Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri

Cinta Ke 7 Putri Dayang Suri
94. Lee Mey Hwa 3


__ADS_3

Pangeran Indra masuk ke kamarnya setelah mandi dengan di bantu Lian, dilihatnya Suri yang sedang tertidur pulas. Pangeran memberi tanda pada Lian agar tidak berisik, dan menyuruhnya segera pergi.


Pangeran duduk di tepi ranjang memandangi Mey Mey yang sedang terlelap, ups! tiba tiba tangan Mey Mey terentang berpindah ke atas paha pangeran Indra, nafas pangeran seakan terhenti sesaat. 'Sayang, apa yang kau lakukan ini sangat berbahaya, jika salah sedikit saja, ada yang bangun nanti' Pangeran membatin dengan wajah meringis sedih.


Mey Mey tak kunjung bangun, Pangeran mulai lelah menunggu, dan memindahkan tangan Mey Mey dari pahanya, ke atas kasur, karena terlalu hati hati pangeran malah menginjak kaki Mey Mey. "Ehmmmm... Pangeran, kemana saja, Mey sudah lama menunggu, huaaaaaah" Mey Mey berbicara sambil menguap dan tiba tiba Mey Mey langsung berdiri dan menutup mulutnya. "Maaf pangeran, maaf Mey tidak sopan" Mey Mey menunduk malu.


Pangeran memasang muka datar timbul idenya untuk mengerjai Mey Mey. "Maaf, tidak semudah itu Lee Mey Hwa" Pangeran pura pura kesal. Mey Mey menatap pangeran tak kalah kesal "Dasar kau pangeran, apa kau tidak tahu aku sudah susah payah membuatkan ramuan obat untukmu sejak pagi, dan memasak bubur herbal tapi apa ini balasanmu? dasar tidak tahu terima kasih!" Suara Mey Mey meninggi, saat Mey Mey ingin melanjutkan lagi omongannya Tabib Lee sedang menatap Mey Mey dengan marah "Mey Mey, beginikah sikapmu pada pangeran, kembali ke kamar mu, dan tulis permintaan maaf sebanyak 1000 kali, jangan keluar dari kamarmu selama 3 hari" Tabib Lee menghukum Mey Mey. Mey Mey menatap ayahnya dan mengalihkan pandangan pada pangeran Indra seolah berkata 'ini semua.gara gara kau pangeran"' dan Mey Mey berlari ke kamarnya sambil beruray air mata.


'Dua kali pangeran, sudah dua kali kau membuatku dimarahi ayah, awas saja jika sekali lagi aku dimarahi gara gara kau, jangan salahkan aku jika melakukan hal hal di luar dugaanmu' Mey Mey membatin, sambil membanting bantal hingga bantal itu pecah dan bulu angsa berterbangan di kamar itu.

__ADS_1


Hachim! hachim! Mey Mey bersin, Hachim! Hachim tiba tiba ada suara bersin lain dibelakangnya, ternyata Pangeran Indra mengikuti Mey Mey ke kamarnya. "Pangeran, mau apa pangeran kemari, cepat keluar, nanti kalau ayahku melihat aku yang dimarahi lagi" Mey Mey menatap Pangeran sambil memajukan mulutnya, Mey Mey ingin pangeran tahu kalau dia masih kesal.


"Jangan khawatir soal itu, aku sudah meminta izin pada ayahmu, dan aku sudah memohon supaya hukumanmu di batalkan.tapi maaf, ayahmu tidak mau" Pangeran merasa bersalah. "Tidak perlu pangeran aku tidak mau berhutang budi padamu" Mey Mey masih kesal pada pangeran. "Tapi ayahmu bersedia mengurangi separuh hukumanmu menjadi kurungan 1 hari, dan menulis permintaan maaf 500 kali" Pangeran meneruskan ucapannya sambil tersenyum. "Dan kau terpaksa berhutang padaku, aku akan meminta imbalannya nanti" Pangeran tersenyum penuh makna dan berlalu dari kamar itu. Tinggal Mey Mey yang makin kesal, "Pangeran sialan, kenapa sejak kau datang, aku selalu sial" Mey Mey merungut kesal.


Pangeran kembali ke kamarnya, dan mencoba makan perlahan lahan. Buburnya sudah lama dingin, tapi pangeran pangeran berusaha menghabiskannya, 'Mey Mey sudah susah payah membuatnya aku harus habiskan' Pangeran membatin, saat suapan terakhir habis pangeran bersendaa kekenyangan Eeerrhg! pangeran tersenyum melihat ke kanan dan ke kiri untung tidak ada siapa siapa, sungguh memalukan jika ada yang mendengarnya.


