirta Suci, bersihkan dirimu, dan berendamlah di kolam pelangi 7 mata air, selesaikan malam ini juga" Suara bisikan di telinganya mengejutkan pangeran. Pangeran bangkit berlari memecah kegelapan malam menuju air terjun di sebelah timur bukit itu untuk melaksanakan perintah dari kakeknya.
Pangeran duduk bersila di bawah derasnya air terjun, dinginnya air membuat giginya gemeretuk menahan dingin.andai manusia biasa pasti audah mengalami hipotermia. Pangeran berusaha berkonsentrasi meski rasa dingin membuat kulitnya hampir mati rasa.
Mengosongkan fikiran dan fokus pada
semedi tubuhnya diam tak bergerak akhirnya setelah 7 jam berperang melawan dingin pangeran berhasil menguasai fikirannya memusatkan seluruh kekuatan ke satu titik. Hari sudah menjelang pagi, saat pangeran menyelesaikan semedi, kokok ayam hutang sesekali terdengar, pangeran bergegas menuju kolam pelangi, yang airnya berasal dari 7 mata air, konon bagi yang berendam di air ini selain bisa meningkatkan tenaga dalam, memurnikan jiwa, juga bisa membuat awet muda, karena auranya yang makin terpancar pada dirinya.
__ADS_1
Berbeda dengan air terjun yang sedingin es air kolam pelangi terasa hangat, seperti yin dan yang pada mitologi china, air kolam yang hangat menyeimbangkan dinginnya air terjun, semua yang telah bersemedi di air terjun akan menyelesaikan semedinya dengan mandi di kolam ini.
Pangeran menenggelamkan seluruh tubuhnya di kolam, menikmati hangatnya air, hingga langit memerah pertanda matahari akan segera terbit. Pangeran tersenyum puas karena telah berhasil menyelesaikan tugs dari kakek guru dengan sempurna.
Pangeran kembali ke gua dengan berjalan santai menyusuri hutan, sebenarnya dia bisa saja langsung berteleportasi tapi pangeran ingin bernostalgia mengingat kenangannya saat tinggal di hutan bersama kakek guru, sudah lama sekali sejak terakhir kali dia menjambangi kakek gurunya di hutan ini.
Gemerisik di sela pepohonan meningkatkan kewaspadaannya, pangeran segera bersembunyi, mengendap endap, ternyata seekor kelinci, pangeran segera menyergap, 'lumayan untuk makan siang ini' batin pangeran. Selain kelinci, pangeran juga membawa pisang dan singkong yang di dapatnya di hutan itu, seekor ayam hutan yang sial menambah hasil tangkapan pangeran pagi itu. 'Hari keberuntunganku' batin pangeran.
Pangeran baru tiba di mulut gua saat tiba tiba mendengar desingan anak panah yamg mengarah padanya, pangeran berkelit anak panah melesat ke dinding gua, lalu membuat lompatan berputar menangkap busur panah ke dua yang kembali menderu kearahnya, dan dengan cepat melemparkan kembali busur panah itu ke arah pemiliknya.
"Apa ananda ingin kabur lagi" Yang mulia tersenyum meringai mendengar suara hati anakndanya, "ha..ha..ha" mereka tertawa bersama mengenang masa kecil pangeran yang sangat keras kepala. Sang kakek muncul dari dalam gua "Ayahanda" yang mulia membungkuk hormat, di balas anggukan Arya Wisesa "Apa yang kalian tertawakan, jangan terlalu senang hingga terleka pada hal hal yang mengancam disekeliling" Arya Wisesa berkata dengan penuh wibawa. "Hanya sedikit kenakalan kecil cucumu ayahanda, putraku sudah kembali, kami hanya sedikit bersenang senang" Yang Mulia membela diri.
"Apa rencanamu selanjutnya nak?" Yang mulia bertanya sambil duduk di atas sebuah batu memperhatikan Pangeran yang asik menguliti kelinci dan ayam hasil tangkapannya.
__ADS_1
"Harus kembali mencarinya ayah, semoga dia tidak lelah menunggu" pangeran menjawab tanpa mengalihkan pandangannya. Kelinci dan Ayam bersih dalam sekejap, dengan kekuatan api dari tangannya keduanya segera berubah menjadi ayam bakar dan kelinci bakar.
"Enak sekali, masakan apa ini?" Yang mulia berseru senang. "Ayam panggang dari masa depan ayahanda" pangeran menjawab singkat " dan milikmu kelinci bakar bumbu bali atuk" pangeran menjelaskan sebelum sang kakek bertanya padanya. "Ternyata perjalanmu" membawa banyak pengalaman baru seperti pepatah jauh berjalan banyak dilihat, semoga perjalanmu segera berakhir dan kalian bisa hidup bahagia" "terima kasih ayahanda". Pangeran membungkuk hormat. "Ayahanda ananada pamit" Yang mulia memberi hormat pada ayahanda Arya Wisesa, sebel menghilang dibalik kabut tipis.
"Apa kau tidak ikut kembali Indra?" Arya Wisesa bertanya pada cucunya. "Tidak kakek aku akan tetap disini sehari dua, aku ingin membangun pondok di atas pohon untuk atuk, sebentar lagi musim hujan air sungai akan meluap, atuk tak kan bisa tidur di dalam gua" Pangeran Indra menjelaskan. "Baiklah terserah kau saja, semoga saat aku kembali pondok itu telah siap aku tinggali" Arya Wisesa pergi meninggalkan Pangeran Indra. "heh.. pangeran meringis aneh, baru saja pangeran menikmati kebersamaan mereka, tapi mereka sudah pergi meninggalkannya. "Ayahanda dan atuk sama saja' batin pangeran. "Tidak, kami berbeda", "ya kami berbeda", tiba tiba saja dua suara yang sangat dikenalnya berbisik si telinga pangeran "Ha..ha..ha pangeran tertawa lebar, ternyata sifat keras kepala yang dimilikinya sudah turun temurun dari sang kakek, mungkin saja sudah dari kakek buyutnya.
Pangeran membersihkan sisa makanan mereka dan mengubur bekas bulu dan darah ayam juga kelinci supaya tidak memancing binatang buas datang ke gua karena penciuman mereka yang tajam, selesai melakukannya pangeran segera pergi kedalam hutan mencari kayu untuk rumah pohon yang akan dibangunnya.
Pangeran bekerja keras siang dan malam untuk menyelesaikan rumah pohonnya, saat matahari terbenam di hari kedua rumah pohon pun selesai, pangeran meninggalkan hutan dan kembali ke istana Buana Gemilang.
Dua orang dayang bergegas datang saat melihat kediaman pangeran Indra terang benderang pertanda pangeran sudah kembali ke paviliun elang.
Pangeran mandi dan makan dengan cepat, tak ingin membuang waktu pangeran segera menuju cermin Mustika Sakti untuk mencari keberadaan Suri. Sesaat kemudian bayangan Suri muncul di cermin, Suri nampak anggun dengan pakaian adat jawa menari dengan lemah gemulai, di pendopo keraton Pangeran tersenyum karena sudah mengetahui keberadaan Suri. Suri berada di kerajaan Majapada, sebuah Kerajaan di utara pulau jawa. "Tunggu kanda sayang" pangeran berbisik pelan.
__ADS_1
1683 view, tq viewers, mana suara say, pengen dengar bisikan bisikannya biar author makin semangat ngetik, di tunggu ya responnya , lov you more 😘