Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
97. Lee Mey Hwa 6


__ADS_3

Pangeran menunggu tabib Lee duduk kembali dan mulai berbicara "ehem.. kemarin aku melihat ada orang mengintip di paviliunku" Tabib Lee dan Kwan Yiew membesarkan matanya, "Aku mengikutinya hingga ke kota, dia masuk ke rumah paling besar di sana" pangeran menatap Tabib Lee "Rumah Gubernur Shin Tha Young" Tabib Lee menjawab pelan.


"Aku tidak tahu apa yang mereka rencanakan, tapi kita harus bersiap siap, mereka sudah tahu bahwa aku masih hidup" Pangeran berkata tegas. 'Apa sebaiknya ku katakan saja yang sebenarnya' pangeran membatin. "Jadi apa yang harus kita lakukan pangeran?" Tabib Lee bertanya pada pangeran yang terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.


"Sebelum kita melangkah lebih jauh, aku ingin kau menceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi tabib Lee, seperti yang kukatakan padamu aku tidak ingat apa pun" Pangeran berkata pada tabib Lee, tanpa melihat Kwan Yiew yang melotot tak percaya mendengar apa yang baru di katakan pangeran.


"Baiklah pangeran, ehem.. Sebenarnya yang mulia kaisar lah yang ingin melenyapkan Pangeran" tabib Lee berkata pelan. "Yang mulia? ayahandaku?, tapi mengapa?" Pangeran bertanya tak percaya. "Ada rumor yang beredar bahwa pangeran akan melakukan kudeta, yang mulia takut pangeran akan merebut tahta jadi memilih melenyapkan pangeran lebih dulu".


"Rumor? hanya karena rumor ayahanda tega melenyapkan putranya?" Pangeran bertanya lagi. Sebenarnya hamba diam diam telah menyelidikinya pangeran, ternyata semua ini adalah ulah Perdana Mentri Lee Shin Tiang, Perdana Menteri lah yang selama ini menjalankan pemerintahan, kaisar hanyalah raja boneka, Perdana menteri melihat kecerdasan pangeran dan merasa pangeran ancaman besar baginya, oleh karena itu melenyapkan pangeran adalah keputusan yang paling tepat".

__ADS_1


Pangeran memijit keningnya yang tiba tiba terasa pusing. "Pangeran baik baik saja, jika pangeran tidak kuat sebaiknya istirahat dulu,kita lanjutkan nanti setelah makan siang" Tabib Lee menatap cemas pada pangeran. "Tidak tabib, aku takut sudah tidak ada waktu lagi untuk kita, sebaiknya aku berbaring dan kita lanjutkan saja pembicaraan kita" Pangeran menuju ranjang dan bersandar di tumpukan bantal yang di sediakan Kwan Yiew, Tabib Lee memeriksa denyut nadi pangeran.


"Pangeran tidak apa apa hanya kelelahan, dan efek racun di tubuh pangeran juga membuat pangeran menjadi cepat lelah, saya akan meramu obat herbal untuk pangeran" Tabib Lee dengan cepat menghidupkan tungku, meramu beberapa tanaman ke dalam periuk tanah, dan tak perlu waktu lama ramuan siap di hidangkan.


Bau ramuan yang masih mengebulkan asap membuat pangeran sedikit mengernyitkan hidung. Tabib Lee tersenyum melihatnya, "ambilkan sedikit manisan di dapur Kwan Yiew" Tabib Lee memerintah, "Hati hati jangan sampai ada yang melihat kau masuk kemari" Kwan Yiew segera pergi mengambin manisan dan kembali dengan membawa 1 teko teh 3 buah cangkir, 1 toples manisan dan sepiring kue apem yang masih mengebulkan asap.


"Minumlah obat ini pangeran, selagi masih hangat" Tabib Lee mengangkat mangkuk obat, dan menyerahkan pada pangeran. Pangeran menarik nafas dalam dalam kemudian meminun ramuan obatnya dengan cepat, setelah habis pangeran segera memakan manisan, rasa jamu yang masih tersisa membuat manisannya menjadi tidak enak, pangeran meringis dan segera meminum segelas teh. "Ramuan apa itu tabib mengapa pahit sekali?" Pangeran bertanya penasaran.