Pangeran meminum obat yang dibuat Mey Mey sambil mengeryitkan hidungnya karena rasanya yang begitu pahit dan baunya yang sungguh tidak enak. Pangeran terpaksa meminum air putih yang banyak untuk menghilangkan rasa pahit hingga perutnya terasa begah.


"Sebaiknya Pangeran tidak kemana mana dulu, banyak mata mata diluar sana pangeran, demi keamanan pangeran tinggallah di dalam rumah untuk sementara waktu hingga pangeran benar benar pulih" Tabib Lee menjelaskan. "Baiklah Tabib, terima kasih atas segala yang telah kau lakukan, aku akan mendengarkanmu, apalagi dengan keadaanku sekarang aku tidak tahu siapa kawan dan siapa lawan" Pangeran masuk kembali dengan tertatih.

__ADS_1


"Sebaiknya kita ke kamar pangeran saya ingin memeriksa luka pangeran" Tabib Lee memapah pangeran. "Wow, tidak saya duga luka luka di tubuh pangeran sembuh begitu cepat, tak perlu di perban lagi" Tabib Lee sangat terkejut melihat luka luka pangeran sudah mengering, hanya tinggal memulihkan bekas lukanya saja. "Semua berkat perawatan anda tabib Lee, terima kasih banyak, kelak aku akan membalas semua jasamu, aku tak akan melupakan semua budi baikmu padaku" Pangeran berkata dengan mata berbinar senang.


Tabib Lee membungkuk, "Hamba tidak mengharap balasan apa apa pangeran, sudah kewajiban hamba untuk merawat pangeran" Tabib berkata sungguh sungguh. "Aku tahu kau memang tulus membantuku Tabib Lee" Pangeran menepuk bahu Tabib Lee. Sebaiknya pangeran istirahat saja agar segera pulih, saya akan meramu jamu untuk tuan" Tabib Lee membungkuk hormat dan berlalu dari kamar pangeran.


Pangeran berbaring dan mencoba untuk tidur tapi perutnya yang kenyang buat pangeran tak bisa memejamkan mata. Pangeran bangkit kembali dan memilih untuk membaca di perpustakaan untuk menghilangkan rasa bosannya. "Lian" "Ya pangeran?, pangeran memanggil saya" Lian sudah muncul di gawang pintu "Aku ingin ke perpustakaan, bisa tunjukkan jalannya?" Pangeran bertanya sopan. "Silahkan tuan" Lian menuntun pangeran Indra menuju perpustakaan, ternyata ruang perpustakaan berada di gedung terpisah dari rumah utama mereka melewati sebuah taman dengan jembatan di tengahnya 'sungguh indah' batin pangeran, di tepi kolam juga ada gazebo dan sebuah ayunan di sebuah pohon willow yang sangat besar. Aliran sungai dibawah jembatan mengalir begitu deras hingga menarik minat pangeran untuk bertanya "mengapa air ini mengalir begitu deras, bukankah hanya aungai buatan?" Pangeran bertanya penuh minat. "Ini memang sungai buatan pangeran, tapi mengalir ke sungai sungguhan Sungai Huang Fu. Pangeran mengangguk puas mendengar penjelasan Lian.


Mereka tiba di perpustakaan, ada dua pintu di sana Lian membawa Pangeran Indra ke pintu kanan, dan mendorong pintunya terlihat susunan rak penuh buku di sana, Lian mempersilahkan Pangeran Indra masuk, namun pangeran tidak bergerak dari tempatnya berdiri. "Itu ruangan apa?" Pangeran menunjuk pintu kiri, "Itu ruang baca pangeran, juga...." Lian menghentikan ucapannya. "Juga apa?" pangeran bertanya lagi. "Ruang hukuman pangeran?" Lian menunduk menyembunyikan ketakutannya karena telah lancang memberi tahu pangeran. "Apa Mey Mey di dalam?" Pangeran bertanya penasaran. "Lian mengangguk sambil tetap menunduk. "Pergilah aku bisa kembali sendiri ke kamarku" Pangeran memerintah, namun Lian menolak "Tidak pangeran, saya akan menunggu pangeran di luar" Lian menunduk hormat dan meninggalkan pangeran Indra.


13407 view! tq readers, terus dukung suri dan indra ya, maaf jika ada typo typo penhen cepat selesai nanti baru bersih bersih ya🙏

__ADS_1


happy reading 😘😘😘😘😘😘😘


__ADS_2