"Kita lanjutkan pembicaraan kita, aku sudah mwrasa lebih baik".Pangeran bangkit dari ranjangnya dan duduk di kursi semula Tabib Leecdan Kwan Yiew mengikuti pangeran duduk di tempat semula. "Apa pendapatmu Kwan Yiew, apa yang harus kita lakukan" Pangeran bertanya pada Kwan Yiew. "Sesuai perintah ayah, Hamba telah mengumpulkan orang orang yang berpihak pada Pangeran termasuk para prajurit, mereka akan siap membantu pangeran meskipun harua berkorban nyawa jika perang tak dapat kita elakkan lagi" Kwan Yiew menyerahkan 1 gulungan berisi nama nama orang orang yang berpihak pada pangeran.

__ADS_1


"Sebaiknya kita jangan gegabah, periksa kembali orang orang ini, jangan sampai ada penyusup yang masuk, aku tidak ingin rencana kita gagal, sekali penyerangan harus berhasil" Pangeran menyerahkan kembali gulungan yang diberikan Kwan Yiew tanpa melihatnya lebih dulu. "Kita tidak butuh pengikut yang banyak Kwan Yiew tapi pastikan hanya mereka yang setia yang ada di belakangku". Sementara ini jangan lakukan apapun, tidak perlu juga memperketat penjagaan, aku ingin menangkap pengintip itu, jika penjagaan di perketat dia pasti akan tahu, ada kemungkinan tak akan akan berani datang lagi, dan rencanaku akan gagal total" Pangeran menjelaskan. "Aku tak ingin sampai terjadi perang, akan banyak nyawa tak berdosa yang mati sia sia" Pangeran bergumam pelan.


"Pertemuan kita hari ini cukup sampai disini, kita lanjutkan jika pengintip itu sudah tertangkap, firasatku malam ini dia akan kembali" Pangeran bangkit lebih dulu untuk kembali ke kamarnya, namun tiba tiba dia berbalik, "Kwan Yiew, datanglah ke kamarku nanti setelah makan siang" perintahnya dan kembali melanjutkan perjalanan. "Ada apa?" Tabib Lee bertanya curiga. "Entahlah ayah" Kwan Yiew menjawab sambil mengangkat bahunya. "Kau yakin tidak ada yang kau sembunyikan dari ayah?" Tabib Lee bertanya sambil menatap tajam pada Kwan Yiew. "Tidak ada ayah percayalah" Kwan Yiew Segera pergi meninggalkan ayahnya.


Pangeran baru saja menyelesaikan makan siangnya dengan minum segelas air putih,,dari sudut matanya dia melihat Kwan Yiew sudah menunggu di depan pintu yang terbuka. "Masuklah" Pangeran memerintah. "Langsung saja Kwan Yiew, Apa yang ingin kau bicarakan?" Pangeran langsung membuka bicara. Kwan Yiew menatap pangeran sedikit ragu ragu untuk mulai berbicara, namun tangannya mengepal tanda hati dan fikirannya tidak sejalan, emosi mulai menguasainya. "Apa yang pangeran lakukan pada adik hamba?" tanya Kwan Yiew sambil menatap tajam pada pangeran. "Maksudmu? bisa kau perjelas apa yang kulakukan padanya?" Pangeran balik bertanya. Kwan Yiew mengepal tangannya, keringat mulai menetes di keningnya, Kwan Yiew berusaha mengawal emosinya hingga dia tak kuat lagi.l Bugh!! Kwan Yiew meninju pangeran, pangeran langsung tersungkur, darah mengalir dari sudut bibirnya yang pecah.


Pangeran bangkit, menyeka bibirnya yang terasa perih dan asin, fahamlah pangeran apa yang sebenarnya terjadi. "Duduklah, akan kukatakan suatu rahasia padamu" Pangeran duduk kembali, menatap Kwan Yiew yang masih berdiri sambil menatao tajam pangeran. "Kebohongan apa yang akan kau ucapkan untuk membela diri pangeran" Kwan Yiew berkata sinis. "Duduklah" pangeran berkata lagi.


Dengan wajah masih kesal Kwan Yiew duduk di hadapan pangeran. "Aku tak ingin berbohong aku mencintai adikmu" Pangeran berkata dengan tegas pada Kwan Yiew.

__ADS_1


13737 view, tq semua, n happy reading 🙏


__ADS_2